Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
‘SPLATS!’ Sebuah cambuk memukul betisku. Perih.
“Ulangi lagi!” Sebuah suara perempuan berteriak ke arahku yang sedang berdiri memegang sebuah buku.
Aku menoleh ke kiri dan kanan. Ini di mana? Kenapa aku aku ada di sini? Sejak kapan aku berada di sini?
Aku menatap ke depan yang mengarah langsung ke cermin. Ada wajahku, wajah Arabella yang lebih muda. Berdiri tegap dengan gaun rumah yang mewah sambil memegang buku dengan kedua tangannya.
‘SPLATS!’ Cambuk yang seharusnya untuk hewan itu kembali mengenai betisku.
“Arabella! Ulangi bacaanmu. Pastikan suaramu terdengar dengan vokal sempurna! Tidak ada yang menginginkan ratu yang tidak bisa melafalkan ‘Istana Moissanite’ dengan benar!” Perempuan itu. Duchess Isla yang juga lebih muda. Wajah marahnya masih sama menakutkannya dengan yang aku lihat tadi pagi.
Apakah aku kembali ke masa lalu? Atau, ini hanyalah mimpi buruk yang terasa nyata? Aku melirik ke Duchess Isla yang sudah memelototiku. Apapun itu, sepertinya aku harus mulai membaca buku ini.
'Sejarah Kerajaan Diamant dan Sembilan Istana'
Salah satu buku yang kubaca saat pertama kali datang ke dunia ini sebagai pengetahuan utama. Tapi, siapa juga yang bisa mengucapkan Moissanite dengan sempurna? Ada alasannya kenapa akhirnya istana itu disebut sebagai Istana utama. Meskipun ingin protes, jika melihat Duchess Isla melotot kearahku mau tak mau mulut ini tetap melanjutkan bacaan di buku itu.
“Pipimu jadi sedikit berisi. Apa kamu lagi-lagi makan tanpa sepengetahuanku?” Duchess Isla mengecek wajah dan tubuhku setelah sesi membaca selesai.
“Ti-tidak, Ibu.” Jawabku terbata.
‘SPLATS!’ Lagi, cambuk itu mengenaiku lagi.
“Sudah kuperingatkan. Bicara dengan vokal yang sempurna.”
“Baik, Ibu.” Jawabku dengan suara datar tanpa emosi.
“Obati lukamu, jangan sampai putra mahkota melihat kakimu yang memerah.” Duches Isla melemparkan sebuah kotak pertolongan pertama ke arahku. “Lalu, tidak ada jatah makan malam untukmu.” Lanjut Duchess Isla dan pergi meninggalkan ruangan itu meninggalkanku sendirian di sana.
Aku melihat betis kecil itu. Merah, terluka dan mengeluarkan darah. Sepuluh kali betisku dipukuli. Kebanyakan tanpa alasan yang jelas.
“Haha,” Aku mengganti ringisan dengan tawa.
Seorang anak duke, yang dididik sebagai calon ratu, terluka karena tidak bisa menyebut nama istana dengan benar. Lalu, kelaparan karena mengucapkannya dengan benar. Mengejutkan.
Aku memandangi pantulan wajah itu di cermin. Seakan Arabella yang ada di situ sudah jadi bagian diriku. Seakan merasakan Arabella yang kesepian adalah aku yang sedih dan sendirian. Aku tidak tahu apakah ceritaku kembali ke masa lalu. Tapi, aku berharap ini hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang tak mau kuulangi lagi.
Dengan tertatih aku melangkah ke arah sofa dan pelan-pelan mengolesi salep di luka terbuka di betisku.
“Kak Ala?” Sebuah suara anak kecil terdengar dari balik pintu. Kulihat dua anak laki-laki berwajah serupa mengintipku. “Kak Ala terluka lagi?” Kata salah satunya.
