Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 – Surodipo (1)
Enam pengawal kereta yang tahu bahwa manusia-manusia berkerudung kain hitam itu datang bukan dengan membawa maksud baik segera cabut pedang! Melihat ini orang yang tadi bicara tertawa mengekeh. “Kalian kunyuk-kunyuk Juragan Mertojoyo kalau masih ingin selamatkan batang leher segeralah tinggalkan tempat ini! Cukup tinggalkan kereta itu beserta isinya buat kami!”
“Bangsat rendah! Berani merampok Juragan Mertojoyo! Terima pedangku!” bentak kepala pengawal. Dia melompat ke muka dan pedangnya berkelebat, berkilauan ditimpa sinar matahari!
Berbarengan dengan itu kaki kanannya meluncur dengan sangat cepat. Kepala pengawal kereta terpekik Pedangnya lepas dan mental sedang sambungan sikunya yang dimakan tendangan tanggal dari persendian! Dia mengeluh kesakitan, terbungkuk-bungkuk sambil memegangi sambungan sikunya yang copot!
Lima pengawal yang lain tanpa banyak bicara segera menyerbu dan disambuti oleh lima laki-laki lainnya yang memakai kerudung, sementara empat lainnya diam diatas kudanya. Setelah terlibat dalam dua jurus pertempuran maka terdesaklah kelima pengawal kereta tersebut. Sementara itu di dalam kereta, mendengar suara ribut-ribut dan disusul dengan suara beradunya senjata dengan hati cemas Cempluk dan Juragan Mertojoyo singkapkan tirai jendela. Dia terkejut sekali melihat ada sesosok tubuh berkerudung melangkah mendekati kereta. dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu kereta!
“Cempluk Ayu dan ayahnya Juragan Mertojoyo… kalian tak usah cemas! Apa yang terjadi di,sini hanya pertunjukan biasa saja. Silahkan turun…!” ucapnya dengan suara serak dan parau.
“Kalian siapa…?!” bentak Juragan Mertojoyo.
“Siapa kami itu tidak penting. Turunlah!” sentak si kerudung hitam.
“Rampok-rampok biadab! Kalau kalian tahu siapa aku segeralah tinggalkan tempat ini sebelum pasukan Pajang datang menumpas kalian!” ancam Juragan Mertojoyo.
Laki-laki berkerudung tertawa bergelak “Hahaha siapa yang tidak kenal Juragan Mertojoyo dari Wonggo, tuan tanah penjilat Sultan Pajang, pedagang curang yang melakukan segala cara demi keuntungannya sendiri!”
Dibukanya pintu kereta dan diulurkannya tangan kanan untuk menarik Cempluk keluar dari kereta. Kusir kereta yang sejak tadi seperti terkesima melihat pertempuran yang berkecamuk di depan matanya, ketika mengetahui bahwa Juragan Mertojoyo dan Cempluk hendak diperlakukan secara kasar segera mengambil cambuk kereta dan mendera punggung laki-laki berkerudung.
“Rampok laknat! Berani mengganggu tuanku!” Dan cambuk itu mendera lagi beberapa kali. Laki-laki berkerudung memutar tubuh. Sekali dia gerakkan tangan maka berhasillah dia merampas cambuk itu. Dan kini cambuk itu dipakainya untuk melecuti muka kusir kereta.
Kusir ini menjerit-jerit. Kemudian dengan kalap mencabut golok pendeknya dan menyerang si muka berkerudung Namun hanya dengan mengelak dan sekali tendang saja maka kusir kereta itu terpelanting ke tebing kali, masuk ke
dalam kali. Tubuhnya segera hanyut terbawa air, tenggelam timbul karena sebelum jatuh ke dalam kali tendangan laki-laki berkerudung telah membuatnya pingsan terlebih dulu!
Pertempuran antara lima pengawal dan lima laki-laki berkerudung lainnya tak berjalan lama. Ketiga pengawal itu menggeletak di tanah bermandikan darah, sementara yang dua lagi terluka parah. Sementara itu di atas kereta Cempluk berusaha melawan dan meronta-ronta, menerjang dan meninju laki-laki yang hendak menyeretnya turun secara paksa.
Juragan Mertojoyo pun berontak berusaha mencabut Keris pusakanya yang terselip di pinggangnya, tapi tangan si kerudung hitam bergerak lebih cepat mencabut goloknya yang terselip di pinggangnya, golok itu berkelebat dan Crasshhh! Juragan Mertojoyo tewas seketika itu juga dengan leher hampir putus dengan tubuhnya!
“Romo!!!” jerit Cempluk, dengan sekuat tenaga gadis belia ini berusaha melawan si kerudung hitam. Namun apalah kekuatan seorang perempuan. Dalam waktu sebentar saja segera laki-laki berkerudung itu dapat membekuknya Cempluk dinaikkan ke atas kuda.
“Cepat bereskan mereka semua! Lemparkan semua mayatnya ke dalam kali! Ambil semua yang berharga dari dalam kereta!” perintah laki-laki berkerudung yang sudah naik ke atas punggung kudanya.
Tapi sebelum ia memacu kudanya dan ketiga anak buahnya menghabisi dua sisa pengawal Juragan Mertojoyo, tiba-tiba menggemalah suara tiupan seruling bambu yang membawakan satu lagu merdu namun bernada misterius. Suara seruling itu amat menusuk-nusuk gendang telinga serta membuat bulu kuduk semua yang mendengarnya itu berdiri dan diliputi perasaan takut dan kesepian.
Si kepala perampok yang memiliki ilmu silat paling tinggi diantara semua yang ada disana segera awas dan menguasai dirinya kembali, ia sapukan pandangannya ke sekitar lembah karang tersebut. Hingga pada satu titik, matanya menatap jalang pada seorang pemuda yang sedang memainkan seruling bambunya diatas
sebuah pohon.
Si Kepala Perampok ini bergidik ngeri ketika melihat sepasang bola mata si pemuda yang nampak sangat dingin dan kosong, namun menyiratkan aura kematian bagi seipapun yang berani menatapnya, sungguh suatu hal yang kontras karena sebenarnya paras pemuda ini sangat tampan dan bertampang gagah. Akan tetapi tentu saja si Kepala Perampok tidak mau terpengaruh begitu saja oleh tatapan maut dan suara seruling si pemuda, ia pun langsung membentak.
“Siapa kau?! Apa kau juga hendak mampus?!” bentak si kepala begal yang masih membopong Cempluk diatas kudanya.
Si pemuda menghentikan permainan serulingnya, akan tetapi tiba-tiba berdesinglah tiga buah benda bulat hitam sebesar mutiara secepat peluru mengarah pada kawanan perampok itu! Terdengarlah jerit kematian tiga orang
perampok itu dengan jidat berlubang kecil, sebesar kelereng.
“Mutiara Setan?!” desah si kepala perampok sambil bergidik ngeri ketika mengenali benda hitam bulat kecil yang membunuh tiga orang anak buahnya.
“Siapa kau?! Apa hubunganmu dengan si Kelelawar Hitam?!” bentak Si Kepala Perampok dengan perasaan ciut juga, karena setahu dia, hanya Ki Rono Tikusilo lah alias si Kelelawar Hitam, sang pemimpin Kelompok Kelelawar
Hitam yang memiliki senjata rahasia berupa mustika menyerupai mutiara berwarna hitam legam dan mengkilap yang bernama Mutiara Setan tersebut.
Si Pemuda berwajah dingin ini menyeringai yang membuat wajahnya bertambah menakutkan. “Ternyata kalian bukan Kelelawar Hitam… Kalian hanya kecoa bukan?”
“Diam! Aku Suroblabak belum pernah dihina macam ini! Apa urusanmu” bentak si Kepala Perampok sembari memberanikan dirinya untuk mengacungkan goloknya.
Si pemuda melayang turun dari atas pohon dengan amat ringan, bagaikan sebuah daun yang jatuh dari atas tangkainya. “Kalian buka kelelawar hitam, jadi tak perlu tahu…”
“Bunuh pemuda gila ini! Cepat!” komando Suroblabak.
Enam orang sisa anak buah Suroblabak langsung menerjang pemuda aneh ini dari segala penjuru, tapi si pemuda ini malah menyeringai maut. “Kalian minggat sajalah ke Neraka!” begitu ia menutup bibirnya, berkelebatlah tubuh
jangkungnya itu secepat kilat!
Wushhh! Desh! Dessh! Desh! Tiba-tiba Tiga orang anak buah Suroblabak jatuh tersungkur kemudian tidak berkutik lagi dengan tulang dada melesak! Cempluk Ayu menjerit histeris ketakutan, Suroblabak langsung terpukau, dan tiga orang sisa anak buahnya terkesima begitu melihat si pemuda yang hanya sekali berkelebat, namun langsung mampu merobohkan tiga orang perampok yang bersenjatakan golok tersebut.
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali