Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Kalung Berlian Alina
Malam pertama Ayla di rumah Prameswari berlangsung terlalu tenang.
Itu justru mencurigakan.
Rumah sebesar itu biasanya punya suara kecil yang tidak disadari orang: langkah pelayan, pintu lemari, air mengalir, mobil keluar masuk, obrolan lirih di dapur. Namun setelah makan malam yang dingin, semua orang seperti sengaja berjalan lebih pelan.
Ayla duduk di kamar tamu lantai tiga sambil membuka laptop.
Di layar, data Prameswari Foundation tersusun rapi. Yayasan itu bergerak di bidang perlindungan anak hilang, korban perdagangan manusia, dan beasiswa pendidikan. Foto-foto Ratna dan Alina memenuhi halaman depan situs. Mereka tersenyum sambil memeluk anak-anak kecil.
Komentar publik penuh pujian.
Ibu dan putri berhati malaikat.
Keluarga kaya yang tidak lupa berbagi.
Alina Prameswari cantik luar dalam.
Ayla menopang dagu.
“Cantik luar dalam,” gumamnya. “Bagian dalamnya siapa yang pernah lihat?”
Ponsel di meja menyala.
Maya mengirim berkas lanjutan. Ada tiga transaksi mencurigakan dari rekening yayasan ke perusahaan logistik medis. Nominalnya tidak terlalu besar untuk ukuran Prameswari Group, tetapi jalurnya disamarkan. Salah satu dokumen persetujuan digital memakai akun Alina.
Belum tentu Alina paham isi transaksi.
Tetapi nama itu ada.
Ayla menyalin data ke folder terenkripsi. Baru saja dia hendak menghubungi Maya, telinganya menangkap suara langkah pelan di koridor.
Satu orang.
Ringan.
Berhenti di depan pintu.
Ayla menutup laptop tanpa suara, lalu berdiri di samping lemari.
Gagang pintu bergerak perlahan.
Pintunya tidak dikunci. Ayla memang sengaja membiarkannya begitu.
Alina masuk.
Dia memakai piyama sutra warna putih dan membawa sesuatu di tangan kanan. Wajahnya tampak cemas, tetapi matanya bergerak terlalu cepat mengamati ruangan.
“Kak Ayla?” panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
Alina maju dua langkah. Tangannya membuka sedikit. Di telapak tangannya ada kalung berlian, yang tadi sempat Ayla lihat di kamar Alina.
Ayla memandang dari samping lemari.
Benar-benar klasik.
Empat tahun berlalu, kreativitas gadis ini tidak berkembang.
Alina mendekati koper Ayla. Dia berjongkok, membuka ritsleting luar, lalu hendak memasukkan kalung itu.
“Kalau mau memberi hadiah, bungkus dulu.”
Alina tersentak.
Kalung hampir jatuh dari tangannya.
Ayla keluar dari bayangan lemari dengan santai.
Wajah Alina pucat. “Kak... aku pikir Kakak tidak ada.”
“Jadi kamu masuk kamar orang tanpa izin?”
“Aku cuma ingin bicara.”
Ayla menunjuk kalung di tangannya. “Dengan itu?”
Alina menggenggam kalung lebih erat. Air mata langsung muncul. “Aku takut Kakak salah paham. Ini... ini sebenarnya mau kuberikan padamu. Sebagai tanda damai.”
Ayla mengangguk. “Tanda damai biasanya masuk ke tangan. Bukan koper.”
“Aku...” Suara Alina bergetar. “Aku hanya tidak tahu harus memberikannya langsung. Kakak selalu memandangku seperti musuh.”
“Karena kamu bertingkah seperti musuh.”
Mata Alina memerah. “Kenapa Kakak selalu jahat padaku? Aku tahu Kakak marah karena aku hidup di rumah ini. Tapi aku juga tidak memilih. Aku masih kecil waktu dibawa pulang.”
Ayla berjalan mendekat.
Alina mundur.
“Kamu masih kecil waktu dibawa pulang,” kata Ayla. “Tapi kamu tidak kecil waktu memfitnahku merusak gaun Mama.”
Alina terdiam.
“Kamu juga tidak kecil malam ini.”
Alina menggigit bibir. “Kak, tolong jangan begini. Aku benar-benar ingin kita baik-baik saja.”
“Baik. Taruh kalungnya di meja, lalu keluar.”
Alina tampak panik. “Kalau aku keluar begitu saja, Mama akan—”
Dia berhenti.
Ayla tersenyum.
“Mama akan apa?”
Sebelum Alina bisa menjawab, suara langkah tergesa terdengar dari koridor.
Ratna dan Marwan muncul hampir bersamaan. Di belakang mereka ada Reno yang masih memakai kaus rumah, wajahnya setengah mengantuk setengah kesal.
Pemandangan di dalam kamar sangat sempurna.
Alina berdiri dengan kalung berlian di tangan, mata basah. Ayla berdiri di depannya, wajah datar.
Ratna langsung berseru, “Alina!”
Alina menoleh, air matanya jatuh. “Ma...”
Ratna berlari memeluknya. “Apa yang terjadi?”
Alina menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, Ma. Aku hanya ingin memberikan kalung ini untuk Kak Ayla.”
Reno melihat koper Ayla yang terbuka.
Marwan juga melihatnya.
Ayla hampir ingin bertepuk tangan.
Panggung, pemain, penonton, semua lengkap.
Ratna menatap Ayla dengan kecewa. “Kamu mengambil kalung Alina?”
Ayla duduk di tepi tempat tidur.
“Ibu mau versi pendek atau versi bodoh?”
“Ayla!”
“Versi pendek, Alina masuk kamar untuk menaruh kalung itu di koperku. Versi bodoh, kalian percaya dia datang tengah malam untuk memberi hadiah.”
Alina menangis. “Kak, kenapa kamu memutarbalikkan niat baikku?”
Reno menghela napas kasar. “Ayla, cukup. Kalau kamu tidak suka Alina, bilang saja. Jangan menuduh tanpa bukti.”
Ayla menatapnya.
“Kamu yakin mau bicara soal bukti?”
Reno ragu sesaat, tetapi harga dirinya sebagai kakak yang baru saja merasa perlu melindungi seseorang membuatnya tetap berdiri.
“Ya. Kalau punya bukti, tunjukkan.”
Ayla menunjuk sudut ruangan.
Semua orang menoleh.
Di rak buku kecil ada kamera mungil berwarna hitam. Hampir tidak terlihat.
Wajah Alina berubah.
Ratna membeku.
Reno menatap kamera itu, lalu menatap Ayla lagi. “Kamu memasang kamera di kamar?”
“Aku baru pulang ke rumah yang penuh aktris. Wajar aku butuh dokumentasi.”
Marwan menekan pelipis. “Ayla, ini rumah keluarga, bukan kantor investigasi.”
“Kalau begitu kenapa penghuninya suka membuat kasus?”
Ayla mengambil ponsel, membuka rekaman, lalu mengirim video ke grup keluarga yang baru saja dia buat sendiri. Anggotanya hanya Marwan, Ratna, Reno, Alina, dan Ayla.
Ponsel mereka berbunyi hampir bersamaan.
Di layar, terlihat jelas Alina masuk, membuka koper, dan hendak memasukkan kalung.
Tidak ada ruang untuk salah paham.
Tangis Alina berhenti seperti tombol dimatikan.
Ratna menatap layar dengan wajah pucat. “Alina...”
Alina gemetar. “Aku... aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya... aku panik. Aku takut Kak Ayla membenciku. Aku ingin membuatnya pergi, tapi aku tidak benar-benar ingin menyakitinya.”
Ayla tertawa pelan.
Reno memejamkan mata.
Marwan berdiri diam, rahangnya mengeras.
Ratna masih mencoba mencari penjelasan. “Kamu takut, Nak?”
“Ma, aku takut kehilangan kalian,” Alina terisak. “Sejak Kak Ayla datang, semua berubah. Aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri.”
Ayla mengangkat tangan. “Sebentar.”
Semua orang menatapnya.
“Kalimat itu bagus. Aku pinjam.”
Reno membuka mata dan menatap Ayla dengan ekspresi rumit.
Ayla berdiri, berjalan mendekati Alina.
Ratna spontan menarik Alina ke belakang.
“Aku tidak akan memukulnya,” kata Ayla. “Untuk malam ini.”
Alina semakin gemetar.
Ayla mengambil kalung dari tangan Alina. Berlian itu berat dan dingin.
“Empat tahun lalu kamu memakai gaun Mama. Malam ini kalung. Besok apa? Obat? Dokumen? Mayat?”
Alina menggeleng cepat. “Kak, jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa? Takut terdengar terlalu dekat?”
Marwan langsung menatap Ayla. “Apa maksudmu?”
Ayla memainkan kalung di jarinya.
“Yayasan.”
Wajah Alina berubah lagi, kali ini lebih halus. Kalau Ayla tidak memperhatikan, mungkin dia akan melewatkannya.
Marwan menangkap perubahan itu.
“Yayasan apa?”
Ayla menoleh pada ayahnya. “Tanya putri kesayangan Anda.”
Ratna tampak tersinggung. “Ayla, jangan membawa yayasan ke pertengkaran anak-anak.”
“Anak-anak?” Ayla tersenyum. “Umur kami sembilan belas. Kalau dia cukup dewasa untuk jadi wajah charity anak hilang, dia cukup dewasa untuk menjelaskan transaksi yayasan.”
Alina memucat. “Aku tidak tahu apa-apa.”
“Aku belum bilang transaksi apa.”
Ruangan kembali hening.
Reno menatap Alina. Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya tidak langsung membela.
Alina menyadarinya. Air mata kembali jatuh. “Kak Reno, kamu percaya aku, kan?”
Reno membuka mulut.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Ayla berjalan ke meja, meletakkan kalung berlian di atasnya.
“Aku lelah. Silakan lanjutkan drama ini di ruang lain.”
Ratna terlihat marah dan terluka sekaligus. “Kamu benar-benar tidak punya hati.”
Ayla menatap ibunya.
“Ibu menyimpan hati itu untuk Alina. Aku terbiasa tanpa bagian.”
Ratna terdiam.
Kalimat itu lebih tajam daripada bentakan.
Marwan akhirnya berkata, “Semua keluar. Besok pagi kita bicara.”
“Aku tidak bisa besok pagi,” kata Ayla.
Marwan menoleh. “Kenapa?”
“Aku harus ke kampus.”
Reno tampak bingung. “Kampus?”
Ayla mengambil jaket dari kursi.
“Ya. Aku daftar kuliah.”
Ratna seperti baru mendengar sesuatu yang absurd. “Kuliah? Di mana?”
“Universitas Naratama Jakarta. Desain animasi.”
Reno mengerutkan dahi. “Kamu?”
Ayla tersenyum.
“Kenapa? Wajahku terlalu kriminal untuk jadi mahasiswi?”
Tidak ada yang menjawab.
Ayla membuka pintu lebar-lebar.
“Selamat malam.”
Satu per satu mereka keluar. Alina paling akhir. Saat melewati Ayla, dia berhenti sebentar dan berbisik sangat pelan.
“Kamu puas?”
Ayla menatap lurus ke depan.
“Belum.”
Alina menggigil, lalu pergi.
Pintu tertutup.
Ayla kembali duduk di depan laptop. Rekaman tadi sudah tersimpan di tiga server berbeda. Dia tidak berniat langsung menghancurkan Alina. Belum.
Orang seperti Alina lebih menarik jika dibiarkan bergerak sedikit lebih lama.
Ponselnya kembali menyala.
Nomor tidak dikenal.
Ayla mengangkat.
Suara pria terdengar tenang, rendah, dan dingin.
“Ayla Prameswari?”
Ayla bersandar di kursi.
“Tergantung siapa yang bertanya.”
“Arga Wiratama. Saya perlu bicara tentang Berkas 531.”
Senyum Ayla perlahan hilang.
Jakarta ternyata memang tidak membuang waktu.