Gimana jadinya kalau harus menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dikenal sama sekali?
Inilah yang terjadi kepada Alvaro dan Kiara, Pernikahan yang sudah diatur membuat mereka tidak bisa untuk menolaknya.
Disatu sisi Ara sangat mencintai kekasihnya dan tidak rela bila harus kehilangannya, dan satu sisi lagi, Ara tidak bisa menolak keinginan Sang Papa.
Dan dengan terpaksa Ara memutuskan untuk menikah akan tetapi dirinya tetap berhubungan dengan pacarnya dibelakang Alvaro.
Suatu ketika Al mengetahui kenyataan yang sangat pahit bahwa Sang Istri berselingkuh!
Bagaimanakah nasib pernikahan mereka? Akankah Al menceraikan Ara? Bagaimanakah takdir mempermainkan mereka berdua? Akankah mereka mampu untuk menghadapinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Apriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 31
Sesampainya didalam apartemen tia langsung berganti pakaiannya, tia membuka lemari lalu mengambil piyama tidurnya. setelah itu tia masuk kedalam kamar mandinya, selang 10 menit kemudian tia keluar dari kamar mandi, tia lalu langsung menuju ranjangnya.
tia langsung merebahkan tubuhnya sangat lelah. kemudian tia teringat semua hal yang dia tanyakan tadi siang kepada al, entah mengapa dulu tia meninggalkan al begitu saja, padahal al tidak salah apa apa. sekarang tia mulai menyesalinya ketika al sudah menikah dan sudah berubah menjadi seseorang yang sangat dingin kepadanya.
'andai saja waktu bisa di ulang kembali al, aku pasti tidak akan pernah meninggalkanmu dan yang pasti, kita sekarang sudah sangat bahagia. tapi itu hanya sebuah harapan yang tidak akan mungkin terwujud, mengingat sekarang kamu sudah menikah dan mencintai istrimu.' batin tia lirih.
"aku sedang mikirin apa sih? sadar tia sadar! masa lalu tidak akan bisa terulang kembali, dari pada mikirin hal yang tidak jelas seperti ini mendingan aku segera tidur aja!" ucap tia pada dirinya sendiri lalu segera memejamkan matanya.
*****
sepertinya malam ini al sedang tidak beruntung, kenapa? karena dirinya terkena macet setelah mengantar tia pulang. al terus mengerutu kesal karena tidak bisa pulang dengan cepat, al menatap jam tangannya. "sekarang sudah jam 11 malam, tapi aku masih ditengah tengah kemacetan seperti ini, huh!" desah al kesal.
al hanya pasrah dengan keadaan saja, kalo tidak macet al pasti sudah sampai rumah sedari tadi, ini al harus melalui waktu sekitar setengah jam lagi kalo ingin segera sampai kerumah. al terus menerus merutuki dirinya sendiri.
benar saja perkiraan al tepat sekali, al sampai dirumah sudah tengah malam, al berjalan menuju kamar untuk membersihkan dirnya lalu mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidurnya. al menatap ara yang sudah tertidur cukup pulas, kemudian al melangkah keluar untuk segera meninggalkan ara, al berjalan menuju ruang kerjanya. sepertinya al sudah sangat terbiasa tidur didalam ruangan kerjanya ini.
kemudian al merebahkan tubuhnya dikursi panjang kesayangannya itu, kursi ini sudah menjadi pengganti kasur untuk al.
karena belum bia tertidur, al terus mengingat peristiwa peristiwa yang telah terjadi kepadanya sejak menikah, awal yang indah, berubah menjadi sesuatu seperti mimpi buruk baginya.
setelah mengingat itu semua, akhirnya al memutuskan untuk tidur.
pagi harinya, ara sudah berada di meja makan, al turun dan langsung duduk dihadapan ara, ara cuek seakan tidak menganggap al sedang duduk dihadapannya. suasananya kembali canggung. mereka berdua saling diam.
al kemudian melihat ara yang sibuk menyantap makanannya lalu buru buru minum susunya, selang satu menit kemudian ara berdiri dan memutuskan untuk segera pergi dari sana, tapi tangannya ara ditahan dan ara langsung menoleh kearah al.
"lepasin aku!" kemudian ara berusaha untuk melepaskan tangannya dari al yang memegang tangannya cukup erat.
"apa sih mau kamu! aku juga tidak mengusik mu." ucap ara masih melepaskan cengkaram tangan al.
"mulai hari ini kamu tidak perlu pergi bekerja lagi, aku sudah bilang ke papa kamu!" ucap al sangat tegas namun sangat dingin, bahkan al tidak menatap ara sama sekali.
ara langsung membelalakkan matanya, seakan tidak mengerti dengan al. "tidak! aku akan tetap memilih bekerja di kantor papa daripada aku harus berada dirumah!" tegas ara.
