NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:754
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOTA TIDAK MAU MELEPASKAN

Pagi hari yang merayap naik setelah kematian tragis Pak Rangga terasa sangat berbeda. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi jauh lebih sunyi, lebih menusuk, dan menyisakan kekosongan yang hampa.

Tidak ada satu pun orang yang berani mengungkit atau membicarakan rentetan teror semalam. Tidak ada juga yang mencoba melontarkan kalimat penghibur kepada siapa pun di ruangan itu. Mereka semua paham betul bahwa ada beberapa jenis luka yang terlampau dalam dan hancur.

Di sudut ruangan gudang yang temaram, Rania duduk meringkuk sambil memeluk erat kedua lututnya. Sepasang mata bocah perempuan itu tampak membengkak, memerah akibat terlalu banyak menumpahkan air mata sepanjang malam. Boneka beruang lusuh yang selalu didekapnya kini dipeluk sekencang mungkin, seolah benda mati berbulu kasar itu menjadi satu-satunya jangkar waras yang masih tersisa dari dunianya yang runtuh.

Sejak fajar menyingsing, Alya setia mengambil posisi duduk di samping bocah itu. Sesekali tangannya bergerak lembut, mengusap puncak rambut Rania dengan gerakan menenangkan, berusaha menyalurkan sisa kehangatan kemanusiaan yang ia miliki. Namun, Rania tetap membisu.

Dari kejauhan, Damar hanya bisa berdiri memaku, memperhatikan interaksi sunyi tersebut dengan dada yang terasa sesak dan berdenyut nyeri. Janji sakral yang telanjur ia bisikkan di telinga Pak Rangga yang bersimbah darah semalam terus bergema di dalam kepalanya, layaknya kaset rusak yang enggan berhenti.

*Tolong... jaga dia, Dam.*

Sebaris kalimat lirih itu kini telah bermutasi menjadi sebuah tanggung jawab mutlak yang harus ia pikul di atas pundaknya sendiri. Dan jujur saja, menatap Rania yang begitu rapuh, Damar didera keraguan besar apakah jiwanya sendiri cukup kuat untuk mengemban amanah seberat itu.

Begitu matahari merayap semakin tinggi menembus celah atap, Kapten Rendra mengumpulkan seluruh anggota yang tersisa di tengah ruangan. Garis-garis di wajah perwira militer itu tampak jauh lebih keras dan kaku dibanding hari-hari biasanya.

"Kita berangkat satu jam lagi. Bersiaplah," ujar Rendra tegas tanpa basa-basi.

Sesuai dugaan, tidak ada satu pun dari mereka yang melayangkan bantahan. Energi mereka terlalu berharga untuk sekadar dibuang.

"Tujuan kita hari ini adalah menembus jalur keluar kota di sektor barat," lanjut Rendra lagi.

Mendengar kalimat itu, Rudi yang tadinya menunduk langsung menegakkan kepalanya, menatap Rendra dengan kening berkerut. "Lo serius? Kita masih mau nekat keluar dari kota ini setelah semua yang terjadi?"

Rendra membalas tatapan itu dengan pandangan yang dingin namun mutlak. "Kita sudah tidak punya pilihan lain, Rudi."

Ia merogoh kantong seragamnya, lalu membentangkan selembar peta taktis militer yang mereka temukan di bangkai truk tempo hari. Lembaran kertas itu kini tampak semakin kusut, dipenuhi lipatan kasar dan noda tanah.

"Kalau kita memilih tetap bertahan dan bersembunyi di dalam kota ini, cepat atau lambat kita semua hanya akan berakhir menjadi mayat," Rendra mengetuk beberapa titik krusial di atas peta menggunakan ujung jarinya. "Distrik utara sudah sepenuhnya dikuasai oleh barisan tentara yang terinfeksi. Pusat kota berubah jadi sarang mutasi yang tak terkendali. Ditambah lagi, sisa pasokan makanan kita sudah menyentuh batas kritis. Kita harus bergerak mencari wilayah baru di luar sana."

Damar mengangguk pelan, menyetujui analisis logis tersebut. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sebenarnya sangat membenci keputusan yang mengharuskan mereka mempertaruhkan nasib pada wilayah asing yang belum pernah mereka raba sebelumnya. Namun, ia tidak bisa menampik kebenaran dari ucapan Rendra. Kota ini tidak lagi menjadi tempat berlindung; kota ini perlahan-lahan telah menjelma menjadi sebuah kuburan raksasa yang siap mengubur mereka hidup-hidup.

Dua jam kemudian, kelompok kecil itu melangkah keluar meninggalkan area gudang industri. Menatap barisan di sekelilingnya, Damar menyadari betapa jumlah mereka kini telah menyusut drastis dibandingkan saat mereka pertama kali mendirikan markas utama dulu. Beberapa orang memilih memisahkan diri bersekutu bersama Joko, sementara sisanya telah gugur secara mengenaskan atau hilang ditelan kekacauan.

Kelompok yang tersisa kini tak lebih dari segelintir manusia yang terseok-seok menantang takdir. Namun, seberat apa pun langkah kaki mereka, mereka tetap dipaksa untuk terus berjalan. Karena di dunia yang baru ini, memilih untuk berhenti bergerak adalah sinonim dari kematian itu sendiri.

Perjalanan membelah sektor barat memakan waktu hampir sepanjang hari. Semakin jauh mereka merangsek maju mendekati batas luar, semakin jelas pula mata mereka menangkap bukti-bukti visual betapa agresifnya upaya pemerintah di masa lalu untuk mengisolasi wilayah ini.

Hampir di setiap persimpangan jalan besar, barikade beton dan kawat berduri melintang menutup akses. Pos-pos pemeriksaan militer berdiri kaku dalam kondisi hancur berantakan. Bangkai kendaraan lapis baja terbengkalai begitu saja di bahu jalan, menutupi pemandangan. Beberapa di antaranya bahkan masih menyisakan kerangka manusia yang membusuk di dalam kabin kemudi—terjebak dalam posisi terakhir mereka saat bencana meletus.

Pemandangan distopia itu tak pelak membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremajang seketika.

"Tempat ini... kelihatan kayak zona perang habis dibom," gumam Alya lirih, suaranya bergetar menahan ngeri.

Kapten Rendra memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. Namun, sorot matanya tampak kian meredup dan suram. Sebagai seorang mantan prajurit, ia mengenali dengan sangat baik struktur dan pola pertahanan taktis yang tersebar di sepanjang jalan ini. Dan fakta di lapangan itu justru memperkuat kecurigaan lamanya: ada sebuah rahasia besar nan mengerikan yang sengaja disembunyikan oleh pihak petinggi sejak awal mula wabah ini pecah.

Ketika semburat jingga sore mulai membakar langit, langkah kaki mereka akhirnya menginjakkan kaki di batas terluar perbatasan sektor barat. Namun, persis di titik inilah sisa-sisa harapan yang mereka pupuk sepanjang hari mendadak runtuh tak bersisa.

Jalur keluar kota pertama yang berhasil mereka capai... ternyata sudah tidak ada lagi di peta realita.

Jembatan beton raksasa yang seharusnya menghubungkan area kota dengan jalur arteri nasional telah dihancurkan total, sengaja diledakkan. Separuh lebih dari struktur megah itu runtuh berantakan, karam ke dasar sungai di bawahnya. Yang tersisa di hadapan mereka kini hanyalah untaian rangka baja hitam yang patah, menggantung retak di udara terbuka.

Seluruh anggota kelompok seketika terdiam, membeku menatap ujung jalan yang terputus.

Rudi menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan makian kasar yang lolos dari sela giginya. "Sialan... bener-bener sial!"

