[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31. Move-on
Netijen yang menyaksikan berkerut bingung. Bisikan-bisikan mulai terdengar keras, mereka masih saja tak mengerti akan ucapan Verrel. Tapi, melihat ekspresi Farhan yang sedikit berubah membuat mereka yakin ada sesuatu di kalimat itu.
Farhan memutar tubuhnya. "Trus? Lo mau laporan sama gue, nggak penting!" cerca Farhan susah payah terlihat tenang.
Farhan tau betul siapa bocah yang di maksud Verrel, dan siapa lagi kalau bukan Zahra. Tetapi, yang Farhan bingung kan bagaimana Verrel bisa tau perasaannya?
Tidak mungkin! Farhan yakin tidak mungkin Verrel tau yang sebenarnya.
"Gue ke Mall, jalan-jalan kayak pasangan kekasih romantis." Verrel masih saja melanjutkan kalimatnya.
"Dan apa lo tau? Si bocah itu narik-narik gue katanya mau boneka, mau makan. Dan yang paling gue suka itu, sepanjang jalan di tempat itu si bocah terus narik tangan gue. Sepertinya tuh bocah suka ma gue, secara gue kan tampan." Lagi-lagi Verrel sibuk mengucapakan hal yang tidak benar adanya.
Seperti pasangan kekasih?
Bahkan mereka tak henti-hentinya berteriak satu sama lain.
Minta makan?
Zahra belum sempat makan waktu itu dan mereka sudah pulang. Apalagi saat mengatakan Zahra menarik tangan Verrel, untung saja Zahra tak ada di antara kerumunan. Jika iya, dapat di pastikan Zahra akan marah besar dan tidak mau berbicara lagi dengan Verrel.
Deon dan Daniel pun mulai mengerti maksud Verrel. Mereka berdua hanya menampilkan senyum miring, melihat Farhan yang membuang muka. Wajah Farhan juga sudah nampak merah walaupun ia masih saja menyembunyikan emosinya.
"Kenapa?" tanya Verrel pura-pura tidak tahu. Melihat Farhan yang masih saja diam tak menyahut ucapannya, sesekali pandangan Verrel menyusuri kerumunan.
"Bagus! Si pen kayaknya nggak ada," batin Verrel berasa menang.
Farhan menggertakkan giginya, bersusah payah mengendalikan emosi yang hampir saja meluap. "Maksud lo apa?" tanyanya pelan tapi tajam.
"Lo suka kan sama Zahra ?" tanya Verrel to the point.
Wajah Farhan bertambah merah, Bagaimana bisa Verrel tau? Karena setahu Farhan, ia tak pernah menunjukkan sikap kepeduliannya yang lebih ke Zahra apalagi di depan Verrel.
Farhan mengepalkan tangannya, sebelah tangannya meremas kuat dokumen yang di pegangnya. Sedangkan Verrel, hanya menampilkan senyum miringnya.
"WOW ...," antusias Daniel dan Deon, yang duduk bersila menyaksikan perdebatan 2 pemuda bersaudara yang tak pernah akur.
"ZAHRA??"
"Farhan suka sama murid baru itu?"
"Nggak bisa di biarin!!"
"Kurang ajar emang. Gedek gue mah dia!!"
Siswi-siswi di pinggir lapangan memekik heboh, mendengar penuturan Verrel. Sepertinya Verrel salah mengucapkan kalimat itu di depan fans-fans Farhan dan dirinya.
Verrel tidak sadar akan dampak ucapannya kali ini, berbeda dengan Farhan yang pemikirannya jauh kedepan.
"Nggak usah sok tau lo!" balas Farhan berusaha tenang.
"Oh, berarti lo nggak suka sama bocah itu?" pancing Verrel, nadanya terdengar santai tapi terkesan sinis.
Para penonton di pinggir lapangan memandagnya serius, tak ada yang ingin ketinggalan. Bahkan, sebagian siswi-siswi menggigit kukunya ikut merasakan panas perdebatan itu.
Farhan kembali menggertakkan giginya. Pemuda itu harus memikirkan jawabannya matang-matang.
Farhan tidak dapat mengatakan YA sebelum mengetahui Zahra merasakan hal yang sama atau tidak. Dan jika Farhan menjawab TIDAK, maka Farhan harus siap menghadapi tingkah Verrel yang semakin menjadi-jadi. Farhan tahu, Verrel memperalat Zahra untuk memberinya pelajaran.
"Gue nggak mungkin suka sama Zahra, dan kalo pun iya gue pasti udah mati-matian ngejar dia. Gue bukan lo yang di tinggal pas lagi sayang-sayangnya," sinis Farhan mengalihkan pembicaraan. Farhan sedikit keterlaluan menyinggung masa lalu Verrel tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Yakin lo?" tantang Verrel.
"Ya, gue yakin lo itu masih belum bisa move on dari Au ...," ucapan Farhan terpotong, karena Verrel dengan emosi langsung menyalip ucapannya.
"Siapa bilang?" sinis Verrel. "Gue suka sama Zahra puas lo?" Sarkasnya.
"LO!??" Farhan menatap tajam kearah Verrel. Tangannya kini sudah terkepal kuat, wajahnya merah padam menahan marah.Sepertinya, ucapan Verrel kali ini benar-benar mujarab, dokumen yang di pegangnya pun semakin tak beraturan.
Sesusah apapun Farhan mengendalikan emosinya, akan kalah juga jika menyangkut soal Zahra. Gadis polos yang tidak tau apa-apa itu harus berurusan dengan Verrel karena ego Verrel yang terlalu tinggi.
Siswi-siswi yang mendengarnya pun memekik heboh tak terima. Bahkan, ada yang mengepalkan tangannya, fans-fans Verrel mendesah berat.
"WHAT!!"
"Nggak! Nggak! Masa' Verrel suka sama Zahra!!"
"Emang Zahra itu siapa sih?"
"Secantik apa sih dia?"
"GUE NGGAK TERIMAA!"
"MURID BARU ITU BUTUH DI HAJAR!!!" Kali ini Bella yang bersuara. Yah! Bella cs juga menyaksikan perdebatan panas itu. Tadinya, biasa-biasa saja, hingga kalimat terakhir Verrel membuatnya tersulut emosi.
Teman-teman Bella pun mengangguk mantap.
####
"Bentar lagi Dy," sahut Zahra. Terlihat sangat serius mengerjakan tugas yang baru saja di berikan oleh Pak Seno sebelum bel istirahat berbunyi.
Audy menunggu Zahra sedari tadi dengan bertopang dagu, cacing-cacing di perutnya sudah demo. Tapi sahabatnya masih belum ingin meninggalkan bangkunya.
Kelas sudah sepi, ada yang ke kantin dan ada yang membentuk kerumunan di pinggir lapangan. Sisa 2 gadis itulah yang masih ada di dalam kelas.
"Zahra lo lama amat sih. Gue udah laper nih," ngeluh Audy duduk malas sambil bertopang dagu. Entah sudah berapa kali Audy membujuk Zahra untuk segera kekantin.
"Tunggu ini sisa 1 nomor lagi. Nanggung!" jawab Zahra, tangan kanannya tak berhenti bergerak menulis kata demi kata hingga membentuk kalimat di lembaran bukunya.
"Selesai," katanya senang. Lalu, membereskan buku-buku dan bolpoin yang berserakan di mejanya.
Zahra merogoh tasnya mencari kotak bekal yang di bawanya dari rumah. Gadis itu sudah lama tak membeli makanan di kantin, dan lebih memilih membawa bekal dari rumah. Hitung-hitung untuk hemat dan uang yang di berikan Raihan bisa ia tabung.
Zahra bangkit dari duduknya, dan tersenyum ke arah Audy. Audy bernafas lega akhirnya Zahra selesai juga, Audy tidak sabar ingin memberi asupan pada cacing-cacing sudah demo sedari tadi.
Audy menunduk ke arah sepatu Zahra. "Ra, itu tali sepatu lo ikat dulu gih," suruh Audy, menunjuk ke arah sepatu Zahra.
Zahra menunduk melihat sepatunya dan benar sebelah tali sepatunya tak terikat. Zahra hanya mengangkat bahunya acuh dan menarik tangan Audy untuk segara keluar dari kelas yang sudah sepi ini.
"Sekalian di kantin aja aku ikatnya, Audy udah lapar kan?" tanya Zahra sebelah tangannya memegang kotak bekal yang di bawanya, dan sebelah lagi ia gunakan untuk menggandeng sahabatnya.
Audy hanya mengganguk, walaupun ada rasa khawatir terbesit di hati gadis itu. Tapi, hanya ke kantin, bukan? Dan setelah itu Zahra akan mengikat tali sepatunya.
Perjalanan menuju ke kantin.
Audy dan Zahra saling melempar tatapan bingung, melihat ke arah kerumunan di pinggir lapangan.
Zahra yang melihat itu hanya mengangkat bahunya acuh dan kembali menarik tangan Audy untuk ke kantin.
Sedangkan, Audy masih tetap memandang kerumunan itu karena tidak biasanya para siswi-siswi berkerumun seperti itu. Kecuali memang ada hal yang tidak dapat di lewatkan sedang terjadi.
"Apa jangan-jangan ...," batin Audy.
"Ra, kesana yuk," ajak Audy melirik ke kerumunan itu.