Ia tengah lari dari perjodohannya. Nur Aida Rindayani tak pernah menyangka, Ia justru menemukan seorang pria yang tergeletak di pantai dan membawanya pulang. Sebuah fitnah keji, lalu memaksa mereka menikah dalam sekejap.
Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.
Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nur makin lama makin aneh
"Nur, ngga beli baju juga?" tanya Tono yang sudah menenteng beberapa tas pakaian barunya.
"Engga, pakaian Aida masih banyak. Mas aja." jawabnya singkat.
Mereka berjalan keluar, dan Aida spontan berhenti di sebuah toko emas. Ia melihat, cincin peninggalan Ibunya terpajang di etalase depan. Biar bagaimanapun, itu adalah satu-satunya yang Ia tinggalkan sebelum Ia pergi.
" Kenapa, Nur? Ada yang kamu mau?"
"Ah, engga. Cuma sekilas lihat aja. Yuk, pulang," gandeng Aida pada suaminya. Perjalanan keluar tak begitu lama, hanya beberapa menit dari tempat mereka berdiri.
Sebenarnya Tono lapar, tapi tak enak jika harus minta makan lagi dengan uang Aida. Hingga, Ia menahannya sampai tiba di rumah. Nenek menyambut dengan segala menu makan yang tergelar di meja makan. Begitu nikmat, membuat Tono menelan salivanya dengan kuat.
"Eh, mandi dulu, kotor." tegur Aida.
"Dikit aja, Nur. Laper banget." rengek Tono, memegangi perutnya.
"Mas abis dari proyek, abis dari pasar pula. Mandi dulu, pokoknya."
"Iya," tunduk Tono pada sang Istri. Ia pun segera meraih handuk, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Jangan galak sama suami."
"Ngga galak, cuma mengingatkan. Kan, memang kotor, Nek. Daripada nanti malah sakit perut, besok ngga bisa kerja."
Nek Mis hanya menggeleng kan kepalanya. Tapi senang, ketika Aida diam-diam mengambilkan makanan untuk Tono, dan membawanya ke kamar. Aida masuk, meletakkan piring di diatas lemari kaca nya dan duduk melipat segala pakaian Tono yang baru.
"Mau di cuci dulu, apa mau langsung dipakai?" gumam Aida, yang melepas lebel nya satu persatu. Hingga menemukan sebuah segititiga bermuda milik Tono dan membentangnya.
"Oh, ini? Segini ukuranya?" Aida mengangguk anggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Nur, kamu ngapain itu?" tanya Tono yang mendadak muncul. Membuat Aida tesentak kaget dan wajahnya canggung.
"Eng, engga, anu. Ini mau nanya, mau dicuci dulu apa gimana?" tanya nya gugup.
"Satu aja langsung di pakai. Udah seminggu lebih. Ngga pakai itu. Rasanya dingin." jawab Tono begitu polos.
"Hah, dingin? Apanya?" bengong Aida, dengan fikiran melayang entah kemana. Tono menghampiri, mengulurkan tangan meminta segitiga itu pada sang istri. Tapi, Aida masih tampak bengong menggenggamnya.
"Nur, mana? Ini udah dingin, Nur."
"Hah, apa, Mas? Apa sih yang dingin?"
"Nur, ngga usah main-main, ah." tegur Tono, lalu merebut benda itu dan memakainya.
Aida kembali melotot, tapi entah arahnya kemana. Sedangkan Tono dengan santainya mengganti pakaian di depan Aida. Entahlah, gadis itu sedang memikirkan apa sekarang.
"Masa ngga tahu, Nur. Itu yang kedinginan apa? Harusnya bisa mencerna, kamu lagi pegang apa. Jadi larinya kemana. Bukannya, kamu lulusan bidan? Harusnya khatam dengan benda itu."
"Benda... Itu?" Aida kembali berfikir. Entah, otak nya serasa lemot sekali saat ini. Hingga Ia menyadari akan sesuatu.. "Astaga! Aaaarrrghhh!" teriaknya, lalu keluar terbirit birit meninggalkan Tono yang ada di kamarnya.
"Ngapa lagi? Aneh lama-lama." gerutu Tono, yang tengah menyisir rapi rambut nya.
Aida berlari menuju ruang makan. Ia mengambil segelas air. Meninumnya dengan cepat dan tandas. Lalu menghela nafas beberapa kali mengatasi ke gugupan nya.
" Aida kenapa?" tanya Sang Nenek.
" Eng, ngga papa, Nek. Aida baik-baik saja. Aman." senyumnya, menyembunyikan segala racun di dalam fikirannya yang kotor itu.
"Mesuum," ledek Tono, yang akhirnya membawa keluar makanannya itu.
melaknat pebinor dan memuja pelakor
pemikiran munafik wanita
melaknat pelakor dan memuja pebinor
dan novel ini menunjukan dirimu dengan cara kau memperlakukan pelakor dan pebinor
bahkan ada novel istri diculik, tinggal bersama, bahkan tidur bersama dengan pebinor penculiknya dan ketika suami datang menyelamatkan nya dan menghajar pebinor itu istrinya malah membela pebinor karena dia bilang dia diperlakukan dengan baik, dan novel itu membenarkan
cari satu saja novel yang bertema pebinor menculik atau memaksa istri orang tinggal bersamanya, dan novel itu anggap itu sebuah kesalahan
kalian tidak akan dapat novel kayak gitu, karena faktanya semua novel akan membenarkan itu