BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Tinnggg..
Ponsel Hans berbunyi, sepertinya itu sebuah notifikasi pesan
*Aishh,, kenapa sekarang?
Hans membuka ponsel nya melihat dari siapa pesan itu dikirim.
*Ternyata dari Vivian, sudahlah biarkan saja.
Tak mau kalah, Vivian mengirim satu pesan lagi
'Hans ku sayang, lihat bagaimana istri yang kau manja bermain dengan pria lain'
Notifikasi itu nampak dari layar kunci ponsel Hans.
Membaca itu membuat Hans penasaran, ia membuka kiriman Vivian yang berupa video.
"Andin.."
Hans mencoba menahan tawa nya.
"Tuan, bagaimana sekarang? kita akan pergi ke apartemen itu?"
Hans menarik nafas dan kembali serius.
"Tak usah!, kembali saja ke villa"
*Ayolah, apa apaan ini, aku sudah tahu mereka dekat, lagipun aku tahu jika Alvin jelek itu teman Andin ku, Vivian Vivian... ckckck
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan yang benar dan tak menyalahi aturan yang ada, sementara di dalam villa Andin segera memasang celemek dan harus memasak.
Lumayan lama, akhirnya makanan itu sudah siap, Andin satu persatu menata makanan itu di meja dengan Bi Darmi.
Segera Andin membuka celemek nya, dan saat itu lah pintu di ketuk.
"Dia datang" Ujar Andin dengan senyum nya, dia berlari kecil untuk membuka pintu.
Andin menyuguhkan senyuman, dan itu membuat hati Hans berdebar debar.
"Hei, begini kah sikap mu ketika suami tampanmu pulang?"
Andin bingung, ia harus bagaimana menyambut Hans, mengatakan 'tuan sudah pulang' tapi di meja makan ada Velly yang bermain ponsel nya, alhasil dia hanya diam dan menatap lembut mata Hans.
"Kemari, peluk aku, aku begitu merindukan mu sayang ku.."
Mendengar itu membuat mulut Andin sedikit terbuka dan kedua alisnya sedikit terangkat.
Hans memberi isyarat dengan bola matanya yang sesekali melirik Velly, Andin paham itu dan mengatur ekspresi nya.
Perlahan Andin mendekat, itu canggung bagi Andin, dia menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan ketika ia begitu dekat dengan Hans.
Melihat gerak Andin yang sedikit lama, membuat Hans dengan cepat merangkul tubuh Andin dari bagian pinggul nya. Andin sedikit terkejut, tetapi lagi lagi ia mengontrol ekspresi nya dan menyandarkan kepalanya di dada Hans secara perlahan.
Velly dari meja makan sedikit melirik mereka berdua, dia sengaja menguap dengan keras agar Andin dan Hans menghentikan kegiatan itu.
"Hooooaamm"
"Sudah sudah" Ujar Andin kepada Hans agar melepaskan pinggang nya.
"Tak apa sayang, jangan sungkan begitu"
Hans memang berbicara kepada Andin tapi nada bicaranya tertuju kepada Velly.
Hans masih enggan melepaskan pinggang Andin, Hans mendekatkan wajahnya ke wajah Andin sehingga membuat Andin mengelak dengan membuang muka, itu tak menggetarkan niat Hans, ia malah mencium pipi Andin, kejadian itu tepat di depan matanya dan Velly berteriak.
"Kak!"
Andin dan Hans menatap Velly, gadis itu menyeringai unjuk gigi
"Ayo, makanan di meja ini akan dingin jika kalian terlalu lama disana"
"Iya Hans, itu benar" Andin mengiyakan karena dirinya juga sudah tak tahan berada terlalu dekat dengan Hans.
Hans melepaskan tubuh Andin dan mengulurkan telapak tangannya agar Andin mau menerima dan berjalan bersama.
Andin menerima itu, ia tertunduk tersipu malu, sementara Velly memutar bola matanya dari sisi kanan ke sisi kiri, tak suka.
Hans dan Andin duduk di kursi Andin masih tetap mempertahankan senyum bahagianya, ketika mereka bertatapan Velly segera saja mengambil piring dari tumpukan yang ada di depannya dengan keras sehingga menimbulkan kelontengan yang membuat mereka berdua membubarkan pandang memandang.
*Sial, seperti obat nyamuk saja, aku, gadis cantik nan baik di jadikan seperti obat nyamuk??, hmph, mana mungkin.
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
"Andin!, aku ini suamimu!, tidakkah kamu mengerti situasi nya? kamu keluar bersama dengan lelaki lain, apa kamu akan mengikuti jejak ibumu itu? iya?! huh!"
Nampak Hans yang sedang memarahi Andin tengah malam.
Awalnya Andin berfikir mungkin Hans tak akan marah jika mengetahui dirinya pergi bersama Alvin, ternyata setelah Vivian mengirim itu malah membuat Hans marah, entah apa yang Vivian itu katakan...?
Mata Andin menatap lembut wajah Hans yang memarahinya, "Aku tahu, kamu suamiku, aku memperlakukan kamu seperti suami yang aku cintai, tapi bagaimana dengan kamu? menanggap ku saja tidak.." Celetuk Andin begitu saja dengan pelan.
Kini sesak kembali muncul di dalam dadanya, Andin menelan ludahnya dalam dalam ketika air mata yang coba ditahan mengalir begitu saja.
Gadis itu tertunduk dihadapan Hans yang berdiri tegak.
"Aku terus dimarahi, aku terus mendengar mu, terus minta maaf, tak pernah mencoba melawan, apa itu ada nilainya??"
Hans masih diam melihat air mata Andin mengalir semakin deras hingga membuat suaranya sedikit bergetar.
"Aku mengerti perasaan mu, aku tahu semua salah ibuku, aku coba meminta maaf, mencoba meyakinkanmu kalau bukanlah aku yang mendorong ibumu, aku menolongnya tapi dia mendorong ku,," Andin bicara sangat pelan, ia menutup matanya ketika melontarkan kalimat itu.
"Cukup!!" Teriak Hans.
Suara menggelegar itu tak lagi membuat hati Andin bergetar.
"Ayahku tak tahu apapun, kenapa kamu terus menekan perasaan ku dengan kehidupan ayah? aku di perbudak disini apa tidak cukup?"
hiks.. hiks.. hiks..
"Ketika kamu mengikat aku dengan pernikahan ini apa aku pernah memberontak? tidak. Di dalam hatimu, apa pernah terlintas kalau pernikahan ini bukanlah permainan?"
"Hans, kamu seorang kakak, adikmu perempuan, bagaimana jika karma tak berbalik padamu tetapi pada Velly..?"
"Adikmu perempuan, ibumu juga, apa pernah terbesit dalam naluri mu ketika menyakiti ku sama dengan menyakiti ibumu?"
"Ibu ku pergi, ayahku menjadi sandera mu, aku sendiri, tersakiti, salahkah jika kak Alvin membawa ku melihat kebahagiaan yang semu?"
Hans masih diam, tangis Andin semakin menjadi jadi dalam setiap kalimat yang ia keluarkan. Ia ikut menangis melihat Andin tertunduk dan dengan berani mengatakan itu semua, Hans memeluk Andin dan menyandarkan kepala Andin di dadanya.
"hiks.. hiks.. hiks.. Percayalah, aku bukan orang yang enembunuh ibumu, ayahku juga tak tahu apapun, lepaskan dia.. aku mohon... hiks.. hiks.. hiks.."
Jjlepp
Satu suntikan bius berhasil masuk dalam tubuh Andin melalui leher, pandangan matanya sedikit buram, ia mendorong Hans kuat dan menghapus air matanya.
Telapak tangannya masih mencoba meraba wajah Hans yang sebentar terlihat dekat sebentar terlihat jauh, namun sayang sekali, ia terjatuh dan Hans menahan nya.
"Terima kasih pak bama, keluar lah dan siapkan mobil untukku."
Pak bama patuh dan turun kebawah, sementara menatap wajah Andin sedikit lama membuat hati Hans ikut terhanyut.
*Maaf Andin, aku tak pernah mem-permasalahkan antara kamu dan Alvin, tapi aku juga tak bisa membawa mu dalam keadaan sadar menemui ibumu, aku takut kamu akan menjadi liar tak terkendali... maaf Andin, aku sungguh minta maaf, aku tahu kalau itu semua kesalahan ku tetapi aku juga tahu kamu tak akan memaafkan nya dengan mudah... maaf...
Di akhir kata, Hans memejamkan matanya, setetes air mata jatuh mengenai pipinya.
-------------------------
BERSAMBUNG...