pemuda biasa
semua tentang reno
romansa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anable, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Perasaan Reno terus gelisah ketika dia sedang berjalan, bukan tanpa alasan, tapi dia merasakan sesuatu yang kenyal di punggungnya.
Ya. Itu adalah kedua aset Reva yang besar, setelah berenang tadi, semua pakaian nya basah termasuk tanktop dan BH nya, jadi dia membuang benda benda itu, dan sekarang dia hanya memakai kaos oblong sebagai penutup atasannya. Hal itu yang membuat Reno sungguh gelisah, dia benar benar bisa merasakan dada Reva yang kenyal dan besar itu.
Sedangkan Reva yang sekarang digendong Reno, hanya bisa merona, dia benar benar membiarkan punggung Reno merasakan sensasi kenyal dari dadanya yang besar.
"Rev, Lo pake jaket gue yang semalem Lo pake aja ya" ujar Reno tiba tiba.
Reva tersenyum tipis ketika mengetahui maksud Reno.
"Kenapa emangnya?" Goda Reva.
"I..itu kan Lo gak pake Daleman, jadi gu..gue takut Lo masuk angin" Reno beralasan.
"Peduli banget Lo sama gue, sampe sampe Lo takut kalo gue masuk angin" Reva yang masih Reno gendong membenamkan dagunya di bahu Reno.
Hal itu membuat dadanya semakin menekan ke punggung Reno.
Reno bergetar ketika dia bisa merasakan hembusan nafas Reva, bau nafas Reva benar benar manis, tapi itu tidak akan cukup untuk membuat Reno tergoda.
"Kalo gue gak peduli sama Lo, gue gak bakal nolongin lo" ujar Reno.
"Hehe, Lo bener juga"jawab Reva terkekeh.
"Tapi gue gak mau pake jaket Lo sekarang, badan gue gerah banget" lanjut Reva menolak tawaran Reno yang tadi.
'gue tau Lo gak nyaman sama dada gue sekarang,..tapi gue suka banget liat Lo yang lagi resah kaya gini,.hihi' batin Reva.
Reno tidak bisa lagi beralasan, dia akan malu jika dia langsung terus terang kepada Reva tentang dadanya yang menekan punggungnya, mungkin hal itu akan membuat Reva lebih menjailinya.
Reno menganggap semua godaan yang dilakukan Reva kepada dirinya hanyalah untuk menjailinya, dia tidak tau jika Reva menggodanya karena Reva sudah menyukai Reno sekarang.
Reno hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan terus menahan rasa gelisahnya.
**
Disisi lain. Sekarang Boby Wijaya dan yang lainnya sedang memeriksa tempat dimana mereka menemukan tas Reva, itu adalah petunjuk yang sangat penting bagi mereka untuk menemukan Reva dan Reno.
Setelah memeriksa tempat itu cukup lama, akhirnya mereka berkumpul untuk melaporkan hasil pemeriksaan mereka.
"Tuan, setelah memeriksa tempat ini, kami menemukan beberapa jejak kaki dari banyak sepatu yang berbeda, dan kami jugamenemukan beberapa jejak kaki hewan liar, kemungkinan besar jejak kaki itu adalah jejak kaki para babi liar." Lapor salah satu Anak buah Boby.
"Sepatu yang berbeda?" Boby mengerutkan keningnya bertanya tanya.
"Iya. Kemungkinan sebelumnya di tempat ini terdapat banyak orang selain kita" jawab anak buah Boby.
"Maaf menyela, tuan Wijaya. Saya menduga bahwa jejak itu adalah jejak kaki Doni dan yang lainnya, karena dia bilang jika dia sempat mengikuti Reno dan Reva. Lalu disini juga terdapat banyak jejak para babi hutan yang Doni bilang mengejar mereka ketika dia sedang mengikuti Reno" Reza mengatakan pendapat nya.
"Siapa lagi Reno?" Tanya Boby heran.
"Anak yang dituduh Doni, pak Boby" jawab Hary.
Boby pun memikirkan saran dari Reza, karena dia juga merasa curiga dengan Doni, dia akhirnya menyuruh bawahannya untuk membawa Doni dan orang orang itu ke TKP.
Doni tiba disana dengan wajah yang sudah pucat, ini adalah tempat dimana dia menghempaskan Reva karena takut kepada para babi itu.
"Kalian semua, buka sepatu kalian sekarang" titah Boby Wijaya kepada Doni dan yang lainnya.
Para bawahan Boby mulai menghampiri Doni dan yang lainnya, para bawahan akan melepaskan sepatu Doni dan yang lainnya secara paksa.
"Cocokan sepatu mereka dengan jejak- jejak kaki itu" titahnya lagi.
Akhirnya mereka pun mulai mencocokkan sepatu mereka dengan jejak- jejak kaki itu. Dan hasilnya ternyata cocok, yang membuktikan jika jejak- jejak kaki itu adalah milik Doni dan yang lainnya.
" bisa kamu jelaskan tentang ini?" Tanya Boby dengan suara yang keras.
Doni pucat pasi, lututnya bergetar lemas ketika dia mendapat intimidasi dari orang paling berpengaruh di Kota Jakarta.
"Jawab pertanyaan tuan Wijaya" bentak Asisten Boby yang bernama Mulyadi.
"Ka..kami me.. memang lewat sini..ta.ta..tapi itu adalah ketika ka..kami di..dikejar oleh para babi hutan" jawab Doni ketakutan.
"Lalu kenapa ada tas Nona disini" tanya Mulyadi lagi.
"Sa...saya..ti..tidak tahu..tuan" elak Doni.
Boby tidak ingin terus berurusan dengan bocah yang tidak masuk akal seperti Doni, karena ini adalah hutan besar, Doni juga tidak akan tau kemana Reva jika Reva benar benar tersesat. Jadi, prioritas utamanya sekarang adalah menemukan putrinya dalam keadaan selamat.
"Bocah ini benar benar tidak masuk akal. Mul, paksa dia dan teman temannya untuk mengakui apa yang sebenarnya terjadi. Jika mereka Masih tidak mau membuka mulut mereka, kalian bisa menyiksanya." Ujar Boby tegas, hal itu membuat Doni dan yang lainnya berkeringat dingin.
"Baik tuan" patuh Mulyadi. Dia lalu membawa Doni dan yang lainnya menjauh dari tempat itu.
"Kembali periksa tempat ini, bocah tidak masuk akal bernama Doni itu tidak akan bisa di harapkan " titah Boby tegas.
Reza, Nina, Fani, Joni dan Amelia kembali memeriksa tempat itu, mau bagaimanapun dengan adanya tas Reva disini, mungkin disini juga mereka akan mendapatkan petunjuk tentang Reva dan Reno.
**
**
Setelah sekian lama berjalan mengikuti jalur sungai, Reno merasa sedikit lelah, entah kenapa dia merasa Jika Reva semakin berat, itu mungkin bukan Reva yang semakin berat, tapi karena dada Reva yang menekannya yang membuat dia terus merasa gelisah, hal itu yang mungkin mengganggunya hingga membuat dirinya merasa sedikit lelah.
"Kita istirahat dulu ya Rev" ujar Reno.
"Kalo Lo cape, istirahat aja Rey, gak usah minta persetujuan dari gue" ujar Reva lalu turun dari gendongan Reno.
Reno melepaskan tas besarnya, dia berbaring di atas tanah yang banyak daun keringnya.
Reva memperhatikan Reno, setiap saat dirinya akan semakin jatuh cinta kepada Reno karena kebaikan pria itu.
Dia membayangkan jika suatu saat dirinya bersama Reno akan menjadi sepasang kekasih.
Dia membayangkan tentang Reno yang memperhatikannya, memeluk dan menggandeng tangannya dengan mesra, Reno yang selalu bersikap lembut kepadanya. Membayangkan hal itu membuat dia senyum senyum sendiri.
Ketika dia sedang membayangkan Reno, tanpa sengaja Reno melihatnya.
"Kenapa Lo senyum senyum sendiri" tanya Reno aneh.
Reva mengerjap ketika Reno menegurnya.
"Ga..gak gue gapapa ko" ujar Reva gugup karena malu.
"Awas Lo nanti gila" ujar Reno, lelaki itu kembali berbaring.
Reva menatap Reno. ' gue emang udah gila.. tepat nya gue udah tergila-gila sama Lo Reno' batin Reva.
Reva terus saja menghayal tentang dirinya yang akan menjadi kekasih Reno, dia yakin kalau sebentar lagi khayalannya akan menjadi kenyataan.
Di saat dirinya sedang mengkhayal tentang kemesraannya bersama Reno, Reno tiba tiba mengatakan sesuatu yang membuat dirinya menjadi kesal dan marah.
"Amelia, kamu gak cemasin kakak kan?" Bisik Reno tiba tiba, tapi nama Amelia itu terdengar oleh Reva, seketika mata Reva menjadi memerah karena marah dan cemburu.