Menjadi seorang pembunuh bayaran yang sangat tersembunyi dan terkenal kejam karena tak ada pilihan lagi??
Yuuri, seorang gadis biasa tak sengaja mengetahui identitas rahasianya. Dia sengaja mendekati Seijuro Shin untuk membantunya terlepas dari titik hitam itu.
Namun cinta malah hadir diantara mereka.
Bisakah Yuuri membantu Seijuro Shin terlepas dari titik hitam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Kampus
Yuuri kembali mendatangi kampus kesayangannya setelah 2 bulan tidak mendatanginya. Ada sebuah perasaan rindu karena cukup lama tidak melihat semua tentang kampusnya.
Bahkan langkah kakinya terlihat sedang menari-nari, seakan dia benar-benar merasa bahagia saat ini. Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti ketika dia melihat Seina dan Yuta yang berjalan tak jauh darinya membelakanginya.
Dengan senyum lebar Yuuri kembali melangkah dengan langkah yang semakin dipercepat untuk menghampiri mereka berdua.
"DOR ..." Yuuri mengagetkan Yuta dan Seina dan menyusup di antara mereka berdua lalu tertawa kecil.
"Yuuri! Kamu benar-benar sudah kembali? Ahhh akhirnya papamu sudah mencabut hukumannya untukmu! Selamat ya!" seru Seina bersemangat.
Padahal pada awalnya Seina sempat memperlihatkan wajah kesal karena di pagi buta seperti ini sudah ada yang mengejutkannya. Namun rasa kesal itu seketika sirna setelah melihat siapa yang telah mengejutkannya.
"Ya. Senang sekali rasanya. Seakan aku merasa terbebas saat ini. Ughhh!!" sahut Yuuri antusias. "Setelah pulang kuliah kita harus merayakannya!!"
Senyuman lebar Seina seketika memudar mendengar ucapan Yuuri.
"Ada apa, Seina? Apa kamu tidak mau merayakannya bersama?" tanya Yuuri menerka-nerka.
"Sebenarnya aku sangat ingin merayakannya bersamamu, Yuuri. Tapi maaf ... hari ini pekerjaanku di toko bunga cukup banyak. Ada beberapa pesanan bunga kering dan beberapa bunga lainnya dari pelangganku. Pekerja toko bunga itu hari ini juga berlibur. Jadi aku tidak bisa leluasa bermain hari ini. Maaf sekali ya ..."
Ucap Seina terlihat sangat menyesal.
"Hari ini aku juga harus datang lebih awal ke cafe. lawan shift ku sedang mengambil cuti. Jadi aku akan berkerja lebih lama dan lembur." ucap Yuta membuat Yuuri semakin murung.
"Huft ... mau bagaimana lagi. Padahal aku baru saja kembali setelah sekian lama, tapi kalian malah sibuk seperti ini. Jadi lebih baik aku juga mencari kesibukan lain deh, atau pulang cepat." sahut Yuuri mengerucutkan bibir merah tipisnya beberapa senti ke depan.
"Maaf deh. Kami janji deh, lain kali akan menemanimu sampai kamu puas dan bosan!" sahut Seina membujuk Yuuri agar tidak marah padanya.
"Hm. Tirak masalah kok. Santai saja. Aku akan pergi ke perpustakaan saja nanti atau pulang lebih cepat." sahut Yuuri seadanya.
"Yuuri ..." tiba-tiba di hadapan mereka sudah ada seorang pria dengan penampilan rapi sudah berdiri tegap, seolah sedang menunggu mereka.
Sebuah pegangan ransel juga masuh berada di salah satu pundaknya, menandakan jika pria itu juga baru saja tiba di kampus.
Dia adalah Akaba. Seina segera mendorong Yuuri ke depan lalu mulai meninggalkan mereka dengam menarik tangan Yuta. Namun sebelum Seina dan Yuta pergi, Seina sempat berbisik kepada Yuuri.
"Semoga beruntung. Semangat bertemu dengan pangeranmu!"
Yuuri hanya bisa menghela nafas dan menghembuskan nafas kasarnya di udara.
Seina dan Yuta malah pergi begitu saja dan meninggalkan aku bersama senior Akaba. Padahal hubunganku dengannya sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana ini? Huft ...
Batin Yuuri termenung selama beberapa saat. Namun akhirnya Akaba malah berinisiatif untuk menghampirinya lebih dulu.
"Yuuri. Aku ingin bicara sesuatu denganmu." ucap pria itu penuh harap Yuuri akan menerima ajakannya.
Yuuri hanya sekilas melirik Akaba lalu mengangguk dan menunduk kembali. Namun meskipun begitu hal itu cukup membuat Akaba merasa lebih lega dan tenang, karena Yuuri masih mau bertemu dan berbicara dengannya.
Akaba mengajak Yuuri untuk menaiki sebuah atap gedung. Lebih tepatnya adalah atap gedung fakultas hukum. Tak ada perbincangan apapun selama mereka melengang bersama. Bahkan saat berada di atap itu, sebenarnya cukup lama mereka saling terdiam.
Akaba merasa cukup bingung harua mengatakan dan melulainya dari mana. Dia sangat merasa bersalah dan lancang atas kejadian yang terjadi tempo malam lalu.
"Senior Akaba, terim kasih." ucap Yuuri mengawali pembicaraan dan memecah keheningan. "Terima kasih karena telah membantu membujuk papaku hingga papa mencabut hukumannya untukku." imbuhnya dengan tulus.
Pandangannya menatap lurus ke depan. Begitu datar dan matanya terlihat sayu. Untung saja Yuuri sedikit bisa merias diri, hingga make up itu berhasil membuat mata sembab Yuuri tidak kembali tak terlihat.
"Itu bukan hal besar, Yuuri. Namun aku mengajakmu bertemu karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku minta maaf atas kejadian kemarin malam. Aku sungguh tidak bermaksud melakukannya, Yuuri. Aku terlalu terkejut dan syok saat mendengar jawabanmu saat itu. Itu salahku ... karena mengartikan lain semua itu. Maafkan aku ..." ucap Akaba dengan tulus.
"Aku sudah memaafkan senior." ucap Yuuri lirih dan masih menatap lurus ke depan.
Rambut indah kecoklatan yang sedikit bergelombang itu terlihat sesekali menari-nari saat terkena terpaan angin kala ini. Akaba masih menatap sisi samping wajah Yuuri dengan tatapan nanar dan penuh kesedihan.
Dia masih sangat tidak menyangka jika semua hal ini kini telah terjadi. Padahal selama ini dia merasa percaya diri, jika Yuuri juga menyukainya dan hanya menyukainya saja.
Namun entah mengala saat dia kembali dari Shanghai, semua berubah seketika. Yuuri menjadi berubah dan tidak seperti dulu lagi.
"Senior Akaba. Aku juga ingin mengembalikan gelang ini. Aku tidak pantas mendapatkan hadiah ini darimu." kini Yuuri mulai melepas sebuah gelang berwarna silver dengan liontin bunga sakura dan segera menarik tangan kanan Akaba lalu memberikan gelang itu untuk Akaba.
"Maaf, Tapi aku harus segera kembali, Senior. Kelas pertama akan segera dimulai. Sampai jumpa."
Yuuri membungkukkan tubuhnya dan segera meninggalkan Akaba yang masih mematung menatap kepergian Yuuri. Ini terlalu sesak dan menyakitkan untuknya. Dan ini adalah pertama kali Akaba merasakan semua rasa ini.
"Yuuri ..." ucapnya bergetar dan tidak berdaya. Sepasang matanya juga mulai berkaca-kaca.
...🍁🍁🍁...
"Bagaimana? Apa semuanya berjalan dengan baik dan lancar? Apakah kalian akan kembali berkencan? Aku dengar senior Akaba sudah sangat berusaha untuk membujuk papamu untuk mencabut hukumannya untukmu lebih cepat."
Tanya Seina tak sabaran saat melihat Yuuri sudah kembali ke kelas.
Yuuri yang mendengarkan pertanyaan Seina, seketika memasang wajah malas dan segera melempar tasnya di atas meja.
Seina dan Yuta seketika saling berpandangan dan mengedikkan bahu masing-masing. Hal ini cukup aneh, karena biasanya Yuuri akan sangat bersemangat ketika membicarakan tentang Akaba. Namun akhir-akhir ini mereka merasa jika Yuuri memang sedikit berubah.
TRING ...
Suara sebuah notif pesan terdengar dari ponsel Yuuri. Dengan sangat bersemangat Yuuri segera memeriksa benda pipih berlogo strawberry itu. Namun tiba-tiba saja wajahnya kembali terlihat murung. Menandakan pesan itu bukanlah dikirim dari seseorang yang sedang dia nantikan.
Seina dan Yuta yang melihatnya tentu saja mulai menerka-nerka pesan siapa sebenarnya yang sedang ditunggu oleh Yuuri.
"Pesan siapa yang sedang kamu tunggu? Apakah pria misterius bernama Seijuro Shin itu?" tanya Seina menerka-nerka.
Seejiro shin pembunuh berdarah dingin yg menghindar dari cinta namun pada akhirnya terjerat oleh cinta dari putri kepala polisi.
nah loh.... gimana nih 😱😱😱
Akankah cinta shin tercapai atau kah penuh halang lintang.!!
Semoga saja cinta pun berpihak padanya 🤗🤗🤗
Semangat shin raih lah cinta yg hangat itu untuk meluluhkan hatimu yg dingin. 😉😉
akaba ini licik sangat 😈