Impian yang dibangun Luna selama bertahun-tahun bersama kekasihnya harus kandas.
Kekasihnya itu pamit tanpa memberikan alasan yang dapat dimengerti.
Luna hancur, padahal kekasihnya itu sudah berjanji akan mengenalkannya pada keluarga besar sang kekasih, setelah ia lulus kuliah.
Tapi malang tak dapat ditolak, kekasihnya itu membatalkan janji dan sumpahnya, tepat sebulan sebelum kelulusan Luna.
Setelah beberapa tahun berlalu, pria yang dulu membuat Luna patah hati kembali datang ke hidupnya.
Luna muak dan semakin membenci pria tersebut.
Akankah cinta Luna tumbuh kembali?
Atau Luna salah mengerti kenyataan? Karena ini adalah cinta yang baru.
Follow ig @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dejavu
Meski tempatnya tergabung dalam satu area dengan sebuah mall, factory outlet terbaru dari paradise fashion ini memiliki gedung terpisah, tampak dari luar eksterior gedung didesain dengan begitu artistik, dengan mengadopsi perpaduan desain Eropa dan Asia modren.
Beranjak ke dalam gedung, pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai koleksi pakaian branded dari paradise fashion, dan beberapa butik kecil yang bekerja sama dengan mereka.
Interior gedung yang sangat luas juga menjadi kenyamanan tersendiri. tidak hanya itu, di bagian belakang juga dibangun sebuah coffe shop, untuk para pelancong yang ingin bersantai, setelah berpuas ria memenuhi hasrat belanjanya.
Setelah rangkaian acara peresmian outletnya selesai, Luna ingin segera pergi dari sana untuk menuju rumah sakit. Tapi saat di depan gedung, dia melihat seorang anak perempuan hampir tertimpa papan reklame, yang hendak dipasang oleh petugas pemasang papan reklame di depan factory outletnya.
Untungnya Luna bergerak cepat untuk menyambar anak perempuan tersebut, jika tidak anak itu pasti sudah bernasib na'as.
Melihat kejadian ini, Gio pun buru-buru menghampiri Luna. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Anggukan kepala dari Luna sudah cukup untuk menjadi jawaban, lalu dia pun mengalihkan pandangan pada anak perempuan yang kini ada dalam dekapannya.
"Adik kecil, mengapa kau bermain sendirian di sini? Di mana orang tuamu?" tanya Luna.
"Aku ingin melihat itu, Tante," jawab anak perempuan itu dengan polosnya, bahkan dia sama sekali tidak ketakutan, setelah dia hampir celaka.
Luna pun mendecakkan bibir, dia melotot kesal kepada petugas pemasang papan reklame yang bekerja dengan ceroboh itu. "Bapak kalau kerja harus hati-hati, dong! Coba pikir bagaimana nasib anak ini jika sampai tertimpa tadi!"
"Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja, tadi kebetulan saya agak kehilangan keseimbangan, hingga tidak bisa menahan papan reklame itu," ucap petugas tersebut sambil tertunduk takut.
Detik kemudian seorang wanita datang ke arah mereka dengan napas tersengal, lalu memandangi anak perempuan yang ada di samping Luna dengan perasaan bersalah. "Nona, tolong maafkan kejadian ini. Ini kesalahan saya karena tidak becus menjaga putri majikan saya."
Seorang pria dengan tampilan elegan yang baru saja datang, dia menatap kesal pada anak perempuan di samping Luna.
"Ini karena kamu bandel, Laura. Lihat apa yang baru saja kamu lakukan, kamu lari dari suster dan membuat dirimu hampir celaka!"
Luna menatap tajam kepada pria tersebut. "Apa Anda adalah orang tua dari anak ini?"
"Ya, Benar. Saya daddynya, dia memang sering lari dari pengawasan, padahal tadi saya sedang sibuk mencarikan pakaian untuknya di dalam," jawab pria tersebut.
Sebenarnya Luna cukup kesal dengan cara pria tersebut memarahi anaknya, bagaimanapun anak itu masih terlalu kecil. Saharusnya si anak tidak boleh disalahkan dengan kejadian seperti ini, karena pasti ada faktor yang menjadi penyebab si anak melarikan diri dari pengasuhnya.
Sementara itu di samping pria tersebut berdiri seorang wanita, dia juga menatap kesal kepada anak perempuan yang ada di samping Luna. Dari gelagat wanita itu Luna dapat menebak bahwa wanita tersebut bukanlah ibu dari si kecil.
