" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Satu Minggu sudah setengah pembicaraan serius antara pangeran Rafael dan kedua orang tua Meera, mereka juga sudah berada di negara nya,namun kedua orang itu belum mengatakan apapun pada sang putri, terlebih Meera tengah mengikuti ujian semester ganjil di kelas sebelas,tuan Amran dan nyonya Vanessa tentu tak ingin mengganggu konsentrasi sang putri hingga berakhir mempengaruhi nilai nya.
" Tumben papa sama Mama udah di rumah masih siang gini?" Meera yang baru pulang dari sekolah merasa heran dengan keberadaan kedua orang tuanya di rumah saat masih jam kantor dan di hari kerja seperti ini.
" Kapan kamu selesai ujian nya sayang?"bukan nya menjawab ,nyonya Vanessa justru bertanya,seraya meletakkan gelas teh di atas meja di hadapan sang suami.
" Sudah selesai ma, kemarin terakhir dan hari ini kami sudah mulai class meet, kenapa ma?" Meera baru saja pulang dari sekolah,ia dan Cecilia ikut menyaksikan teman-teman sekelas mereka bertanding futsal sesama teman kelas lainnya.
" Duduklah,ada yang ingin papa mu bicarakan" ucap nyonya Vanessa lembut seraya membimbing sang putri untuk duduk.
Nyonya Vanessa bahkan ikut duduk di samping Meera, matanya menatap wajah sang suami yang terlihat begitu terbebani dengan apa yang harus beliau katakan.
" Ada apa pa? Ma?" tanya Meera penasaran, masalahnya papa nya masih terlihat diam, sedangkan ia sudah sangat penasaran.
" Ehem....begini..mama aja deh yang bicara" setelah berdehem,tuan Amran justru menyetarakan pembicaraan kepada sang istri.
" Sebelum mama bicara,boleh mama tanya satu hal sama kamu?" tanya nyonya Vanessa terlebih dahulu.
Meera mengagguk, walaupun ia merasa semakin bingung dan penasaran dengan ekspresi wajah kedua orang tuanya, mereka terlihat begitu kebingungan.
" Bagaimana seandainya pangeran Rafael membatalkan pertunangan kalian? Apakah kamu akan kecewa? " tanya nyonya Vanessa pelan, matanya menatap lurus wajah sang Putri.
Mendengar pertanyaan sang mama,tak langsung menjawab,Meera terdiam dengan wajah menunduk,kedua tangannya meremas kuat rok sekolah nya, hingga setelah beberapa menit ia mendongak menatap langit-langit ruang keluarga mansion kedua orang tuanya.
" Kak El yang menginginkan itu atau keluarga kerajaan ma?" tanya Meera pelan, suaranya terdengar parau,namun sekuat tenaga ia menahan diri agar air matanya tak menetes di hadapan kedua orang tuanya.
" pangeran dan atas izin raja dan Ratu " jawab nyonya Vanessa jujur.
" Kapan kak El mengatakan pada papa dan mama?" tanya Meera lagi,saat ini wajahnya kembali menunduk.
" Sekitar satu Minggu yang lalu,mama baru mengatakan pada mu karena mama ga mau ujian kamu terganggu" .
Meera mengangguk,namun ia tak lagi menanyakan apapun,atau alasan dari Rafael "sudah kan ? cuma itu yang ingin mama dan papa bicarakan ? Kalau sudah Meera ke kamar ya ma,pa" ucap Meera akhirnya setelah diam beberapa menit.
" Are you okay Babe? tanya nyonya Vanessa lembut, tangan nya mengusap puncak kepala sang putri.
Meera mengagguk, mengangkat wajahnya seraya tersenyum tipis, bibirnya memang terlihat bergetar,namun ia tak menangis" aku okey ma,ga perlu khawatir,aku cuma mau mandi" jawab Meera pelan.
Tak ada lagi yang bisa nyonya Vanessa atau tuan Amran katakan,kedua orang itu mengangguk mengiyakan saja.
Meera bangkit dari duduknya, berjalan pelan meninggalkan kedua orang tuanya yang terus menatap punggungnya, tatapan ke khawatiran jelas terlihat dari kedua orang tuanya.
Sampai di dalam kamar nya,tanpa membuka seragam sekolah nya,hanya meletakkan asal tas dan ponselnya,Meera langsung menuju kamar mandi.
" Aaaaaa....hiks hiks hiks...." di bawah guyuran air shower,Meera berteriak seraya menangis sejadi-jadinya,ia bahkan sampai terduduk di lantai kamar mandi dengan air yang terus turun membasahi seluruh tubuhnya.
Puas menangis,Meera menyudahi mandinya,ia menuju walk in closet setelah mengeringkan rambutnya,mencari sebuah dress hingga pilihan nya jatuh pada dress berwarna merah.

Setelah merasa cukup dengan penampilan nya, memakai flatshoes dan tas,Meera meninggalkan kamarnya,tak lupa ponsel dan dompet.
" bik..mama kemana?" Meera bertanya kepada bik Munah saat ia sudah berada di lantai dasar mansion.
" nyonya baru saja keluar non, buru-buru, sepertinya ke butik,kalau tuan balik ke kantor sepertinya " jawab bik Munah.
" Non mau kemana?" tanya bik Munah seraya melihat penampilan nona mudanya yang terlihat begitu cantik.
" Mau ketemu temen bik,cuma sebentar kok, kalau mama pulang aku belum pulang tolong sampein ke mama ya bik" jawab Meera.
Bik Munah mengangguk patuh perintah nona mudanya.
Meera meninggalkan mansion,ia di antar pak Harto, seperti biasanya.
" Ke BC group ya pak" perintah Meera pada sang supir.
" Baik non" jawab pak Harto paruh.
Jantung Meera terasa begitu berdebar-debar,namun ia tak merasa gugup, hingga sekitar 40 menit karena macet, akhirnya mobilnya berhenti di depan lobby gedung megah tujuan nya, setelah tadi ia harus memperkenalkan siapa dirinya pada sekuriti penjaga gerbang.
" Bapak tolong tunggu di parkiran aja ya pak,aku ga akan lama" pinta Meera pada sang supir.
" Baik non" jawab supirnya patuh.
Meera turun dari mobil, berjalan anggun menuju meja resepsionis,sejak kedatangannya di pastikan ia menjadi pusat perhatian.
" Selamat sore Mbak " sapa Meera lembut pada dua orang resepsionis yang terlihat terus menatap nya.
" Selamat sore adik,ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis tersebut ramah.
" Saya Nymera Elvaretta Lennox, tunangan pangeran Rafael, saya ingin bertemu dengan pangeran Rafael,bisa tolong antarkan saya ke ruangan nya?" tanpa basa-basi,Meera langsung mengatakan tujuannya setelah ia memperkenalkan diri nya,ia tak peduli walaupun pertunangan mereka akan segera berakhir, setidaknya pangeran Rafael belum mengumumkan nya pada publik batin nya.
" O-oh..bo-boleh nona,mari saya antar" dengan ekspresi terkejut dan gugup,salah satu resepsionis tersebut bergegas mempersilahkan Meera menuju lift khusus CEO.
Meera mengagguk seraya tersenyum sopan,ia menggunakan kaca mata untuk menutupi mata sembabnya karena menangis.
" Silahkan nona " resepsionis yang mengantarkan Meera mempersilahkan nya keluar dari lift setelah lift berhenti di lantai 20 gedung tersebut.
Meera mengagguk mengikuti langkah resepsionis menyusuri lantai yang terlihat sepi,hanya terlihat beberapa ruangan saja, mungkin itu ruangan petinggi perusahaan.
" Permisi nona Camelia,ada tamu yang ingin bertemu pangeran" lapor sang resepsionis saat telah berada di depan meja kerja Camelia dan tepat berada di depan pintu ruangan CEO.
" Sebentar saya hubungi pangeran terlebih dahulu, apakah beliau bisa menemui tamu atau tidak" jawab Camelia dengan nada ketus, bahkan matanya melirik tak suka saat menatap Meera.
" Maaf.. pangeran sedang ada pekerjaan,tidak bisa menerima tamu" ucap Camelia setelah mengakhiri panggilan telepon nya.
Meera tak menjawab,ia menatap sejenak pada resepsionis dan Camelia" Mbak.. terimakasih sudah mengantar saya sampai di sini dan buat mbak juga,tapi maaf saya bisa sendiri.
Bruk....tak menunggu jawaban Camelia atau resepsionis yang mengantarkan nya tadi,Meera justru langsung mendorong pintu bertuliskan ruangan CEO tersebut,di belakangnya Camelia mengikuti dengan cepat.
" Ma-maaf pangeran...nona..." belum selesai Camelia bicara, Rafael sudah mengangkat wajahnya menatap kedepan, tatapan nya kaku, mungkin ia terkejut dengan kehadiran Meera di hadapannya.
" Tinggalkan kami " perintah Meera pada Camelia.
Tak langsung mematuhi permintaan Meera, Camelia justru menatap Rafael dan langsung meninggalkan ruangan itu setelah ia melihat Rafael mengangguk.
abis digampar Meera, sekarang bapaknya Meera, btw gpp namanya juga usaha, kerahkan seluruh usaha dan sabarmu ya EL
Ganbatte 💪
harus konsekuen dong dengan pilihan nya...ya sana jalan aja atau berkencan sama si Camelia..kan ngebet banget sama pangeran 😄
ini pasti akan sedikit lebih sulit.
Meeramu sudah berubah, dia bukan lagi Meera yg dulu
merana deh🤣
Meera kamu harus semakin kuat..
belajar menghadapi tantangan hidup
yg tentu tidak mudah.. yakinkan diri bahwa kamu kuat kamu bisa💪💪