NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan lain

Foto pernikahan yang waktu itu mencolok di ruang keluarga kini sudah tiada. Farhan iseng bertanya soal foto-foto yang dulu Amira pajang dengan penuh semangat sekarang foto-foto itu malah dilepaskan tanpa sisa.

"Kemana foto-foto itu?" tanya Farhan sambil menatap dinding yang kini polos tanpa apa pun.

Amira spontan melihat ke arah yang Farhan tuju. "Oh itu, aku copot, Mas. Maaf ya, aku sempat 'nyampah' di dinding elegan kamu. Aku baru sadar ternyata norak," sahut Amira sambil tersenyum, dan Farhan cukup kaget mendengarnya.

"Bukannya kamu senang dengan foto-foto itu? Bahkan kamu berkali-kali mengajak aku memanggil jasa fotografer untuk memotret keluarga kita bersama adik-adikmu. Ayo kita rencanakan ulang?" Farhan berbicara seperti orang yang baru teringat sesuatu, lalu membahasnya. Namun, bagi Amira, semua sudah terlambat.

"Kayanya nggak perlu lagi, Mas. Keinginan itu sudah aku kubur baru-baru ini. Aku baru sadar, selama ini aku sendiri yang selalu antusias mengurus hal-hal terkait rumah tangga kita. Mas, kamu harus jujur dengan perasaanmu seperti sebelumnya. Jangan lakukan apa pun yang tidak kamu mau." Setelah berbicara Amira berdiri dan meninggalkan Farhan.

Farhan masih duduk dan mencerna apa yang baru saja diucapkan Amira. Sementara itu, Amira pergi ke kamar untuk mencari pengisi daya ponsel. Tanpa sengaja, Amira membuka laci di samping tempat tidur Farhan. Selama ini, Amira tidak pernah berani membuka apa pun milik Farhan tanpa izin kecuali belakangan ini, karena begitu banyak hal yang mengganjal di hatinya.

Saat laci itu ditarik, terlihat beberapa kotak berbentuk seperti kotak permen. Amira mengamati dan membaca tulisan di dalamnya bahkan ada botol kecil berisi vitamin yang selama ini sesekali diberikan Farhan. Amira merasa penasaran dan memotret kedua benda tersebut.

Amira mencari informasi di media sosial untuk mengetahui kegunaan kedua barang itu, dan semuanya menjelaskan bahwa itu adalah alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Amira merasa dirinya begitu bodoh karena tidak menyadarinya sejak awal. Kehangatan yang diberikan Farhan sebelum berhubungan intim selalu membuatnya terbuai. Dalam keadaan lampu yang redup dan hasrat yang membara, entah apa yang dipikirkan salah satu dari mereka, namun Amira selalu merasa puas dalam hal itu. Namun kini ia sadar sejak awal, Farhan tidak pernah menginginkan keturunan dari rahimnya.

Amira tersenyum getir. Kenyataan apa lagi yang akan ia ketahui setelah ini? Haruskah ia mundur sekarang sebelum mengetahui fakta lain yang lebih menyakitkan? Amira terduduk sambil menatap kedua barang yang telah digunakan Farhan selama lebih dari setahun. Di tengah lamunannya, terdengar suara langkah kaki, dan Amira segera menyimpan kembali benda-benda itu.

Benar saja, Farhan masuk ke kamar mereka. Pandangannya terlihat berbeda, seperti seseorang yang siap memangsa mangsanya. Ia duduk di samping Amira yang seolah sedang melamun, lalu tiba-tiba meraih wajah Amira dan menciumnya dengan penuh nafsu. Amira yang tidak siap dengan perlakuan itu merasa sangat terkejut. Ia berusaha menolak, namun Farhan tidak mengindahkannya. Sentuhan demi sentuhan lembut diberikan Farhan, membuat Amira tak berdaya.

#

Meski hatinya masih perih menahan kenyataan yang baru ia ketahui. Napas Farhan memburu, membelai leher dan rahang Amira dengan gairah yang membara, seolah ingin menenggelamkan segala pertanyaan yang mulai tumbuh di benak istrinya itu.

Cahaya terang dari luar untuk pertama kalinya dibiarkan menyaksikan adegan yang selama ini Farhan sembunyikan dalam gelap. Aroma tubuh Farhan yang biasa ia kenal kini terasa asing sekaligus memikat. Amira masih berusaha menahan diri, tangannya menekan dada bidang suaminya, namun kekuatannya seolah hilang tersedot oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Mas Farhan..." suaranya terdengar bergetar, antara penolakan dan kebingungan.

Namun Farhan tidak menjawab. Ia justru mempererat pelukan, bibirnya bergerak turun meninggalkan jejak hangat di leher Amira. Gerakannya terampil, tahu persis bagian mana yang membuat Amira selalu meleleh sesuatu yang ia lakukan selama ini, namun kini terasa sebagai alat untuk membius pikiran Amira agar tidak menolaknya.

Jantung Amira berpacu kencang. Di satu sisi, ingatan akan kotak obat dan botol kecil tadi berputar kencang di kepalanya, menyakitkan. Namun di sisi lain, rangsangan yang diberikan Farhan membakar indranya, membuat akal sehatnya perlahan kabur. Ia merasa dipermainkan dirawat dengan kelembutan, namun ditipu dalam keheningan.

Farhan membaringkannya perlahan di atas kasur, tubuhnya menindih lembut namun meninggalkan ruang yang terasa sesak. Pandangannya tajam, memandangi wajah Amira yang tampak bimbang antara sadar dan terbuai. Tangannya menyisir rambut Amira, lalu turun membelai lengannya dengan sentuhan yang mematikan perlawanan.

"Kenapa diam saja?" bisik Farhan, suaranya berat dan sarat hasrat. "Bersuaralah seperti sebelumnya jangan ditahan."

Belum sempat menyahut, bibir Farhan kembali menciumnya lebih dalam, lebih mendesak semua kata-kata yang ingin ia ucapkan lenyap tertelan desahan yang tak mampu ia tahan. Tubuhnya merespons secara naluriah, meski matanya mulai basah.

Siang itu, kehangatan yang terjalin di antara mereka bukan lagi tentang cinta. Amira sadar ini hanyalah kewajiban suami istri, sesuatu yang Farhan lakukan untuk memastikan perannya sebagai suami berjalan. Amira sebagai istri cukup menerima itu, dan membiarkan segalanya berjalan sesuai keinginan Farhan tanpa janji, tanpa keturunan, dan tanpa kejujuran.

#

Selesai adegan percintaan itu, Farhan yang masih terkulai lemas, begitu juga Amira, berusaha merenungkan apa yang mereka lakukan. Ini di luar kebiasaan Farhan. Apa yang membuat laki-laki itu melakukan hal ini?

Posisi Amira yang berada di dekat nakas Farhan langsung mengambil pil pencegah kehamilan dan meminumnya saat itu juga. Hal itu menarik perhatian Farhan.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Farhan, saat pil itu benar-benar tertelan bersama air dari gelas milik Farhan yang tersisa semalam.

"Aku minum vitamin yang selalu kamu berikan setelah kita berhubungan. Sepertinya kamu lupa menggunakan pengaman lain," ujar Amira sarkas. Farhan terkejut lagi dengan perkataan Amira saat ini.

"Kamu tahu?" tanya Farhan sambil ikut duduk. Dada telanjangnya membuat Amira baru menyadari pemandangan itu ada, sebelumnya tidak pernah ia nikmati karena lampu yang gelap saat berhubungan. Amira masih tertegun menikmati apa yang ada di hadapannya sebelum akhirnya tersadar bahwa ini hanyalah ilusi.

"Aku baru tahu beberapa waktu lalu. Tubuhku tidak boleh mengandung keturunanmu. Kamu juga melakukannya di luar kebiasaan. Selama kita menikah, kita belum pernah melakukannya di siang hari dengan terbuka dan cahaya terang masuk. Lalu kamu menatapku dengan pandangan yang berbeda. Mungkin sebelumnya kamu nggak mau liat wajahku, makanya kita selalu melakukannya di malam hari dengan lampu yang dimatikan." Dugaan dan ucapan Amira tidak dibantah Farhan. Ia seolah tak memiliki kata-kata untuk membela diri Amira cukup paham akan hal itu.

"Jangan lakukan hal ini lagi, Mas. Kamu memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu inginkan. Aku anggap ini hanya emosi dan nafsu yang tak terkendali, jadi jangan khawatir aku tidak sedang dalam masa subur, jadi kemungkinan hamil sangat kecil."

Farhan tak punya kesempatan membalas ucapan Amira perempuan itu langsung pergi membersihkan diri di kamar mandi. Farhan hanya menatap punggung istrinya dengan perasaan bersalah.

**

1
falea sezi
cpet cerai
rasahaz
boleh mnta doble up ngga sh thor,,, 🤭🤭🤭😜
rasahaz
nyesek bgt baca ny,, bnr2 si@lan c farhan pngen d sentil kya ny tu ginjal ny laki modeln ku gtu,,, 😤😤😤
falea sezi
nah gt abis ne cerai ngapain suami. buat pajangan doank g guna😒
rasahaz
bgus amira kmu sdah tegas sma tu laki2 plin plan,, jgn sampai tergoda lgi sma bujuk rayu ny,, 💪💪💪
rasahaz
bgus amira kmu hris tegas, hrus sat set jgn menye2 apa lgi smpai nangis kejer bt nangisin tu lako modelan c farhan,, 😤😤😤
falea sezi
buat pinter dikitlah😒 pergi jauh
falea sezi
pergi jauh bawa adek mu😒 laki gk ngotak
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!