"tidak! aku bilang tidak ya tidak." ucap al lalu menarik ara hingga mereka sekarang berhadapan.
"aku tidak mengerti! apa hak kamu mengatur hidupku! bukankah sekarang hubungan kita hanya sebatas perjanjian dan balas budi saja? kenapa kamu masih repot repot mengatur kehidupanku!" ketus ara yang tidak bisa menerimanya.
"bukankah pernah ada seorang wanita yang memohon mohon kepadaku untuk menyelamatkan perusahaan papanya? kamu tidak lupa kan dengan apa yang pernah kamu katakan sebelumnya kan?" ucap al sambil menatap ara dengan tatapan tajam.
ara kemudian mengingat kejadian pada saat dirinya memohon kepada al. tubuh ara serasa kaku dan susah untuk digerakkan.
"katakan apa maumu al?" ucap ara langsung mengerti.
al langsung tersenyum mengejek kepada ara. "akhirnya kamu mengerti juga! pertama : kamu harus mengikuti semua kemauanku, kedua : jangan coba coba untuk kabur, ketiga : jangan coba coba bermain main denganku, kalo tidak kamu akan tau sendiri akibatnya." ancam al.
ara semakin tidak percaya mendengar semua perkataan dari al itu. "kalo aku menolak?" ucap ara lalu menatap al.
"kamu tidak akan menolaknya, karena kamu tidak mempunyai pilihan. pikirikan baik baik." bisik al sambil menepuk nepuk bahu ara.
kemudian al berjalan pergi untuk meninggalkan ara yang masih terpaku ditempat.
"BRENGSEK....! AL SIALAN.....!" Ara mendengus dengan sangat emosi.
al yang masih mendengar dari balik pintu yang sudah ditutupnya hanya tersenyum puas mendapati ara yang terus menguntuk dirinya.
'sudah ku bilang, ini baru awal ra! aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi.. kamu harus membayar semua perbuatanmu.' batin al.
setelah itu al melangkah pergi dan masuk kedalam mobilnya.
tapi bukan ara yang bisa menurut begitu saja, ara juga telah merencanakan sesuatu kejutan untuk al, ara memutuskan untuk pergi ke kantor al.
'baik kalo kamu tidak mengizinkanku untuk kembali bekerja di perusahaan papa! aku akan bekerja disini. pasti kamu tidak akan menyangka aku kesini untuk bekerja.' batin ara lalu melangkah masuk ke perusahaan al.
ara sudah berada didepan kantor suaminya itu, kemudian ara mengetuk pintu.
"TOK TOK TOK!"
"Masuk!" al mempersilahkan masuk.
kemudian al menatap siapa yang sedang berdiri dihadapannya saat in, al kaget dengan kehadiran ara.
"kamu!"
"iya aku! kenapa kamu pasti kaget ya? mulai hari ini aku akan bekerja disini. gimana kamu suka?" ucap ara lalu duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"maksud kamu?" tanya al sambil menyipitkan kedua matanya.
"masa harus aku ulangi lagi, aku akan bekerja disini, kamu kan hanya tidak memperbolehkan aku untuk tidak kembali ke perusahaan papa! bukan disini, jadinya setelah berpikir cukup lama aku memutuskan untuk membantu kamu di perusahaan, gimana?" ucap ara sambil memainkan rambutnya.
"tidak! aku tidak mengizinkan kamu untuk bekerja disini." ucap al dengan sangat tegas.
"kenapa? aku yakin aku pasti akan banyak membantu kamu!" tutur ara tidak mau kalah.
"aku tidak butuh bantuan kamu, mendingan sekarang kamu pulang!" ucap al sambil mengusir ara untuk keluar.
"kalo aku tidak mau pergi? apa kamu sangat terganggu dengan kehadiranku disini?" ucap ara sambil berjalan mendekati al.
al langsung menatap ara dengan tatapan yang sangat tajam. "jangan paksa aku untuk kasar sama kamu!"
"ih takut..." ucap ara sambil menyentuh dagu al dengan jari telunjuknya supaya menatap dirinya.
"kamu semakin hari semakin menarik dan memikat saja! kamu yakin ingin mengusir ku, oke kalo begitu! apa aku harus pergi bertemu dengan rey saja? rey pasti akan sangat senang dengan kehadiranku! lagian sekarang aku sudah tidak bekerja lagi." baru ara akan melangkah pergi, al langsung memegang tangannya ara untuk menahan kepergian ara.
"oke, mulai hari ini kamu bekerja disini! puas!" ucap al yang akhirnya mengalah.
ara yang berada membelakangi al pada saat ini langsung tersenyum sumringah, karena berhasil dengan mudah memancing al, sebenarnya ara cuma menggunakan satu trik saja, tapi dengan mudahnya al langsung menyetujui permintaannya.
ara membalikkan tubuhnya sambil menatap al dengan tersenyum. al langsung mengalihkan pandangannya dari ara, karena tidak mau untuk menatap ara lebih lama lagi.
"oke, kalo begitu apa pekerjaan yang harus aku lakukan!" tanya ara to the point.
al kembali menatap ara lalu tersenyum misterius. "kamu bekerja sebagai sekretarisku."
ara langsung membelalakkan matanya tidak percaya menatap al. "apa tidak ada pekerjaan lain?"
"kali ini tidak ada tawar menawar lagi." perintah al dengan tegas.
ara langsung lemas dan tidak bersemangat mendengarnya. "tapi kamu sudah memiliki seorang sekretaris dikantor? kenapa masih membutuhkanku sebagai sekretarismu?!" balas ara masih ingin menolak.
"karena aku membutuhkan sekretaris yang bisa bekerja lembur! sepertinya kamu akan cocok. bukankah selama ini kamu selalu lembur dikantor papa?" balas al sambil menatap ara dari atas sampai kebawah.
ara hanya menyipitkan kedua matanya, kali ini ara tidak bisa membalas ucapan al barusan, karena emang sebelumnya ara selalu beralasan bahwa dirinya lembur dikantor.
"tapi....."
"kalo kamu tidak mau, kamu bisa kembali kerumah dan jangan lakukan apapun juga!" pinta al sambil menunjukkan pintu keluar.
ara langsung mendengus sangat kesal lalu berjalan keluar. begitu pintu ruangan al sudah tertutup ara yang sedang berada dibalik pintu langsung menggerutu. 'al sialan.....kenapa aku tidak bisa membalas ucapannya? kenapa?!' batin ara dengan kesal.
kemudian ara menarik nafas dengan berat, lalu menghembuskannya begitu saja. ara kembali masuk kedalam ruangan al.
rencananya ara akan mencak mencak dan meluapkan semua emosinya, tapi kemudian ruangan al kembali mendapatkan sebuah ketukan.
"TOK TOK TOK!"
"Masuk!" pinta al.
ara langsung menatap seorang wanita dengan tatapan tidak sukanya. 'kenpa harus dia? lagi lagi dia!' gerutu ara terus menerus didalam hatinya.
al menatap ara seakan mengisyaratkan sesuatu hal. ara yang peka langsung berkata. "oke aku setuju dengan penawaranmu tadi, mulai hari ini aku akan menjadi sekretarismu!" ucap ara lalu segera pergi darisana.
"oke!"
tia yang sedari tadi diam sambil mengamati ara dan al secara bergantian akhirnya angkat suara juga. "ada ap ini al? aku gak salah dengar kan?" ucap tia yang sedari tadi sudah terjebak disituasi yang sama sekali tidak menguntungkan itu.
"tidak, mulai hari ini ara akan bergabung di perusahaanku!" tegas al kepada tia.
"oke? tapi aku tidak mengerti kenapa dia ingin bekerja disini?" tanya tia lagi dan lagi, tia masih sangat penasaran dengan ara yang tiba tiba memutuskan untuk bergabung di perusahaan.
"karena itu keinginannya. udah, kita tidak perlu membahasnya lagi. ada perlu apa mencariku?" ucap al dan langsung mengalihkan pertanyaan.
tia langsung berjalan mendekati al untuk menunjukkan suatu dokumen yang harus dilihat oleh al. hari ini tia lagi lagi harus lembur bersama al untuk mengerjakan pekerjaan mereka berdua yang sempat tertunda semalam.
tapi kali ini ada ara, ara sudah ditugaskan untuk menemani baik al maupun tia untuk lembur. ara dengan pasrah harus menerimanya dan mengikutinya, tadinya ara ingin membuat perhitungan untuk al, ternyata malah senjata makan tuan seperti ini.
niatnya ara ingin segera pulang, tapi tiba tiba saja al menyuruhnya untuk masuk ke ruangannya. dengan berat hati ara berjalan masuk kedalam ruangan al.
dengan malas ara kembali mengetuk pintu diruangan kerja al.
"TOK TOK TOK!"
"Masuk!"
ara kemudian membuka pintu ruangan al, ara masuk kedalam dengan langkah yang tidak semangat.
"ada apa memanggilku?" ucap ara.
"hari ini kamu ikut kita berdua lembur disini. mengerti?" ucap al.
ara langsung menatap tajam kepada dirinya. "oke!" jawab ara pasrah.
kemudian ara duduk bersama al dan tia disana, mereka kembali serius untuk membahas proyek besar yang bakalan mereka liris dalam waktu dekat ini. ara yang masih mempelajari dokumen dokumennya hanya terdiam sambil terus menunduk sibuk dengan kegiatan mengetiknya dilaptop dihadapannya saat ini.
tia sebenarnya merasa tidak nyaman dengan adanya ara istri al, pasalnya ara selalu menatapnya dengan tatapan yang tidak suka kepada dirinya. tapi mau tidak mau, tia hanya mengikuti arahan al saja.
ara terus mengamati baik al maupun tia, pandangan ara selalu bergantian kearah mereka berdua. 'pasangan yang cocok! aku hanya nyamuk yang tidak dibutuhkan dihadapan mereka berdua. kenapa sih ini wanita sengaja mendekat terus kepada al, padahal dia jelas jelas tau kalo al itu sudah memiliki seorang istri, yaitu aku! semakin aku melihat mereka berdua, semakin jijik pula, kapan sih ini berakhir? aku ingin segera pulang.' batin ara yang terus menerus menggerutu kesal melihat al dan tia.
"al..!" panggil ara. kegiatan al dengan tia terhenti sejenak.
al langsung menatap ara. "ada apa?" tanya al singkat.
"aku bisa bicara dengan kamu sebentar saja diluar." bujuk ara dengan tatapan memohon.
"oke.!" kata al singkat.
"sebentar aku tinggal dulu ya, tia." ucap al, kemudian tia mengangguk mengerti.
al dan ara berjalan keluar ruangan. "ada apa?" tanya al langsung.
"aku ingin pulang, ini sudah jam 11 malam. kamu tidak melihatnya!" rengek ara.
kemudian al langsung menatap jam tangannya, "iya kamu benar, kalo begitu kamu sudah boleh pulang." ucap al, tapi ketika al ingin melangkah masuk ara langsung berkata kembali. "maksud kamu? kamu ingin melanjutkan lembur berdua dengan tia?"
seketika langkah kaki al terhenti, al kembali berbaik untuk menatap ara. "iya!" jawab al singkat.
"kalo begitu aku tidak jadi pulang. aku akan menunggu pekerjaan kalian sampai selesai." ucap ara sambil melipatkan kedua tangannya.
"terserah kamu saja." ucap al lalu kembali masuk kedalam ruangannya.
'ih menyebalkan! dasar tidak punya hati!' batin ara kesal sambil menghentak hentakkan kakinya.
dengan pasrah ara kembali untuk mengikuti langkah kaki al untuk kembali masuk kedalam ruangannya.
"maaf kamu menunggu lama." ucap al kepada tia.
"tidak apa apa, sepertinya pekerjaan kita harus dilanjutkan besok saja, sekarang sudah pukul 11 malam." ucap tia dan langsung bangkit dari posisi duduknya.
'bagus! ternyata dia cukup mengerti dengan apa yang aku inginkan.' batin ara kesenangan.
"baik, karena ini sudah terlalu malam, gimana kalau kami akan mengantarmu untuk pulang?" ucap al.
ara membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan oleh al.
tia lagi lagi mendapatkan tatapan tajam dari ara, tia yang merasa tidak enak hati lantas berkata. "tidak perlu repot repot, aku bisa pulang sendiri." tolak tia yang sangat mengerti dengan situasi canggung ini.
"al benar kok, sebaiknya kami mengantar kamu pulang tia, aku harap kamu tidak menolaknya." ucap ara penuh penegasan.
"hmm.. gimana ya?" ucap tia yang merasa tidak enak hati. apalagi melihat ekspresi ara saat ini sangat jelas terlihat kalau tidak menyukainya.
"tidak perlu sungkan, aku dan ara tidak keberatan kok! ya kan ara?" ucap al seakan mengerti situasi tia saat ini.
"oke, kalo itu tidak merepotkan." ucap tia.
sejujurnya tia tidak ingin berada diposisi sulit ini, diantara pasangan yang menurutnya saling mencintai dan saling cemburuan ke pasangannya satu sama lain.
*****
Mohon Bantu Rating dong guys! ratingnya berubah menjadi 4.5
Author menjadi kurang bersemangat untuk melanjutkan cerita ini 😑😑
like
favorit👍❤
gw syuka sama alurnya,....tata bahasanya meski pjg,tpi runut annya bagus,...teratue...bahkan menurut gw "sempurna".......
capcus....lnjut.....💪💪thor🙏
kapan tpada tobatnya biar terbungkar