Tahun pertama pernikahanku bersama mas Abim kehidupan kami sangat harmonis dan bahagia, manakala diriku sudah mengandung buah hati dari cinta kita.
Tapi siapa sangka, tahun kedua pernikahanku di landa badai yang amat dasyat saat aku melahirkan seorang putri cantik yang justru di benci oleh ibu mertuaku yang menginginkan seorang penerus berjenis kelamin laki-laki.
Siapa sangka, diam-diam suamiku telah menikah dengan mantan sahabatnya. Yang merupakan wanita pilihan ibunya. Dan ibu mertuaku memintaku untuk menerima pernikahan kedua suamiku dan madunya itu.
Apakah yang harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskannya? Ikuti kisahku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menepi
Sepanjang perjalanan Inara masih asyik menikmati kebisuan. Indra yang berada di sampingnya merasa tidak enak untuk bertanya lebih jauh lagi. Karena sebagai orang luar, Indra hanya berusaha untuk menghargai privasi Inara dan memilih ikut mendiamkan jika Inara belum siap bercerita kepadanya saat ini.
Saat ini Indra menepikan mobilnya di sebuah jalan di tepian pantai. Sebagai seorang dokter yang pernah mempelajari ilmu psikologi, pantai adalah tempat yang paling mujarab untuk menghilang stress. Dan Indra sudah buktikan sendiri selama koas dulu dan itu berlangsung hingga sekarang.
Inara masih bergeming, masih asyik dengan isi fikirannya sendiri. Melihat itu Indra pun mulai membuka pembicaraan.
“Dulu waktu koas aku hampir stress tahu nggak Ra? Otak kecil ku ini di paksa untuk belajar dan terus belajar. Aku sesekali bolos pergi ke pantai untuk mendinginkan otakku yang hampir meledak,” gurau Indra memulai obrolan.
Inara pun menatap ke arah Indra. Dalam hati Inara sendiri masih penasaran, bagaimana sahabatnya Indra yang sering tidak kelas itu bisa menjadi dokter? Karena sebenarnya cita-cita menjadi seorang dokter itu adalah cita-cita Inara dulu.
Namun karena keterbatasan biaya, Inara harus mengubur baik-baik cita-cita masa kecilnya itu.
“Lalu, bagaimana akhirnya kamu bisa sampai di titik ini Dra?” sahut Inara mulai terpancing obrolan.
Indra pun tersenyum melihat Inara yang tidak menekukkan wajahnya kembali. Meski status mereka ini sudah berbeda, sifat pertemanan dalam diri Indra tetap berusaha memahami apa yang telah membuat wanita itu murung.
“Sebenarnya dulu aku tidak bercita-cita jadi dokter, hanya ingin jadi orang yang berguna saja buat keluargaku. Rupanya mami papiku menginginkan aku menjadi seorang dokter, ya mau bagaimana lagi. Setelah mendapat gelar dokterku, kakak perempuanku jatuh sakit dan di nyatakan positif kanker rahim. Semenjak itulah aku bertekat ingin menjadi dokter kandungan, karena aku tidak ingin mamiku mengalami hal yang sama seperti kakakku.”
“Sebentar-sebentar Dra, sebenarnya kamu itu dokter spesialis anak atau dokter kandungan sih? Kok kemarin di ruanganmu ada dokter spesialis anak dan kandungan?”
“Oh..itu, dokter spesialis anak itu temanku namanya Ayu. Sedangkan aku dokter kandungan. Kebetulan ruangan Ayu sedang ada renovasi dari pihak rumah sakit, jadi numpang sementara di ruanganku begitu. Dan kemarin, aku gantiin tugas Ayu sementara Ayu sedang sakit. Jadwal kunjungan sudah di buat mau bagaimana lagi. Terpaksa aku ambil, aku lihat di data pasien juga tidak ada daftar pasien yang berat dan darurat.”
“Oh..begitu tah.” Inara tampak manggut-manggut mendengar penuturan Indra. Ternyata tugas dokter itu bisa digantiin dengan dokter yang lain.
“Tapi kamu jangan mikir kita asal diagnosa pasien ya Ra, karena pada dasarnya ilmu kedokteran itu sama. Dan keluhannya tidak jauh berbeda, kecuali penyakit dalam harus benar-benar di periksa dan di diagnosa oleh ahlinya. Termasuk pekerjaanku juga tidak bisa di ambil ahli oleh dokter lain. Baik Ayu atau siapa pun begitu.”
Inara hanya biasa tersenyum malu, rupanya temannya Indra mampu membaca isi fikirannya yang sudah berusaha ia sembunyikan dengan baik. Inara jadi benar-benar merasa insecure dengan Indra yang sekarang.
“Sekarang gantian kamu Ra, tapi maaf ya bila aku ikut campur sepertinya kamu sedang ada masalah. Barangkali aku bisa bantu?” ujar Indra memberanikan diri bertanya kepada Inara.
“Masalah ya?” Inara hanya tersenyum menanggapi tanya Indra yang tiba-tiba itu.
“Iya apa aku salah? Gini-gini aku pernah mempelajari ilmu psikologi loh. Jadi aku bisa membaca sedikit perilaku pasien-pasienku,” ucap Indra dengan jumawa.
“Iya..iya deh pak dokter, tapi pak dokter bisa baca isi hati orang juga tidak?”
“Ya tidak dong, aku kan dokter Ara buka Priyanyi. Aku tidak punya khodam buat mintain baca isi fikiran orang. Aku cuma punya stetoskop.” cengir Indra menampilkan barisan gigi putih pria itu.
“Oh..kirain..”
Inara pun tergelak dengan isi fikirannya sendiri yang mengira Indra bisa membaca isi fikirannya. Ternyata tidak. Namun setelahnya, Inara pun kembali terdiam dengan wajah seriusnya. Begitu juga dengan Indra ikut menampilkan wajah seriusnya.
“Aku malu untuk cerita masalahku Dra, karena masalahku teramat rumit untuk di ceritakan.”
Indra pun menghela nafasnya perlahan. Indra sadar diri ini bukanlah ranahnya untuk mencampuri kehidupan rumah tangga orang lain. Apalagi dirinya juga belum pernah berumah tangga. Jadi Indra sendiri belum tahu, solusi apa yang harus ia beri jika tahu masalahnya Inara itu.
“Baiklah tidak usah cerita saja jika kamu tidak ingin, tapi yang jelas kalau ada sesuatu yang mendesak kamu bisa hubungi aku.”
“Makasih ya Dra.”
“Oke, sekarang kamu mau kemana? Aku akan antar, apa kita mau pulang ke rumahmu? Atau kemana?”
“Sekarang aku tidak pengen pulang Dra, bawa saja aku kemana pun kamu mau.”
Bersambung..
Selamat buat Inara dan Indra pny anak kembar dan jelita
DinDut itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Inara hrs mengusut sampai tuntas
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
klo indra tidak selamat malas lanjut baca nya
DinDut Itu pacarku ngasih iklan
Buk Retno bnr2 pembuat masalah nih
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan