"Lo lebih milih nikah sama pilihan mamah yang bukan tipe lo, atau nikah sama pilihan papah yang dadakan ini?" -Annisa Safira Anggraini.
jadi apa yang akan dipilih nisa? kepo? ayo baca aja!
....
fyi : autor ga pernah copas/menyalin karya orang lain! semua karya yang autor buat murni dari khayalan+kisah nyata yang di alamin oleh teman-teman autor.
kalau tidak menyukai karya ini atau karya ini terlalu kaku, tolong beri saran bukan makian. tks.
langsung baca aja ya! biar nggak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
"Gigit apa nya?" tanya nisa menahan tubuh bian untuk tidak maju mendekati nya.
"Ya gigit, gemes banget gw agh kenapa punya bini sepolos lo sih" seru bian mencubit pipi nisa karna masih saja bertanya padahal sudah tau akan terjadi apa.
"Trus kamu mau nya punya bini yang nakal gitu? gak bersyukur banget sih jadi orang udah dapet yang kek aku malah nyari yang nakal" sungut nisa dengan kedua alis menyatu dan menyilangkan tangan di dada.
Bian menggaruk tengkuk leher nya merasa heran dengan mood nisa yang awal baik-baik saja tiba-tiba berubah menjadi pemarah.
"Emm sayangg, bukan gitu" bujuk bian hendak mendekat, nisa dengan muka cemberut menghindar dari kejaran bian.
"Apasih napa jadi ngikutin ih" sungut nisa merasa bian mengikuti sejak keluar dari kamar, sedangkan bian hanya tersenyum sambil bersandar di pintu kamar.
Bian hanya mengejar nisa sampai depan kamar, saat nisa melangkah hendak ke dapur nisa mengira bian masih mengejar nya, padahal tidak.
"Ih dibilangin gak usah ngikutin ngeyel banget sih" sungut nisa membalikkan badannya ke belakang dan terdiam mencari keberadaan bian.
"Lah? gak ngikutin ternyata" cicit nisa bergumam setelah menemukan bian yang asik bersandar di dinding menatap nya seperti ingin tertawa.
"Bwhahaha lucu banget ih" tawa bian akhirnya tak bisa ditahan lagi, apalagi melihat wajah nisa yang mengetahui dia tak mengikuti seperti orang linglung.
Nisa kembali bersungut dan menghampiri bian dengan kesal, diri nya jadi malu sendiri karna kejadian itu ternyata dilihat oleh nenek dan kakek yang sedang asik menonton tv.
Nenek dan kakek hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd dari cucu-cucu nya yang sedikit mengganggu tontonan tv mereka.
Bian masih tertawa tak menyadari nisa ada di hadapan nya dengan berkacak pinggang dan bibir manyun seperti bebek.
"Hey hey udah udah, jangan ketawa terus, ini udah malam, gak baik" tegur nenek irma menatap tajam bian agar berhenti tertawa.
Bian langsung menurut walau masih menyisakan tawa kecil yang tertahan, kemudian menampilkan cengir kuda dihadapan nisa yang cemberut.
"Puas ketawa nya?" tanya nisa dengan bibir kembali manyun.
"Belum sih, tapi udah ditegur sama nenek, jadi puas-puasin aja" jawab bian dengan santai masuk ke kamar dengan cara berjalan mundur.
Nisa ikut masuk sambil berkacak pinggang tanpa menutup pintu, entahlah dia baru saja selesai tamu bulanan tapi kenapa mood nya malah setelah selesai jadi kurang baik.
"Ketawa aja lagi, ketawain aja terus" sungut nisa dengan kesal, dia melangkah ke lemari kayu dan mengambil baju tidur, berniat ingin tidur cepat.
"Sayang mau kemana?" tanya bian melihat membawa baju tidur dan hendak keluar dari kamar.
"Ganti baju lah, napa? mau ikut?" jawab nisa sekaligus menawarkan yang sebenarnya hanya berniat bercanda, tapi bian menganggap nya serius.
"Ayoklah gas!" seru bian mengambil celana pendek saja, dia terbiasa tidur tanpa baju karna bagi nya pakai baju akan sedikit membuat suara di kasur yang berisik.
"Eh eh becanda ih, ngapain dibawa serius ih" cicit nisa segera menutup pintu sebelum bian keluar dan duluan ke kamar mandi.
Bian menghela napas, "kirain beneran di ajak" gumam bian sembari melepas baju koko yang dia belum lepas setelah sholat isya.
Dia akan berganti baju di kamar karna dia simple, hanya lepas baju dan celana panjang semata kaki, digantikan dengan celana pendek sepaha.
"Nenek sama kakek gak tidur?" tanya nisa dari luar kamar, dan dapat di dengar oleh bian yang sudah satai rebahan di kasur.
"Belum ngantuk nduk, kamu duluan saja" jawab nenek irma dengan jujur, mereka bahkan belum sholat isya masih ingin bersantai nonton tv sejenak.
"Ya udah, nisa masuk kamar duluan ya" pamit nisa setelah itu dia membuka pintu yang tidak dikunci bian dari dalam.
Bian menatap nisa yang memakai pakaian tidur bergambar bunga mawar merah yang sangat pas ditubuh nya.
"Apa liat-liat?" sungut nisa menatap bian sinis.
"Idih masih marah" ucap bian diakhiri dengan kekehan kecil karna gemas melihat kelakuan nisa yang malam ini sangat berbeda, tidak ada kalem nya.
"Gak tau" balas nisa naik ke kasur samping bian dan merebahkan diri nya sedangkan bian memiringkan tubuh nya menghadap nisa yang telentang.
Nisa merasa bian sedang memperhatikan nya pun menatap bian balik, kedua bertatap untuk sejenak dan mengunci tatapan itu tanpa ada yang berniat untuk memutuskan tatapan itu.
"Kedip sayang kedip" cetus bian menyadarkan nisa yang menatap nya tidak berkedip, dikira lagi tanding paling lama tatap-tatapan apa gimana.
Nisa menurut, dan mengedipkan mata nya beberapa kali yang terasa perih karna terlalu lama tidak berkedip.
"Napa natap nya sampe segitu nya? ganteng ya? oh ya jelas suami kamu kan emang ganteng, baru sadar ya? sampe terpesona gitu aduh sayang" ucap bian dengan panjang lebar dan pasti nya bangga.
Nisa menatap bian datar, "pede banget ya mas" balas nisa membuat bian tertawa bangga dengan anggukan yakin.
"Harus pede" sahut bian mendapat gelengan dari nisa.
"Akhiri tawa mu itu sebelum aku akhiri nyawa mu" ucap nisa tiba-tiba membuat bian yang tertawa bangga menjadi berhenti dan menatap nisa yang mengigit bibir bawah nya.
"Ohh berani ngancam gitu ya hm? kenapa harus mengakhiri nyawa ku jika aku saja belum mendapatkan apa yang aku mau" balas bian mendapat kernyitan bingung dari nisa.
"Kenapa tidak diakhiri dengan kenikmatan? kenapa harus dengan nyawa? mau jadi janda muda?" tanya bian sedikit vulgar.
Nisa memutar bola mata jengah, "tidak ada yang ingin menjadi janda, tuan. saya hanya sedikit menggertak agar anda berhenti tertawa seperti itu" jawab nisa dengan formal.
"Tawa seperti apa yang kamu ingin kan nona cantik ku?" tanya bian mengikuti bahasa nisa menggunakan bahasa formal, pipi nisa nampak merona.
"Tidak ada" jawab nisa mencoba tenang.
"Kenapa harus menggertak saya dengan ancaman nyawa? kenapa tidak bungkam saja dengan bibir manis mu ini nona?" tanya bian kembali ke arah pembicaraan sambil menatap bibir nisa yang merah alami.
"Ken-hmph"
...____...
...tau kan apa🌚, oke aku stop in lanjutan nya ntar gak ada kek gini, terlalu vulgar tidak bagus buat kesehatan ku yang masih dibawah 18+🌚🤟...
suka sama ceritanya tp gk ngerti kalo Sunda makeknya🙏.
lanjut kak