Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31
Renata baru saja kembali dari party bersama teman sosialitanya. Wanita berumur 27 tahun itu sangat bahagia karena setiap harinya yang ia lakukan adalah bersenang-senang menghabiskan uang yang Dewa berikan untuknya.
“Renata, kamu mabuk lagi?” tanya Dewa melihat istrinya pulang dengan langkah sempoyongan.
“Sayang, hari ini aku sangat bahagia. Aku bisa membuat mereka bungkam setelah aku memamerkan cincin berlian edisi terbatas ini,” ucap Renata seraya memperlihatkan cincin berlian yang tersemat dijari manisnya.
Mendengar ucapan Renata, tentu dirinya bangga bukan main. Dengan uang yang dimilikinya, ia bisa membuat Renata jatuh kedalam pelukannya.
“Sayang, sudah malam. Sebaiknya kita beristirahat. Besok pagi kita akan sangat sibuk.” Dewa pun menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya dikamar, Dewa langsung menurunkan istrinya ditempat tidur. Sementara dirinya memilih menghirup udara malam di balkon dengan ditemani sebatang rokok favoritnya.
Dewa malam itu terlihat sedikit gelisah karena beberapa hari yang lalu, tender miliknya kalah dan tender dari keluarga Wijaya yang berhasil menang.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, Dewa ingin sekali bertemu langsung dengan pria yang mengalahkannya. Namun, untuk menemui pria itu ternyata cukup sulit.
“Tidak biasanya aku kalah tender. Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa sangat sulit untuk bisa membuat janji dengannya,” ucap Dewa bermonolog.
Dari tempat tidur, Renata terus memanggil nama suaminya yang mana panggilan itu membangunkan hasrat Dewa.
“Dewa, kamu kemana saja? Datanglah padaku dan peluklah aku dengan cintamu.” Renata perlahan menanggalkan pakaiannya satu-persatu yang mana hal itu membuat hasrat Dewa semakin memuncak.
***
David menghela napas panjang setelah melakukan rutinitas yang cukup padat. Bahkan, untuk makan saja ia tidak sempat karena dari pagi hingga malam dirinya terus saja menghadiri rapat penting.
“Paman tumben baru pulang?” tanya Cindy yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Jadwal hari ini sangat sibuk,” jawab David yang kala itu tengah berbaring ditempat tidur seraya mengatur napasnya agar stabil.
“Kalau besok bagaimana?” tanya Cindy penasaran.
“Tumben kamu menanyakan jadwal ku? Apakah ada sesuatu?” tanya David penasaran.
“Lusa anak-anak butik mengadakan acara sarapan pagi disekitar taman. Masalahnya, outfit yang dikenakan warna merah putih. Paman tahu sendiri kalau Cindy belum punya uang untuk beli outfit baru.”
“Cindy, aku lelah. Lebih baik kamu bicara ke intinya saja,” ucap David.
“Cindy tidak ada uang, tolong pinjamkan Cindy uang!” pinta Cindy.
David yang kala itu tengah berbaring, saat itu juga beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya ke arah tas slempang milik Cindy. Lalu, mengeluarkan kartu kredit yang isi didalamnya sangatlah banyak.
“Lalu, gunanya kartu kredit ini apa Cindy? Aku memberikanmu kartu kredit ini untuk kamu belanjakan. Jikalau habis, aku pasti akan mengisinya lagi,” pungkas David seraya geleng-geleng kepala.
“Paman, Cindy itu lebih suka uang tunai. Uangnya pun secukupnya saja tidak perlu banyak-banyak.”
“Kamu ini antara polos atau memang bodoh. Suami kaya raya seperti ini, bukannya sibuk berbelanja ini malah bingung tidak jelas.”
“Tapi, Paman...”
“Cindy, pintarlah sedikit.” David dengan gemas mencubit pipit Cindy dan berharap Cindy bisa memahami setiap perkataannya.
Entah kenapa, jantung Cindy berdetak aneh saat David menyentuh pipinya. Membuat napas Cindy tiba-tiba sesak.
“Ada apa?” tanya David ketika melihat Cindy memukul-mukul dadanya sendiri.
“Paman jangan mendekat, kalau Paman mendekat Cindy akan berteriak,” ucap Cindy mengancam David agar tidak berjalan mendekat.
David menatap bingung Cindy, ia sedang tak melakukan apapun. Sikap Cindy yang tiba-tiba aneh itu membuat David kebingungan dibuatnya.
“Cindy!” David terkejut melihat Cindy yang lari terbirit-birit seperti dikejar hantu.
Cindy berlari menjauh, hingga sampailah ia diteras depan rumah.
“Nona Cindy kenapa keluar dijam malam seperti ini?” tanya Pak Toni menghampiri Cindy.
“Dada saya sedikit sesak, Pak. Saya butuh udara segar,” jawab Cindy.
“Apa tidak sebaiknya diperiksa saja, Nona Cindy. Barangkali ada penyakit serius,” ujar Pak Toni khawatir.
Cindy yakin kalau dirinya tidak sakit, apalagi sampai memiliki penyakit serius seperti yang dikatakan Pak Toni.
”Pak, bisakah tinggalkan saya sendiri disini? Saya tidak apa-apa dan hanya ingin mencari udara segar,” tutur Cindy yang tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Pak Toni akhirnya pergi dan membiarkan Cindy sendirian di teras depan rumah.
Perlahan Cindy mendaratkan bokongnya dikursi dan ketika sedang memandangi cantiknya bintang dilangit, tiba-tiba saja bayangan David masuk ke dalam pikirannya begitu saja.
Apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa wajah Paman muncul didalam pikiranku? Kenapa Paman tiba-tiba saja terlihat sangat tampan? (Batin Cindy)
“Cindy, ayo masuk ke dalam!”
“Ya Tuhan, apalagi ini? Kenapa aku bisa mendengar suaranya?” gumam Cindy mengira bahwa dirinya sedang berhalusinasi.
David yang saat itu berada tepat di belakang Cindy, perlahan menepuk baju Cindy yang mana hal itu justru membuat Cindy berteriak ketakutan.
“Ini aku,” ucap David setengah memeluk Cindy yang nampak sangat panik.
Cindy berusaha menolak pelukan David, namun tubuhnya seakan tak setuju dengannya.Bukannya berusaha melepaskan diri, Cindy justru membalas pelukan David.
David cukup tercengang dengan apa yang dilakukan Cindy. Tidak pernah sekalipun Cindy mau menerima pelukannya, namun tidak dengan malam itu.
“Kalian ini kalau mau pelukan jangan diluar rumah, sana masuk ke dalam kamar,” celetuk Mama Ratih.
Cindy dan David dengan kompak melepaskan pelukan mereka.
“Permisi!” Cindy berlari secepat mungkin masuk ke dalam kamar dengan perasaan malu bukan main.
Saat David datang menyusul, Cindy buru-buru masuk ke dalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.
“Cindy, kamu kenapa sih? Kok jadi aneh gini?” tanya David semakin penasaran.
Cindy bingung harus menjawab apa, semakin ia menolak berada di dekat David semakin kencang pula detak jantungnya.
“Perasaan apa ini? Kenapa aku menjadi salah tingkah begini?” tanya Cindy lirih.
“Cindy, ayo bicaralah. Kamu kenapa? Kamu sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit malam ini?” tanya David.
David tidak bisa diam begitu saja melihat Cindy yang berada dibalik selimut. David curiga kalau Cindy sedang sakit dan sengaja menyembunyikan sakitnya.
“Cindy, apa tidak sesak jika terus didalam selimut tanpa udara sedikitpun? Kalau kamu diam saja, aku terpaksa membuka selimut itu ya,” ucap David sedikit mengancam.
“Paman jangan mencoba mendekat. Cindy tidak apa-apa,” jawab Cindy dari dalam selimut.
David mengiyakan seraya duduk disofa memantau seberapa lama Cindy bertahan didalam selimut tersebut. David yakin tidak sampai 10 menit, Cindy akan membuka selimut itu karena kepanasan.
“Aku matikan saja AC-nya,” ucap David lirih seraya menekan tombol off pada remote AC.
Tak sampai 5 menit, Cindy pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya karena rasa gerah yang teramat.