"Maafkan ayah, Nak! Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, dan kamu harus menanggung semua ini." Ucap pak Sulaiman kepada putrinya yang masih berusia 18 tahun yang bernama Gendis.
"Gendis tidak apa-apa, Yah! Gendis akan melakukan apapun untuk menolong ayah, meskipun Gendis harus menjadi pembantu di rumah Tuan Agam yang sombong itu, demi ayah Gendis rela. Gendis tidak ingin melihat ayah di dalam penjara." Seru Gendis Anindya, putri satu-satunya pak Sulaiman.
Karena sebuah hutang, pak Sulaiman terpaksa menggadaikan anak perempuannya untuk tinggal di rumah Agam Brandon yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan sombong. Seorang duda kaya raya yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar.
Bagaimanakah perjuangan Gendis menyelamatkan sang ayah dari jerat hutang kepada Agam? Dan apa jadinya jika sang majikan ternyata memendam perasaan kepada Gendis dan merasa jika gadis itu adalah pengobat sakit hatinya?
Novel ini mengikuti event Kekasih ideal, mohon dukungannya 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Omongan para tetangga
Gendis hanya cuek dan tidak memperdulikan ucapan Bu Titin, sementara itu seolah playing victim dan berusaha terus meyakinkan Bu Titin jika Gendis sudah berlaku kasar kepadanya, Nita pun tak henti-hentinya mempengaruhi Bu Titin agar membenci Gendis.
Gendis duduk kembali di bangkunya, sedangkan Nita tampak membisikkan sesuatu pada telinga Bu Titin.
"Bu! Coba lihat deh, sekarang Gendis beda banget nggak seperti dulu, saya curiga jika Gendis itu berbuat aneh-aneh, secara nggak mungkin kan cewek miskin seperti dia bisa sekolah lagi di sini, Ibu tahu sendiri jika Ayahnya cuma penjual tukang mie ayam, banyak hutang-hutangnya lagi, dan terakhir yang saya tahu ya, Bu. Si Gendis itu dibuat jaminan sebagai penebus hutang pak Sulaiman kepada Tuan Agam, Gendis menjadi pembantu di rumah Tuan Agam, dan saya yakin banget jika Gendis itu menjadi piaraan nya Tuan Agam, supaya bisa sekolah dan hidup mewah," bisik Nita.
Bu Titin pun menatap sinis ke arah Gendis, mungkin apa yang dikatakan oleh Nita ada benarnya, Gendis termasuk dalam daftar siswa miskin, tidak mungkin semudah itu ia bisa mendapatkan uang untuk melanjutkan sekolahnya kecuali dengan menukar tubuhnya dengan uang, seperti kebanyakan yang dilakukan oleh remaja seusianya.
"Apa benar seperti itu? Jika itu memang benar, itu artinya Gendis seorang gadis yang murahan, harusnya gadis itu tidak usah bersekolah di sekolah ini, malu-maluin saja!" batin Bu Titin kesal.
Sementara di tempat lain, rumah Gendis yang dulu terbilang paling kecil dan paling sederhana, kini mulai kedatangan bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu bata, semen, genteng dan juga perlengkapan bangunan lainnya.
Tentu saja, tetangga di sana mereka merasa ada yang aneh, darimana pak Sulaiman mempunyai uang sebanyak itu untuk membelinya bahan bangunan seperti pasir dan kawan-kawannya.
"Coba lihat deh Ibu-ibu! Darimana ya pak Sulaiman mendapatkan uang untuk membeli itu semua, dia mau merenovasi rumah loh!" bisik Bu Sukoco, ibunya Arif.
"Ya mungkin saja pak Sulaiman bekerja keras, kita nggak boleh berburuk sangka ya, ibu-ibu!" sahut Bu Ratna.
"Aduhhh! Bu Ratna, jangan terlalu percaya dengan keluguan mereka sekeluarga, Bu! Mungkin saja pak Sulaiman itu punya ilmu ngepet atau pesugihan, Bu! Secara nggak mungkin banget lah, secepat itu pak Sulaiman bisa membangun rumahnya," ucap Bu Sukoco yang terus mencoba untuk mempengaruhi para tetangganya.
"Nggak mungkinlah Bu Sukoco, mungkin saja Gendis juga turut sumbangsih kepada keluarganya , Gendis kan bekerja di rumah Tuan Agam, siapa tahu gaji Gendis ditabung untuk membantu kedua orang tuanya.
"Ya ampun ibu-ibu, hari gini berapa sih gaji seorang jongos itu? Nggak mungkin bisa sampai buat bangun rumah, untuk kebutuhan sehari-hari saja itu nyukup-nyukupin," seru Bu Sukoco yang tetap pada pendiriannya.
"Eh tapi omongan Bu Sukoco itu ada benarnya juga, emang berapa sih gajinya Gendis, paling sebulan cuma mentok satu juta setengah, terus apa Gendis tak makan untuk keluarganya. Lantas! Bagaimana bisa Gendis mengumpulkan uang sebanyak itu, apalagi diketahui Gendis masih dalam hitungan hari berada di rumah Agam.
"Nah!! Ibu-ibu percaya, kan? Tidak mungkin keluarga mereka bisa mendapatkan uang sebanyak itu kalau bukan dari sesuatu yang haram, ihhh menjijikkan sekali!!" umpat Bu Sukoco.
Dibalik omongan para tetangga, pak Sulaiman tidak menyangka jika sang menantu, Agam Brandon akan merenovasi rumah kecil mereka, pak Sulaiman dan istrinya tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.
"Ayah sangat bersyukur, Gendis memiliki suami seperti Nak Agam, ternyata pria itu sangat mencintainya ya, Bu! Semoga saja tidak ada hal-hal yang menghalangi kebahagiaan mereka berdua," ucap pak Sulaiman terharu.
"Ayah benar! Ibu juga bahagia Gendis mendapatkan jodoh yang bertanggung jawab dan sangat dewasa, Nak Agam itu benar-benar orang yang sangat sayang kepada Gendis, bukan hanya pada Gendis, tapi juga pada kita, semua ini membuktikan jika Nak Agam benar-benar menyayangi Gendis dengan membahagiakan orang tuanya," ungkap Bu Farida yang ikut terharu.
...BERSAMBUNG...