Cinta pertama Ellea An Noor adalah ayahnya. Surga satunya yang dia miliki di dunia ini. Dia yang pernah berjanji tidak akan membuka hati kepada lelaki manapun harus dikejutkan atas permintaan sang ayah yang di luar prediksi.
Menikah karena ingin berbakti itulah yang dilakukan oleh Ellea dan Ahlam, putra dari kerabat ayah Ellea. Tanpa adanya pendekatan dan hanya bermodalkan kesepakatan mereka memutusakan untuk maju ke jenjang pernikahan. Merelakan kebahagiaan mereka direnggut agar bisa membuat orang tua mereka merasakan kebahagiaan.
Akankah pernikahan tanpa cinta yang mereka lakukan akan menghasilkan kebahagiaan? Atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Siluet Kesedihan
Gundukan tanah merah sudah ada di depan mata. Wajah Ellea masih basah sama seperti tanah merah di hadapannya. Rifal Addhitama, nama yang sudah terukir indah di nisan yang akan ditancapkan sementara. Rasanya, Ellea ingin bangun dari mimpi buruk.
Setelah doa dan permohonan maaf dari perwakilan pihak keluarga selesai, Ellea dan keluarganya mulai menaburkan bunga dan air mawar. Dadanya begitu sesak. Ulu hatinya terasa sakit.
"Apa masih mau di sini?" tanya Ahlam ketika keluarga sudah pulang sebagian. Ellea menggeleng pelan.
"Ayah, El pulang, ya. El janji El akan sering datang jenguk Ayah. El pasti kangen Ayah."
Ahlam mengusap lembut pundak sang istri. Dia tahu betapa sakitnya hati Ellea sekarang. Betapa sedihnya karena merasakan sebuah kehilangan. Ahlam merangkul pundak Ellea menjauhi pemakaman. Ada sebuah kesedihan yang mereka bawa. Ada luka menganga setelah meninggalkan tempat itu. Luka dan sedih yang tidak akan ada obatnya. Selamanya akan hinggap di hati mereka.
Di dalam mobil pun wajah Ellea masih terlihat begitu sendu. Ahlam menggenggam tangannya dengan begitu erat dan meletakkan kepala Ellea di bahunya. Perlahan, tangan Ellea pun melingkar di pinggang Ahlam. Berkali-kali Ahlam mengecup kening Ellea.
Tibanya di rumah, tenda sudah terpasang untuk acara tahlilan. Ellea mulai gontai dan tubuhnya dipapah oleh sang suami. Mereka yang sudah berada di sana memaklumi. Membiarkan Ellea beristirahat.
"Jaga Ellea terus, Am."
Perintah Baba Radit dijawab anggukan kepala oleh Ahlam. Ellea sudah duduk di tepian tempat tidur dengan wajah yang begitu sendu.
"Mas siapkan baju ganti dulu. Barulah--"
"Temani aku. Jangan pergi seperti Ayah."
Ahlam merasa sakit mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Ellea. Dia yang masih tidur terpisah dengan Ahlam kini terlihat nyaman berada di dalam pelukan sang suami di atas ranjang. Tangannya sama sekali tak melepaskan pinggang Ahlam.
"Kamu belum makan, Sayang. Makan dulu, ya."
"Aku tidak lapar."
Ahlam tidak memaksa. Dia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Ellea saat ini. Dia tetap menemani Ellea di atas kasur hingga terdengar dengkuran begitu halus. Ahlam mengusap lembut pipi Ellea yang begitu dingin karena air mata yang terus membasahi.
"Cukup ya menangisnya. Kamu boleh kehilangan, tapi kamu juga berhak mendapatkan kebahagiaan."
Kecupan lembut Ahlam berikan di kening Ellea dengan begitu dalam. Tangan Ellea yang memeluk tubuhnya membuatnya semakin merasa sakit. Apalagi, deru napas Ellea yang menerpa dadanya membuat dadanya nyeri.
"Mas janji, Mas akan memberikan lebih banyak cinta untuk kamu."
.
Acara tahlilan malam pertama baik Ahlam maupun Ellea tidak turun. Keluarga mendapat kabar jika Ellea sedang tertidur. Mereka tidak ingin mengganggu Ellea. Biarlah Ellea istirahat karena sudah pasti dia begitu lelah menghadapi kenyataan.
Keluarga besar Wiguna semua hadir, termasuk para kurcil yang ikut memakai kopiah dan baju Koko. Di tengah seriusnya acara tahlil berlangsung, ada saja ucapan yang membuat telinga panas.
"Ternyata benar ya dengan rumor yang beredar," ucap salah satu kolega bisnis mendiang ayah Rifal.
"Anaknya gak berbakti banget. Di acara ini aja malah gak ada."
Darah Agha sudah mulai mendidih mendengar gunjingan tersebut. Sayangnya, acara sedang berjalan dengan khusyuk dan mereka tidak tahu jika pria yang ada di samping mereka yang memakai baju Koko putih, celana hitam dan bermasker putih adalah Gavin Agha Wiguna. Titisan singa si raja hutan yang menakutkan.
Setelah acara tahlil selesai, Agha mulai mendekat ke arah sang paman, yakni Baba Radit. Dia menceritakan apa yang di dengar. Hembusan napas kesal pun keluar dari mulut sang baba.
Radit mulai berdiri dan memberikan sepatah dua patah kata sambutan. Tatapannya yang teduh tak membuat raut sedihnya bisa disembunyikan.
"... Saya meminta kepada siapapun jangan pernah menyebarkan rumor perihal keponakan saya, putri dari almarhum Rifal Addhitama. Siapapun yang menggunjing atau bahkan menyebarkan berita hoax tentang keponakan saya, saya akan memprosesnya secara hukum."
Raditya Addhitama adalah anak ketiga dari almarhum Addhitama yang begitu kalem, beda dari dua saudaranya. Wajahnya yang begitu teduh membuat para pekerja di kantornya sangat menghormatinya. Namun, ketika seorang pria berwajah malaikat marah, khodamnya akan keluar dan lebih sadis dari mereka yang sangar.
Dua pria yang sudah menggunjing Ellea pun mulai ketakutan. Mereka berdua hanya bisa menunduk dalam karena sebuah kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Sampai acara tahlilan selesai pun Ellea dan Ahlam belum keluar kamar. Mereka tidak ingin mengganggu dan membiarkan Ahlam dan Ellea terlelap.
Di sepertiga malam, Ellea terbangun. Dia sedikit terkejut ketika melihat wajah sang suami ada di hadapannya. Dia juga lebih terkejut ketika tangannya masih betah berada di atas perut Ahlam.
Ellea teringat akan wajah Ahlam yang begitu mencemaskannya. Bahkan dia rela meninggalkan proyek ratusan miliar hanya untuk menemaninya. Tangan Ellea mulai mengusap lembut pipi Ahlam sebelum dia turun dari tempat tidur.
Ellea menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum dengan begitu tipis. Siluet kesedihan masih nampak begitu jelas di wajahnya. Ellea membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu tepat di jam dua pagi.
Digelarnya sajadah dan dia mukena pun sudah dia pakai. Baru saja niat solat tahajud, air matanya sudah berlinang. Namun, Ellea tetap melanjutkan. Di dua rakaat itu air matanya terus mengalir. Seakan tengah mengadu kepada sang maha pencipta jikalau dia tengah berduka.
Disujud terakhir, air mata begitu deras mengalir sampai dia tak sanggup untuk bangun. Tubuhnya bergetar hebat. Cukup lama menitikan air mata dalam sujudnya, Ellea mulai duduk di antara dia sujud. Air matanya belum juga surut.
Selesai solat, Ellea tak beranjak dari sajadahnya. Dia menengadahkan tangan dan berdoa cukup lama. Ahlam yang sudah terbangun ketika mendengar gemericik air di kamar mandi pura-pura tidur dan sesekali membuka mata memperhatikan Ellea.
Ellea berniat untuk tak beranjak, menunggu adzan subuh. Namun, ternyata matanya tak kuat menahan kantuk. Ellea pun meringkuk di atas sajadah bagai bayi yang berada di dalam kardus.
Ellea terkejut ketika dia terbangun tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur. Dia melihat ke sekeliling. Suaminya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Udah bangun?"
Ahlam menghampiri Ellea yang masih mengenakan mukena. Dia mengecup kening Ellea dengan begitu dalam.
"Yuk, solat subuh biar Mas imami kamu." Lontaran ajakan yang membuat Ellea sedikit tercengang.
"Tolong siapakan baju Koko, sajadah dan sarung. Mas mau ambil wudhu dulu."
Ellea segera menyiapkan apa yang suaminya inginkan. Setelah air wudhu sudah mereka ambil, solat pun dimulai. Hati Ellea begitu damai dan tenang mendengar lantunan ayat Al Qur'an dari bibir suaminya. Meskipun, tak sefasih dan seindah qori nasional apalagi internasional. Baginya, suara sang suami begitu merdu.
Selesai solat, Ahlam membalikkan tubuh dan Ellea segera meraih tangan sang suami. Menciumnya dengan begitu dalam.
"Ya Allah, inikah yang Engkau bilang pelangi setelah badai? Suka setelah duka? Bahagia setelah air mata?"
"Ayah, apa ini alasanmu ingin cepat-cepat bertemu bunda? Ayah percayakan aku pada sosok yang Soleh seperti Mas Ahlam."
...***To Be Continue***...
Boleh minta komennya??? Banyakin dong ...
sangat menjiwai karektor, inspirasi cerita yang paling baik untuk dijadikan pedoman dalam hidup,..
setelah banyak mengeluarkan air mata seperti hujan akhirnya mentari muncul selepas badai ketawa ngakak habis ...bagai org gila pula ketawa tak henti henti 🤣🤣🤣🤣🤣...ada ada saja Thor ..tapi menarik dan lucu Thor menjiwai , seperti realiti.. mantap Thor inspirasi selalu Thor 👍👍👍👍
mungkin ini yang dikatakan setelah banyak mengeluarkan air mata disuggahi kelakuan absdul mereka nie ada-ada saja..
kena azab tuh sijalang
nyari mampos melawan 2 klrga raksasa./Sneer//Sneer//Sneer/