NovelToon NovelToon
Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Dokter / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.

Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.

Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Jangan Jatuh, Jangan!

Niatnya pengen buru-buru tidur tapi kok mata ini malah gak bisa merem. Apalagi nih jantung, speed-nya kaya abis lari marathon. Cape nggak jelas.

Berkali-kali Shasha menenggelamkan wajahnya di balik selimut. Namun, tetap tidak berhasil membuatnya tertidur.

Pukul 03.00 dini hari, dia masih saja terjaga. Memperhatikan telapak tangan yang masih saja terasa hangat karena sentuhan seorang lelaki.

"Salah! Salah! Salaaaah!" Shasha mengguncang kepalanya. "Masa aku diem aja tadi dipegang-pegang gitu. Kalau dia mikirnya aku pengen dilamar, gimana? Bikin maluuuuu." Sambil memukul keningnya, lalu kembali bersembunyi di bawah bantal.

Shasha menyibak selimutnya lalu pergi mengambil wudhu. Dia harus melupakan kejadian tadi dan mengusir pikiran-pikiran aneh yang mengganggu tidurnya.

Setelah mencuci wajah dan berwudhu, dia hanya duduk di ujung tempat tidur. Tangannya terulur ke tempat penyimpanan alat salat, lalu menggelar sajadah. "Sayang banget 'kan, dah wudhu kalau gak shalat."

Dalam waktu tiga puluh menit, Shasha berada di atas sajadahnya. Itu membuat matanya sedikit mengantuk. Khawatir tertidur tak sengaja di sana, Shasha segera memindahkan diri ke atas tempat tidur, bahkan tanpa melepas mukena. Akhirnya, ia bisa memejamkan mata hingga lelap begitu saja.

 

*******

 

Dari atas balkon di belakang rumah Kakanya, Shasha berdiri memandang ke satu arah. Sepertinya ada view yang sangat indah dan cukup menarik perhatiannya.

Aku baru tahu di tengah perkotaan seperti ini ternyata masih ada pemandangan yang indah.

Dia membuka jendela lebar-lebar sambil menebar senyum dari bibir mungilnya. Sebuah sungai yang mengalirkan air jernih, mengeluarkan suara gemericik, menarik perhatian Shasha untuk datang menyentuhnya. Ada bunga-bunga langka yang indah saat dipandang mata. Di sebrang sungai dan sekelilingnya, begitu banyak rombongan kupu-kupu berkoloni mengepakkan sayap warna-warni. Menari dengan lincahnya.

"Aku harus ke sana sekarang juga," gumamnya sambil berlari kegirangan menuju ke tempat yang berhasil menarik perhatiannya itu.

Tangannya tak sabar lagi ingin menyentuh air jernih yang mengalir. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia tertawa tak henti. Tingkahnya tak sampai di situ, Shasha berusaha meraih bunga di sebrang sungai. Dia sempat mengikat jilbabnya ke belakang. Lengan baju dan celana panjangnya pun dia lipat supaya tidak basah. Dia memijakkan kakinya di atas bebatuan dengan hati-hati. Namun, karena batu yang dipijaknya terasa licin, membuatnya hilang keseimbangan.

Ya ... ya ... ya?! Apa aku akan jatuh?

Seseorang ... tolong aku!

Seperti ada tangan kokoh yang meraih tangannya dengan cepat. Tangan yang terasa hangat itu, tidak asing karena pernah satu kali menyentuhnya. Tak sanggup membayangkan dirinya akan jatuh, dia menutup mata rapat-rapat. Tanpa sadar tangannya membalas uluran tangan dan menggenggam erat demi menyelamatkan diri.

"Jangan jatuh, Jangan!!" teriaknya dengan napas tak beraturan. Tak lama dia membuka mata setelah mendengar suara, yang menjawab ucapannya.

"Jatuh ke mana, sih?" Suara Zidan yang tengah menepuk pipi Shasha pelan-pelan, berusaha menyadarkannya.

"Nggak salah lagi, pasti ke pelukanku." Luthfie menimpali sambil mengangkat alisnya. Dia terkekeh sampai Zidan melepas sandalnya pura-pura ingin melemparkan benda itu ke wajah Luthfie.

"Loh!" Shasha kaget ketika menyadari dirinya masih berada di tempat tidur, lengkap dengan mukena yang belum sempat ia lepas sejak sepertiga malam tadi.

"Ka ... ka ... kalian ngapain kumpul di sini?"

"Kamu teriak-teriak tadi, makanya kita langsung masuk." Anita berdiri di samping Zidan. "Kamu kenapa, Sha?"

"Aku hampir jatuh tadi." Shasha menunjukkan wajah takut dengan napas tersengal. Sementara tangannya masih menggenggam erat tangan Luthfie yang duduk di sampingnya.

"Kamu mimpi? Baca doa nggak, sebelum tidur?" tukas Zidan.

"Mi-mimpi? Masa?" Dia menatap seluruh ruangan lalu menepis tangan Luthfie saat menyadari tangannya begitu erat menggenggam pun.

"Akh! Memalukan sekali," gumamnya sambil memejamkan mata menahan malu. Semua orang menertawakannya.

Shasha beranjak dari tempat tidur lalu berlari ke balkon. Menatap ke bawah mencari keberadaan sungai dengan air jernih, juga taman bunga yang dihinggapi banyak kupu-kupu.

Benar saja. Ternyata cuma mimpi. Dia menepuk keningnya dengan telapak tangan.

Shasha tidak menyadari arti dari mimpinya. Kenapa harus tangan Luthfie yang dia genggam saat membutuhkan bantuan.

"Kamu kenapa?" Anita bertanya sekali lagi seraya menghampiri Shasha di balkon.

"Ini jam berapa teh? Semalam gak bisa tidur, malah ngantuk setelah hampir subuh. Kesiangan deh jadinya. Mana belum sholat subuh lagi, ya ampun." Dia lari ke kamar mandi sambil membuka mukenanya.

"Kalo sudah selesai, cepat turun, ya, kita tungguin di meja makan!" seru Anita sebelum meninggalkan Shasha di kamarnya.

"Ya!"

Tiga puluh menit kemudian, Shasha turun dengan wajah yang kaku.

"Kenapa wajahnya ditekuk?" tanya Zidan saat melihat tingkah aneh adiknya.

"Gak papa, ayo sarapan." Shasha mendudukkan tubuhnya yang lemas. Terlihat jelas dari matanya jika dia tak cukup tidur semalam.

Luthfie melirik Shasha dengan sudut matanya. "Tumben kesiangan. Biasanya Banana itu bangun pagi pagi sekali, loh." Luthfie seperti sedang memberitahukan kebiasaan Shasha pada Zidan dan Anita.

"Kemaleman tidurnya," jawabnya singkat.

"Tidur jam berapa emang?" tanya Anita sambil mengisi piring-piring. Sesekali dia melirik Shasha. "Bukannya mau tidur awal, semalam?"

"Nggak bisa tidur. Seingatku pukul 03.00 itu aku masih terjaga, abis itu gak inget lagi. Langsung ngantuk kayaknya."

"Itu sih kesubuhan bukan kemaleman," cetus Zidan. "Setelah ngantuk, kamu tidur terus mimpi sampe teriak-teriak. Bikin orang kaget aja."

Shasha meringis karena malu. "Hehe, aku gak tau kalau sampe teriak-teriak."

"Kamu gak bisa tidur, karena aku belum melamar dengan baik dan benar. Ayo ngaku?" Luthfie mulai menggoda sambil memainkan matanya.

Shasha langsung menoleh ke arah Luthfie sambil membulatkan matanya lalu mencubit tangan Luthfie tanpa ampun.

"Aaaa!!" Luthfie mengaduh menahan sakit. "Hati-hati, loh. Kena pasal KDRT ini namanya. Aku laporin nanti."

"Dih! KDRT. Mana ada!" Shasha tertawa sementara matanya terus berkeliling memilih lauk yang akan dia makan. "Laporin aja, gak takut. Kakakku kan pengacara."

"Sisihkan brokoli sama kubisnya. Nanti aku yang makan," ucap Luthfie sambil memindahkan buah pisang dari hadapan Shasha.

"Mau dibawa ke mana pisangnya?"

"Takut kamu khilaf. Bisa dihabiskan semuanya nanti."

"Lain kali, kasih tau teteh ya, makanan apa yang boleh dan gak boleh dimakan Shasha sebelum teteh masak."

"Yang gak bisa aku makan 'kan masih bisa kalian makan. Jadi, Teteh masak seperti biasa aja. Lagian kan aku pulang hari ini."

Shasha melirik ke arah Luthfie. "Pulang jam berapa nanti, Kak?"

"Terserah kamu. Kalo masih betah kita bisa nginep lagi. Gapapa sekali-sekali kita repotin Kakakmu di sini," canda luthfie sambil melirik Zidan.

"Bukannya gak betah, aku kan sekolah. Ujian makin dekat, gak bisa bolos-bolos terus."

"Ya udah. Kita pulang abis Dzuhur. Habiskan sarapannya dulu abis itu kita siap-siap."

Shasha mengangguk setuju sambil melanjutkan suapan demi suapan. Sementara Zidan dan Anita menyayangkan karena merasa belum cukup menghabiskan waktu bersama mereka.

"Kalian ngapain ke sini kalau cuma numpang tidur semalam doang? Aku baru aja mikir cuti hari ini biar bisa puas ngobrol seharian." Zidan tampak kecewa.

"Iya, setelah kalian pulang, sepi lagi dong rumah teteh." Anita pun sedikit murung.

"Teteh ikut pulang aja ke Bandung, biar Kak Zidan sering nyusul ke sana nanti."

"Kalau kamu mau tinggal di Bandung. Boleh, kok, Sayang. Aku bisa pulang seminggu sekali nanti," sahut Zidan.

"Iya. Kita lihat nanti. Aku pikir-pikir dulu, A. Kalau emang gak ada masalah, tinggal anterin aku pulang ke Bandung."

BERSAMBUNG....

1
albyan
hadir membaca baru nih
albyan: yahh si dia..huum ini😁
total 2 replies
anna
entah lah, sudah kali ke berapa yg ku baca, belum bisa move on dari cerita mu ini Thor 😅
Ryana Ana
assalamualaikum mbu..apa kbr ny... aku mengulang membaca lgi... dan ini sudah kesekian kali ny aku baca..dan tetep aja aku senyam senyum membaca.. " kita mau tunangan apa konser sih sbnr ny?"
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Waalaikumussalam.
Terima kasih sudah baca ulang novel ini. 🙏😘
total 1 replies
Anonimous
👍👍👍
Memyr 67
tidak ada zidan dan junaedi di "terjebak cinta polisi"
Memyr 67
akad nikah langka. mahar setengah gelas air putih
Memyr 67
boomerangnya seperti apa? nggak kebaca?
Memyr 67
kok nggak ada keterangn. alasan tante mira menyewakan rumah sasha. dan kemana uang sewa rumah keponakannya? nggak jelas gini ya?
Memyr 67
memang bodoh itu banana. kenapa nggak dilaporin ke kakaknya, zidan? kelakuan sadis tante mira?
Rosmawati/jnr
Bagus
Indri Ani40
awal cerita kynya seru👌👌👌
Samsuna
maharnya Laen dr yg Laen 😂luar binasa😂🤭
Yani Ladutana
gimana dengan mimin siapa suaminya
Yani Ladutana
langsung lamar aja
Yani Ladutana
janju ciritanya bagus
Yani Ladutana
ceritanya bagus
Yani Ladutana
kerkini bangat
Yani Ladutana
kirkin
Yani Ladutana
tante tidak baik
Yani Ladutana
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!