NovelToon NovelToon
Kepincut Musuh Bebuyutan

Kepincut Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: juyuya

"Awas ya kamu! Kalau aku udah gede nanti, aku bikin kamu melongo sampai iler kamu netes!" teriak Mita.

" Hee… najisss! Ihh! Huekk" Max pura-pura muntah sambil pegang perut.

Maxwel dan Mita adalah musuh bebuyutan dari kecil sayangnya mereka tetangga depan rumah, hal itu membuat mereka sering ribut hampir tiap hari sampai Koh Tion dan Mak Leha capek melerai pertengkaran anak mereka.

Saat ini Maxwel tengah menyelesaikan studi S2 di Singapura. Sementara Mita kini telah menjadi guru di sma 01 Jati Miring, setelah hampir 15 tahun tidak pernah bertemu. Tiba-tiba mereka di pertemukan kembali.

Perlahan hal kecil dalam hidup mereka kembali bertaut, apakah mereka akan kembali menjadi musuh bebuyutan yang selalu ribut seperti masa kecil? Atau justru hidup mereka akan berisi kisah romansa dan komedi yang membawa Max dan Mita ke arah yang lebih manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juyuya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

meet & great

Angin sepoi-sepoi menerobos masuk dari sela pagar balkon kamar rawat inap Mita. Di luar, langit sore mulai memerah, sementara di dalam, gadis itu duduk di kursi rotan, kepalanya bersandar pada dinding kaca yang dingin. Pandangannya kosong, menembus jauh ke luar gedung.

Pikirannya riuh. Pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk sejak pagi menekan dadanya, belum ada satu pun jawaban yang benar-benar ia dapatkan.

"Mit!"

Suara itu membuat matanya terbuka. Max berdiri di depan pintu balkon, membawa gelas yang masih mengepul.

"Minum" katanya sambil menyodorkan gelas. "Masih hangat."

"Gak mau."

Mita memalingkan wajah, menatap lurus ke depan lagi.

Max menarik napas panjang. "…Kamu marah karena tadi saya habiskan?"

Dia mengangkat gelas itu sedikit. "Kan sudah saya ganti."

"Yaudah buat kamu aja lagi."

Akhirnya Max menyerah. Ia meletakkan gelas itu di meja kaca, lalu duduk di kursi di samping Mita.

Beberapa detik mereka diam. Sampai Max membuka suara, pelan, tidak seperti biasanya.

"Dulu saya juga pernah ditabrak lari seperti ini."

Mita menoleh, tapi hanya sepersekian detik. Tatapannya tetap kosong.

"Gara-gara kecelakaan itu…" Max menghembuskan napas. "…aku jadi punya bekas jahitan yang cukup besar di punggung."

"Koh Tion tau?" tanya Mita sambil mengerutkan kening.

Max menggeleng kecil. "Waktu itu aku nggak mau bilang ke siapa pun. Papah lagi sibuk, aku nggak tega kalau dia sampai syok dengar kondisi aku."

"Dan sekarang pun bekas itu masih ada?" Mita mencondongkan badan sedikit, rasa ingin tahunya kalah besar dari gengsinya.

Max menatapnya datar. "Kenapa? Mau lihat?"

Mita langsung berdiri. "Enggak! Najis amat tiba-tiba nunjukkin punggung!"

Max mendengus. "Padahal kamu yang tanya."

Mita tak menanggapi. Dia mengambil gelas wedang jahe, meminumnya sampai habis tanpa suara. Walau sedang kesal, dia tetap menghargai usaha orang lain. Setelahnya, dia masuk ke kamar.

Kosong.

Sunyi.

Rapi — terlalu rapi. Semua barang yang tadi dipacking Mak Leha sudah tidak ada.

"Lah? Kemana semua orang?" gumamnya.

Max yang masih di balkon akhirnya masuk dan menutup pintu. "Kamu ngapain bengong di situ? Mau nginap di sini lagi?"

Mita mendengus sambil memperbaiki jilbab hitam sorongnya. "Serah kamu lah."

Max berjalan duluan mendahului mita, sementara gadis itu mengekori di belakang.

Mereka keluar kamar. Lift terbuka tepat saat mereka sampai. Max memberi isyarat agar Mita keluar duluan.

Begitu pintu lantai satu terbuka—

"MITA!!"

Mak Leha sudah di dalam mobil, duduk di kursi penumpang nomor dua, tangan melambai-lambai seperti selebriti buka fan meeting. Ekspresinya berbinar gabungan antara bangga dan norak yang hakiki.

Mita cuma bisa tersenyum getir.

"Mit! Liat mobilnya Max…" Mak Leha mengusap-usap dashboard yang bahkan belum disentuh. "Wihhhh bagus ya mit… ini kalau mamak posting di pesbuk, bisa penuh komentarnya nanti!"

"Mak udah mak… jangan bikin malu" keluh Mita, tanpa suara

Max membuka pintu penumpang depan. "Masuk."

"Tuh kan" bisik Mita. "Tumben amat, entah kesambet apa dia hari ini"

"Aduhhh romantisnyaaaaa" seru Mak Leha dari belakang. "Udah kayak adegan sinetron Ikan Kayang! Cium tangan dulu gih—"

Mita membalas dengan pelototan tajam.

Mak Leha cuek, fokus lagi ke HP layar sentuh barunya yang dibelikan Abah Adul. Katanya, mau dipakai LIVE TikTok biar jualan peyek makin laris.

Max baru saja menyalakan mesin mobil ketika—

Tinn!! Sebuah motor Supra hitam berhenti persis di depan mobil. Lampunya menyilaukan semua orang di dalam.

"Allahuakbar… abahhhh…" desis Mita sambil memegang kepala.

Abah Adul turun, mengibas-ngibas jaket, langsung menuju jendela mobil. Dia mengetok kaca seperti polisi mau razia.

"Mit! Mitaaa!"

Mita buru-buru menurunkan kaca. "Abah ngapaaaa bahh! Untung Max ngerem! Kalo kagak—jadi anak yatim mita nanti!"

"Ini mamak kamu…" Abah menunjuk dramatis ke Mak Leha. "Enak ajaaa pergi sama abah, pulangnya abah diabarin sendirian!"

"MAMAK TURUN!" Mita berbalik. "Kasian abah udah effort kayak Dilan jemput Milea!"

"Is… abahmu itu mit! Nggak bisa bikin mamak senang dikit ajeee. Gagal deh mamak mau live pesbuk."

Dia turun dari mobil dengan langkah gontai, persis drama Korea versi ekonomi.

Mita terkikik."Bah… jangan laju-laju bawa motor, abis ini mamak heboh"

Abah Adul melirik istrinya yang manyunnya sudah mencapai level ikan buntal. "Niiiih… udah kayak bocah ngambek…"

"Mak senyum dikit napa" ujar Mita. "Mukanya jelek banget. Kayak beruk mak."

"CONGOR KAMU MIT!! Hati-hati kualat nanti kamu ngejekin orang tua!"

Mita malah ketawa sampai pegang perut. Max cuma menggeleng sambil mengamati dua manusia sedarah yang ribut tanpa jeda.

□□□□

Di dalam mobil, suasana awalnya tenang. Hanya suara musik santai yang mengalun pelan.

"Tumben baik" gumam Mita, menyandar sambil manyun.

Max tak menoleh. "Saya memang orang baik. Kamu aja yang nganggap saya orang jahat."

"Siyi miming iring biyik, kimi iji ying nginggip siyi iring jihit! Hallahh…"

Max mengernyit. "Terjemahannya"

"Coba kamu pikirin deh" Mita melipat tangan, wajahnya jelas penuh protes. "Manusia baik mana yang tega jatuhin cewek ke lantai?"

"Terus maksud kamu" ucap Max tenang, "saya harus gendong kamu sampai ke rumah gitu?"

"Ihh max! Bukan gitu! Maksudku kenapa harus dijatuhin ke lantai!"

"Karena kamu berat."

DUARRR.

Tiga kata itu langsung menyalakan sirine di kepala Mita.

Mulutnya terbuka… tapi tidak ada suara keluar.

Matanya melebar.

Hatinya bergetar—antara mau ngamuk atau malu.

Akhirnya… ia membisu sepanjang perjalanan.

□□□

Setengah jam kemudian

Mobil berhenti tepat di depan rumah Mak Leha. Mita baru mau membuka pintu seketika matanya membesar.

"Ya Allah…"

Di depan teras, barisan ibu-ibu dan beberapa bapak berdiri rapih seperti rombongan penyambut pejabat pulang ibadah haji.

Mak Leha keluar membawa nampan berisi satu teko besar dan banyak gelas.

Mita frustasi. "Haduhhh… siapa sih yang kasih tahu kalau aku pulang hari ini?"

Max mengarahkan dagunya ke seseorang yang sedang bermain-main dengan kucing oyen di sudut teras

"Kayaknya si itu."

"Herman?"

"Siapa lagi kalau bukan dia"

Max mematikan mesin, melepas sabuk, lalu menatapnya sambil menahan tawa.

"Turun, Mit. Pasukan kamu udah nungguin."

"Pasukan apaan…" jawab mita ketus

Begitu ia turun, teriakan langsung meledak.

"Bu Mita!!"

"IBU-IBUUU! BAPAK-BAPAAAK! IBU MITA SUDAH PULANG!"

Ibu-ibu menyerbu Mita seperti fans K-pop rebutan hi-touch.

Mita hampir tersandung ke got yang ada di sampingnya kalau Max tidak sigap menahan lengannya.

"Selamat sore, ibu-ibu" sapa Max ramah sambil sedikit menunduk.

Ibu-ibu terdiam beberapa detik.

Lalu…

"Ehh? Ada artis?"

"Bu Mita habis ditolong artis? Ih rezeki banget!"

Mita melirik Max lalu ibu-ibu, lalu Max lagi.

HAH?! ARTIS? ARTIS DARI JINGGOL?!

"Bu Mita… itu kan anaknya Kih Tion ya?" bisik Bu Dinda sambil mata tidak berhenti curi-curi pandang ke Max.

Mita hanya mengangguk sambil melangkah pelan menuju teras.

Tapi belum lima langkah—

"Aduh!! Ini anaknya Kih Tion??" teriak Bu Minawaroh dengan logat Sunda kental. "Menih kasep pisan ieu mah! Boleh cubit nggak ya?"

Ibu lain menimpali sambil ngakak dan kipas-kipas pakai jilbabnya.

"Bu Mita… enak pisan euy. Diapit dua lelaki ganteng. Mau dong tuker posisi!"

Bapak-bapak di pojok cuma geleng-geleng sambil pura-pura sibuk main HP, padahal nguping.

Di sudut teras herman melipat tangan sambil menetap sinis ke arah max, sementar lelaki yang merasa di pandang justru semakin memana-manasinya.

"Ya allah, pulang ke rumah bukannya istirahat malah meet & great" gumam mita.

1
ijunk2k3
Biji lah si kampret😂😂🤣
indri ana
Up nya jangan lama² thor🥰
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
semangat thor
indri ana
kayaknya bakalan ada yg jatuh cinta nichh🥰
indri ana
lanjut thor🥰
Sri Jumiati
iya lama tdk up date thor
indri ana
semangat Thor, updatenya jgan lama²🥰
Nur Khalimah
ini kok luama ya tak tunggu looch...
bolak balek bukak😄😄
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
semoga berjodoh mak dan mita
Sri Jumiati
lucu ceritanya bikin ketawa sendiri .semangat thor
Aqella Lindi
jangan lama thor,nti lupa cerita ny di tgu ya
Richboy I
seruu thoor... semangat up nya
♪ゞALbie。⁠☆ゞ⁠)
suka
♪ゞALbie。⁠☆ゞ⁠)
sering up Thor jangan lama2
Felycia Fernandez
Bae Suzy Mak 😆
Felycia Fernandez
pasti Max nih yang bayar
Felycia Fernandez
banyak macam janda ya sekarang 😆
Felycia Fernandez
lha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
udah kemana mana mimpi mu Mita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!