Kariva Diana Natashya, gadis cantik di kampus X yang menyandang predikat sebagai bunga kampus. Katanya, “tidak tertarik dengan kaum adam.”
Masa iya, sih?
Namun, hidupnya berubah 180° ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak sahabat dengan alasan “permintaan terakhir.”
Hei, Ayah Heru baik-baik saja, kok. Tidak sakit ataupun sekarat.
Tak ingin mengecewakan sang ayah, Natashya mengangguk saja. Toh, tidak ada larangan bahwa mahasiswa tidak boleh menikah, kan?
Masalahnya, cuma satu. DIA TIDAK MENGENAL CALON SUAMINYA!!
❄️❄️❄️
Antonio Riko Alfiansyah, lelaki tampan di kampus X yang menyandang predikat idola kampus nomor satu. Kata mahasiswi di sana, sih, “tampannya tumpah ruah.”
Lelaki yang tidak pernah mengenal kata pacaran ini berakhir dijodohkan dengan gadis keturunan es yang suka bicara pedas. Anton jadi kurang yakin untuk menerima.
Tak ingin mematahkan kebahagiaan Mama-nya, Anton menerima saja. Yang penting keluarganya bahagia, dia juga bahagia, kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayla Noona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 | Cewek dengan Segala Hormonnya
“Gue butuh bantuan lo.”
Alis Anton terangkat sebelah. “Bantuan apa?”
Hafi tersenyum lebar. “Gue mau nembak Laily. Lo tau nggak penjual bunga di deket sini yang udah buka pagi-pagi?”
Anton merotasikan bola matanya malas. Dia kira ada masalah besar yang menimpa sahabatnya ini karena sorot mata Hafi terlihat sangat serius tadi. Ternyata cuma gara-gara mau nembak Laily.
“Nggak tau.”
Hafi menekuk mukanya sebal. Padahal, harapannya besar sekali, lho, pada Anton. Tapi, tidak ada hasilnya juga.
“Lo nggak pernah kasih Natashya bunga, ya?” Hafi memicing curiga.
Anton menggeleng dengan polosnya.
Hafi meraup paras tampan Anton dengan tangannya. Kesal dengan sikap dingin sang sahabat yang bahkan tidak mau menurunkan ego demi istri cantiknya. “Natashya itu cantik, lho, Nton.”
Anton mengangguk kecil seraya menatap Hafi tajam. Hidung mancungnya dalam bahaya tadi. “Gue tau.”
“Makanya, lo harus kasih perhatian lebih ke Natashya. Biar dia nggak berpaling,” nasihat Hafi bijak. Ia sendiri saja mengakui kecantikan Natashya. Dan, tentu saja setiap lelaki berpikiran hal yang sama.
Ada banyak lelaki yang ingin menampung Natashya untuk dijadikan pasangan hidup. Jadi, seharusnya Anton memberi gadis itu perhatian lebih agar tidak berpaling.
Anton mengernyitkan dahi. “Nggak mungkin.”
“Mungkin aja, lah!”
“Nggak ada yang seganteng gue, jadi nggak mungkin.”
Muka Hafi seketika berubah datar. Tak menyangka jawaban Anton begitu logis dan terlihat membanggakan diri. Ia pun mengibaskan tangan, menyerah dengan sikap Anton yang butuh lima ratus kali lipat usaha untuk membujuknya.
“Serah, Nton, terserah. Gue males ngomong sama triplek kulkas.”
...❄️❄️❄️...
Laily melangkah lunglai menuju kantin usai jam kelasnya berakhir. Tidak ada Natashya di kampus membuat hatinya suram. Ia sebenarnya tahu kalau Natashya itu selalu merasakan sakit setiap kali haid hari pertama. Jadi, hampir setiap bulan gadis itu akan absen kelas karena sakit.
Kalo nggak ada dia, sepi juga, ya.
Langkah Laily berhenti sewaktu tiba di perbatasan kantin. Di sana semua orang menyambut kehadirannya dengan heboh. Banyak insan yang bertepuk tangan riuh.
I–ini kenapa?
“Hai, Ly.”
Laily terperangah melihat Hafi berdiri di depannya dengan buket besar di tangan. Bukan bunga yang lelaki itu bawa, melainkan buket berisikan berbagai merek coklat yang ditata sedemikian rupa.
“Ha–hai.” Laily berubah gugup. Firasatnya mengatakan hal yang tidak-tidak.
“Gue mau ngakuin sesuatu sama lo,” ucap Hafi diiringi senyum manisnya. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Gue tau, gue udah nyakitin lo karna ucapan gue malam itu. Waktu itu gue mikir kalo gue nggak suka sama lo karna gue liat lo deket sama cowok lain dan gue nggak cemburu. Jadi, gue mutusin buat bilang lebih awal sama lo biar lo nggak semakin tersakiti, Ly.”
Sampai di sini, napas Laily seperti tercekat di tenggorokan. Oksigen di sekitarnya mendadak menipis dan ia jadi butuh napas besar untuk memenuhi rongga dadanya. Kejujuran Hafi membuat bagian lain dari dirinya terasa sesak.
“Tapi, setelah lo menghindar dari gue, gue ngerasain kehilangan. Gue ngerasa sepi tanpa lo, Laily. Dan, akhirnya gue nyesel udah buat kesimpulan tanpa mikir panjang dulu. Gue mau minta satu kesempatan sama lo buat perbaiki semuanya. Kali ini, gue bakalan berusaha bersikap dewasa biar nggak ada keputusan-keputusan salah lainnya. So....”
Hafi menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk lengkungan manis yang membuat lelaki itu semakin tampan. Bahkan, beberapa mahasiswi yang ada di sana memekik histeris melihat eloknya ciptaan Tuhan yang satu ini. “Lo mau, kan, kasih gue kesempatan, Ly? Kalo iya, gue pengen lo jadi pacar gue mulai sekarang.”
Hafi mendekatkan buket coklat yang dibawa ke arah Laily. “Kalo lo terima gue, lo ambil buket ini. Kalo nggak, lo bisa mundur dua langkah.”
Mata Laily berkaca-kaca sejak tadi. Satu kedipan saja, tetesan air dari pelupuk matanya tidak akan bisa dihindari. Laily terharu, tentu saja. Sorot teduh yang menyiratkan ketulusan Hafi membuat hatinya luluh. Lantas, tangannya pun meraih buket coklat sodoran Hafi tanpa ragu.
“Yes! Gue diterima!” Hafi bersorak riang. “Akhirnya, gue nggak jomblo lagi, haha!” Saking senangnya, Hafi menarik Laily ke dalam pelukan. Membawa gadis itu berputar ke kanan dan ke kiri.
Seluruh penghuni bertepuk tangan meriah. Beberapa ada yang menyoraki ‘selamat’ pada pasangan baru kampus mereka.
Di sudut kantin lainnya, Anton dan Rio memandang sahabat mereka penuh haru. Akhirnya, lelaki itu tidak akan lagi terlihat menyeramkan. Sekarang sudah ada Laily yang akan menjaga Hafi, kan.
“Nton?” panggil Rio.
“Hm?”
“Jodoh gue kapan datengnya, ya?” Rio sedang meratapi nasib.
Anton menepuk bahu Rio dua kali, memberi semangat pada sahabatnya yang masih berstatus jomblo. “Semoga lo bisa ketemu jodoh lo sebelum ketemu Sang Pencipta, ya,” harap Anton tulus.
Rio mendengkus kesal. “Anjir lo, Nton.”
...❄️❄️❄️...
Selepas mendapat izin dari Anton, Laily bersiap untuk datang ke rumah Anton-Natashya yang baru. Ia ingin membawakan kiranti dan beberapa stok pembalut untuk gadis itu. Sekaligus menjenguk Natashya juga.
Ting tong!
“Iya! Tunggu sebentar!”
Ceklekk...
“Eh, ada tamu.” Bi Jati menyambut kedatangan Laily dengan ramah. “Teman Non Tashya gih?”
Laily tersenyum ramah. “Iya, Bi. Saya Laily, teman Natashya.”
“Mari masuk, Non.”
Sepanjang ia melangkah, Laily terus-terusan mengagumi interior rumah Anton-Natashya ini. Tidak terlalu luas, bertingkat, sederhana, namun tampak elegan. Pokoknya sempurna di mata Laily.
“Silakan masuk, Non. Non Tashya udah nungguin di dalam.”
Laily berterima kasih dengan sopan. Ia masuk ke dalam kamar Natashya usai mengetuk beberapa kali. Di dalam, Natashya tengah berbaring di ranjang seraya memainkan ponselnya. Sesekali ia meringis sakit dan tangannya refleks menekan perutnya.
“Gimana keadaan lo?” tanya Laily khawatir.
“Biasa.”
Laily merengut. Ia memberikan kantung plastik yang sedari tadi ditentengnya. “Kiranti yang biasa lo minum sama stok pembalut buat jaga-jaga.”
Natashya tersenyum tipis. “Thanks. Gue butuh dua-duanya.”
Natashya berusaha duduk bersandar di ranjang. Ia ingin meminum kiranti bawaan Laily untuk mengurangi nyeri di perutnya. Memang udah lebih baik, sih, daripada pagi tadi. Tapi, kan, tetep aja masih nyeri sesekali.
Keduanya pun mengobrol heboh. Laily dengan riang menceritakan soal Hafi di kampus. Dan, Natashya dengan setia menjadi pendengar yang baik. Ia ikut senang melihat Laily tersenyum begitu lebar setiap mengingat perlakuan Hafi.
Natashya berharap, kali ini Hafi tidak akan menyakiti sahabatnya ini. Laily terlalu berharga jika harus tersakiti karena lelaki.
...❄️❄️❄️...
Anton tiba di rumah usai waktu Maghrib. Ekspresi lelah begitu kentara di paras tampan lelaki itu. Anton baru saja selesai dengan tumpukan berkas di kantor.
“Udah mendingan?” tanya Anton seraya menghampiri Natashya di kamar. Gadis itu bergumam kecil. “Gue... beliin lo ini.”
Natashya menerima sekantung plastik penuh coklat dari Anton. Lelaki itu tampak berdeham berkali-kali untuk mengurangi gugupnya. “Katanya, coklat bisa bantu balikin mood orang. Jadi, gue beliin buat lo.”
Berbanding terbalik dengan reaksi yang Anton bayangkan, Natashya menatap sang suami tajam. “Maksud lo apa, sih?” kecamnya dingin.
Anton menatap Natashya heran. “Gue cuma beliin doang, Shya. Nggak ada maksud apa pun.”
“Lo sengaja mau buat gue gendut? Terus lo jadi punya alasan buat pisah sama gue, kan?”
Anton melongo. Alasan dari mana itu?!
Pada akhirnya, Anton dibuat berdecak sebal karena tingkah Natashya yang kini mengomelinya.
Cewek dan segala hormonnya. Memang tidak akan bisa dimengerti oleh cowok sampai kapan pun.
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Maaf, ya, update malam-malam, hehe. Soalnya tadi siang ketiduran, hihi.
Coba dong minta like dan comment. Biar Ay makin semangat ngetik.
See you di chapter selanjutnya:)