Damar melangkah perlahan menuju bibir tebing jalan yang amblas, melongokkan kepalanya ke bawah. Puluhan meter di bawah posisinya berdiri, arus sungai yang sangat deras mengalir keruh, menghantam bebatuan cadas dengan beringas. Mustahil untuk diseberangi dengan peralatan seadanya yang mereka miliki.

"Jalur pertama... resmi buntu," cetus Rendra pelan. Tidak ada riak emosi atau kepanikan dalam intonasi suaranya. Mungkin karena jauh di dalam kepalanya, perwira itu sudah menduga skenario terburuk ini sejak awal.

Tanpa membuang waktu untuk meratapi kegagalan, mereka segera memutar arah untuk mencoba jalur alternatif kedua. Opsi ini memaksa mereka menghabiskan waktu hampir dua jam penuh untuk memutari kawasan pinggiran yang terjal.

Namun, takdir tampaknya sedang senang bermain-main. Hasil yang mereka dapatkan di jalur kedua sama sekali tidak jauh berbeda.

Kali ini, rintangan yang mengadang mereka bukanlah jembatan yang hancur berkeping-keping, melainkan sebuah struktur Tembok Beton Raksasa. Tembok itu berdiri kokoh dengan ketinggian mencapai hampir lima meter, membentang lurus membelah daratan sejauh mata memandang. Pada bagian puncaknya, untaian kawat berduri silet terpasang rapat, lengkap dengan menara-menara pos penjagaan militer yang berjejer kaku di sepanjang sisinya.

Itu bukan tembok pertahanan untuk melindungi warga sipil. Itu adalah Tembok Karantina. Sebuah struktur pembatas yang sengaja dibangun dengan satu tujuan egois: untuk mengurung seluruh isi kota agar tidak ada satu pun yang bisa meloloskan diri.

Rania yang sejak pagi memilih untuk mengunci mulutnya, akhirnya mendongak dan membuka suara dengan nada polos yang menyayat hati. "Kenapa... kenapa mereka bikin tembok setinggi itu, Tante?"

Alya dan Damar saling berpandangan sejenak, namun tak ada satu pun dari mereka yang sanggup langsung memberikan jawaban. Karena kenyataan yang sesungguhnya terlampau pahit untuk dikonsumsi oleh pikiran seorang anak kecil.

Pemerintah dari atas sana tidak pernah memiliki niat atau rencana untuk menyelamatkan jutaan nyawa yang terjebak di dalam kota ini. Sejak hari pertama virus lepas kendali, mereka hanya peduli untuk memastikan bahwa wabah jahanam ini tidak menyebar keluar batas wilayah. Dan itu berarti, seluruh manusia yang mendiami kota ini memang sengaja dikorbankan untuk membusuk bersama monster.

Tepat saat sang surya hampir sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, mereka berhasil menemukan titik jalur ketiga yang tertera di peta. Jalur itu berupa sebuah terowongan jalan tol bawah tanah yang memotong perbukitan, mengarah langsung ke wilayah luar kota.

Untuk beberapa sekon yang singkat, binar harapan kembali menyeruak di dalam dada mereka. Mereka berpikir mungkin inilah celah yang selama ini mereka cari. Mungkin di sinilah semesta menyembunyikan jalan keluar bagi mereka.

Namun, begitu langkah kaki mereka merangsek masuk beberapa ratus meter menembus kegelapan terowongan... sepasang mata mereka dipaksa menangkap sebuah pemandangan horor yang tak akan pernah bisa mereka lupakan seumur hidup.

Puluhan. Ratusan. Tidak—bahkan ada ribuan.

Tumpukan mayat manusia memenuhi seluruh badan jalan di dalam terowongan tersebut. Jasad-jasad itu berserakan, bertumpuk-tumpuk satu sama lain layaknya sampah, membusuk dan mengering dalam kondisi yang mengenaskan. Banyak di antaranya yang masih mengenakan pakaian sipil sehari-hari. Damar bisa melihat pakaian anak-anak, jasad orang tua yang meringkuk, petugas medis dengan seragam yang koyak, hingga sisa-sisa jasad tentara berseragam lengkap.

