NovelToon NovelToon
Mayang Dan Bima

Mayang Dan Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Cintamanis / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:100.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rumaika

[[ TAMAT ]]

IG : @rumaika_sally

Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Pancingan

Bima mematikan kameranya, menggandeng tangan gadisnya. Dimintanya duduk dirumput beralaskan syalnya.

"Kalau Mas Bima hilang, Mayang gimana?"

Mayang menatapnya keheranan.

"Kok Mas Bima gitu bilangnya. Emang Mas Bima mau kemana?" Kepala Mayang dipenuhi banyak pertanyaan.

Bima menggeleng, "Cuma kepengin nanya aja."

"Mayang pernah punya pacar?"

Mayang menggeleng.

"Siapa laki-laki yang paling dekat sama Mayang? Yang Mayang paling suka?"

"Papa," Mayang menjawab singkat.

Bima tak menemukan kata-kata yang tepat.

"Mayang pernah suka sama laki-laki selain Papa? Teman dekat mungkin?"

"Mmm. Pernah."

"Siapa?"

"Kak Alex."

Hati Bima seperti terhantam sesuatu.

"Siapa Kak Alex?" Ada nada cemburu dalam kata-katanya.

"Anak kuliah yang bantu Mayang belajar buat Olimpiade."

"Oh, kenapa Mayang suka sama dia."

"Soalnya apa ya. Dia pinter. Dia udah kuliah. Dia keren lah pokoknya. Pacarnya juga keren. Mayang pengen cepet-cepet dewasa rasanya."

Ada kelagaan dalam hembusan panjang nafas Bima. Jadi Alex itu anak kuliahan, punya pacar juga, berarti aman. Mayang hanya mengidolakannya. Ah, tapi tunggu. Mayang suka karena dia pinter, anak kuliahan, sudah dewasa. Hmmm, kategori yang sudah sangat jauh dari Bima.

Ada kegetiran lagi dalam hati Bima. Ia dewasa, jelas umurnya jauh di atas Mayang. Ia juga seharusnya sudah kuliah. Hatinya menciut.

Mayang nampak keheranan. "Mas Bima kenapa sih. Dari tadi nanyanya aneh."

"Enggak. Pengin nanya aja. Pengin kenal Mayang lebih jauh."

"Mas Bima punya pacar?"

Bima menggeleng. "Gimana kalau ada yang bilang suka sama Mayang?" Bima terlalu to the point. Ia tak tahan lagi.

"Suka gimana maksudnya?"

"Ya, suka. Maksudnya pengin jadi pacar Mayang."

"Ooh, nggak tau. Nggak pernah kayaknya ada yang bilang gitu sama Mayang. Emang ada yang suka sama Mayang?"

"Gimana kalau Bagas suka sama Mayang?"

"Bagas?"

"Iya. Misalnya Bagas pengin jadi pacar Mayang?"

Mayang tampak lebih heran lagi. "Maksudnya apa sih Mas Bima. Dari tadi nggak jelas tanya kayak gini."

"Mayang suka sama Bagas?"

"Suka," Mayang menjawab singkat.

Ah, harus bagaimana menjelaskannya. Bima mulai kehilangan kata-katanya.

"Sama Edo suka? Sama Bani? Sama Akbar?"

"Suka. Semua teman Mayang. Ah, Mas Bima apasih. Bikin Mayang bingung."

"Oke, Oke, Oke," Bima menyudahinya. Ia pasang wajah konyol di depannya. Mayang tertawa.

"Masih sakit nggak bibirnya?"

Bima menggeleng.

"Kalau Mama sama Papa Mayang tanya gimana ya Mas jawabnya. Nanti Mas Bima diomelin gara-gara berantem lagi," tiba-tiba Mayang merasa sedih.

"Ah, bilang aja jatuh," Bima menjawab santai.

Mereka mengambil beberapa foto. Memencet timer dan membuat pose lucu berdua. Mayang tertawa-tawa. Kabut tebal perlahan sirna dihempas sorot mentari. Mayang tampak serius menyimak dan mendengarkan penjelasan Bima. Bima mengajarinya beberapa teknik pengambilan gambar. Ia mempelajarinya sendiri dari youtube dan Om Wira, juga 2 temannya yang tempo hari ke villa.

"Oke, yuk naik lagi. Balik ke tenda. Nanti Susi nyari, " Bima beranjak. Ia berjalan duluan, Mayang di belakangnya. Sesekali Bima membantu Mayang naik dnwgan mengulurkan tangannya.

Pak Yanto dan satu penjanga pos bawah sudah ada di situ, kembali menyalakan api yntuk mengusir dingin. Semuanya sudah bangun. Berkumpul menikmati sarapan.

Susi melambaikan tangannya. Memberi isyarat pada Bima dan Mayang agar bergabung.

Makanan itu tersaji seperti bukan sedang di gunung. Aneka rupa kudapan yang memanjakan mata, lidah juga perut. Semua ini Papa Bima yang menyiapkan. Ia menyuruh orang mengantarnya. Pak Yanto membawanya naik ke atas untuk sarapan. Apapun yang terbaik untuk menyenangkan putranya dan teman-temannya.

Bagas tampak berbincang dengan Pak Yanto. Kemah akan usai, nanti malam acara menginap semalaman lagi disepakati akan dibantalkan, seperti yang Susi bilang tadi malam. Ia lalu memanggil Susi dengan isyarat. Susi mendekat dengan cepat. Susi meninggalkan sarapannya. Meraka tampak berbincang serius.

Semua tampak biasa. Kejadian semalam berlalu begitu saja. Susi meminta meraka semua untuk menyimpan sendiri di antara mereka saja. Jangan sampai pihak sekolah tahu. Acara ini diluar acara sekolah. Hanya acara pertemanan saja atas ide semua orang yang ikut. Mereka ingin perpisahan kecil-kecilan sebelum sibuk dengan ujian kelulusan dan persiapan masuk kuliah. Tahun terakhir di sekolah ingin meraka buat lebih berkesan. Soal Bima dan Bagas, biar hanya mereka yang tahu.

Setelah sarapan usai, mereka berkemas. Bersiap untuk turun. Susi tampak menimbang-nimbang, kedua alisnya berkerut. Bagas duduk di depannya. Tampak lebih santai dari sikapnya semalam.

"Oke, jadi sesuai kesepakatan semalam, nanti malam udah nggak ada acara nginep lagi. Tapi ada satu masalah lagi. Pak Yanto bilang sungai di bawah yang mau kita susuri deras aliran airnya. Dia sama penjaga bawah udah meninjau tadi pagi. Katanya agak bahaya sih. Nggak deras banget, tapi kayaknya demi keamanan mendingan kita batalin aja. Gimana?" Ia melihat sekeliling. Satu persatu mulai mengangguk setuju.

"Terus, Lusi flu berat pagi ini. Kayaknya cuaca di atas dingin banget buat dia. Takutnya makin parah. Jadi dia pulang duluan dijemput Mamanya di bawah. Andin tadi nganterin sama Pak Penjaga."

"Nah terus ada ide nggak kita mau ngapain sebelum sore? Atau kalau mau pulang duluan kayak Lusi juga nggak apa-apa. Kemarin sama tadi malem kita udah seru-seruan juga bareng-bareng. Ada yang punya ide?"

Suasana agak gaduh beberapa saat. Tapi tak ada satu idepun keluar. Bagas lalu mengambil alih.

"Oke jadi gini aja. Yang masih mau di sini boleh sampai sore. Nikmati pemandangan sambil main-main boleh. Yang mau turun duluan boleh juga. Yang penting kita semua udah seneng di sini. Bagas juga mau minta maaf karena tadi malam bikin ribut," kata-katanya terhenti. Ia melirik Bima. Bima memasang muka acuh tak acuh.

"Karena acaranya jadi rusak juga gara-gara Bagas. Bagas mau minta maaf sama kalian semua dan sama Bima." Bagas mengulurkan tangannya.

Bima menyambutnya. Bahkan ia peluk Bagas sambil ia tepuk pundaknya, sengaja agar Bagas kesal. Bagas nampak kesal namun ia tahan. Bagas melakukan ini semua untuk memperbaiki citranya di depan Mayang. Ia ingin Mayang melihatnya meminta mmaf dengan benar. Bima melakukan hal yang sama. Dalam hatinya ia juga ingin membalas.

"Ada yang mau ngomong lagi enggak?" Bagas mencairkan suasana yang hening.

"Oke, Susi pengen ngomong. Dan Susi juga pengin semuanya ngomong. Jarang-jarang kita kumpul begini," suasana mulai hening lagi.

"Susi mau terimakasih kasih sama kalian semua yang udah hampir 3 tahun ini jadi temen-temen Susi. Terimakasih udah nerima Susi yang nggak bisa Bahasa Jawa tapi tetap ngajak Susi bercanda. Terimakasih udah bikin Susi betah di sekolah, ngerasa diterima dan selalu didukung kalau Susi tanding volley," Susi mulai agak parau, ia menahan tangis.

"Susi juga minta maaf kalau banyak salah, banyak kurangnya. Susi sayang sama kalian semua. Nanti kalau kita udah sibuk kuliah atau yang lainnya dan nggak bareng-bareng lagi semoga masih inget sama kebersamaan kita. Masih inget sama momen kita bareng-bareng,"Susi mulai terbata. Akhirnya tangisnya pecah juga. Diikuti tangis geng-geng cewek. Para anak lelaki nampak tertunduk. Bani tampak menyeka air matanya. Ia ingat, dulu waktu kelas 10, ia pernah tidak masuk sekolah sebulan karena sakit. Teman-temannya selalu ada. Ia sering dijenguk. Ia dipinjami buku catatan, ia disemangati terus-menerus.

Selanjutnya Elena yang berbicara. Ia hanya sanggup berkata-kata beberapa patah, lalu suaranya hilang ditelan tangis. Ia juga tak kalah cengeng. Semua punya kesempatan untuk bicara. Anak laki-laki juga bergantian berbicara. Ini momen yang harus meraka ingat. Tahun terakhir SMA, sebelum mereka benar-benar berubah. Sebelum masa dewasa menuntut mereka untuk meninggalkan masa-masa indah ini.

Bima si dingin. Tapi kali ini ia ingin berbicara.

"Hai semua, Bima tau Bima paling tua di sini. Ya harusnya bisa lebih dewasa lagi. Tapi Bima cuek dan terlihat kurang ramah. Memang Bima begini. Tapi Bima tahu, kalian semua baik, kalian semua peduli. Walau baru beberapa bulan pindah, kalian nerima Bima seperti sudah lama. Jadi terimaksih dan maaf juga kalau Bima banyak salah selama ini."

Susi meminta Mayang bicara. Mayang menggeleng. Ia sibuk menangis sedari tadi. Bima mengelus punggungnya.

"Mayang ngomong sambil nangis nggak papa. Toh semua juga udah nangis," Bima tersenyum. Dalam suasana begini ia selalu menemukan cara untuk membuat Mayangnya tertawa atau tersenyum.

"Ini Mayang," Mayang mengelap air matanya. Ia berdiri canggung.

"Mayang berterimakasih sama kalian semua karena udah mau jadi teman Mayang. Sebelumnya Mayang nggak punya teman karena takut. Mayang nggak percaya diri, Mayang minder. Terimakasih buat Susi khususnya yang merangkul Mayang. Bikin Mayang merasa nggak sendirian lagi. Makasih karena semenjak pindah ke sekolah Mayang merasa jauh lebih baik. Mayang merasa diterima. Mayang merasa dianggap ada. Makasih udah bikin Mayang bahagia pas ulang tahun. Ulang tahun Mayang semalam adalah yang paling bahagia," Mayang menangis lagi. Tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Susi memeluknya. Semua menangis haru.

Bagas berusaha kembali membuat suasana haru berubah ceria.

"Oke, karena nanti malam batal nginep dan semalem kelupaan. Jadi kita mau bakar kembang api pagi-pagi," mereka semua tertawa.

Edo meminta Bima kembali merekam. Kabut sepertinya enggan turun sempurna, matahari masih malu-malu. Bima mengatur semuanya. Semuanya memegang kembang api, nampak bahagia seperti anak kecil lagi.

Bima dan Mayang memutuskan untuk pulang sorenya. Mereka akan merekam beberapa video lagi. Lagipula Papa Mayang baru bisa menjemputnya selepas jam 3. Susi memutuskan untuk ikut. Ia tertarik dengan kamera Mayang dan peralatan Bima lainnya. Ia ingin ikut belajar. Mayang dengan seneng hati merangkulnya. Ia merasa nyaman dengan Susi. Beberapa anak turun dijemput. Susi berpesan pada Pak Yanto untuk memastikan semuanya dijemput dengan aman. Ada beberapa yang di atas. Bersantai di tenda, bermain kartu dan lainnya. Bagas juga masih di atas. Ia ikut bermain kartu, tapi matanya mengawasi Bima dan Mayang. Dan juga Susi yang sekarang ikut bergabung.

Kabut mulai sirna dikalahkan sinar mentari. Namun suasana tetap sejuk. Para remaja itu terlihat asyik sekali. Alam yang indah ini membebaskan mereka dari penatnya rutinitas sekolah.

Tampak Bagas menyeringai tak suka, dari ekor matanya ia melirik Bima, Mayang dan Susi yang sedang tertawa-tawa.

1
Qaisaa Nazarudin
Penuh liku2 banget hubungan mereka,tapi mengambil waktu yg lama juga nuat mereka nikah sungguhan ya..
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹
Qaisaa Nazarudin
Menurutku cara mayang ini salah,Tempat istri adalah disisi suaminya apapun keadaannya,apalagi sekarang keadaan Bima yg madih terpuruk dan tergoncang,Mayang harus menjadi kekuatan utk Bima,Bukannya malah ninggalin suami,,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Astaga Mayang ingat status kamu,kamu gak bisa lg seenakbya ngadih nomor kamu ke pria lain..apalagi Reza terang2 an bilang alesannya utk apa..🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Makanya seharusnya bilang aja tunangan,apa susahnya sih kalo gak mau jujur udah suami istri..
Qaisaa Nazarudin
Udah sakit baru mau cari MANTAN ISTRINYA.. kalo aku jadi Asti ogah ambil tau soal mantan suami lagi,,Aku bukan orang yg sabar dan terlalu pemaaf orgnya,.Jadi sekali di selingkuhin,Seumur hidup akan ku ingat,aku langsung dikte kalo kamu itu org yh gak ku anggap lagi,,
Qaisaa Nazarudin
#Udah SAH gitu..
Qaisaa Nazarudin
Tunangan aja,jgn adek atau sepupu lah,sekurang2 nya mereka harus jgn menutupi ikatan mereka sepenuhnya,sekurang2 nya irg tau mereka ada hubungan spesial gitu,takutnya ada yg ganggu..
Qaisaa Nazarudin
#Ibu angkat
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Mayang masih manggil TANTE Asti?? Udah jadi Mertua juga inu angkat juga, Harusnya panggil MAMA juga dong..
Qaisaa Nazarudin
KARMA buat papanya selingkuhin istrinya sendiri,ninggalin anak dan istri,Nah sekarang dia yg di tinggalin,, Mantoopp👍🏻👍🏻
Qaisaa Nazarudin
Nyesek aku thor🥹🥹🥹😫😫😫😫😫😭😭😭😭😭
Qaisaa Nazarudin
Mengambil alih pengasuhan Mayang?? Bukannya Mayang mmg udah istrinya Bima ya,, jadi Mayang udah jadi tanggungjawab nya Bima,walaupun umur mayang masih dibawah standar umur utk menikah tp tetap pernikahannya dlm agama itu SAH..
Qaisaa Nazarudin
Lho kok papanya Mayang meninggal?bukannya td udah sadar ya saat Bima ngadih minum..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan,ku bilang juga apa!!! Hadeeuuhh..Rumit..
Qaisaa Nazarudin
Apa papanya Mayang dan mamanya Bima mulai ada hubungan?? Dan nyata nya Bima juga suka sama Mayang..
Qaisaa Nazarudin
Papanya Mayang dan mamanya Bima tuh pekerjaan mereka apa? kok mereka harus pindah ke sini,daerah terpencil,pantesan Bima gak suka,dia itu anak kota,,
Qaisaa Nazarudin
#Dendam mu
Qaisaa Nazarudin
Kasihan sama mama kamu Bim,Dendam ku sama papa kamu,terus kenapa mama kamu yg jadi mangsa nya,harusnya kamu banggain tuh mama kamu,Tunjukkan ke papa kamu,kalo kamu bisa sukaes tanpa beliau..
Nita Yulianita
ceritanya bagus.. tiap bab di like.. semangat thor
Rumaika Sally: thankyou, Kak. baca cerita aku yang lain juga yuk
total 1 replies
Nita Yulianita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!