Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Feel It
Hari demi hari yang kian mendekat, semakin dekat dengan hari pernikahannya dengan Fransisca Winarta. Henry yang semakin tidak ingin menjauh dariku, lebih banyak di rumah membawa pekerjaannya. Seakan ini adalah hari-hari terakhir kebersamaan kita. Dirinya tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah pernikahan itu. Hingga sangat takut melepasku dari pandangannya.
Seharusnya aku yang takut, bagaimana tidak. Suamiku yang kucintai harus terbagi untuk wanita lain. Aku takut kehilangan cintanya, perhatiannya dan kasih sayangnya. Hari-hari sepiku di rumah ini tanpa kehadirannya, merindukan pelukan dan cumbu rayunya.
Jika aku bisa protes pada takdir, mengapa ini harus terjadi?
Mengapa hanya menciptakan satu hati?
Bagaimana bisa hati yang tercipta satu untuk dua wanita?
Sakit, rasanya sakit membayangkan Henry memeluk wanita itu. Memilukan dan mengiris hati setiap detiknya.
Di sisi lain aku tidak ingin membuat Henry gamang dan bersedih, kututupi kemelut perasaan ini dengan senyuman. Aku tidak ingin Henry terbebani, mencoba untuk ikhlas yang tidak akan pernah terucap.
Menangkap setiap momen kebersamaan, bahkan aku sering memotretnya dan membantu pekerjaannya. Henry yang selalu menungguku pulang dari kantor dan menyambutku dengan kejutan-kejutan cinta. Kue hampir tiap malam, hadiah dan bunga hampir setiap hari dan sentuhan yang tidak pernah berhenti.
Rasanya ingin berteriak kepada dunia, bahwa aku tidak rela. Rasanya sangat sakit suamiku akan menikah lagi. Namun, semua itu percuma hanya helaan napas perlahan yang membuatnya sedikit lega, meskipun menyisakan sesak di dada. Tidak mengapa, masih ada waktu bersamanya dan cintanya untuk selamanya terisi namaku.
***
Malam itu rasanya sangat lelah bukan karena pekerjaan di kantor, tetapi karena ganjalan di hati beberapa minggu ini. Rasanya tertidur tetapi pikiran masih saja aktif berpikir. Hingga sesuatu yang kurasakan membuatku terbangun. Bayangan Henry yang sedang duduk sembari melakukan sesuatu.
Aku duduk masih mencoba membuka mata meskipun berat.
“Henry, apa kamu sedang lakukan … tengah malam begini?” sembari melihat ke penunjuk waktu di samping tempat tidur.
“Jangan bergerak Cynthia, aku sedang melukismu,”
“Apa? Apa kamu bisa melukis?”
“Sedikit … aku pernah mempelajarinya waktu kuliah di London.”
“Aku ingin lihat …,” ucapanku terpotong. Henry tidak memberiku kesempatan untuk melihat karyanya.
“A … a … a … ini belum selesai, sebaiknya kamu terbaring seperti tadi,” Saran Henry fokus pada coretannya.
“Aku sudah bangun … aku tidak mau!” protesku.
“Baiklah, terserah kamu saja … aku sudah menyimpan pose itu diingatanku.”
Henry menyebalkan!
Spontan aku ingin mengacaukan kegiatannya itu. Aku ingin Henry benar-benar fokus padaku saja yang saat ini menjadi objek lukisannya. Bukan justru fokus pada pikiran dan goresannya itu. Terbersit untuk menggodanya hingga membuatnya berhenti.
Aku menggodanya di depannya, berjalan perlahan mendekatinya. Membuka kancing piyamaku satu demi satu perlahan, hingga Henry berhenti membuat sketsa dan beralih pandangannya kearahku.
Cynthia.
Hingga kancing terakhir yang terlepas, aku mulai memberinya tatapan nakal dan membuka piyama itu perlahan, memperlihatkan bahuku yang tanpa tali penyangga. Tiba-tiba melepasnya begitu saja ke lantai, sontak Henry terkejut hingga meneguk saliva-nya dengan cepat.
“Baiklah, cukup!” sahut Henry yang menghempas buku sketsa itu ke sofa. Mendekapku dengan gairah, melepas semua bayangan pada pikirannya menjadi kenyataan. Menikmati setiap rasa menjadi desahan kenikmatan.
***
Seminggu kemudian, aku mengantar Henry menuju gedung pernikahan berlangsung. Aku sendiri yang menawarkan untuk mendampinginya hingga ke depan gedung. Sejak pagi tadi menyiapkan pakaian jas yang akan dikenakannya ke acara pengukuhan pengantin. Melihat kegagahannya memakai pakaian itu, membuatku semakin sulit percaya jika seseorang di depan ini adalah suamiku.
Di dalam mobil Henry tidak pernah melepas genggaman dan mengecup punggung tanganku. Tarikan napas ini semakin berat ketika sudah sampai di depan gedung.
“Henry, kamu duluan saja … biar tidak ada yang melihatku,” ucapku.
“Baiklah, aku akan masuk ke dalam.”
Setelah semua orang sudah masuk ke dalam, termasuk rekan kerja. Aku diam-diam keluar dari mobil Henry, tiba tiba ada yang memanggil namaku.
“Cynthia ….” Pak Al datang terlambat.
Aku hanya tersenyum menyambutnya.
“Apa kamu mau menjadi pasanganku untuk hari ini saja?” tanya Pak Al sembari menyodorkan lengannya.
“Baiklah!” aku menyambutnya dengan senyuman.
Menarik napas dalam-dalam.
Pak Al tidak berkata apa-apa meskipun tahu hubunganku dengan Henry adalah hubungan yang rumit.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” ucap Pak Al yang menepuk punggung tanganku yang gemetar sejak tadi.
Aku hanya tersenyum kecut. Merasakan dada ini sangat sesak, namun Pak Al berusaha untuk membuatku tenang.
Kuharap aku tidak menangis di dalam karena akan membuat semua orang curiga padaku.
Para rekan kerja yang melihatku berjalan dengan Pak Al, sontak membicarakannya. Semua sorot mata tertuju pada kami berdua, yang mencurigai jika ada hubungan spesial. Aku tidak peduli dengan anggapan mereka, asal tidak ada yang curiga jika orang yang akan menikah hari ini adalah suamiku yang sangat kucintai.
Sebuah lonceng berbunyi menandakan pengantin wanita akan datang dari flower gate sebagai pertanda langkah baru yang akan diambil sang pengantin. Rangkaian penuh bunga yang berarti pernikahan yang selalu indah, bahagia dan harmonis. Balutan gaun yang indah, pengantin wanita yang anggun, iringan lagu romantis dan Ayahanda yang mendampingi setiap langkah puterinya menuju altar.
Henry yang sudah menantinya sejak tadi, dirinya terlihat sangat tampan. Bahkan di sela-sela pandangannya Henry menemukanku dan menatap kearahku. Wajahnya terlihat tidak bahagia, aku menyuruhnya tersenyum dengan memberikan gestur jariku menarik pipi. Namun, Henry menolaknya tidak bisa berpura-pura.
Hingga pengantin wanita itu meminta Henry untuk meraih tangannya yang enggan direngkuhnya.
Pembacaan ikrar pernikahan yang indah, janji sehidup semati yang diucapkan keduanya. Mulai membuatku meneteskan airmata. Pak Al memberikan saputangannya untuk menghapusnya.
“Kusahkan kalian sebagai pasangan suami dan istri!”
Henry berhadapan dengan wanita yang baru saja dinobatkan sebagai istrinya, perlahan membuka cadar kelambu yang menutupi wajahnya. Mendekatkan wajahnya pada wanita yang sejak tadi tersenyum bahagia. Henry menciumnya ….
Tiba-tiba seseorang membuka gerbang gedung dengan paksa dan berjalan cepat menuju altar dan memberondong semua orang dengan senjata. Letusan demi letusan memekakkan telinga hingga semuanya merunduk, bertiarap di lantai.
Debuuk!
Dua orang jatuh ke lantai menjadi korban timah panas itu. Orang itu langsung berlari ke belakang altar, pintu bagian dalam. Hingga Yonglex dan beberapa keamanan mengejarnya.
Terdengar teriakan histeris dari pengamtin wanita, mencoba menyadarkan seseorang yang tergeletak dengan berlumuran darah.
Henry
“Henry! Bangun … banguuun! Jangan pergi, Henry!” tangisan pecah seketika pengantin baru.
Kerumunan itu mulai berlarian keluar, hanya beberapa orang yang berani mendekat karena pelaku masih berada di dalam.
Semua undangan berhamburan keluar dari gedung karena ketakutan. Terdengar baku tembak terdengar dari dalam gedung. Polisi datang mengejar tersangka penembakan.
Yonglex kembali dan mendampingi Henry ke rumah sakit. Aku bersama Pak Al yang mengikuti kemana Yonglex membawanya. Meskipun tidak bisa melihat keadaannya, aku berharap Henry baik-baik saja.
Bertahanlah Henry, bertahanlah!
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp