Dunia persilatan ibarat lorong goa yang panjang.
Tempat ancaman kematian selalu datang dari balik kegelapan.
Pertarungan demi pertarungan yang selalu berakhir dengan kematian.
Itulah jalan para pendekar membunuh atau di bunuh.
Bagiku seorang pendekar mengusai ilmu beladiri bukan mencari kesempurnaan melainkan untuk membela mereka yang lemah dan tak berdaya.
Apakah arti kesempurnaan ilmu, jika tak di abadikan untuk kemanusiaan.
Namun dalam setiap pertarungan yang berakhir dalam kematian lawan, hanya kehilangan yang kurasakan.
Semakin lama semakin dalam.
Ada yang hilang dan ada yang ku temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizan Armand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Tua Misterius
Liu Wei yang sudah berada di ruangannya kini terlihat termenung, gadis itu masih sedih atas kepergian sosok pria yang baru-baru ini berhasil dekat dengannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Liu Wei segera beranjak untuk membukakan pintu. Sosok yang di temuinya di balik pintu adalah gurunya tetua Yang Zi.
"Ada apa guru menemuiku?" Kata Liu Wei sesaat setelah ia membukakan pintu.
"Patriark ingin bertemu denganmu Wei'er." Jawab tetua Yang Zi.
"Ada apa Patriark memanggilku guru, apakah ada tugas untukku?" Tanya Liu Wei mengerutkan dahi.
"Aku tidak tahu Wei'er, Patriark hanya menyuruhku menjemputmu." Kata tetua Yang Zi, kemudian mengajak Liu Wei ke ruangan Patriark Wang Bai.
Sesaat kemudian mereka berduapun sudah tiba di ruangan Patriark Wang Bai. Kemudian tetua Yang Zi diminta oleh Patriark Wang Bai untuk meninggalkan mereka berdua.
"Silahkan duduk." Kata Patriark Wang Bai setelah di ruangan tersebut hanya tersisa dirinya dan Liu Wei.
"Apa ada tugas penting untukku Patriark, sehingga anda menyuruhku datang kemari?" Tanya Liu Wei tanpa berani menatap wajah Patriark Sektenya itu terlalu lama.
"Tidak ada tugas untukmu, hanya saja aku ada sedikit pertanyaan mengenai pemuda yang bernama Arya." Jelas Patriark Wang Bai dengan lembut agar mencairkan suasana yang sedikit canggung.
"Apa yang ingin Patriark tanyakan?" Tanya Liu Wei penasaran.
"Apakah benar bahwa pemuda itulah yang telah mengajarimu jurus-jurus yang kau perlihatkan di dalam turnamen waktu itu?" Tanya Patriark Wang Bai dengan memasang wajah serius.
Liu Wei diam sejenak, gadis itu takut nantinya akan menerima hukuman karena diam-diam telah belajar dari orang luar.
"Be..benar Patriark, Arya lah yang telah mengajariku menyempurnakan jurus pedang bunga matahari. Dia jugalah yang mengajariku jurus elemen air." setelah diam beberapa saat, akhirnya Liu Wei menjelaskan semuanya dengan sedikit gugup.
"Apa?..." Pekik Patriark Wang Bai dan lalu diam sesaat. Sebelumnya dia hanya mengira bahwa Arya hanya mengajari gadis tersebut jurus elemen air saja. Dan dia mengira bahwa Liu Wei sendiri lah yang telah menyempurnakan jurus pedang bunga matahari.
"Benar Patriark... aku tak berbohong. Pemahaman pedang Arya sungguh luar biasa, maka dari itulah aku memintanya untuk membimbingku."
"Pantas saja aku merasa ada beberapa gerakan yang sedikit aneh dari jurus pedangmu." Patriark Wang Bai mengelus-elus dagunya.
Mereka diam sesaat, sebelum Patriark Wang Bai kembali bertanya. "Lalu kemana tanaman-tanaman yang telah di kumpulkan pemuda itu kemarin malam? Apakah sudah dijadikan sebagai obat-obatan?" Tanyanya yang sedikit heran, jikapun hanya untuk membuat pil, mengapa Arya harus meminta tanaman tersebut bukannya memetik daun, bunga atau lain sebagainya.
"Dia sudah menyimpannya Patriark, tapi entah aku sendiri juga tidak tau dimana dia menyimpannya." Jawab Liu Wei.
"Menyimpannya?" Maksudmu, bisa kau jelaskan secara rinci, Liu Wei." Patriark Wang Bai mengerutkan dahinya dibuat semakin penasaran.
"Arya hanya mengarahkan tangannya dan dalam sekejap tumbuh-tumbuhan itu sudah hilang." Liu Wei menjelaskan.
"Haaaaahhh... Hilang, tidak mungkin jika tanaman-tanaman itu di simpannya ke dalam cincin ruang." Ucap Patriark Wang Bai dengan nada sedikit meninggi karena tidak percaya dengan penjelasan gadis di hadapannya itu.
"Sungguh yang aku katakan adalah benar Patriark, aku awalnya juga mengira demikian. Tapi setelah aku bertanya, Arya hanya berkata bahwa tanaman-tanaman itu sudah disimpannya."
"Pemuda yang misterius, banyak sekali hal-hal yang di sembunyikannya. Mungkinkah dia adalah seorang senior yang menyamarkan umurnya." Gumam Patriark Wang Bai pelan tapi cukup bisa di dengar oleh Liu Wei.
"Dia memang masih muda Patriark, Arya sendiri lah yang berkata umurnya masih 14 tahun, 1 tahun lebih tua dariku. Dia tidak mungkin membohongiku." Kata Liu Wei dengan yakin.
Setelah mengutarakan pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran, kemudian pria paruh baya itu mempersilahkan Liu Wei untuk keluar dari ruangan dan meninggalkannya seorang sendiri. Dalam pikiran Patriark Wang Bai masih menyimpan banyak pertanyaan pada sosok pemuda yang beberapa hari ini menjadi tamu di sektenya, Arya.
*****
Disisi lain, Arya sudah memasuki hutan yang dia sendiri tidak tau nama hutan tempatnya berada sekarang. Pemuda itu berjalan santai, karena memang tidak ada suatu hal yang memaksa dirinya harus terburu-buru.
Setelah memakan daging rusa panggang yang sebelumnya dia tangkap, Arya lalu melanjutkan perjalanannya.
Ketika telah berjalan puluhan mil, dia merasakan pada jarak satu kilometer dari tempatnya terdapat hawa keberadaan seseorang, dia lalu bergegas lari untuk mengetahui siapa gerangan orang tersebut.
Pada jarak 50 meter, dia mendapati ada seseorang yang terkapar di atas tanah. Arya berjalan menghampirinya untuk memastikan dan memeriksa kondisi orang tersebut.
Belum sempat Arya mencoba membangunkan atau mengecek keadaan orang tersebut, Pemuda itu tiba-tiba di pukul oleh pria paruh baya yang tadinya terkapar di atas tanah itu.
"Apa maksud kakek memukulku? Aku tidak memiliki niat buruk sedikitpun pada kakek." Ucap Arya yang terlempar mundur 2 meter dari jaraknya semula sebab menahan pukulan mendadak dari orang asing tersebut.
"Insting reflek tubuhmu bagus juga anak muda." Pria tua itu terkekeh pelan.
"Maaf tuan, jika sebelumnya aku telah mengganggu istirahat Anda. Kalau sudah tidak ada lagi urusan, saya mohon pamit melanjutkan perjalanan." Arya menelangkupkan tangannya lalu berjalan meninggalkan lokasi tersebut.
"Kau kira bisa pergi begitu saja anak muda." Pria tua itu langsung berkelebat di udara dan melepaskan tendangan ke tubuh Arya.
"Apa tujuanmu sebenarnya pak tua?" Hardik Arya sedikit geram atas tindakan pria tua di hadapannya itu.
"Aku hanya ingin bermain-main saja denganmu anak muda." Ucap pria tua itu tersenyum sinis.
Arya terdiam sesaat, pemuda itu mengamati pria tua di hadapannya dengan seksama. "Aku tak bisa melihat tingkat Kultivasinya, tapi dari serangannya barusan, aku menebak pria tua ini setidaknya memiliki energi yang lebih besar dariku." Gumam Arya dalam hati.
"Kau benar bocah, dia menutupi tingkat Kultivasinya. Tapi aku tetap bisa melihat pria tua itu berada pada tahap Pendekar suci tingkat 3." Kata Dewa Petir melalui telepati.
"Kenapa pria tua hebat seperti dia bisa berada di dalam hutan ini seorang diri.. dan lalu apa yang diinginkannya dariku." Tanya Arya melalui telepati.
"Hei anak muda, kenapa kau malah melamun disaat berhadapan denganku. Apa kau sedang meremehkanku." Ucap pria tua itu langsung menyerang.
Arya menahan pukulan tinju dari pria tua itu dengan telapak tangannya. Tapi pukulan yang sudah di aliri Qi yang sangat besar itu, membuat Arya terpental mundur sejauh 6 meter. Walaupun Arya sudah membuat pelindung energi yang melapisi tubuhnya, namun tetap saja pukulan itu masih berdampak padanya.
"Hahaha ternyata kau hebat juga anak muda... aku tidak percaya dengan tingkat Kultivasi mu yang hanya di tahap awal tingkat 6, bisa menahan pukulanku yang menggunakan 40%. Tunjukkan Kultivasimu yang sesungguhnya." Ucap pria tua itu sambil terus melancarkan pukulan tangan kosong secara beruntun kepada Arya.
Pukulan demi pukulan di tahan Arya menggunakan perisai energi es. Arya tidak ingin gegabah menghadapi pukulan pria tua itu dengan anggota tubuhnya lagi. Karena sebelumnya saja pukulan yang hanya menggunakan 40% energi, sudah bisa membuat tangannya kebas seperti mati rasa beberapa saat.
"Pintar juga kau anak muda." Ucap pria tua itu kagum dengan gaya bertarung Arya. "Jika kau tak menggunakan semua kekuatanmu dan jurusmu, akan ku pastikan kau akan kehilangan nyawamu disini. Kali ini aku akan menggunakan seluruh kekuatanku." Lanjutnya sambil terus melayangkan tinju dan tendangan.
Arya tidak ingin mati untuk kedua kalinya di perjalanan hidup yang baru saja di mulainya. Pemuda itu lantas mengeluarkan Pedang Pusaka Pusaran Angin miliknya.
Sebuah pusaran energi angin tercipta mengelilingi pedang yang di pegang Arya, sesaat setelah pemuda itu mengalirkan Qi pada pedang tersebut.
"Baguslah... Sepertinya kau mulai serius anak muda. tak ku sangka, kau juga memiliki sebuah senjata pusaka." Pria tua itu tersenyum sesaat sebelum mengeluarkan juga pedang miliknya.
Tebasan pedang yang di aliri energi angin, terus menyerang tubuh pria tua itu. Dengan kecepatan yang diiringi sapuan angin di setiap tebasan, membuat pria tua itu mulai terdesak. Setiap tebasan pedang Arya mampu membuat pedang milik pria tua itu tertekan bahkan beberapakali terpental.
Tidak ingin kerepotan dengan hanya menggunakan jurus pedang biasa, pria tua itu segera mengalirkan energi api ke pedang miliknya. Kobaran energi api terlihat menyelimuti pedang pria tua tersebut.
Pria tua itu langsung menyerang dengan pedangnya yang sudah diselimuti kobaran api, dan terlihat beberapa kali juga ia menyemburkan elemen api dari tangan kirinya ke arah Arya.
Setiap api yang melesat ke arahnya, ditangkis Arya dengan balok es yang dia ciptakan.
Hantaman pedang dan tabrakan energi dari dua orang yang sedang bertarung tersebut, menciptakan gelombang kejut yang merusak pohon-pohon di sekitar area mereka bertarung.
Hawa dingin dan panas menyelimuti dua area sudut yang berbeda. Di tempat Arya berdiri di selimuti aura dinginnya es, sedangkan di tempat pria tua itu di selimuti api yang mengeluarkan hawa yang panas.
Dua energi yang berlawan jenis itu tercipta di area pertempuran mereka berdua, menyebabkan angin menderu kencang dari dua sudut berbeda.
Pedang dari kedua orang yang berbeda generasi itu masih meliak-liuk saling beradu. Kecepatan pedang milik Arya nyatanya tak mampu menggores tubuh pria tua itu, walau hanya satu goresan saja. Sedangkan pedang yang diselimuti api milik pria tua itu, walaupun pergerakannya masih kalah cepat dengan kecepatan milik Arya, nyatanya beberapa kali mampu menggoreskan pedangnya ke tubuh Arya.
"Apa hanya segini saja kemampuanmu anak muda?" Ejek pria tua itu sambil mengambil nafas dan menstabilkan otot-otot yang mulai tegang di karenakan selalu bergerak.
Mata pria itu melebar karena mengamati tubuh Arya. Dia sangat yakin telah beberapa kali menggoreskan sayatan pedang pada tubuh pemuda di hadapannya. Tapi yang lihatnya saat ini hanyalah pakaian pemuda itu saja yang terkoyak, sedangkan tubuhnya masih mulus seperti tidak pernah terkena tebasan pedang sama sekali.
Itu semua karena Arya menggunakan Jurus Pelindung Naga Emas tahap pertama Sisik Naga Emas. Sehingga tubuhnya tidak mudah terluka oleh sabetan pedang.
"Kita sudahi dulu main-mainnya, tubuhku sudah terlalu tua untuk terlalu lama berolahraga." Ucap pria tua itu sambil menyarungkan kembali pedangnya.
"Haaaaahhh... Jadi menurutmu semua ini hanyalah olahraga? Kau tadi hampir saja membunuhku, dengan entengnya kau berkata seperti itu." Arya mendengus kesal sambil mengerutkan keningnya.
"Sabarlah anak muda, mungkin perlakuanku sedikit berlebihan tapi sebenarnya aku hanya ingin mengetes kemampuanmu saja." Ucap pria tua itu sambil berjalan santai mendekati Arya.
atur kembali alur ceritamu Thor biar pembaca ga salah menilai mu !!!
males ngebaca tingkah perempuan yg kyk gtu Thor !!! 😡