"Belum ketemu juga!? Kalian akan mati jika tidak menemukannya!" Bentak Rafanda Airen, mengacaukan acara pertunangannya sendiri.
"Rafa, semua orang---" Kalimat Titania disela.
"Aiyue menghilang. Jadi jangan menggangguku dengan acara konyol ini." Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan area ballroom.
"Dia hanya sekretaris! Asisten! Pembantu! Aku calon istri yang setara denganmu!" Teriak Titania, memegang jemari tangan Rafanda, bersamaan dengan beberapa pengawal yang menghalanginya pergi.
"Bukan! Aku yang memberinya nama Aiyue, sedangkan namaku Airen." Rafa tertawa dalam tangisannya mengeluarkan senjata api dari dalam jasnya.
Dor!
*
Bagaimana tentang seorang anak berusia 7 tahun, yang tersenyum dengan sengaja memilih bayi mungil untuk menemani hidupnya. Memberinya nama Giovani Aiyue, serupa dengan namanya Rafanda Airen.
Mengendalikan hidupnya bagaikan boneka, Aiyue adalah boneka kecil dalam kendalinya. Boneka yang pada akhirnya retak meninggalkannya,karena telah memiliki hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Bianca
Sudah tiga hari dilalui olehnya sama seperti kata Hidan, dirinya lebih baik menjadi diri sendiri. Membuatkan green tea yang tidak disentuh kedua orang tuanya.
Menatap Enlai yang tengah bekerja, dirinya mendekat hendak membantu."Boleh aku sisihkan berkasnya. Apa ada yang perlu diketik? Aku sarankan mungkin anggaran produksi bisa ditekan jika memperkerjakan pekerja magang dari negara lain." Usul Aiyue membaca beberapa berkas yang tercecer. Dirinya hanya ingin mendapatkan perhatian orang tua kandungnya. Menjadi putri yang disayangi.
Ide yang sejatinya bagus. Namun ada rasa sakit tersendiri melihat gadis ini. Aya Himawari, menyimpan lukanya sendiri bertahun-tahun. Mengetahui dirinya bukan anak kandung. Entah kenapa dirinya berharap putri kandungnya yang asli akan sama seperti Aya Himawari, mendiang putri yang dicintainya, anak manis yang selalu manja padanya.
"Aya, sebaiknya kamu mengikuti les untuk menjadi dancer daripada membantuku untuk hal yang dapat aku kerjakan sendiri." Tegas Enlai.
"A...aku tidak menyukainya bergoyang saat musik pop diputar. Aku tidak pandai menari dalam tempo cepat. A... aku pernah menjadi penari ketika sekolah menengah pertama dan atas, penari balet. Aku pernah berperan sebagai Odette, putri Aurora, aku selalu mendapatkan pemeran utama. Karena itu jika ada tempat kursus balet disini, aku ingin mengikutinya, mungkin ayah akan menyukai---" Kalimat Aiyue terhenti.
Prang!
"Aku tidak menyukai pertunjukan apapun yang kamu katakan! Apa bagusnya balet? Dancer! Walaupun hanya penari latar dalam konser, kami selalu menghabiskan waktu bersama untuk menonton pertunjukan Aya!" Tegas sang ayah, menoleh ke arah lain memijit pelipisnya sendiri."Keluar!" teriaknya menggelegar.
Aiyue tersenyum mengepalkan tangannya."Maaf ayah, aku memang bukan putri yang baik seperti ayah inginkan. Tapi aku akan berusaha dengan caraku."
Langkahnya terasa berat, menatap sang ayah memijit pelipisnya sendiri kemudian kembali bekerja. Pintu ditutupnya perlahan.
"Nona?" Seorang pelayan wanita bernama Anastasya menatap ke arahnya. Melihat majikannya menangis diam-diam.
"Ini menyebalkan. Aku iri pada Aya Himawari. Dia putri palsu tapi merupakan panutan bagi putri asli. Aya Himawari yang asli? Aku Giovani Aiyue." Gumamnya tersenyum lirih.
Tidak ada jawaban dari sang pelayan. Menatap ke arah punggung majikannya. Dirinya telah berusia 45 tahun, bekerja mengikuti Emi dari muda. Jadi dirinya juga mengetahui tentang sosok Aya Himawari.
Tapi bukan itulah yang ada dalam bayangannya. Berbeda dengan keluarganya yang menganggap sikap manja anak itu merupakan anugerah. Dimata mereka mungkin Aya Himawari memang anak yang manis. Tapi di sisi orang luar, mendiang Aya Himawari cukup egois.
Hanya untuk merebut perhatian orang tua dan kakaknya tidak jarang dirinya berpura-pura sakit. Meributkan hal yang kecil, tentang kesalahan pelayan, membuat pelayan mendapatkan sangsi.
Bagaikan haus akan kasih sayang. Pernah ada masanya, Anastasya melihat Aya membasahi lantai. Kemudian berpura-pura terjatuh. Hanya agar seluruh keluarga menemaninya. Namun, terkadang anak itu tidak memikirkan dampaknya pada pelayan. Seorang pelayan pernah dipecat karenanya.
Sakit? Sering kali ada saja pelayan yang menyumpahinya demikian. Semuanya bekerja dengan hati-hati, tapi tetap saja, Aya akan membuat berantakan meja kerja ayahnya. Ketika ayahnya pulang, dirinya berusaha terlihat membereskan.
Anastasya tidak dapat menyalahkan mendiang Aya Himawari. Karena Aya melakukan segalanya, tidak ingin dibuang oleh keluarganya, menyembunyikan seorang diri selama bertahun-tahun bahwa dirinya bukan anak kandung.
Jika difikirkan baik-baik, bila mendiang Aya Himawari tidak mengidap kanker. Akankah anak itu jujur pada orang tuanya dirinya bukan anak kandung? Apa Aya akan tulus mencemaskan anak kandung yang asli?
Rasa iba ada dalam diri sang pelayan. Sungguh konyol putri asli yang diinginkan bertingkah seperti putri palsu yang egois dan kekanak-kanakan.
"Jika aku memiliki putri cantik, pintar, dewasa dan berbakti sepertinya. Mungkin aku akan bangga, merasa bersalah karena tidak membesarkannya." Gumam sang pelayan.
*
Bug!
Suara pintu mobil ditutup. Yoshida tersenyum membawa beberapa kantong belanjaan untuk adik kandungnya, Giovani Aiyue. Mengetahui selera berpakaiannya dari penyelidikan beberapa bulan ini, dirinya menyiapkan segalanya.
Bukannya tidak menyayangi mendiang Aya Himawari. Tapi adik kandungnya memang lebih spesial, memiliki selera style yang sama dengan keluarga mereka. Pernah menjadi juara pertama di kompetisi menari balet solo. Bahkan memiliki karier yang cemerlang dibalik ijazahnya yang hanya SMU.
Dirinya memang hanya seorang jaksa, tapi cukup berbakat jika hanya sekedar bermain piano. Menjadi pengiring adik perempuan yang cantik untuk menari balet tidak buruk juga.
Hasil tes DNA ada di tangannya. Tentu saja hasilnya Giovani Aiyue adalah adik kandungnya.
Melangkah dengan pasti, tapi hanya sejenak langkahnya terhenti. Aiyue memakai pakaian berwarna elektrik pink, lebih parahnya lagi itu adalah pakaian bekas mendiang Aya Himawari.
"Ke... kenapa kamu memakai pakaian ini?" tanya Yoshida menatap ke arah adik biologisnya.
"Tidak ada pakaian lain selain pakaian ini. Pakaianku sedang dicuci." Jawab gadis itu membaca buku tentang bagaimana etiket menjadi istri yang baik.
"Ryu? Ada apa ini!?" Yoshida kembali bertanya pada seseorang yang setahun ini telah membantunya mencari keberadaan adik kandungnya.
"Jalan termudah untuk menerima pengakuan orang tuamu adalah berperan sebagai mendiang Aya Himawari. Tugasku hanya mendidiknya menjadi istri yang baik bagi suaminya. Dan mempercepat rencana pernikahan yang tertunda di beberapa generasi. Lagipula ini perintah ayahmu." Jawab Ryu, menghela napas dirinya berusaha fokus. Walaupun tidak menyukai hal menjijikkan ini. Merubah seseorang untuk menjadi peniru putri palsu yang bahkan telah mati.
Air mata Yoshida mengalir, ini benar-benar memalukan. Adik kandungnya bahkan tidak pernah menerima kasih sayang. Tapi bahkan ketika pulang harus menjadi orang lain untuk mendapatkan kasih sayang?
"Ryu Kimura, aku sudah mencari informasi tentang putra pertama keluarga Kimura. Sungguh mengejutkan ya? Mengingat siapa majikanmu sebenarnya." Sarkasnya, jemari tangannya gemetar. Mengapa orang ini malah mendukung tindakan kedua orang tuanya.
"Kamu tau?" Tanya Ryu melepaskan kacamata bacanya.
"Tentu saja, keluarga Kimura memang memiliki garis keturunan yang lumayan rumit. Karena itu---" Yoshida mendekatkan tubuhnya sedikit berbisik."Jangan pernah ikut campur urusan internal keluargaku. Hanya untuk mengukuhkan posisimu sebagai pewaris utama."
Yoshida sedikit menjauh."Aiyue, coba pakaian yang aku berikan. Kamu tidak perlu memakai pakaian yang menyakitkan mata itu hanya untuk disayangi olehku, kakak kandungmu, Yoshida!"
"Tapi jika aku tidak mengikuti kelas, Hidan mungkin akan terkena masalah." Ucap Aiyue ragu.
"Tidak perlu mengikuti kelas pengantin. Awalnya memang pelajaran etiket, tapi pada akhirnya Ryu akan mengajarimu lebih dari itu. Bagaimana menjadi istri yang baik di malam hari." Yoshida tersenyum, memberikan begitu banyak paperbag.
"Ganti baju, jadilah dirimu sendiri." Lanjut Yoshida, sedangkan Aiyue kembali melangkah ke kamarnya dengan ragu.
*
"Ini jalan tercepat agar adikmu diakui oleh orang tuamu. Mungkin ibumu juga akan dapat sembuh. Lagipula Aiyue dapat belajar dengan cepat. Dia---" Kalimat Ryu disela.
"Ryu Kimura, adikku sangat berharga. Dia burung gereja kecil yang dapat lepas kapan saja. Kamu tidak boleh meremehkannya. Sebaiknya kembali, dan tunggu dengan sabar, hingga aku setuju untuk menikahkan adikku!" Tegas Yoshida.
Tapi tanpa diduga pintu bel rumah berbunyi. Seorang security datang membuka pintu mengantarnya masuk.
"Tuan ada yang melamar pekerjaan menjadi pelayan. Dia memiliki surat rekomendasi dari W&G Company." Ucap sang security.
Pelayan yang begitu cantik. Terlihat menunduk pemalu."Perkenalkan namaku Bianca..."
Yoshida yang pernah melihat Rafanda Airen dari jauh mengernyitkan keningnya. Berusaha mati-matian menahan tawanya.
masa tamat begitu aja🙄😭😭😭
but
aku puas banget,Rafa ketulah sama omongannya sendiri ya ttg bapaknya
nice ending
beautiful story'
love full buat othorrrrr
aku makin padamu
malah jadi takut kita
aku suka keributan ini
kuaci udah abis Ama othor,CK
bentar lagi farell Dateng
makin serruuuu
tapi kalau mang dr sana nya kau setia
ada 1001 alesan buat kau setia
hidup itu pilihan bukan,sekali lagi?
biasa pada celap celup sama bini orang apa
kok kyk gitu di normalisasi kan