"Menikah denganmu tidak membuatku merasa bahagia apa lagi terlindungi seperti harapan mendiang Papa ku, Ken. Jadi mari kita akhiri pernikahan ini, agar kau bisa mengejar kebahagiaan yang kamu impikan bersama wanita yang kamu cintai" ucap Syila pada Keenan sang suami.
"Kau ingin bercerai dariku? tapi sebelum itu, mari kita habiskan satu malam bersama layaknya suami-istri. Bukankah selama ini kamu tidak pernah memberikan hak ku sebagai suami mu?" Keenan manatap sinis pada Syila.
"Jika dengan begitu bisa membuatmu puas dan bersedia mengakhiri pernikahan ini, maka lakukanlah sesuai keinginan mu" Syila mulai membuka bajunya. Syila semakin tidak mengerti dengan sifat Keenan, kemana Keenan yang selalu hangat dan perduli dengannya dulu? menjalani pernikahan seperti ini bukanlah keinginan Syila, jika boleh ia memilih, maka Syila ingin Papanya tetap hidup agar tidak perlu menikah dengan Keenan dan menerima kemarahan juga kebencian Keenan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemana?
Keenan mendatangi ruangan Emran setelah makan siang, pria itu merasa jika sesuatu telah terjadi sehingga wajah sang ayah terlihat marah padanya. Namun seingat Keenan, dirinya tidak membuat suatu kesalahan.
"Ayah, Ken....." Keenan tidak jadi melanjutkan kalimatnya, melihat seseorang diruangan sang Ayah.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk!?" geram Emran menatap tajam Keenan.
"Maaf, Ken akan keluar kalau begitu" kata Keenan merasa mengganggu.
"Tidak perlu! Duduk dan dengarkan apa yang akan disampaikan oleh Yusman" titah Emran, Keenan akhirnya masuk dan duduk disebelah Pak Yusman.
"Karena semua sudah kumpul, saya akan mulai menjelaskannya pada kalian" kata Pak Yusman menatap Emran, Keenan dan Hans.
"Saya selaku pengacara keluarga Alvarez dan sekaligus kuasa hukum Nona Arsyila Alvarez untuk menangani kasus perceraiannya dengan Tuan Keenan Millard. Seluruh proses perceraian itu diserahkan sepenuhnya kepada saya, dan Nona Syila tidak menuntut apapun pada Tuan Keenan Millard, segala jenis nafkah atau harta gono-gini, Nona Arsyila hanya ingin agar proses perceraian ini berjalan cepat" kata Pak Yusman menyampaikan apa yang Syila katakan.
"Dan seperti yang sudah saya jelaskan tentang wasiat Tuan Abyan, jika terjadi perceraian antara Syila dan Keenan, maka Keenan akan mendapatkan 50 persen harta warisan pak Abyan. Berupa saham perusahaan, beberapa bidang tanah, kendaraan kecuali rumah mendiang Tuan Abyan dan istrinya" jelas pak Yusman yang merupakan pengacara keluarganya Alvarez.
"Dan dalam hal ini, Nona Syila tidak keberatan sama sekali. Dan Nona Syila memberikan wewenang dan kepercayaan penuh pada Tuan Hans untuk mengelola sisa warisan miliknya hingga batas waktu yang tidak di tentukan, selama Nona Arsyila belum kembali" sambungnya membuat tiga orang pria yang ada di hadapannya terlihat bingung.
"Maksudnya aku dan Syila benar-benar bercerai?" tanya Keenan tidak percaya.
"Apa kau sudah tuli!!!???" seru Emran kesal, sedangkan Hans masih mencerna penjelasan pengacara itu.
"Apa maksudnya sebelum Arsyila kembali? Memangnya kemana Syila?" Hans, ya sudah seminggu ini Hans memang tidak berkomunikasi dengan Syila karena sibuk mengembangkan perusahaan Alvarez.
Pertanyaan itu berhasil membuat Keenan dan Emran terdiam dan menatap pengacara itu.
"Nona Arsyila tidak mengatakan akan pergi kemana, Nona Arsyila hanya bilang kalau beliau akan pergi sebentar" dan tentu saja jawaban itu tidak membuat ketiga hati pria di hadapannya lega, terutama Hans dan Emran. Sedangkan Keenan, mendengar penjelasan itu merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya, namun ia tidak bisa mendeskripsikan perasaan itu.
"Jika memang begitu, kami akan melakukan perceraian itu setelah Syila kembali" kata Keenan membuat semua orang terkejut, terutama Emran.
"Tapi Nona Arsyila sudah mendaftarkan permohonan cerai itu Tuan" kata Pak Yusman.
"Aku tidak perduli, aku hanya ingin perceraian itu terjadi jika Syila sudah kembali" Keenan beranjak dari duduknya.
"Kau sadar apa yang kau katakan itu? Apa kau belum puas membuat Syila menderita?" geram Emran karena Keenan mempersulit proses perceraian itu, namun begitu ada sedikit rasa lega di hatinya, sebab kemungkinan mereka tetap bersama masih sangat besar.
"Ayah boleh berpikir apapun tentangku" kata Keenan keluar dari ruangan Emran, dengan hati gamang.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan? Bukankah seharusnya aku mempermudah proses perceraian ini? Lalu kenapa aku seolah tidak rela bercerai dengan Syila?" gumam Keenan, perasaannya campur aduk antara takut, sedih, menyesal dan bersalah. Sedikitpun tidak ada rasa senang dan bahagia di hati Keenan mendengar dan mengetahui perceraian itu disetujui oleh Ayahnya.
"Tidak mungkin ini ada hubungannya dengan malam panas itukan?" Keenan menggelengkan kepalanya merasa sudah tidak waras.
"Sepertinya aku sudah tidak waras, aku bisa gila karena memikirkan hal ini" kata Keenan, ia langsung pulang ke Apartment untuk memastikan sesuatu, Keenan juga memikirkan kemungkinan kemana perginya sang istri.
🌸🌸🌸
Keenan sampai di Apartment dan langsung memeriksa dokumen penting milik Syila, namun hasilnya nihil karena semua dokumen Syila sudah tidak ada. Yang ada hanyalah baju-baju milik Syila.
"Apakah dia benarkahhhh pergi?" Keenan bermonolog, pria itu keluar dari Apartemen dan menuju rumah sang mertua. Dengan kecepatan penuh Keenan mengemudikan mobilnya, pria itu ingin segera sampai di tempat tujuan.
"Tuan Keenan" kata mbok Lis melihat Keenan keluar dari mobil.
"Syila ada disini Mbok?" tanya Keenan membuat mbok Lis bingung.
"Nona Syila datang tiga hari yang lalu, dan belum datang lagi kesini" kata mbok Lis, entah mengapa Keenan merasa frustasi.
"Apakah Syila mengatakan sesuatu pada Mbok Lis? Atau Syila berpesan pada mbok Lis?" tanya Keenan penuh harap jika Syila meninggalkan sebuah pesan untuknya.
"Nona hanya pesan kalau titip rumah dan menjaga rumah ini dengan baik selama nona tidak datang" kata mbok Lis sesuai dengan pesan Syila.
"Nona Syila juga pesan agar saya menyambut dan melayani Tuan Keenan dengan baik jika Tuan Keenan berkunjung kemari" sambungnya tersenyum, namun hal itu juga tidak membuat hati Keenan merasa lega.
"Baiklah, kalau begitu saya akan istirahat di kamarnya saja" kata Keenan, dengan lemas menyeret kakinya masuk kedalam rumah yang penuh kenangan bersama Syila.
Bayangan dirinya dan Syila belajar bersama dan melakukan hal-hal konyol terlintas saat Keenan melihat ruang tamu yang rapih. Banyak hal yang Keenan dan Syila lakukan disana sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga terakhir saat dirinya berdebat dengan Syila karena gadis itu berpakaian terlalu minim menurutnya.
Ya itulah kenangan terakhir saat hubungan mereka masih sebatas persahabatan yang manis. Karena setelah itu, yang terjadi hanya kekesalan Keenan pada Syila, hingga terjadi perdebatan besar malam itu yang membuat titik awal hubungan mereka merenggang, menjauh seperti dia orang asing.
"Sorry atas semua yang telah aku lakukan" kata Keenan membuka pintu kamar Syila dan terlintas perdebatan hebat itu, dimana emosi Keenan meledak dan tak terkendali.
"Sepertinya aku menyesal" gumam Keenan menelisik isi kamar istrinya.
Kamar itu tampak bersih rapih dan terawat, banyak buku-buku tersusun rapih di lemari buku. Ya Syila memang sangat suka belajar, gadis memilih membaca buku dari pada menonton film romantis atau Drakor seperti gadis lainnya.
Syila juga lebih memilih menggambar atau berjalan-jalan seorang diri jika sudah bosan membaca dan berdiam diri dalam kamar. Keenan sangat tahu kebiasaan gadis itu.
"Ini?" Keenan terkejut melihat foto pernikahan ala kadarnya yang dilakukan dirumah sakit terpajang di kamar Syila. Keenan tidak tahu kapan dan siapa yang mengabadikan momen itu, tapi ia merasa senang juga karena seseorang mengabaikan momen langka dan penuh makna itu.
Tidak ada senyum atau raut bahagia di wajah kedua mempelai. Bahkan wajah Syila memerah dengan mata sembab, sedangkan wajah Keenan tertekan kesal dan menahan amarah karena pernikahan itu terjadi dadakan dengan keterpaksaan.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