Silahkan promo asal jangan SPAM
Sesama Author saling membantu ya Kak
Langit telah memilihku untuk mengemban tugas menghentikan turunnya utusan iblis dan menghabisi mereka semuanya, namun aku gagal.
Di saat semua sudah terasa sirna dan hancur, rupanya langit masih memberi kesempatan kedua untuknya.
Aku kembali saat berusia 10 tahun berkat pola prasasti aneh yang mengurung diriku saat jatuh dan hancur...
Di kehidupan keduaku kali ini, akan tuntaskan kehendak langit - Widura.
Terinsipirasi dari Novel Talles Of Demon, Pedang Naga Api (Karya Ricky Wicaksono), Pendekar Dewa Matahari (A. Lubis).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL Divo Febriansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 31. Laki-Laki Pemalas
Di dalam rumah Pramesti sendiri dua orang utusan keluarga Komet sudah tidak bernapas lagi. Tetua Dirga mati dengan mata melotot, seakan masih tidak percaya jika dirinya mati di tangan Abbas dan lidah masih terjulur, tampak sangat menjijikan. Lintok mati dengan tiga bagian tubuhnya tertusuk jarum beracun milik Pramesti.
"Abbas, mau kita apakah mayat mereka semua?" tanya Pramesti.
"Kita akan menguburkan mereka di tengah hutan, pastikan tidak ada yang mengetahui hal ini," jawab Abbas dengan nada memerintah kepada Pramesti.
"Apakah kau menyuruh diriku mengangkat mereka semua? Dimana derajatmu sebagai seorang laki-laki sejati," seru Pramesti seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Cihhh, dasar perempuan malas," Abbas langsung menyeret dua orang laki-laki yang sudah tidak bernapas itu, "Kau bersihkan bercak darah mereka,"
Di luar kediaman Pramesti, Panjul sudah mengikat semua orang yang berhasil ia kalahkan.
"Kau sudah selesai njul, mari kita bawak mereka semua ke dalam hutan. Kita kuburkan mereka semua tanpa di ketahui orang lain," Abbas langsung menggeret mayat di belakangnya dan di ikuti pula oleh Panjul yang juga menggeret mayat.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah tiba di tengah hutan, tempat di mana Widura sudah menghabisi semua lawannya.
"Kau menghabisi mereka semua?!" ucap Abbas dan Panjul serempak. Mereka berdua jelas terkejut, mereka bukan tidak dapat melakukan hal seperti itu, tapi melakukannya dengan cepat dan dalam satu serangan saja bukan perkara mudah.
"Kau menghabisi mereka hanya dengan menggunakan busur dan anak panah itu?" Abbas menunjuk busur panah yang berada di punggung Widura.
"Tidak semuanya paman, ada dua orang yang ku habisi dengan tangan ku sendiri," seru Widura.
Abbas dan Panjul sudah kehabisan kata-kata untuk di ucapkan. Mereka hanya menggeleng tidak percaya saja dengan sesuatu yang mereka lihat malam ini.
"Sekarang sebaiknya kita kuburkan mereka sesegera mungkin paman, takutnya nanti keburu pagi," ucap Widura yang langsung di balas anggukan oleh Abbas dan Panjul.
Ketika pagi hampir tiba mereka semua sudah selesai menguburkan semua pendekar keluarga Komet yang tewas, kecuali Panca yang sengaja Widura tinggalkan agar memancing kemarahan ketua keluarga Komet saat menemukan Panca mati ataupun di temukan dalam keadaan hidup namun dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
***
Panjul dan Abbas menghabiskan harinya dengan tidur dan berbaring di bawah rindangnya pepohonan di tepi sungai.
Sementara itu Widura memilih terus berlatih untuk meningkatkan ilmu kanuragan dan tenaga dalamnya.
Abbas ataupun Panjul merasa kagum dengan kemampuan fisik yang di miliki oleh Widura. Widura seakan-akan tidak merasa kelelahan karena pertarungan malam tadi dan menggali pemakaman untuk semua jasad keluarga Komet.
Ketika matahari mulai condong ke barat yang menandakan hari sudah mulai sore. Beberapa saat kemudian dua orang perempuan mendatangi tempat mereka.
"Dasar laki-laki pemalas," sindir Pramesti yang di tujukan kepada Abbas dan Panjul.
"Keponakan Widura kau sungguh rajin berlatih, aku sungguh bangga padamu," lanjut Pramesti yang memuji Widura.
Widura hanya membalas senyum. Sebelum kembali melanjutkan latihannya.
Abbas dan Panjul yang merasa tersindir langsung bangun dari tidurnya dan mulai duduk bersila.
"Kami baru saja beristirahat, bukan begitu Bas," Panjul mengedipkan matanya ke arah Abbas.
