NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Pertemuan Tidak Terduga

"HP mu, tidak aktif ya?" tanya Arya sambil menatap tajam Rania yang baru duduk di sebelahnya.

Rania membeku ditempat saat mendengar pertanyaan dari Arya. Baru saja ia senang karena baru membeli bubur untuk sarapannya, tapi saat tepat setelah bokongnya menempel di kursi mobil, sebuah pertanyaan yang begitu dingin langsung menusuk telinganya.

Ia gugup dan menelan ludahnya, lalu menoleh ke arah Arya sambil tersenyum canggung. "memangnya kenapa?"

Arya masih menatapnya tajam lalu menjawab dengan nada santai, "aku tadi sempat mengirim foto tas baru, tapi kamu tidak melihatnya padahal sedang pegang hp, " ucapnya sambil melirik ponsel yang masih dalam genggaman tangan Rania.

Rania semakin gugup saat melihat ponsel di tangannya adalah ponsel yang baru beli kemarin, bukan ponsel satunya lagi. Jempolnya bergerak pelan lalu menekan tombol power cukup lama hingga mati. Lalu ia mengangkat ponselnya dan pura-pura mengeceknya.

"eh iya mati hehe, nggak sadar tadi haha. Ayo berangkat!"

Arya masih menatap Rania dengan tajam, tapi kemudian ia melajukan mobilnya menuju ke kampus.

Untung saja ponsel yang Arya tau itu baru tiga harian dibeli dan ponsel paling baru miliknya baru dibeli kemarin sore. Jika dilihat dari tampilannya saja, pasti tidak akan terlihat perbedaannya sedikitpun.

Tapi tanpa sepengetahuan Rania, Arya melihatnya dengan jelas kalau ia terus memainkan ponsel sepanjang mengantri tadi. Saat menunggu pun dia masih sempat melihat ponselnya.

Sesampainya di kampus, Rania langsung keluar mobil tanpa berpamitan lalu berjalan cepat menuju kelasnya. Arya masih duduk di dalam mobil dan melihat punggung Rania yang semakin menjauh. Ia merasa pemandangan itu sama persis dengan keadaan sekarang. Gadis kesayangannya itu semakin menjauh dan terus membangun tembok diantara mereka menjadi semakin tinggi.

Kelas selesai lebih awal dari seharusnya, membuat Rania dan Dewi sedikit kebingungan. Karena jarak waktu menuju kelas selanjutnya cukup ambigu.

"mau di sini?" tanya Dewi kepada Rania.

"kelamaan nunggunya."

"yaudah mau pulang?"

"capek dijalan nanti," Rania pun bingung harus bagaimana. Menunggu tiga jam di kampus akan terasa melelahkan. Tapi jika pulang, waktu akan habis di jalan saja. Baru di rumah sebentar, sudah harus berangkat lagi.

"gimana kalo ke cafe di belakang kampus?"

Usulan Dewi membuat mata Rania berbinar. Kafe yang baru buka sekitar satu bulan itu sedang menjadi tren di kalangan mahasiswa. Karena selain lokasinya yang dekat, tapi konsep yang diusung juga cukup unik.

Mereka langsung menuju parkiran lalu melajukan motor matic milik Dewi menuju ke area belakang kampus. Meskipun dikatakan area belakang kampus, lokasinya sudah berada di luar area kampus. Karena itu, mereka harus menaiki kendaraan apalagi di tengah cuaca yang begitu terik hari ini. Memasuki daerah pemukiman, sedikit masuk ke dalam gang lalu sampailah di tempat tujuan.

Konsep cafe ini cukup unik karena tidak hanya menyediakan kursi dan meja saja. Melainkan menyediakan private room dimana pengunjung bisa bebas melakukan apapun selama tidak melanggar batas aturan maupun batas moral yang ada. Meskipun dikatakan private room, tapi setiap sudut ruangan tetap dilengkapi dengan CCTV demi keamanan bersama.

Rania dan Dewi masuk ke cafe lalu memesan menu yang ingin mereka santap. Setelah itu, mereka langsung mengambil private room yang masih kosong. Setelah masuk ke dalam, Rania langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur lantai yang disediakan.

"hmm wangi," gumamnya saat menghirup aroma wangi di ruangan tersebut. Ini juga salah satu alasan ia menyukai tempat ini karena selalu dijaga kebersihan tempatnya agar semua tamu merasa nyaman.

"permisi, ini pesanannya kak."

Rania langsung membuka matanya saat mendengar suara yang sangat familiar.

"Bagas?"

"Rania?"

Keduanya sama-sama terkejut atas kehadiran masing-masing. Rania tidak menyangka, seorang Bagas bekerja sebagai pramusaji di kafe. Kalau sesuai cerita dari Salsa, seharusnya dia sosok yang sombong dan tidak akan mungkin mau melakukan pekerjaan seperti ini.

Setelah pertemuan tidak terduga itu, Bagas tidak terlihat lagi. Setiap pesanan mereka dikirim oleh pramusaji yang berbeda. Rania tidak terlalu memikirkannya dan ia sibuk bermain ponsel dengan posisi tiduran di atas kasur lantai yang tersedia. Sementara Dewi masih duduk dengan fokusnya yang tertuju ke laptop.

Dua setengah jam kemudian, Dewi menggeliat meregangkan tubuhnya yang kaku setelah duduk dan fokus secara terus menerus. Ia melirik jam di sudut layar laptopnya lalu melihat ke arah Rania yang tertidur pulas. Setelah membereskan barang bawaannya, Dewi membangunkan Rania agar segera kembali ke kampus.

"yuk balik ke kampus."

"hoamm.. ayo," Rania menguap lalu menggeliat meregangkan tubuhnya. Matanya yang masih terasa lengket itu ia paksa agar terbuka. Duduk sebentar sebelum memeriksa dan merapihkan miliknya.

Saat Rania dan Dewi keluar, mereka melihat Bagas berdiri di depan meja kasir. Keduanya tidak berniat untuk menyapa, terutama Rania karena pemuda itu berkaitan dengan masa kelam di hidupnya sesuai yang dikatakan oleh Salsa.

Saat melewatinya, Rania dan Dewi berjalan biasa saja tanpa menoleh sedikitpun. Tapi tepat saat mereka sudah di depan pintu, panggilan dari Bagas langsung menghentikan langkah mereka berdua.

"Rania!"

Rania dan Dewi menoleh secara bersamaan ke arah Bagas.

"ada apa?" pertanyaan itu membuat Bagas terlihat menelan ludahnya lalu mendekati Rania perlahan.

"apa aku boleh bicara denganmu?"

"kalau cuma untuk urusan yang sama seperti sebelumnya, aku tidak bisa," ucap Rania yang mengacu pada beberapa hari terakhir Bagas yang berusaha mendekatinya.

"tidak, bukan itu. Aku ada hal penting yang ingin dibicarakan denganmu."

Rania melirik Dewi berharap ada bantuan darinya. Akhirnya ia mengangguk lalu memintanya menunggu di kafe ini setelah kelasnya selesai. Bagas pun menyetujuinya karena tepat saat itu juga shift nya sudah selesai, jadi ia bisa menemuinya dengan lebih nyaman.

"oh iya, sebaiknya jangan buat Arya curiga ya," ucap Bagas membuat Rania mengernyitkan dahinya.

"maksudnya?"

"kamu kan sama dia dekat nih, jangan sampai dia jadi mikir aneh-aneh."

Rania sedikit menghela nafas karena ia memikirkan sesuatu yang tidak mungkin. Ternyata Bagas hanya tidak ingin ada salah paham dengan Arya. Bukan sesuatu seperti yang ada di dalam pikirannya.

"tenang saja, dia buka orang yang seperti itu kok."

"dia orang yang seperti itu," gumam Bagas lirih.

"apa?" tanya Rania karena tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Bagas.

"oh tidak, sampai jumpa nanti."

Setelah itu, Rania dan Dewi kembali ke kampus bersama. Bagas terus memandang mereka dari dalam kafe hingga mereka menjauh lalu menghilang di tikungan gang. Ia menghela nafas pelan sambil menundukkan kepalanya. Seolah ia memikul seluruh masalah di dunia ini.

Sementara itu, Rania sepanjang jalan dan sepanjang kelas terus diam tidak seperti biasanya. Ia terus melamun hingga tidak sadar kalau kelasnya sudah selesai dan di luar sudah ada Arya serta Salsa yang menunggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!