Aku mencintai suami sahabatku
Nur bertekad menjadi noda dalam pernikahan Reza dan Tanti. Reza adalah mantan kekasihnya, sedangkan Tanti adalah sahabatnya.
Nur rela menceraikan suaminya atas perintah Reza. Namun, Reza mengingkari janjinya. Ia tak mau melepaskan Tanti dan tak ingin kehilangan Nur dua kali.
Apakah Nur akan tetap menjadi noda dalam perkawinan Reza dan Tanti? Atau justru menyerah dan melepaskan cinta pertamanya bersama wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pov Tanti
“Fadli. Firasat orang tua biasanya selalu benar, Nak. Bapak merasa sangat cocok dengan Fadli.”
Aku terdiam ketika Bapak menjodohkanku dengan Fadli. Dia memang pria yang baik. Tapi bagaimana mungkin Bapak dengan terang-terangan mengatakan itu di depan Fadli. Lagi pula aku tidak tahu perasaan Fadli kepadaku. Apakah dia hanya membantuku atau memiliki rasa lain padaku.
“Bapak ada-ada saja. Belum tentu Fadli mau, Pak,” jawabku.
“Aku setuju saja dengan apa yang dikatakan Pak Hadi. Sejak pertama aku mendengar cerita tentangmu, aku sudah sangat menyukaimu, Tanti. Apalagi saat aku bertemu denganmu di rumah sakit saat itu. Ibu semakin menyukaimu dan berharap kamu menjadi menantuku.” Kini Ibu Fadli yang menyambung perkataan Bapak.
Mendengar jawaban ibu Fadli, aku pun menoleh ke arah pemuda itu. Dia hanya menunduk, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tentu saja aku tidak bisa mengatakan jika aku mau menerima perjodohan itu.
“Fadli, bagaimana usul Pak Hadi dan Ibu? Kamu mau kan menikah dengan Tanti?” tanya ibu Diah kepada putranya.
“Terserah, Tanti saja, Bu. Jika Tanti mau, aku mau menjadi suaminya. Aku mau membahagiakannya.”
Mendengar jawaban Fadli jantungku terasa berhenti berdetak. Aku tak menyangka jika Fadli akan menerima perjodohan itu dengan mudah. Apa mungkin dia membantuku selama ini karena dia sudah memiliki rasa padaku? Tapi bagaimana denganku? Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Yang jelas rasa cinta untuk Mas Reza masih ada. Meski pun jauh lebih besar rasa kecewa daripada rasa cinta itu sendiri.
“Kau dengar sendiri jawaban dari Fadli kan, Tan? Kau sendiri bagaimana?” tanya Bapak yang membuatku terpojok.
“Iya, Pak. Aku mau. Tapi aku masih berstatus menjadi Istri Mas Reza.”
“Bapak akan segera urus perceraianmu dengan Reza. Bapak sudah tidak sudi lagi memiliki menantu seperti dia.”
“Iya, Pak. Terima kasih sudah membantu Tanti, Pak.”
“Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Bapak ini kan orang tuamu.”
***
Pov Fadli
Ternyata benar apa yang aku duga. Yang dimaksud Pak Hadi adalah aku. Ada rasa senang ketika mendengar itu. Tapi ada rasa takut pula. Aku takut tidak bisa membahagiakan Tanti nanti. Aku juga takut Tanti tidak bisa mencintaiku seperti dia mencintai Reza.
“Bu, Pak. Tapi aku baru beberapa hari lalu mengenal Tanti. Apa kalian tidak masalah dengan mudahnya menjodohkan putri kalian denganku?” tanyaku pada orang tua Tanti.
“Masih banyak waktu agar kalian lebih mengenal satu sama lain. Selama menunggu proses perceraian, kalian bisa lebih mengenal lagi kan?” balas Pak Hadi.
“Iya, Pak.”
“Alhamdulillah Ibu senang sekali akhirnya Tanti menjadi menantuku. Ibu harap pernikahan kalian bisa bahagia nanti dan hubungan kalian sekarang bukanlah hubungan setingan,” kata ibuku dengan semringah.
“Ayah akan mengurus perceraian Tanti hari ini juga. Lebih cepat lebih baik. Bapak tidak mau melihat putri Bapak satu-satunya terus bersedih.”
Kunjunganku bersama ibu cukup lama. Hari sudah petang. Aku mengajak Ibu untuk pulang. Rasanya aku menjadi canggung dan malu ketika aku berpamitan dan bersalaman dengan Tanti. Padahal mulai hari ini aku dan Tanti memiliki hubungan sebagai calon pasangan dan bukanlah hubungan setingan, tapi justru aku menjadi sangat malu kepadanya.
