Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jam 12:25/ patroli pertama
Bab 16
Langkah mereka berderit pelan di lantai kayu saat beranjak hendak meninggalkan rumah pak darmo. Emak masih berdiri di ambang dapur, terlihat tangan mengusap ngusap mengusap-usap pinggangnya sendiri — cara orang tua yang tidak biasa diam.
"Nanti datang lagi ya, Nak," ucap Emak. Matanya menatap
Nayla lalu bergeser ke Raditya yang berdiri sedikit di belakang.
"iya Mak insya Allah, balas Nayla."
"Jangan lupa makan siang. Nanti sakit."
"iya, Mak," jawab Raditya.
Emak mengangguk.
Lalu mereka melangkah turun , di ikuti Sari di belakangnya. Dan Raditya terakhir — tapi sesaat kemudian terlihat, Raditya berhenti sejenak terlihat ia Menatap kembali sejenak ke ruang tamu itu. Emak sudah menghilang ke dapur. Vina sedang membersihkan nampan. Pak Darmo berbaring, dengan matanya yang terpejamm.
bahunya Raditya terlihat turun sedikit. sepertinya dia baru saja.
Lalu Ia turun.
angin siang sudah bergeser — lebih hangat dari pagi, lebih kering. Iva dan anak-anak terlihat di sana masih bermain di bawah pohon palem, mereka sekarang sedang berlarian mengelilingi ayunan, tertawa dalam bahasa yang hanya mereka saja pahami.
."Dadah, Dok!" suara Iva, dia melambaikan tangannya
"Dadah, Va!" balas Nayla melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
Raditya berjalan melewati mereka. Tapi terlihat langkahnya melambat setengah detik saat melewati ayunan.
Mereka saat ini sedang dalam perjalanan pulang,
tetapi ada yang sedikit berbeda.
Raditya berjalan di depan — seperti biasa, Tapi kali ini. jarak antara ia dan Nayla tidak selebar sebelumnya.
"Dok," suara Sari pelan, cukup untuk Nayla tapi tidak "
sampai ke Raditya.
"kenapa balas Nayla"
" anu dok Letnan Raditya itu... tadi pas di rumah Pak Darmo, dia kelihatan beda dok?"
Nayla menoleh. "Beda gimana?"
Sari menggigit bibir bawahnya, mencari kata yang tepat. "Ya... lebih... manusia."
Nayla tertawa kecil — suaranya pelan, hampir tertiup angin.
" Lo Dia emang manusia, Sar." balas Nayla sambil tersenyum
"Iya, tapi—" Sari melirik ke depan lagi. "—biasanya kan kayak robot."
Nayla tidak menjawab. Ia menatap punggung itu sebentar.
"iya sar Robot yang minum teh di ruang tamu orang asing. Robot yang bilang "Belum, Mak" ketika ditanya sudah makan atau belum."
batin Nayla.
"Robot juga bisa diprogram untuk sopan, Sar," ucap Nayla.
Sari mengernyit, tidak yakin dengan jawaban itu. Tapi ia tidak melanjutkan.
Mereka tiba di pos komando ketika matahari sudah bergeser ke barat —Nayla berhenti di depan tenda medis. Raditya berhenti beberapa langkah di depannya, menoleh. Ke arahnya ekspresi nya datar
"Jam 12.25, kita berangkat."
Nayla mengangguk. " siap, Pak."
Raditya menatapnya sebentar mata nya lebih. Tetapi terasa Lebih lama dari biasanya.
Laluh
"rapikan jilbabmu dok," ucap nya pelan
Nayla refleks mengangkat tangan ke jilbabnya. Membenarkannya pelan. "Oh—iya. Makasih, Pak." wajahnya sedikit memerah.
Raditya mengangguk lalu ia berbalik sebelum Nayla selesai berterima kasih. Melangkah ke arah tenda komando, langkahnya kembali ke ritme yang tidak kenal tunda.
Sari yang menyaksikan dari samping menahan senyum.
"Robotnya ngasih tau jilbab miring, Dok," bisiknya pelan.
"Sari," Nayla menatapnya dengan mata setengah menyipit. "Kamu ni."
Sari tertawa kecil, menutup mulutnya, lalu menyibak kain tenda medis dan menghilang ke dalam.
saat ini Nayla sedang berdiri sendiri di depan tenda medis selama beberapa saat.
Angin siang menerpa wajahnya — hangat, membawa aroma tanah kering. Dari arah lapangan, terdengar suara prajurit yang sedang bersiap untuk patroli. Suara sepatu, suara tali yang ditarik kencang, suara perintah singkat yang tidak sampai ke telinganya.
Nayla melirik jam di ponselnya.
11.47
"Tiga belas menit lagi". Gumamnya lalu terlihat ia
berjalan masuk ke tenda medis. Mengambil tas medisnya yang lebih kecil — yang isinya hanya perban, antiseptik, dan parasetamol.
saat ini Mereka sedang berjalan beriringan Raditya di depan Nayla di belakang. sunyi. tidak ada obrolan
Beberapa saat kemudian.
"Di sana," ucap Raditya tiba-tiba, ia menunjuk ke depan dengan dagu.
Nayla menoleh.
lalu terlihat di sana Di ujung jalan, berdiri sebuah gubuk kayu kecil — hampir lebih mirip pos ronda dari pada rumah. Di depannya, berdiri dua prajurit dengan senapan di punggung.
"Letnan,"
Raditya mengangguk singkat.
" bagaimana Situasinya?"
"aman, Letnan. Tidak ada pergerakan dari arah seberang sejak pagi."
Raditya melirik ke arah seberang —
lalu terlihat di sana, hutan bambu yang rapat membentuk batas alami antara dua desa. Di balik dedaunan, terlihat samar-samar atap-atap rumah dari desa sebelah.
"Patroli siang sudah lewat?"
"siap let sudah. Sersan Dimas yang pimpin. Baru kembali setengah jam lalu."
Raditya mengangguk
"Jaga posisi. Tidak ada yang mendekati batas tanpa izin. Paham?"
"Siap, let paham."
Raditya berbalik ia menoleh ke Nayla.
"dok Itu batas desa. Di seberang sana — desa yang bersengketa. Raditya menunjuk ke arah bambu
"siap pak." balas Nayla
"dan ingat Jangan pernah mendekati bambu itu sendirian Tanpa di temani seorang perajurit."
Nayla mengangguk. "Siap,paham pak."
Raditya menatapnya sebentar.
Lalu mengangguk dan ia berbalik hendak berjalan.
"terimakasih pak udah ngasih tahu"
"sama sama ayok."
Nayla mengangguk.
Mereka berpatroli selama hampir satu jam.
Raditya berhenti di beberapa titik — memeriksa pos, berbicara dengan prajurit yang berjaga, berhenti di beberapa rumah warga karena menemani Nayla.
Di pos ketiga, seorang prajurit menatap Nayla dengan mata yang sedikit berkaca.
"Dok," ucapnya pelan. "Boleh... boleh minta obat pusing gak?
Nayla menatap nya sebentar lalu tersenyum.
"boleh mas" lalu ia membuka tas medis nya.
"ini"
Prajurit itu melirik ke Raditya sebentar.
terlihat Raditya saat ini ia sedang melihat ke arah seberang,
"terimakasih dok"
"sama sama oh ya sekalian saya periksa ya mas"
"Boleh dok
Nayla memeriksanya cepat — tekanan darah, suhu, tenggorokan.
" mas sepertinya Kurang tidur dan dehidrasi.
"Minum air lebih banyak Istirahat kalau bisa ya mas.
"Siap, Dok."
Nayla mengangguk, menutup tasnya. Ketika ia berdiri, Raditya sudah berjalan beberapa langkah ke depan — tapi kali ini, ia menunggu. Berdiri di bawah pohon ketapang,
Nayla melangkah menyusulnya.
"Terima kasih, Pak," ucapnya pelan saat ia sedang berjalan di samping Raditya lagi.
"Untuk apa?"
"Sudah mengizinkan saya memeriksa prajurit itu
Raditya tidak menjawab.
ia melangka berjalan kedepan.
Beberapa saat kemudian di tengah perjalanan
"Pak," ucap Nayla pelan.
Raditya tidak menjawab. Tapi Nayla tahu ia mendengar
"Bapak itu... sebenarnya tidak seburuk yang Bapak tunjukkan, ya?" ucap Nayla.
Raditya tiba tiba berhenti berjalan.
Lalu Ia menoleh ke Nayla. Matanya yang tajam — yang selalu tajam, yang pernah membuat Nayla merosot di jok mobil — kini menatapnya dengan sesuatu yang hampir tidak terbaca.
"jangan berlebihan dok"
Nayla membuka mulut. Menutupnya lagi.
"ayok hari Uda Mulai gelap" ia berbalik dan berjalan lagi, langkahnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Nayla berdiri di tempatnya beberapa saat, menatap punggung yang menjauh. Lalu — tanpa bisa menahannya — senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Dasar robot yang tidak mau dianggap buruk.
Ia berlari kecil menyusulnya.