Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpenjara
Sania sakit hati mendengar semua ucapan ucapan Arlan, rasa sakit membuatnya ingin membalas kata kata pedas Arlan.
"Aku tidak akan melakukan tes DNA, aku juga tidak akan berbohong lagi. aku akan bicara jujur, anak ini memang anak Dennis. apa kamu puas?" Sania sengaja mengelus elus perutnya dihadapkan Arlan.
Kepala Arlan tiba tiba berdenyut, dadanya juga sesak. Arlan selalu mengatakan. Kalau anak yang dikandung Sania bukan anaknya, tapi Sania selalu membantah.
Sania bersikeras mengatakan, kalau bayi yang ada didalam perutnya adalah anak Arlan. Hari itu dengan jelas Sania mengatakan anaknya adalah anak Dennis.
Secara tidak langsung Sania mengakui, kalau ia sudah berselingkuh. Sungguh menjijikan, Sania terlihat seperti wanita baik baik. siapa sangka ternyata ia menyimpan kebusukan.
Pikiran pikiran buruk tetang Sania terus berputar dikepala Arlan.
"Jadi, Sekarang kamu mengakuinya?"
Arlan sering mendesak Sania untuk mengakui kalau anak yang Sania kandung bukanlah anaknya, tapi setelah Sania mengakuinya. Arlan justru merasa hatinya begitu sakit.
"Itu kan yang mau kamu dengar?" Ucap Sania, ia bisa melihat raut wajah kecewa Arlan.
"Setelah kita bercerai, aku akan menikah dengan Dennis. Aku dan dia akan hidup bahagia bersama dengan anak kita." Sania sengaja membuat hati Arlan panas.
"Brengsek!" Arlan sangat marah mendengar ucapan Sania karena emosi ia berkata kasar dan membanting vas bunga yang ada dikamar itu.
Sania tersentak melihat kelakuan suaminya yang barbar. Beberapa detik kemudian pintu kamar itu terbuka, lalu masuklah seorang suster yang disusul oleh Dennis.
Suster yang ketika itu melewati kamar Sania langsung masuk karena ia mendengar suara benda pecah, Dennis kebetulan masih duduk dikursi yang tidak jauh dari kamar Sania.
Dennis juga mendengar suara benda pecah. sama seperti suster itu, Dennis buru buru masuk kedalam kamar tempat Sania dirawat. ia takut terjadi sesuatu pada Sania.
"Ada apa bu Sania?" Suster itu menatap kebawah, ia melihat diantai ada vas bunga yang pecah berantakan.
"Maaf suster, bos saya tidak sengaja menjatuhkan vas bunga."
Arlan dan Dennis tidak mengerti, mengapa Sania mengatakan Arlan adalah bosnya. belum hilang rasa keterkejutan mereka, mendadak Sania memanggil Dennis dengan panggilan sayang.
"Dennis sayang, tolong kamu bayar biaya rumah sakitku sekalian kamu ganti rugi vas bunga yang pecah."
Meski Dennis tidak tahu apa maksud Sania memanggilnya sayang, namun hati Dennis berbunga bunga. Ia merasa bahagia.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Suster yang tadi masuk kedalam kamar Sania kemudian keluar dari kamar itu, ia ingin memanggil petugas kebersihan.
"Apa maksudmu Sania? kenapa kamu bilang aku bosmu?" Tanya Arlan dengan wajah yang terlihat begitu marah.
"Dirumahmu, aku cuma dianggap pembantu. Jadi kamu adalah bosku. Aku tidak salah kan?" Sindir Sania.
Arlan jadi bisa merasakan apa yang Sania rasakan, selama ini Arlan tidak pernah mengakui Sania sebagai istrinya dan saat Sania tidak mengakuinya sebagai suami rasanya sangat sakit.
"Lalu kenapa kamu memanggil Dennis sayang? Kamu bahkan tidak pernah memanggilku seperti itu." Arlan berusaha meredakan amarahnya, ia menarik nafas panjang.
"Karena Dennis calon suamiku."
Dennis hanya tersenyum mendengar ucapan Sania yang menurutnya ngelantur. Sedangkan Arlan, Ia seperti orang kebakaran jenggot. Arlan mengepalkan tangannya.
"Apa kamu tidak ingat nenekmu?" Arlan mencoba membuat Sania ingat dengan ancaman yang pernah ia katakan.
"Kenapa dengan nenek? Kamu mau menghentikan biaya pengobatannya atau kamu tidak akan mengijinkan aku bertemu nenekku? lakukan saja apa yang mau." Ancaman Arlan sepertinya sudah tidak mempan, Sania seolah tak perduli dengan semua itu.
"Kalau kamu menghentikan biaya pengobatan nenekku, aku akan minta Dennis membiayai pengobatan nenek dan kalau kamu tidak mengijinkan aku bertemu nenek itu tidak masalah." Sania terlihat sangat yakin.
"Jadi karena Dennis, kamu tidak perduli lagi pada nenekmu?" Wajah Arlan merah padam, Ia sangat marah.
"Aku bukan tidak perduli pada nenek, tapi aku tidak percaya lagi padamu."
"Apa kamu bilang?"
"Kamu janji. Hari ini kamu akan mengantarku kerumah sakit untuk bertemu nenek, tapi ternyata kamu bohong. kamu pergi begitu saja." Sania hampir saja menangis.
Melihat Sania yang tampak sedih, Arlan jadi merasa bersalah.
"Sania maaf, aku ada pekerjaan penting. aku lupa."
"Kamu lupa mengantarku kerumah sakit, tapi kamu tidak lupa dengan pestanya Erika. Mungkin memang lebih baik kita berpisah supaya kamu bisa fokus pada Erika dan anakmu." Kata kata Sania membuat Arlan semakin merasa bersalah.
"Arlan, pulanglah. Urus saja istri kesayanganmu itu." Ada cemburu yang Sania rasakan saat ia mengucapkan kalimat kalimat sinis pada Arlann
Tidak ingin berdebat lagi dengan Sania, Arlan memilih untuk pulang. lagi pula Ibu Eva sudah mengirim pesan agar Arlan segera pulang.
Sebelum pulang Arlan sempat mengusir Dennis, tapi tentu saja Dennis tidak mau. karena lelah dan merasa tidak punya keinginan untuk bertengkar lagi, Arlan membiarkan saja Dennis tetap diruangan itu.
"Dennis, aku tidak bermaksud..."
Ucap Sania ketika Arlan sudah keluar dari kamarnya.
"Aku tahu, kamu cuma pura pura. kamu sengaja bilang kalau kita akan menikah, kamu juga pura pura memanggil aku sayang supaya Arlan marah." Dennis memotong kata kata Sania.
Dennis tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari Sania. Ia sudah terlanjur bahagia karena tadi Sania memanggilnya dengan sebutan sayang.
Dennis tidak ingin menggangu Sania beristirahat. Dennis juga tahu, Sania butuh waktu sendiri karena itu ia memilih pergi meninggalkan Sania.
"Sani, aku pulang dulu. kamu tidak apa apa sendirian?" Tanya Dennis sebelum ia pergi.
"Aku tidak apa apa"
Usai mendengar jawaban Sania barulah Dennis keluar dari ruangan itu.
Keesokan harinya Sania sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sania sangat senang, Sania makin senang karena ketika sampai dirumah Arlan, ibu Eva dan juga Erika tidak ada dirumah.
Menurut salah seorang asistent rumah tangga yang ada disana, Erika dan ibu Eva sedang pergi berbelanja sedangkan Arlan ia sudah berangkat kerja.
Sania membuka pintu kamarnya, ia ingin masuk kedalam kamar itu saat tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Sania membalikan tubuhnya hingga pelukan orang itu terlepas.
"Arlan." Sania tidak mengira Arlan masih berada dirumah.
"Kamu sudah pulang?" Arlan terlihat senang melihat kedatangan Sania.
"Aku datang cuma ingin membereskan barang barangku aku mau pergi."
"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Seketika senyuman dibibir Arlan menghilang.
"Aku tidak perlu ijin dari siapapun." Sania seakan ingin mengajak Arlan bertengkar.
"Jangan berani keluar dari rumah ini atau kamu akan menyesal." Arlan mulai marah.
"Aku tidak akan menyesal."
Sania memutar bola matanya malas, peringatan Arlan nyatanya tidak membuatnya takut.
"Kalau aku bilang kamu tidak bisa pergi, itu artinya kamu tidak bisa pergi." Arlan menarik tangan Sania.
"Arlan, lepaskan aku."
Sania berusaha melepaskan tangan yang dicengkeram erat oleh Arlan, namun usahanya sia sia. Tenaganya tidak sebanding dengan tenanga Arlan.
Arlan terus menarik tangan Sania sambil berjalan. ia membawa Sania kesebuah tempat, Tempat itu adalah paviliun yang berada dibelakang rumah Sania.
Halaman belakang rumah Sania cukup luas, Dulu tuan Martin sempat berpikir untuk mendirikan paviliun kecil dan beberapa tahun sebelum tuan Martin meninggal ia sudah mewujudkan keinginannya itu.
Meskipun tidak ada yang menempati paviliun itu, paviliun itu terlihat bersih dan rapi karena Arlan meminta seseorang untuk selalu membersihkan tempat itu.
Selain orang yang membersihkan tempat itu, tidak ada lagi orang yang datang kepaviliun itu.
Erika dan ibu Eva juga tidak tertarik dengan paviliun itu, rumah Arlan sangat besar dan nyaman jadi untuk apa mereka datang kepaviliun itu. Apalagi paviliun itu terletak dibelakang rumah membuat para penghuni rumah malas untuk berjalan kepaviliun itu.
Selain berada dibelakang paviliun itu terletak dipojok, paviliun itu seperti sebuah tempat yang tersembunyi.
"Kenapa kamu membawaku kesini?" Sania tampak bingung.
"Karena kamu akan tinggal disini sampai melahirkan." Arlan begitu santainya padahal Sania sangat kesal.
"Aku tidak mau" Sania menolak mentah mentah keinginan Arlan.
"Lalu kamu mau pergi kemana? disini aman, Erika dan Ibuku tidak akan mengganggumu."
"Aku mau tinggal dirumah Dennis."
Sebenarnya Sania sama sekali tidak berniat tinggal bersama Dennis, Sania hanya ingin membuat Arlan kesal.
Sania masih punya malu. Wanita hamil seperti dirinya, jika menumpang dirumah Dennnis. pasti Dennis yang akan jadi bahan guncingan orang.
Perut Sania memang belum terlihat besar, tapi semakin hari perutnya akan membesar dan kehamilannya tidak bisa ditutupi lagi.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu didepan suamimu."
Arlan menjadi marah, dengan gerakan cepat Arlan mendorong Sania hingga Sania terduduk disofa. Sania tidak tahu apa yang akan Arlan lakukan.
Disaat Sania sedang bertanya tanya, Arlan mendadak berjalan keluar dari paviliun itu. Arlan membanting pintu dengan keras.
Sania kaget, dengan langkah gontai ia berjalan kearah pintu. Sania bertambah kaget saat ia tidak bisa membuka pintu paviliun itu.
"Pintunya dikunci."
,
"Arlan buka pintunya Arlan, Arlan!" Sania memanggil manggil nama Arlan sambil menggedor gedor pintu.
"Aku tidak akan membukanya, tempat itu cocok buatmu. kamu tidak akan bisa kabur dengan laki laki lain. ini hukuman yang pantas untukmu karena kamu berani melawanku."
Sania bisa mendengar suara Arlan dari balik pintu.
"Nikmatilah hukumanmu, Sayang." Setelah mengatakan itu suara Arlan tidak terdengar lagi.
"Apa apaan ini, jadi aku dikurung?" Sania merasa seperti terpenjara.
.
Rasanya Sania ingin berteriak dan menangis, tapi dia tidak melakukan itu karena tidak ada gunanya ia melakukan itu, tidak akan ada yang mendengar teriakannya karena ruangan itu kedab suara.
Sania akhirnya memilih merebahkan dirinya diatas sofa karena lelah Sania tertidur disofa itu.
Arlan menngintip dari jendela, ada perasaan lega ketika ia melihat Sania tertidur. Sania baru pulang dari rumah sakit, wanita itu memang harus banyak beristirahat.
Waktu begitu cepat berlalu tanpa terasa sudah berbulan bulan Sania tinggal dipaviliun itu.
Sania pernah berpikir untuk melarikan diri, namun setelah ia pikir pikir memang sebaiknya ia tidak tinggal dipaviliun itu.
Kalau ia nekat melarikan diri ia harus segera mencari pekerjaan, ia butuh uang untuk menyewa rumah dan membiayai hidupnya. keadaannya yang sedang hamil, mungkin akan membuatnya kesulitan mencari pekerjaan.
Disana Sania tidak perlu bekerja, setiap hari Arlan selalu mengirimkan makanan untuknya, Arlan juga membelikan Sania susu dan Vitamin.
Dipaviliun itu, Arlan menyediakan televisi dan laptop agar Sania tidak merasa bosan, Selain itu ada ponsel baru yang Arlan kirim untuk Sania.
Arlan sengaja menahan ponsel lama Sania karena ia tidak mau Sania meminta bantuan siapapun untuk melarikan diri, Ketika Sania membuka ponsel barunya Arlan berpesan.
Jangan pernah menghubungi Dennis lagi dan jangan pernah coba coba untuk kabur. Awas saja, jika kamu berani melakukannya. aku akan menghukummu lebih berat lagi.
Itulah isi pesan dari Arlan saat ia memberikan ponsel untuk Sania.
Meskipun terkadang merasa bosan Sania sebenarnya sudah merasa nyaman tinggal dipaviliun itu.
Tidak ada Erika dan ibu Eva yang menindasnya, tapi disisi lain ia merasa sedih karena Arlan tidak pernah datang menjenguknya.
"Hidupku sepi seperti terpenjara, aku dikunci dirumah ini." Sania hanya bisa pasrah ia tidak punya pilihan lain, bagaimanapun ia masih membutuhkan Arlan.
"Arlan, kenapa kamu tidak pernah datang? kamu pasti sibuk mengurus Erika."
Dengan wajah sendu Sania mengambil ponsel disaku bajunya. Iseng iseng Sania membuka sosial media milik Arlan dan lagi lagi Sania menangis ketika ia melihat foto Arlan bersama Erika.
Mereka sedang berlibur dipulau dewata Bali, Sania menepuk nepuk dadanya yang tiba tiba terasa sakit dan panas.
Arlan benar benar kejam. ia mengurung Sania selama berbulan bulan, tapi dengan mudahnya ia mengajak Erika berlibur. Sania tidak dapat menahan air matanya yang berjatuhan.
Sania mendadak merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya, Sania terus memegangi perutnya.
"Apa aku mau melahirkan?"
Keringat dingin mengalir dari dahi Sania, ia buru buru menelphone Arlan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Arlan baru saja pulang liburan bersama Erika dan ibu Eva, ibu Eva yang memaksa Arlan untuk mengajaknya liburan, ibu Eva juga yang meminta Arlan memposting potonya bersama Erika disosial media.
Arlan mengambil ponselnya yang bergetar, ia mengeluarkannya dari dalam tas. Arlan tersenyum tipis ketika ia melihat layar ponselnya.
"Sani, tumben dia menelphoneku." Sania memang tidak pernah menelphone Arlan, ia hanya sesekali membalas pesan dari Arlan.
Arlan melihat ibu Eva dan Erika sudah masuk kedalam kamar mereka, iapun langsung menjawab telphone dari Sania.
"Kenapa sayang? kamu kangen?" Pertanyaan Arlan membuat Sania kesal, bisa bisanya ia menggoda Sania disaat Sania sedang kesakitan.
Apa laki laki itu tidak punya perasaan, ia bisa bersikap begitu santai setelah mengurung Sania bagai seorang tahanan.
"Jangan bercanda Arlan, perutku sakit. sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Sania dengan suara terbata bata.
"Apa?" Tangan Arlan bergetar, ia hampir saja menjatuhkan ponselnya.
.