Damar seketika mengunci langkahnya, tubuhnya gemetar hebat menahan hantaman psikologis yang luar biasa. Alya refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, mencoba menahan pekikan ngeri, sementara Rudi langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding terowongan, tak sanggup lagi memandang. Bau busuk kematian yang teramat pekat menguar di udara rahasia terowongan tersebut, menusuk langsung ke paru-paru mereka.

Kapten Rendra melangkah perlahan membelah tumpukan tulang-belulang itu, menyorotkan senternya lurus ke arah ujung terowongan hingga ia menemukan akar dari petaka ini.

Sebuah Pintu Baja Raksasa.

Akses keluar dari terowongan itu ternyata telah disegel dan dikunci mati secara permanen dari sisi luar. Seluruh warga sipil yang di masa lalu mencoba melarikan diri menembus jalur ini... pada akhirnya hanya berakhir terjebak di dalam kegelapan jahanam, berdesakan, kelaparan, hingga akhirnya tewas mengenaskan satu per satu.

Tidak ada satu pun anggota kelompok yang membutuhkan penjelasan verbal atas apa yang baru saja mereka saksikan. Pemandangan makam massal di hadapan mereka sudah menceritakan seluruh kronologi kekejaman itu dengan sangat gamblang.

Malam sepenuhnya turun mencengkeram bumi ketika mereka melangkah keluar dari mulut terowongan jahanam itu dengan tubuh lemas. Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada satu pun manusia di dalam kelompok itu yang berani mengeluarkan suara. Pikiran semua orang benar-benar syok, dihantam badai keputusasaan yang akut.

Tiga jalur evakuasi telah mereka datangi. Tiga-tiganya berakhir dengan kegagalan total yang mutlak. Dan seluruh bukti di lapangan mengerucut pada satu kesimpulan mengerikan yang sama: kota tempat mereka berpijak saat ini bukanlah korban dari sebuah wabah yang tak terkendali. Kota ini adalah sebuah Penjara. Sebuah kandang raksasa yang sengaja dikunci mati oleh otoritas dari luar.

Setelah berjalan tanpa arah dalam kegelapan, mereka akhirnya memutuskan untuk singgah dan beristirahat di dalam sebuah bangunan sekolah dasar yang sudah kosong dan terbengkalai. Usai memastikan perimeter sekolah aman dari pergerakan *infected*, mereka semua berkumpul di dalam ruang guru yang berantakan.

Tidak ada cahaya lampu. Satu-satunya sumber penerangan di dalam ruangan itu hanyalah pendaran api kecil yang bersumber dari kompor portabel yang mereka letakkan di tengah lantai.

Kapten Rendra kembali membentangkan peta militernya di atas meja kerja guru yang berdebu, mengamatinya sesaat sebelum mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat kentara. "Semua jalur arteri utama menuju luar kota... resmi ditutup total."

Keheningan kembali menyergap. Tidak ada yang merespons ucapan Rendra, karena mata kepala mereka sendiri sudah menyaksikan kebenaran pahit itu secara langsung.

"Artinya... kita terpaksa harus memikirkan cara untuk mencari jalur alternatif lain," lanjut Rendra, memecah keputusasaan yang menggantung.

Rudi mendongak, menyunggingkan sebuah senyum sinis yang sarat akan keputusasaan. "Jalur apa lagi, Kapten? Jembatan dihancurin, tembok dibangun setinggi langit, dan terowongan dikunci mati. Jalur apa lagi yang lo maksud?"

"Jalur bawah tanah atau rute tikus yang tidak pernah tercatat di dalam dokumen resmi militer," balas Rendra tenang.

Rudi tertawa pahit, sebuah tawa getir yang terdengar menyedihkan di telinga semua orang. "Itu juga kalau emang jalur mitos kayak gitu beneran ada di kota jahanam ini."

Atmosfer di dalam ruang guru itu kembali mendingin, sunyi senyap. Damar mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu wajah rekan-rekan seperjuangannya di bawah temaram cahaya api kompor. Gurat keputusasaan terpahat begitu dalam di wajah mereka yang kuyu. Dan untuk pertama kalinya sejak seluruh kegilaan ini dimulai... Damar mendapati dirinya sendiri mulai merasakan riak keputusasaan yang sama merayap naik, menggerogoti tanggul pertahanannya.

Selama ini, di setiap pelarian yang mereka lalui, mereka selalu bergerak karena memiliki sebuah arah dan tujuan yang jelas. Selalu ada secercah harapan kecil yang menanti di ujung jalan. Namun sekarang? Kenyataan menampar mereka bahwa bahkan jalan untuk keluar dan melarikan diri pun tidak pernah disediakan bagi mereka sejak awal.

*Krrrttt...*

Tiba-tiba, sebuah suara asing yang ganjil memecah kesunyian dari arah sudut ruangan, membuat seluruh saraf siaga mereka mendadak tersentak hebat.

Seketika itu juga, kelompok kecil itu langsung mengunci pergerakan. Kapten Rendra reflek melompat bangkit dari duduknya, sementara Damar dengan sigap mengangkat laras senapannya, membidik ke arah kegelapan. Alya yang berada paling dekat dengan kompor portabel langsung memutar katup gas hingga padam, menenggelamkan ruangan dalam kegelapan yang pekat.

Mereka menahan napas, menajamkan pendengaran di tengah kegelapan total. Detik berikutnya, suara ganjil itu kembali terdengar.

*Krrrttt... Krrrtttt...*

Suaranya beraturan, terdengar seperti gesekan frekuensi dari sebuah perangkat elektronik tua yang sudah usang.

Dalam kegelapan, mereka saling melemparkan pandangan penuh tanya yang tak terlihat.

"Suara... suara apa itu, Dam?" bisik Alya dengan volume sekecil mungkin.

Rudi mengernyitkan keningnya tajam, mencoba menganalisis asal suara di sela ketegangannya. "Itu... bukan suara langkah kaki atau raungan *infected*."

Kapten Rendra melangkah seringan mungkin menembus kegelapan, mendekati salah satu meja kerja guru di sudut ruangan yang dipenuhi tumpukan dokumen lama, map-map kertas yang lapuk, dan buku pelajaran yang berdebu. Di balik tumpukan barang kuno itu, terletak sebuah perangkat radio komunikasi dua arah (*handy talky*) militer model lama.

Perangkat radio itu seharusnya sudah mati total sejak berbulan-bulan lalu karena kehabisan daya baterai. Namun, pemandangan di hadapan mereka malam itu sungguh di luar nalar.

Lampu indikator kecil berwarna merah di bagian atas radio tersebut tampak berkedip-kedip lemah di dalam kegelapan.

*Krrrtttt...*

Suara statis gelombang radio kembali bergaung pendek di dalam ruangan guru yang sunyi, memecah keheningan malam yang dingin.

Seluruh anggota kelompok seketika membeku di posisi masing-masing. Damar bisa merasakan jantungnya mendadak berdegup gila-gilaan, berdentum keras menghantam rongga dadanya sendiri. Perangkat komunikasi mati itu tidak mungkin bisa menangkap dan mengeluarkan suara frekuensi statis dengan sendirinya seperti ini.

Kecuali... di luar sana, bermil-mil dari tempat terisolasi ini, ada seseorang yang sedang memancar dan mencoba mengirimkan sebuah sinyal keluar.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang sangat lama, sebuah kesadaran baru yang sempat terlupakan mendadak menghantam isi kepala mereka semua.

Mungkin... di tengah-tengah kota penjara yang telah mati ini... mereka tidak benar-benar berjuang sendirian.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!