"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Limocom
Cincin berlian itu terasa berat, bukan karena karatnya, melainkan karena rahasia yang melingkar bersamanya. Bagi Lavanya, kantor Limocom adalah zona profesionalitas. Ia memaksa Leo—si singa arogan yang kini sah menjadi calon suaminya—untuk bermain peran sebagai atasan dan bawahan sampai janur kuning benar-benar melengkung di depan rumah.
Meskipun status mereka sudah "hijau" di mata keluarga, Lavanya bersikeras tetap menjadi "kacung korporat" biasa. Baginya, menjadi bahan gosip sebagai "calon ratu Limocom" sebelum hari-H adalah mimpi buruk yang lebih mengerikan daripada revisi anggaran di akhir bulan.
Leo? Pria itu sebenarnya berada di ambang batas kesabaran. Jika menuruti egonya, ia ingin memasang papan reklame raksasa di depan lobi kantor bertuliskan: LAVANYA ADALAH MILIK LEO ARRAYA LEE. DILARANG MENYENTUH ATAU MENATAP TERLALU LAMA. Namun, demi menyenangkan hati sang pujaan, ia setuju untuk bermain kucing-kucingan—meski dengan akting yang sangat payah.
"Satu bulan, Mas. Tolong, biarkan aku bekerja dengan tenang tanpa tatapan sinis orang-orang yang menganggapku memakai 'jalur dalam'," pinta Lavanya saat mereka masih berada di dalam mobil, beberapa meter dari gerbang kantor.
Pagi ini, Leo benar-benar meratukan Lavanya. Ia rela bangun jam 4 dini hari demi bisa sarapan bersama di rumah Lavanya sebelum berangkat. Leo menghela napas, jemarinya mengelus pipi Lavanya dengan lembut.
"Aku akan menuruti maumu, tapi jangan salahkan aku jika aku tidak bisa menahan diri," ucapnya parau. Leo menarik dagu Lavanya, memangkas jarak, namun Lavanya segera mendorong dadanya dengan telapak tangan.
"Ini area kantor, Mas! Aku nggak mau baru sehari status kita sudah ketahuan."
Leo menyeringai nakal. "Tenang sayang, kaca mobilku full gelap, tidak tembus pandang. Orang luar tidak akan melihat apa yang kita lakukan di sini. Perlu bukti?" Ia kembali mendekat, kali ini dengan tatapan yang sanggup melelehkan pertahanan mana pun.
Lavanya mendengus, mencoba tetap teguh. "Dulu Mas nyuruh aku buat bersihin pikiran, kan? Terbukti sekarang, bukan otakku yang salah, tapi Mas yang memang provokator!"
Leo tertawa renyah, tawanya yang berat terdengar sangat seksi di ruang sempit itu. "Tentu, aku harus bisa menarik perhatianmu"
"Sudah sana, aku mau jadi budak korporat dulu. Jam 9 nanti ada meeting sama Bos Tiran," goda Lavanya sambil cepat-cepat turun dari mobil sebelum Leo sempat "menerkamnya" karena ejekan itu.
🦁🦁🦁
Suasana di ruang rapat pagi itu terasa sejuk oleh AC, namun tegang oleh tekanan kerja. Agenda hari ini adalah presentasi anggaran tahunan—sebuah medan perang bagi tim perencanaan. Laila, senior paling disayang oleh Lavanya, duduk di sebelahnya sambil merapikan catatan dengan raut cemas.
Pintu terbuka. Leo masuk dengan aura dingin yang mampu membekukan ruangan dalam sekejap. Namun, begitu matanya menangkap sosok Lavanya yang tengah sibuk dengan laptopnya, sudut bibirnya terangkat tipis. Sangat tipis, tapi cukup untuk membuat Laila yang sedang menyesap kopi hampir tersedak.
"Silakan, Lavanya. Paparkan hasilnya," ujar Leo. Suaranya tidak lagi tajam seperti sembilu, melainkan berat dan... lembut?
Lavanya berdiri, mencoba menetralkan degup jantungnya. "Baik, Pak Leo. Berdasarkan analisis biaya operasional kuartal ini—"
"Tunggu," potong Leo tiba-tiba.
Seluruh ruangan mendadak hening. Yudi, rekan kerja yang masih menyimpan dendam, sudah menyeringai puas, mengira Lavanya akan diamuk. Namun, pemandangan selanjutnya justru membuat seisi ruangan ingin memeriksakan mata ke dokter THT.
Leo berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah tenang mendekati meja Lavanya. Tanpa kata, ia mengambil botol air mineral yang masih tersegel di depan gadis itu. Dengan gerakan maskulin yang santai, ia membukakan tutupnya hingga terdengar bunyi 'klik', lalu meletakkannya kembali tepat di hadapan Lavanya.
"Minum dulu. Suaramu terdengar agak serak pagi ini. Saya tidak mau presentasi ini terganggu karena kamu haus," ucapnya datar, namun matanya menatap Lavanya dengan intensitas yang tak bisa disembunyikan.
Lavanya mematung, wajahnya mulai memanas. "Terima... terima kasih, Pak."
Laila di sampingnya melongo. Ia berbisik tanpa suara ke arah rekan lainnya, "Sejak kapan Pak Singa peduli kacungnya dehidrasi?"
🦁🦁🦁
Selesai rapat, Lavanya bergerak secepat kilat, ingin segera menghilang dari pandangan Leo. Namun, Leo justru berjalan santai tepat di belakangnya.
"Lavanya," panggil Leo di depan pintu, saat arus karyawan sedang padat-padatnya.
"Iya, Pak?" jawab Lavanya kaku, tubuhnya tegang seperti papan.
Leo mendekat, melanggar batas zona profesional hingga Lavanya bisa mencium aroma parfum woody yang mahal dari tubuh pria itu. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk mengambil berkas, melainkan untuk merapikan kerah kemeja Lavanya yang sedikit terlipat dengan gerakan sangat personal.
"Nanti makan siang di ruanganku. Aku sudah pesan makanan dari restoran favorit kamu."
"Maaf Pak, saya sudah janji makan siang dengan Mbak Laila di kantin," tolak Lavanya halus, matanya memberikan kode 'tolong menjauh' yang sangat jelas.
Leo mendengus kecil. Ia menoleh ke arah Laila yang berdiri mematung beberapa meter dari sana. "Laila, kamu tidak keberatan kan kalau rekanmu ini saya 'pinjam' saat jam istirahat?"
Laila mengerjapkan mata berkali-kali, kaget karena namanya disebut oleh sang penguasa Limocom. "Eh? Oh... tentu, Pak! Silakan! Pakai saja sepuasnya, Pak! Eh, maksud saya, silakan!"
Setelah Leo pergi dengan senyum miring kemenangannya, Laila langsung menyergap Lavanya dan menyeretnya ke sudut pantry yang sepi.
"Vanya! Jelaskan sekarang! Apa-apaan drama tadi?" seru Laila, matanya berbinar penuh gairah gibah tingkat tinggi. "Tadi itu bukan mode Bos-Karyawan, Vanya. Itu tadi mode Singa-Lapar-yang-Lagi-Caper!"
"Mbak, jangan aneh-aneh deh..." Lavanya mencoba menutup mulut Laila, namun gagal.
"Dan tunggu! Aku baru baca berita pagi ini di akun gosip bisnis. Katanya Pak Leo itu masih lajang? Gila, selama ini kita kira dia sudah punya istri saking dinginnya, ternyata KTP-nya bersih! Dan yang paling gila... dia mualaf?" Laila memicingkan mata. "Gue mencium bau-bau singa bucin di sini." Laila bergaya sedang mengendus aroma di sekitar tubuh Lavanya.
Tiba-tiba, mata Laila melotot tajam. Ia menangkap kilatan cahaya dari jari tengah Lavanya. "Oh My God! Ini apa, Nya? Buset, nggak mungkin lo tiba-tiba dapat warisan terus ngide beli berlian sebesar biji jagung begini!"
Lavanya menghela napas pasrah. "Aku sudah tunangan, Mbak."
"Waw! Akhirnya jomblo dari lahir ini diambil orang!" Laila memeluk Lavanya dengan tulus, ikut bahagia. Namun, otaknya yang ahli gosip segera menyambungkan benang merah. Ia melepaskan pelukan, wajahnya sangat serius. "Jangan bilang tunangan lo itu... Pak Singa?"
Lavanya hanya bisa mengangguk pelan.
Laila hampir saja menjatuhkan gelas kopinya ke lantai.
"SUDAH GUE DUGA!" teriaknya tertahan, wajahnya memerah karena semangat. "Asumsi gue benar 100%! Gila, Vanya! Ingat kan gue pernah bilang kalau Pak Singa itu lagi memepet lo!"
"Sssttt! Jangan keras-keras, Mbak. Aku nggak mau orang kantor tahu. Ruwet!" keluh Lavanya, memijat pelipisnya.
Laila tertawa keras sambil menepuk-nepuk bahu Lavanya. "Ruwet kenapa? Justru ini prestasi nasional! Menaklukkan singa buas itu lebih susah daripada menghitung defisit negara. Lo bakal trending, Nya. Biarkan saja semua orang kepanasan lihat lo jadi Nyonya Besar Limocom!"
🦁🦁🦁
Vote dan komen jangan lupa 💋
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....