Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Rindu Angga
Kabar perjodohan antara Indy dan Rio makin tersebar luas. Perjodohan itu sedang menjadi topik hangat minggu ini di kalangan ibu-ibu rumpi yang merupakan tetangga gadis itu.
Setiap kali bertatap muka dengan gadis itu, mereka seperti melihat seorang buronan. Kadang juga mereka menyindir Indy yang mau saja dijodohkan padahal usianya masih sangat muda.
Tetangga terkadang memang seperti itu, berkomentar seenak hatinya meski tidak mengetahui dengan pasti cerita sebenarnya.
Beruntunglah gadis itu bukan tipikal orang yang mudah tersulut dengan sindiran tak bermutu seperti itu.
Setelah kejadian hari di mana dia melarikan diri dari rumah. Sejak itu bukan hanya jarang, tapi Indy hampir tidak pernah menyapa Bima, bapaknya dengan ramah seperti sebelum dia tahu perjodohan itu.
Jika pun Bima mengajaknya bicara, anak itu akan menjawab seperlunya saja pun dengan sangat malas. Dia akan lebih memilih untuk menghindari pertanyaan selanjutnya dengan segera pergi.
Bima memaklumi sikap baru yang ditunjukkan anak itu padanya. Memang sulit menerima sebuah keputusan yang tidak diinginkan.
Hari demi hari, Rio terus berusaha menumbuhkan rasa dalam hatinya dengan sesering mungkin menemui Indy. Kadang, tiba-tiba cowok itu menjemput Indy sepulang sekolah untuk diajaknya jalan-jalan.
Tidak ada minggu yang terlewat dari Rio, dia selalu datang ke rumah Indy. Walau hanya sekedar mengobrol dengan bang Raka, Bima, atau Rini, cowok itu tidak pernah absen.
Di bawah pohon di pinggir danau seperti hari minggu biasanya, Indy dan Raka duduk berdua. Menikmati semilir angin pagi yang membuat bulu kuduk meremang.
Tiba-tiba saja gadis itu meneteskan air mata dan terisak, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Raka yang peka akan hal itu langsung merangkul bahu adiknya dan menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.
"Lo boleh nangis, sepuas dan sekeras yang lo mau, gue ada di sini," ucap cowok itu bak kakak yang baik.
"Gue, kangen Angga, Bang."
"Tapi cowok itu udah nyakitin, lo. Dia nggak pantes lo kangenin."
"Gue masih banget sayang sama dia," kata gadis itu.
"Lo harus bisa lupain Angga. Hargai pengorbanan Rio."
"Gue nggak bisa. Rio bagi gue cuma teman, nggak lebih."
"Lo, bisa. Toh perhatian Rio nggak kalah dari Angga ke lo, dulu. Iya, kan?"
"Beda, Bang. Gue tahu Angga berengsek beda jauh sama Rio yang baik. Tapi, perasaan Rio bukan buat gue. Hatinya udah buat cewek lain, Bang. Dan cewek itu jauh lebih baik dari gue."
"Dari mana lo tahu? Lo nggak bisa menyimpulkan cuma dari lihat cover doang, Ndy."
"Gue, ketemu sama pacar Rio beberapa hari lalu. Dia bukan cewek bar-bar dan ugal-ugalan kayak gue. Rio sayang banget sama ceweknya. Bahkan mereka terpaksa putus gara-gara perjodohan ini, Bang. Gue jadi merasa bersalah banget udah hancurin hubungan mereka."
"Itu bukan salah, lo. Perjodohan ini emang udah ada dari semenjak kalian lahir. Ndy, percaya sama abang. Rio orang yang tepat buat lo. Dia nggak akan nyakitin lo. Gue tahu, ini bakalan sulit. Tapi, kalo lo sama Rio mau sama-sama berjuang buat numbuhin perasaan kalian, gue yakin, akan ada saat kalian mengerti maksud dari perjodohan ini."
"Jangan biarin Rio berjuang sendirian. Gandeng tangannya, Ndy," tambah cowok itu lagi.
"Belom muhrim udah di suruh gandengan aja. Dosa, tahu," tukas Indy seperti sudah lupa dengan kesedihannya tadi.
"Dasar, cewek nggak tahu di untung. Udah baik gue mau hibur, lo. Terima kasih, kek," protes Raka sewot dengan jawaban adiknya.
"Ogah."
Indy menarik nafasnya panjang, menikmati segarnya udara pagi. Sesak yang tadi menjejali dadanya kini sedikit hilang.
Sebuah suara sapaan muncul dari belakang mereka, mengagetkan kakak beradik yang masih duduk di pinggiran danau.
"Lo, Indy, kan?" tanya cowok itu yang tubuhnya nampak basah berkeringat.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!