“Ai, Zio. Sini, sini.” Aku memanggil keduanya untuk mendekat. Mereka lalu setengah berlari ke arahku. Wajah keduanya tampan dan juga imut, usia mereka mungkin baru 4 tahun.
“Apa Ibu tidak mengizinkan Kakak untuk makan malam lagi?” Anak dengan tahi lalat di pipi kiri bertanya padaku.
“Tenang saja! Kak Ala boleh makan buah apel Zio. Nanti Zio kirim diam-diam ke kamar bawah.” Anak dengan tahi lalat di kanan, Zio, ikut berbicara.
“Kalau begitu, Ai akan memberikan roti manisku untuk Kak Ala.” Ai yang disampingnya tak mau kalah.
Aku tersenyum, tersentuh dengan perhatian yang kudapatkan dari dua anak kecil polos di depanku. Dengan penuh rasa sayang aku mengecup dahi keduanya. Aku memeluk mereka berdua dan mengucapkan, “Terima kasih, adik-adikku tersayang.”
Aku merasakan keduanya mengangguk dalam pelukanku, dan, entah kenapa, tubuhku tiba-tiba terasa amat mengantuk.
….…………….
“Ssttt.. Zio! Jangan banyak bersuara. Kak Ara sedang tidur.” Lagi-lagi suara anak kecil berada di dekatku. Aku mencoba membuka mata. Dua anak kecil berwajah imut sekaligus tampan kembali memandangiku. Tapi, kali ini usia mereka jadi sedikit bertambah.
Aku bangun dari tidurku. Melihat ke kiri dan kanan, aku kembali ke kamar bawah tanah dan tubuh Arabella yang berusia 20 tahun. Ah, untunglah yang tadi hanya mimpi.
Aku memandangi dua anak di depanku. Keduanya berusia sekitar 13 tahun. “Zio? Ai?”
“Maaf Kak Ara, aku tidak sengaja menjatuhkan barang Kakak.” Anak bertahi lalat di pipi kiri itu meminta maaf ke arahku, dia pasti Zio. Kalau begitu, anak yang memegang roti manis di sebelah Zio, pasti Ai.
Aku meraih keduanya dan memeluk mereka erat. Tak kusangka mereka adalah anak kecil yang tadi kulihat di dalam mimpi. Dua anak imut itu tumbuh besar dengan baik dan berwajah rupawan.
“Kenapa kalian ke sini? Bagaimana kalau Ayah dan Ibu melihat kalian?”
Berdasarkan kabar yang kudapatkan dari mengancam Lanna, Zio dan Ai sedang menjalani masa latihan berpedang. Jadwal mereka juga diawasi sama ketatnya seperti Arabella saat kecil dulu.
“Tidak apa-apa. Kami sudah punya cara rahasia. Ibu dan Ayah tidak akan tahu.” Ucap Zio dengan suara tenang dan ceria.
“Kami belum melihat Kak Ara pulang. Kami juga membawakan makanan untuk Kakak.” Ai memberiku roti yang dipegangnya. Entah jam berapa sekarang, tapi aku memang merasa lapar.
“Kalian tidak kecewa dengan Kakak?” Aku bertanya pada dua anak itu. Keduanya memandangiku bingung. “Gara-gara aku, keluarga kita gagal menjadi penerus generasi ratu Kerajaan Diamant.”
Zio dan Ai saling berpandangan, lalu, serempak mereka menggeleng.
“Aku tetap sayang dengan Kak Ara. Apapun yang terjadi.” Zio menjawab pertanyaanku dengan pernyataan pasti.
“Aku juga paling sayang dengan Kak Ara. Paling sayang sedunia.” Ai tak mau kalah.
Aku tertawa mendengar jawaban mereka yang lugu. Aku kembali memeluk kedua anak itu dan menciumi kepala mereka bergantian.
Meskipun hubungan Arabella dengan kedua orang tuanya tidak baik, dari sini aku tahu kalau dia masih memiliki Zioren dan Airen sebagai pelindungnya. Apapun masalah yang terjadi.