Zefanya Emanuella, seorang gadis cantik nan periang, namun harus menjalani hari-hari yang begitu berat setelah kehilangan identitas di Bandara. Berniat untuk menemui om nya, namun justru malah membuatnya hilang dan tersesat.
Di saat dirinya frustasi, Zefanya di pertemukan dengan seorang nenek di Bandara yang sedang terpisah dari cucu nya. Berniat membantu, namun justru kesalahpahaman yang dia dapat. Zefanya terpaksa menjadi seorang pembantu di rumah nenek tersebut karena ancaman dari sang cucu.
Seorang nona muda yang terpaksa harus menjadi pelayan di rumah orang asing. Bagaimana kisah Zefanya selanjutnya. Dapatkah ia bertemu dengan keluarga nya? Atau dirinya justru terperangkap dalam rumah majikan barunya?
Jangan lupa follow akun
IG @Mommy_ar29 dan
Tiktok @Mommy_ar95 🥰🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat
...~Happy Reading~...
“Cukup Bat! Lo udah minum banyak!”
“Diem kalian!” bentak Batara dan langsung menjauhkan tangan nya dari kedua sahabat nya.
Berulang kali, Alvin dan Ben berusaha untuk menghentikan aksi minum Batara, namun keduanya tidak bisa dan kuwalahan karena memang Batara jika sudah kambuh terasa sangat sulit untuk di hentikan. Dulu, Batara sudah sempat berhenti dari kebiasaan buruk nya, minum dan merokok. Hanya saja, sejak kedatangan Zefanya yang mengusik hidup nya, membuat Batara kembali menghampiri kebiasaan itu.
Jika beberapa waktu lalu, Batara merokok lagi, kini laki laki itu kembali minum hingga mabuk cukup parah. Bahkan, kata kata yang di ucapkan oleh nya sudah hampir tak dapat di mengerti lagi.
“Mau sampai kapan lo kaya gini?” Alvin menghela napas nya dengan berat.
“Udahlah Bat, lupain aja semuanya! Jangan siksa diri lo sendiri!” sambung Ben ikut menghela napas nya berat.
“Lupain Inez, dan fokus lah pada perasaan mu ke Ella, kalau emang kamu serius. Buang semua dendam itu, toh sekarang kamu juga sudah dapat lampu hijau dari nya kan? Come on Batara!” Alvin berusaha menyadarkan sahabat nya, namun laki laki itu justru terkekeh kala mendengar suara dan nasehat dari kedua sahabat nya.
“Mereka udah tunangan!” Batara bergumam begitu lirih, sebelum akhirnya ia kembali meneguk minuman nya langsung dari botol tanpa gelas.
“Baru tunangan Batara! Selama janur kuning belum melengkung, lo masih punya harapan. Dan lo masih bebas mau menikung!"
“Ben bener Bat! Jangankan tunangan, yang udah nikah dan punya anak selusin pun masih bisa di tikung. Jadi jangan patah semangat!” sambung Alvin yang mana seketika langsung mendapatkan tatapan tajam dari Batara dan juga Ben.
“Kenapa?” tanya nya dengan wajah polos, “Itu tetangga di kosan ku, anaknya enam tapi istrinya selingkuh di luar negeri. Jadi—“
“Kalau enam itu berarti setengah lusin, Vin. Jangan lebay, bisa?” kata Ben mendengus dengan kesal.
“Ya kan ini Cuma seumpama nya doang, Ben! Cuma perumpamaan, biar Batara gak galau terus, biar dia bisa yakin kalau dia juga bisa rebut Ella dari bocah gledek itu!” sungut Alvin tak kalah kesal dari Ben, “Lagian bukannya si Ella udah kasih lampu ijo? Minta di perjuangin? Yang mana itu berarti, Batraa udah bisa goyahin hati nya sedikit. Dan posisi si bocah gledek itu sekarang sedikit terancam.”
“Si Alvin ada bener nya juga Bat. Lo inget kan, ada pepatah bilang, sedikit sedikit lama lama jadi bukit. Begitupun perasaan Ella ke lo, mungkin sekarang masih seuprit, tapi semakin lama kalau lo pupuk pasti akan tumbuh besar dan bisa jadi bukit. Lo bisa musnahin si bocah gledek itu nanti.” Sambung Ben.
Batara terdiam, ia menatap kedua sahabat nya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Melupakan Inez, seorang gadis yang sudah menjadi cinta pertama nya, yang mana sudah di rebut oleh seorang bocah ingusan dari SMA Gaharu beberapa tahun lalu.
Apakah Batara bisa? Tapi bagaimana caranya? Cinta pertama begitu membekas di hatinya. Dan juga, perasaan nya kepada Zefanya belum sepenuhnya besar, masih tumbuh kecil dan itu semakin besar karena ia tahu bahwa Zefanya dekat dengan Badai.
Yang mana, awalnya memang Batara sangat ingin menghancurkan Badai. Akan tetapi, setelah ia tahu bahwa Zefanya dan Badai sudah bertunangan, Batara merasa galau karena ia takut semakin jatuh terlalu dalam.
Bukan hanya Zefanya yang akan terluka, tapi juga dirinya. Mungkin, jika Batara tidak menaruh hati kepada Zefanya, ia bisa saa merebut Zefanya dari Badai, karena tugas nya hanya untuk menyakiti. Tapi, kini ia memiliki perasaan itu, yang mana ia tidak akan tega jika benar sampai melihat Zefanya tersakiti, apalagi itu karena nya.
Tidak! Batara tidak sejahat itu kepada orang yang dia sayangi. Tapi, kini hatinya benar sakit saat mengingat status hubungan Badai dan Zefanya yang ternyata sudah dekat selangkah darinya.
...~To be continue ......