"Benar-benar kami baru saja beristirahat, kami sungguh merasa lelah berlatih dari pagi tadi," Abbas mencoba berbohong di hadapan Pramesti agar tidak nampak sebagai bujang pemalas.
Sukma Ayu yang melihat hal itu tidak bisa menahan tawanya, apalagi saat melihat wajah Abbas dan Panjul yang jelas terlihat sedang berusaha membohongi Pramesti.
"Haha sudah malas, pandai berbohong pula, benar-benar laki-laki tak tau diri," ejek Pramesti.
"Sudahlah bibi, bukankah bibi tadi bilang ingin membawakan makanan untuk mereka," ucap Sukma Ayu.
"Aku sampai lupa, akibat terlalu semangat mengomeli laki-laki pemalas itu," Pramesti menunjuk Abbas dan Panjul.
***
Astafati nampak begitu geram saat matahari mulai terbit, tapi tim yang di pimpin oleh Dirga belum juga kembali. Astafati jelas begitu cemas, karena dalam tim itu putranya, Panca berada dalam tim itu.
Ketika matahari sudah benar bersinar dengan terang, Astafati memanggil beberapa pendekar raja ke ruangan pribadinya.
"Apakah tim yang di pimpin Dirga sudah kembali?" tanya Astafati kepada tiga orang di hadapannya.
"Mereka belum kembali ketua," jawab salah satu dari mereka dengan harap-harap cemas yang luar biasa.
Brakkk
Astafati menggebrak mejanya, sehingga beberapa catatan berharga berserakan entah di mana, "Kalian bertiga, aku perintahkan cari tahu di mana keberadaan Dirga dan timnya, berikan laporan secepatnya kepadaku, dalam bentuk apapun itu," perintah Astafati kepada tiga orang pendekar raja di hadapannya saat ini.
Tiga orang pendekar itu langsung mengangguk dan segera undur diri karena tidak tahan terus mendengar ocehan dari Astafati. Ketiga langsung bergerak cepat meninggalkan desa Air Merah dan berjalan cepat menuju desa Pasmah.
Tidak membutuhkan waktu lama, satu jam kemudian mereka sudah tiba di hutan yang ada di wilayah desa Pasmah. Mereka langsung menyusuri hutan itu, tapi tidak ada yang mendapati keberadaan dari tetua Dirga dan tim yang ia pimpin belum juga tampak.
Ketiga terus melakukan penyusuran di hutan, mereka tidak cukup berani untuk memasuki desa Pasmah. Mereka hanya terus mencari di dalam hutan milik keluarga Lentera.
Sampai ketika waktu sudah sore dan mereka semua berniat untuk kembali dengan tangan kosong. Salah satu dari mereka melihat seorang laki-laki terikat di batang pohon dengan tubuh yang di penuhi oleh sayatan luka di mana-mana.
Ketiganya merasa begitu terkejut saat melihat laki-laki yang terikat itu adalah Panca, anak bungsu dari ketua Astafati, keluarga Komet.
"Tuan muda, apa yang sebenarnya terjadi? Di mana tetua Dirga dan yang lainnya?" tanya salah satu dari mereka setelah melepas ikatan yang ada di tubuh Panca.
"Ceritanya panjang, saat ini bantu aku berdiri dan bantu aku menemui ayah secepatnya," perintah Panca kepada tiga orang pendekar raja. Saat Panca mulai berdiri dan berjalan, ia merasakan jika bagian selangk*ngnya yang terasa sakit dan perih, akibat perbuatan bodoh dari Widura, maka untuk selamanya Panca tidak akan bisa memiliki keturunan.
Panca mengutuk perbuatan Widura, ia bersumpah mulai saat ini tidak akan pernah hidup tenang jika belum mampu membalaskan perbuatan dari Widura yang secara tidak langsung merenggut masa depannya.
Ketika hari hampir gelap, barulah Panca dan tiga orang pendekar raja tiba di desa Air Merah. Mereka langsung menuju ke ruang pribadi ketua keluarga Komet.
Astafati nampak begitu kaget dan murka saat melihat kondisi putra bungsunya itu begitu mengenaskan. Tubuhnya yang di penuhi dengan luka dan lebam, di tambah lagi dengan luka di bagian selangk*ngannya membuat semua orang yang melihatnya saat ini merasa kasihan kepada Panca.
"Gardikkk, akan ku patah-patahkan tulang-belulang keluarga Lentera itu..."
kamu di bab sebelumnya mengatakan bahwa ki joko budoyo MAHA TAHU atas segala yang terjadi.
gantinama aja thor. .. jadi JOKOBODO wkwkwk
sungguh menyedihkan