Aku tak pernah menduga akhirnya aku memiliki calon istri. Aku bisa membahagiakan ibu dan menuruti keinginannya yang selama ini tak bisa ku penuhi.
***
Pov Tanti
Aku baru saja merebahkan diri di atas kasur seraya membayangkan pernikahanku dengan Fadli nanti. Jodoh memang tidak ada yang tahu. Seorang sekuriti yang membantuku di rumah sakit sebentar lagi akan menjadi suami keduaku. Sementara orang yang selama ini aku cintai akan menjadi seorang mantan terburuk dalam hidupku.
Aku yakin keputusan Bapakku memanglah tepat. Aku jadi teringat beberapa tahun lalu ketika Mas Reza meminta izin langsung kepada orang tuaku untuk menikahiku. Bapak sempat menasihatiku seolah-olah dia tidak begitu setuju dengan hubunganku dengan Mas Reza. Tapi Bapak mengalah karena aku meyakinkannya dan aku mengatakan jika aku sangat mencintai Mas Reza. Rupanya ini pertanda jika firasat orang tua memang selalu benar. Mas Reza bukanlah orang yang baik.
Berbeda dengan Fadli. Kebaikannya dan ketulusannya padaku juga Bapak rasakan.
Aku baru saja akan memejamkan mata ketika mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Lantas aku segera beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
“Itu pasti Mas Reza,” gerutuku kesal.
Aku menghampiri Ibu dan Bapak yang sedang duduk di ruang tamu. Tak berselang lama ketukan pintu utama terdengar.
“Siapa tamu malam-malam begini menggunakan mobil?” tanya Bapak.
“Mas Reza, Pak. Maafkan Tanti. Tanti sangat malas membukakan pintu untuknya.”
“Jika kamu tidak kuat, kamu masuk ke kamar saja. Biar Bapak dan Ibu yang yang menghadapi Reza,” kata Bapak.
“Tidak apa-apa. Tanti juga ingin menghadapinya. Tanti yakin kuat, mataku juga sudah tidak sembab seperti tadi pagi.”
“Ya sudah kalau begitu duduklah di dekat ibumu! Bapak akan membukakan pintu untuknya.”
Aku duduk di dekat ibu sampai akhirnya Mas Reza masuk sendirian tanpa orang tuanya. Aku mengira Mas Reza akan datang bersama orang tuanya untuk mengembalikanku kepada Bapak Ibukum Tapi untuk apa dia datang sendiri? Penjelasan apa yang akan dia berikan kepada orang tuaku? Bukankah dia akan menjelaskan bahwa dia sangat mencintai Nur dan akan menceraikanku? Kenapa dia datang sendiri?
“Bapak sangat kecewa kepadamu. Bapak tidak menyangka kamu mengkhianati Tanti,” ucap Bapak tanpa basa-basi.
“Itulah sebabnya aku datang ke sini untuk menjelaskan semuanya kepada Bapak dan Ibu.”
“Penjelasan apa? Penjelasan kau sudah menikah Nur, sudah menghamilinya?” balas Bapak dengan ketus.
“Jadi begini, Pak. Aku dan Nur sebenarnya saling mencintai.”
“Penjelasan macam apa itu? Bapak tidak butuh penjelasan macam itu.”
“Dengarkan dulu, Pak. Aku dan Nur dulu adalah kekasih saat masih SMA dan kami masih saling mencintai. Tapi itu semua hanya khilaf. Aku kira aku masih mencintai Nur, jadi aku berhubungan dengan dia sampai dia hamil. Aku sungguh menyesal, Pak. Aku tidak bisa lari dari kenyataan dan meninggalkan Nur begitu saja karena dia sudah hamil.”
“Lalu apa yang kau inginkan dengan berkata seperti itu?” tanya Bapak lagi. Aku melihat dengan jelas raut wajah marah kepada Bapak.
“Aku ingin Tanti tetap menjadi istriku, Pak. Aku akan bertanggung jawab kepada Nur sampai anak itu lahir. Aku tidak ingin kehilangan Tanti.”
Mendengar penjelasan itu aku sangat geram. Rasanya aku ingin sekali melempar vas bunga yang ada di meja ke kepala Mas Reza. Apa-apaan ini? Dia mempertahankanku dan Nur sekaligus? Aku tidak bisa percaya dengan perkataannya. Tidak mungkin Mas Reza akan bertanggung jawab hanya sampai Nur melahirkan. Pasti itu hanya bualannya saja. Sudah cukup selama bertahun-tahun aku dibohongi. Kali ini aku tidak akan percaya lagi.
“Tanti, tolong percaya padaku! Aku tidak ingin hubungan pernikahan kita berakhir,” kata Mas Reza seraya bertekuk lutut di hadapanku.
Bersambung....
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu