Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan Brian
"Perjodohan?"
Amanda yang tengah duduk di pangkuan Brian mendongak, menatap wajah Brian secara langsung, hingga tatapan mereka bertemu.
Brian mengangguk pelan kemudian menceritakan pada Amanda tentang perjodohan bisnis yang dilakukan oleh keluarganya dengan keluarga Kusuma.
"Jadi … sebelum kamu menikahiku kamu sudah dijodohkan dengan dia?" tanya Amanda.
Brian kembali mengangguk, raut wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.
"Oh my God. Jadi aku orang ketiga di antara kalian." Amanda menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku jahat sekali," kata Amanda suaranya dibuat dramatis.
Brian terkekeh melihat ekspresi Amanda yang terlihat menggemaskan.Tangannya kemudian terangkat, mengusap-usap sisi wajah Amanda dengan punggung tangannya.
"Kenapa kamu tidak menceritakan hal ini padaku? Kenapa kamu juga malah menikahiku?" tanya Amanda lirih nyaris tidak terdengar.
"Bukan hal yang penting," jawab Brian. Wajahnya datar nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun, padahal dirinya sudah melakukan hal yang besar. "Lagi pula kamu sudah membuat aku tidak perjaka lagi. Jadi … kamu harus bertanggung jawab," kata Brian mencoba mencairkan suasana.
Amanda mendengkus saat harus mengingat kesalahan dirinya di masa lalu.
"Dengar." Brian mengangkat tangannya, menyentuh dagu Amanda, mengarahkannya agar melihat ke arahnya, membuat pandangan mereka bertemu pada satu titik yang sama. "Aku sudah memilihmu. Aku juga sudah mengatakan alasanku menikahimu, jadi jangan berpikir aku juga akan menikahinya."
Amanda terdiam, lebih tepatnya bingung akan merespon seperti apa. Ia menatap dalam-dalam mata Brian, mencoba mencari kebohongan di sana, tetapi tak menemukan. Dirinya juga tak menampik ketulusan yang Ia rasakan dari pria itu.
"Jangan marah lagi," kata Brian membuat Amanda tersadar.
Matanya berkedip, lantas menjauhkan tangan Brian dari dagunya. Setelahnya melihat ke arah lain, menyembunyikan rasa malunya.
"Siapa yang marah?" Amanda mengelak, ia terlalu malu untuk mengungkapkan rasa marah dan kecemburuannya.
Brian menghela napas beras. Hampir merasa frustrasi karena Amanda tak mau mengakui kecemburuannya, padahal dari sikapnya ia tahu wanita itu sedang marah. "Baiklah jika kamu nggak marah."
"Jangan berpikir yang macam-macam," kata Amanda masih tidak mau melihat ke arah Brian.
"Hmm." Brian bergumam untuk merespon perkataan Amanda. "Oh iya, nanti malam aku pulang terlambat."
Mendengar itu Amanda kembali melihat ke arah Brian. "Memangnya kamu mau ke mana?"
"Ada acara makan malam dengan keluarga Kusuma," jawab Brian datar.
Amanda tidak langsung merespon perkataan Brian, tetapi dari raut wajahnya menunjukkan jika dia marah. "Oh, jadi kamu mau makan malam dengan calon istrimu dan juga keluarganya." Amanda beranjak dari pangkuan Brian, kemudian berdiri membelakangi pria itu dengan tangan terlipat di depan dada. "Pergi saja. Tidak usah pulang sekalian."
Brian kembali terkekeh pelan, lantas berdiri dan memeluk Amanda dari belakang, pelan tapi mantab. "Mau ikut?"
Amanda mendengkus lantas berbalik membuat ia berhadapan langsung dengan Brian. "Untuk apa? Untuk mengatakan pada mereka jika aku ini istrimu dan ibu dari calon anakmu."
"Itu ide yang bagus," balas Brian.
Amanda terbelalak mendengar perkataan Brian, ditambah ekspresi pria itu yang nampak seperti tidak memiliki dosa.
"Dasar pria menyebalkan! Tidak punya perasaan," makinya.
Alih-alih merasa marah justru Brian tertawa kecil lantaran sikap Amanda.
"Kenapa tertawa aku sedang marah bukan melawak," omel Amanda.
"Aku senang melihat kamu marah. Kamu terlihat menggemaskan," jawab Brian.
Amanda mendesah jengkel dan memilih untuk menyudahi perdebatan itu.
"Sudahlah, jam kerjaku sudah selesai. Aku mau pulang," kata Amanda. "Percuma juga aku di sini berlama-lama. Kamu pasti sibuk dengan persiapan acara makan malam itu."
"Roy akan mengantarmu," kata Brian.
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Amanda.
"Amanda ..."
"Apa?"
Brian menekan pinggang Amanda hingga membuat tubuh mereka menempel.
"Akui saja jika kamu sedang cemburu," kata Brian sedikit menggoda Amanda.
"Jangan terlalu percaya diri," kata Amanda sinis.
Brian menghela napas berat memang wanita sulit untuk dimengerti kata dan sikapnya berlawanan.
"Hati-hati." Brian mengecup kening Amanda, kemudian membungkuk dan mengecup perut Amanda yang masih rata. "Jangan nakal! Jagain mommy."
Hati Amanda tersentuh saat mendengar perkataan Brian, hanya saja Amanda masih malu mengakuinya.
"Baiklah, aku pulang," pamit Amanda.
"Sama Roy!" perintah Brian tegas.
"Iya." Amanda memutar bola matanya karena merasa jengah. Ia tidak mengerti, terkadang Brian terlalu bersikap berlebihan padahal dirinya hanya hamil, bukan sakit parah.
Amanda akan pergi, tetapi Brian mencegahnya. Pria itu kembali memeluk Amanda. "Tunggu di rumah. Nanti malam kita deep talk."
Amanda mengangguk lantas menarik diri lebih dulu, memberikan jarak dengan Brian.
"Aku pulang," pamit Amanda disambut anggukkan oleh Brian.
Amanda lantas keluar dari ruangan dan kembali bertemu dengan Alan.
"Nyonya." Alan membungkuk, sebagai bentuk rasa hormat untuk Amanda. "Mari saya antar," imbuhnya.
"Hmmm." Amanda bergumam juga mengangguk pelan untuk merespon perkataan Alan.
Setelahnya Amanda melangkah menuju lift dengan diikuti oleh Alan. Sampai di lantai dasar Amanda meminta Alan untuk meninggalkannya.
Amanda mengayunkan langkah menuju ruangan ganti. Namun di tengah perjalanan Jolie menghadang langkahnya.
"Ngapain saja kamu di sana? Kenapa lama sekali?" tanya Jolie sinis.
Amanda memutar bola matanya karena merasa malas. Setelahnya tersenyum jahil saat terlintas ide jahil. "Aku kelonan dulu sama Pak Brian."
Jawaban Amanda membuat Jolie terbelalak. Api kemarahan seketika muncul di mata Jolie.
"Dasar wanita murahan!" maki Jolie.
"Kalau aku wanita murahan, sebutan yang pantas untuk kamu itu apa," balas Amanda.
Jolie terdiam tidak mampu untuk membalas perkataan Amanda.
"Jangan menggangguku lagi! Lebih baik jaga kekasihmu itu. Katakan padanya untuk jangan menggangguku!" Setelah mengatakan kalimat itu Amanda pergi meninggalkan Jolie.
-
-
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tetapi Brian belum saja kembali. Amanda kembali merasa kesal saat ia mengingat Brian akan pergi makan malam dengan wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya. Ia lantas menjatuhkan dirinya di sofa dengan wajah memberengut kesal. Bukan hanya itu Amanda juga memaki Brian.
"Dasar menyebalkan! Sudah punya calon istri tapi menikahi wanita lain."
Amanda kemudian bersandar dengan memangku bantal sofa. Merasa jenuh ia memilih membuka ipad yang dibelikan oleh Brian sebelumnya, tetapi secara tidak sengaja Amanda justru melihat berita tentang perjodohan Brian dan perempuan yang bernama Sasha, putri dari keluarga Kusuma.
"Jadi ini wanita yang dijodohkan dengan Brian," gumam Amanda.
KLEK
Suara pintu terbuka membuat perhatian Amanda teralihkan. Pandangannya seketika bertemu dengan Brian. Penampilan sang suami sudah berubah. Dua kancing kemeja atas sudah terbuka, dasi entah di mana, lengan kemeja sudah digulung sampai batas siku.
Sial!
Dalam penampilannya yang berantakan Brian masih terlihat sangat tampan.
"Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu akan makan malam bersama dengan calon istrimu itu kata Amanda sarkas.
"Aku merindukan istriku," jawab Brian.
Jangan ditanya seberapa gugup Amanda saat ini.
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