"Ya, sudah. Kalau begitu lain kali tolong jaga anak Anda dengan baik, bukannya malah sibuk memuaskan keinginan belanja wanita yang sepertinya tidak menyukai anak Anda," kesal Luna.
Setelah berkata seperti itu Luna pun menyerahkan si anak kepada orang tuanya, lalu kembali masuk ke dalam Outletnya bersama Gio. Meninggalkan tatapan kesal dari wanita yang baru saja dia sindir.
Apa yang dikatakan Luna memang terdengar tajam, dia tahu bahwa pria tersebut hanya mencari alasan, dengan mengatakan sedang mencari pakaian untuk putrinya. Padahal di dalam tadi Luna melihat pria tersebut sedang memilih pakaian orang dewasa, yang tentu saja untuk wanitanya tersebut.
Di dalam outletnya Luna meminta karyawannya untuk mengambilkan kotak P3K, lututnya memang sedikit tergores lantai akibat menyelamatkan anak perempuan tadi.
Gio menerima kotak P3K dari karyawan Luna. "Duduklah, biar aku yang membersihkan lukamu."
Luna menurut saja, dia duduk di sebuah sofa, membiarkan Gio membersihkan lukanya.
"kau ini benar-benar sama seperti mommyku. Mommy juga tidak akan berpikir panjang saat melihat orang yang sedang membutuhkan bantuan, kadang dia sampai lupa jika itu bisa membahayakan dirinya sendiri," celoteh Gio seraya mengobati Luna dengan telaten, lalu menutup lukanya dengan kasa steril, agar terhindar dari bakteri.
Melihat bagaimana Gio memperlakukannya, membuat Luna tersenyum sendiri, dia merasa dejavu. Bahkan pikirannya melayang sendiri mengingat kala itu, di mana pujaan hatinya sedang melakukan hal yang sama, merawatnya di saat dia terluka.
"Sudah selesai," ujar Gio, lalu dahinya berkerut heran saat melihat Luna yang sedang tersenyum sendiri. "Kau melamun jorok, ya?"
Luna mendelik kesal. "Enak saja, aku hanya teringat saat Geovanniku mengobati luka pada waktu itu. Dia melakukannya dengan cara yang persis sama sepertimu, dan konyolnya lagi setelah mengobati lukaku, dia meminta aku menciumnya sebagai imbalan. Setelah aku memberi kecupan di pipinya, dia malah mencuri ciuman pertama di bibirku, sebelum kabur. Itu adalah ciuman pertama dan terakhir yang pernah kami lakukan," kenangnya.
"Itu hal biasa yang dilakukan oleh sepasang kekasih, Luna!" cibir Gio, karena baginya gaya berpacaran kakaknya dengan Luna yang terlalu pasif.
Luna menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia bahkan mencuri ciuman itu sebelum kami resmi jadian."
"Apa kau sedang meminta secara halus agar aku menciummu sebelum jadian, seperti yang dilakukan kakakku?" Gio menaikkan sebelah alis matanya.
Luna melotot kesal. "Jika kau ingin merasakan tinjuku!"
Gio pun terkekeh, dia menyerahkan kembali kotak P3K kepada karyawan Luna. Setelah itu mereka pun beranjak menuju rumah sakit.
besambung.
Mungkin banyak yang kesal, ya. Karena upnya sangat lambat. Tapi itu karna kontraknya digantung sama NT, jadi aku nggak semangat mau nulis.😥😥
Tapi sekarang udah kelar kok, jadi bisa langsung gas lagi, untuk setiap hari.😁😁😁
Untuk kuis kemaren, jawabannya belum ada yang mendekati, ya😁😁
Kan, gini. Di situ aku udah jelasin Luna nggak akan merubah pendiriannya. Jadi, kalau dia luluh sama Gio, itu artinya pendiriannya berubah, dong.
Daripada kuisnya nggak ada pemenang, sayang dong, ya😁
Jadi aku mau mempermudah kuisnya, seperti yang dikatakan Luna pada mommy Delia saat di caffe, dia akan memperjuang cinta pertama dan terakhirnya. Nah, sebenarnya cinta pertama Luna itu, adalah Gio.
Tentang gimana bisa begitu, inilah tebak-tebakannya, 3-jawaban paling mendekati akan jadi pemenang, dan pemenangnya akan diumumkan di bab di mana kisahnya terungkap nanti.
Selamat mencoba lagi.
Selamat mencoba lagi, ya😁😁
Sementara sblm geovani meninggal blm sempet kasih tau siapa cewek yg harus di jaga gio
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu