Terlahir dari isteri kedua seorang pengusaha besar, tersisih, terasing, bahkan terbuang membuat Leo merasa hidupnya begitu memuakkan.
Hingga ia bertemu Aleena dan mulai merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Sayangnya, Aleena yang begitu Leo cintai itu tak lama mendampingi Leo.
Dalam frustasi nya, Leo yang terasing sekian lama akhirnya memaksa kembali ke Indonesia dan justeru menemukan begitu banyak rahasia yang terungkap atas Ayahnya Ibunya dan juga kekasihnya.
Rahasia apakah gerangan? Yuk ikuti kisah Leo... 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Terbakar
Leo duduk di ruang tunggu, saat ini Rose tengah menjalani operasi pengangkatan peluru dari kaki kirinya.
Sambil menunggu pihak keluarga Rose tiba, Leo memang tetap berada di sana.
Leo duduk di ruang tunggu sambil sesekali memandangi orang yang hilir mudik, dari perawat, pasien, hingga pengantar atau orang yang membesuk sanak family.
Tak banyak yang bisa dilalukan di Rumah Sakit, dan menunggu adalah hal yang paling membosankan, apalagi antara keduanya tak ada hubungan apapun, jelas sudah ini hanya tentang kemanusiaan.
Ah kemanusiaan, terdengar seperti Leo orang yang baik, padahal dulu ia juga bagian dari sekelompok orang yang kapan saja bisa mencelakai orang lain.
Tak peduli seberapa lama waktu telah berlalu, nyatanya pernah hidup di lingkaran hitam tak bisa serta merta berakhir begitu saja sekalipun Leo sudah berusaha menghindarinya lebih dari sepuluh tahun.
Leo menyandarkan tubuhnya yang lelah di kursi tunggu Rumah Sakit, hingga matanya tak sengaja menatap TV yang ada di dinding ruang tunggu.
Tampak tayangan berita penyerangan di sebuah perguruan bela diri bernama Mawar Hitam. Bangunan perguruan bela diri itu hancur lebur, rusak berantakan dan disebutkan ada sekitar empat orang terluka parah dan dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Pemilik perguruan yang satu meninggal dan yang satunya menghilang.
"Mawar hitam."
Leo bergumam.
Ia jelas tidak asing dengan nama itu, hingga kemudian ia ingat Roy.
Leo segera bangkit dari duduknya, menarik ponsel dari saku jaketnya, dan menelfon ke rumah.
"Yah."
Terdengar suara perempuan mengangkat telfon rumahnya.
"Viera."
Panggil Leo.
"Ah yah Tuan."
Jawab Viera dari seberang sana.
"Roy, mana Roy?"
Tanya Leo sambil berjalan mondar mandir tak tenang.
"Kak Roy, di depan sedang bicara dengan dua orang yang menjemput Luna."
"Luna?"
"Yah gadis yang kalian tolong dari rumah sebelah."
Kata Viera.
"Ah yah, sori."
Leo menepuk dahinya.
Kenapa tiba-tiba otaknya ngebleng.
"Sudah yakin itu pihak keluarga Luna sendiri?"
Tanya Leo.
"Sudah, kabarnya ada satu mobil lagi yang kini menuju Rumah Sakit, apa belum menghubungi Tuan?"
Tanya Viera.
Leo sejenak melihat ponselnya.
"Ah yah, ada nomor baru, hp ku mode silent, sori."
"Baiklah, mungkin sebentar lagi sampai."
Kata Viera.
Leo menghela nafas.
Kenapa mendengar suara Viera tiba-tiba ia jadi lupa mau bicara apa.
Ah yah, mawar hitam. Leo ingat lagi.
"Vier, katakan pada Roy, hubungi aku segera setelah urusannya selesai."
Tandas Leo.
"Ngg... Yah baiklah."
Sahut Viera sekedarnya.
Sejenak keduanya sama-sama diam. Sama-sama bingung harus bicara apa lagi. Dan sama-sama menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu.
"Vier."
"Tuan."
Mereka akhirnya bersamaan.
Sungguh aneh.
Viera belum pernah merasa begitu gugup pada pria. Sementara Leo sejak Aleena meninggal tentu saja merasa hatinya tak pernah hidup lagi. Tapi saat ini?
"Kamu saja dulu, ada apa?"
Tanya Leo akhirnya.
Viera malah jadi bingung sendiri, ia jadi lupa akan bicara apa.
Ah aku tadi akan bicara apa sebetulnya? Batin Viera gugup.
"Vier, kamu masih di sana?"
Tanya Leo membuat Viera yang masih berusaha mengingat sangking gugupnya akhirnya bicara asal saja.
"Tuan Leo kapan pulang?"
Hah...
Apa sih? Kenapa aku tanya begitu? Apa aku gila? Apa aku mau mati? Viera menabok mulutnya sendiri.
Leo yang mendengar Viera bertanya seperti itu jadi mesem.
"Aku akan pulang sebentar lagi, tunggulah."
Kata Leo akhirnya.
Viera memejamkan matanya karena terlalu malu. Ah ya Tuhan, sungguh memalukan. Viera mengetok kepalanya.
**----------**
Flashback,
Setelah penjemputan Roy oleh anak buah Doni, di depan perguruan Mawar Hitam, berhenti tiga mobil van hitam dan kemudian turun sekitar lima belas orang dari tiga mobil itu.
Lima belas orang yang semuanya membawa senjata tajam itu mendobrak pintu pagar perguruan Mawar Hitam.
Jati dan ke lima muridnya yang tengah istirahat begitu melihat orang-orang tak dikenal masuk ke dalam wilayah mereka jelas saja langsung siaga.
Tak ada basa-basi, tamu tak diundang itupun menyerang dengan senjata tajam yang mereka bawa tanpa ampun.
Mereka yang membawa celurit dan samurai menyabetkan senjatanya seolah yang mereka hadapi bukan manusia.
Perlawanan yang jumlahnya tak seimbang, di tambah Jati dan para muridnya belum siap hingga hanya mengandalkan tangan kosong jelas hanya menjadi bulan-bulanan saja.
Jati yang berada paling depan bahkan sampai harus mendapat puluhan sabetan katana dan langsung meregang nyawa.
Bella yang semula berada di dalam rumah, begitu mendengar keributan langsung keluar berusaha melawan namun jelas perlawanannya tak membuahkan apa-apa.
Baron yang memimpin langsung penyerangan itu dan hanya bersandar pada dinding pagar tampak menyeringai begitu semua orang di perguruan mawar hitam itu roboh.
"Dasar biadab!"
Bella meraung pada mereka ketika melihat Jati terkapar tak bernyawa di atas tanah dengan luka yang mengenaskan.
Darah membanjiri tanah di sekitar tubuh Jati, Bella menangis histeris.
"Bawa dia, kita jadikan dia umpan agar Roy datang."
Kata Baron.
Dua orang laki-laki mengikat Bella dan menyeretnya dengan kasar menuju salah satu mobil Van yang berada paling depan.
Bella terus berteriak hingga membuat Baron melakban mulutnya.
"Diamlah, aku hanya butuh kau untuk umpan!!"
Kata Baron mendorong tubuh Bella masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya.
"Hancurkan bangunan ini dan kita pergi."
Kata Baron.
Perguruan Mawar Hitam dihancurkan dari dalam hingga depan, semua hancur berantakan.
Setelah puas menghancurkan tempat itu, mereka semua pergi dengan jumawa.
Beberapa warga yang sempat melihat hanya diacungi samurai saja mereka sudah memilih lari dan tak mau terlibat.
Flashback berakhir.
**--------**
"Apa kau bilang?"
Roy nyaris berteriak.
"Hey, telingaku bisa pecah!"
Leo balas berteriak pada Roy saat akhirnya Roy menghubunginya dan Leo memberitahu soal penyerangan pada perguruan Mawar Hitam.
"Kapan kejadiannya?"
Tanya Roy geram.
"Sepertinya tak berbeda waktu dengan penyerangan di rumah sebelah."
Kata Leo.
Roy terdiam.
Aneh sekali, kenapa bisa begitu kebetulan.
Ah sial! Ia lupa bertanya keluarga Luna, ini semua gara-gara kakak Luna yang menelfon begitu berisik.
Roy bahkan tak bisa banyak bertanya pada para pengawal yang menjemput Luna, padahal Roy yakin sekali jika ia seperti tidak asing dengan pin yang mereka pakai di jas mereka.
Yah pin kecil berwarna keemasan, Roy pernah melihatnya dipakai Anton.
Apa mungkin Luna adalah anak Tuan William juga?
Ah tidak mungkin! Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini?
Tapi jelas sekarang bukan saatnya memikirkan kemungkinan seperti itu, ada hal yang jauh lebih mendesak untuk dikhawatirkan Roy.
Bella, gadis itu bagaimana nasibnya? Roy jelas harus melakukan sesuatu. Roy berhutang nyawa padanya.
"Malaikat hitam, mungkinkah ini ulah mereka juga Roy?"
Tanya Leo membuat Roy seketika darahnya mendidih.
"Yah, Baron, kau benar Le, sepertinya dia!"
Geram Roy.
"Biar aku yang ke sana, berikan aku di mana mereka sembunyi."
Kata Leo.
"Tidak Le, aku juga harus ikut. Aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri dan aku bersembunyi seperti pengecut!"
**----------**
apalagi untuk kaum papa