Tepat di usia pernikahan yang ke lima, diceraikan oleh suami yang selama ini dicintainya hanya karena tidak bisa hamil. Namun dia tiba-tiba hamil setelah perceraian itu datang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Angela
Mataku perlahan terbuka. Aku berada di dalam sebuah ruangan yang berlokasi di lantai lima sebuah bangunan yang sangat besar yang pemiliknya merupakan mantan suamiku.
Luka yang ada di kepalaku sudah berhenti berdarah. Tapi rasa sakitnya masih tertinggal dan bekas darahnya masih tampak jelas di lengan blouse panjang berwarna putih yang aku kenakan tadi dan tidak bisa dibersihkan. Luka yang ada di kepalaku terasa begitu parah. Namun aku tidak menghiraukan rasa sakitnya dan berjuang melawan rasa pening yang ada pada diriku. Aku lalu menatap kearah sekeliling ruangan itu.
Ketakutan mulai memenuhi hatiku, saat aku melihat Angela masih menggunakan gaun pernikahan nya yang berwarna putih dengan sarung tangan yang dikenakannya sekarang sudah penuh dengan darah segar. Dia duduk di tempat tidur dengan begitu elegan, seolah seorang fotografer akan mengambil gambar dirinya. Tapi dia bukannya memegang buket bunga segar, namun yang dipegangnya adalah sebuah senjata api yang dia pegang dengan sangat erat di jemarinya.
Aku sempat berpikir, dari mana dia bisa mendapatkan senjata itu. Sedangkan di negara ini kepemilikan senjata api masih ilegal.
Setelah dia melihat bahwa tawanannya ini sudah bangun, bibirnya langsung tersenyum dengan begitu menyeramkan. Hal itu membuat bulu kudukku merinding dan tubuhku terasa ingin gemetar. Senjata api yang dia pegang itu berisi peluru dan itu membuatku semakin ketakutan akan hidupku.
Angela adalah iblis yang menyamar, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menembak kepalaku dengan menggunakan senjata yang dipegangnya itu.
Jika saja aku bisa melompat melewati jendela itu, mungkin saja akan ada sebuah keajaiban jika aku bisa selamat dari cedera yang akan terjadi saat aku menjatuhkan diriku dari ketinggian ini. Diluar tampak begitu gelap. Tidak ada kemungkinan bahwa seseorang bisa melihat aku setelah aku melompat dari lantai lima di bangunan ini.
Jika aku bisa berenang ke permukaan, aku pasti kehabisan napas sebelum aku bisa mencapai tujuan ku. Aku akan mati karena tenggelam.
"Kau bangun!!" Ucap Angela berdiri dari atas tempat tidur.
Aku tidak punya cara untuk berpikir jalan apa yang bisa aku ambil untuk bisa kabur darinya. Aku hanya bisa melihat setiap gerakan yang dia lakukan. Dia memainkan senjata api itu dengan jemarinya. Hal itu membuatku tak kuat karena mungkin saja secara tidak sengaja dia menembakkan senjata itu.
Kemarahan membuat mataku memerah. Jika tatapan ku bisa membunuh seseorang, dia pasti sudah mati oleh sorot mata ku yang menembak ke arah dirinya. Angela adalah orang yang paling tidak punya hati nurani karena dialah yang memukul kepalaku dengan sangat keras menggunakan tongkat baseball. Dia bukan hanya berniat untuk mengambil mantan suamiku. Dia juga benar-benar ingin mengambil nyawaku juga.
"Mungkin kau berpikir kenapa kau ada di sini bukan? Dan seperti yang aku lihat, kau pasti sudah tahu kenapa kan Putri!" Ucap Angela tersenyum lagi.
Hal itu membuat aku ingin merusak senyuman di bibirnya itu menggunakan cakar ku.
"Aku harap kau terbakar di neraka setelah kau memperlakukan aku seperti ini. Kau tidak pernah bisa menyembunyikan kenyataannya. Kau bisa mempermak tubuhmu itu, tapi kau tidak bisa mengubah perilaku buruk mu itu." Ucap ku seraya menatap wajahnya dengan tajam seolah bagiku dia itu tampak sangat jelek.
Plakk!!!
Bibirku berdarah setelah Angela menggunakan senjata api itu memukul bibirku. Aku bersumpah aku tidak pernah menginginkan untuk membunuh seseorang seperti aku ingin membunuh dirinya saat ini.
"Kau jangan berani-beraninya menantang aku." Teriak Angela dengan penuh kemarahan. "Kau harus belajar bagaimana caranya untuk menghargai aku." Lanjutnya.
"Kau tidak pantas mendapatkan sedikitpun rasa hormat dari ku." Teriakku dengan penuh kemarahan, rahang ku mengeras karena rasa emosiku yang tinggi. "Rasa hormat itu didapatkan bukan diberikan. Pekerja **** seperti dirimu yang tidak punya kehormatan tidak bisa diberikan rasa hormat oleh siapapun." Ucap ku lagi.
Plakk!!!
Aku mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya. Tapi aku tidak lagi merasakan rasa sakit. Kemarahan di dalam diriku ingin sekali meluap. Aku benar-benar ingin melepaskan diriku dari ikatan yang dia berikan ini dan aku ingin menghantam wajahnya dengan keras di tembok. Andai saja aku bisa melepaskan diriku, aku akan menyerang nya seperti hewan buas hanya untuk membalas kan dendam ku.
"Berhentilah bicara menggunakan mulut sampah mu itu, atau aku akan menarik pelatuk ini untuk menembak mu, dasar sampah, dan aku akan membuang tubuh jelek mu itu ke dalam tempat pembuangan sampah, di mana sebenarnya kau berasal." Ucap Angela.
Aku lantas memilih diam. Meski hatiku begitu penuh kemarahan, namun karena aku memikirkan bahwa aku tengah mengandung seorang bayi. Dan jika aku mati, maka bayiku juga akan mati. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, tidak akan pernah.
Aku lantas hanya bisa menatap Angela dalam diam dan dia pun kembali tersenyum menyeringai padaku.
"Sebelum aku membunuhmu, aku mau membuatmu sengsara lebih dulu." Ucap Angela seraya tertawa dengan begitu jahat dengan suara tawanya yang menggema di dalam ruangan itu.
"Kaulah alasan kenapa Vina meninggal. Kau tidak bisa menyalahkan orang lain Putri. Kau adalah gadis kecil yang naif yang tiba-tiba melompat begitu saja untuk mengambil keputusan mu."
Ucapan Angela semakin membuatku marah, apalagi saat dia menyebut nama puteri ku, membuat aku semakin ingin membunuhnya.
Dia tidak menghiraukan tatapan mata ku yang mematikan kepadanya. Dia lantas mengeluarkan sarung tangan yang penuh dengan darah itu dari jemari nya dan membuangnya di lantai. Aku sangat yakin jika darah itu adalah darah milikku.
Aku begitu marah dan andai saja tanganku tidak terikat, aku pasti sudah membunuhnya. Berani-beraninya wanita yang tubuhnya dipenuhi dengan plastik silikon ini menjadi pasangan mantan suamiku dan bahkan menyalahkan aku sebagai orang yang sudah membunuh puteri ku sendiri.
"Kau tidak mendengarkan apapun dariku saat kau mencuri Mas Al dariku." Ucap ku dengan rahang yang mengeras. "Tapi dengan membawa-bawa nama Vina kemari dan menyalahkan aku karena kematiannya, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu untuk hal itu." Lanjut ku dengan penuh kemarahan.
"Oh... aku takut Putri." Ucap Angela seraya memutar matanya seolah tengah mengejek ku.
Aku tiba-tiba berharap bahwa matanya itu tidak akan kembali normal lagi.
"Jika kau tidak lari malam itu puteri mu akan tetap hidup, apa kau tahu kenapa? Asal kau tahu, pria yang kau lihat malam itu adalah Vincent, saudara tiri dari Mas Al yang kau lihat berbaring di atas tempat tidur bersama denganku malam itu."
Pengakuan Angela tidak merubah apapun, aku tetap membenci Mas Al. Tidak ada penjelasan apapun yang bisa meluluhkan hati ku yang sudah membeku dan mati rasa karena rasa sakit itu. Tapi kebencian yang aku rasakan untuk Angela semakin membesar.
Dari belakang punggung ku, tanganku yang terikat perlahan ikatannya terasa longgar. Dan jika aku berhasil melepaskan ikatan di tanganku ini, aku benar-benar ingin mencekik lehernya sampai dia kehilangan napasnya dan sampai tubuhnya berubah menjadi boneka manekin yang sudah kaku
"Apa kau ingat sebelum aku bertemu dengan Mas Al, aku adalah kekasih dari saudara dirinya itu. Kau tahu bahwa Vincent sangat membenci Mas Al karena hampir memiliki semuanya. Aku benar-benar buta karena cinta ku untuknya, sehingga aku setuju untuk menjadi pion untuk menghancurkan pernikahan mu dengan Mas Al, di mana aku akhirnya berhasil melakukannya."
Angela tersenyum, dimana senyumannya itu sudah membodohi semua orang dengan sikapnya yang manis. Mas Al terlalu bodoh untuk bisa mempercayai wanita serigala ini. Semuanya mungkin memang karma untuk Mas Al.
Bersambung.....