Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trio Detektif
Ruang Kerja Brigjen Victor Sihasale
"Titip dua anakku ya Pak Victor. Mereka benar-benar ingin jadi polisi apalagi setelah revolusi kemarin, semua lini dibersihkan. Jadi kita bisa percaya pada negara. Apalagi kabarnya, Alsaki Baskara mau maju jadi Presiden Konoha?" ucap Indrawan Santoso saat menghubungi Brigjen Victor.
"Sebenarnya Pak Saki tidak mau maju jadi presiden Konoha karena dua periode presiden ini sangat-sangat tegas hingga semua lini pun dibabat korupsinya. Kita memang banyak menghukum mati para koruptor hingga bisa dibilang hampir seratus ribu koruptor lenyap dari Konoha. Keluarganya dimasukkan daftar hitam dan di black list dalam kantor pemerintahan.
"Kita seperti kembali ke jaman orde baru yang soal PKI. Tapi saat itu pun korupsi semakin naik bukan?" ucap Indrawan Santoso.
"Memang sekarang korupsi bisa ditekan tapi semua tergantung pemimpinnya bukan?" timpal Brigjen Victor.
"Si kembar masuk Akpol pun juga tidak pakai uang macam-macam seperti dulu sampai harus jual sawah kasarannya. Mereka masuk juga dari kuliah dulu, sarjana hukum dan forensik dulu baru masuk pendidikan," senyum Indrawan.
"Maap Pak Indrawan, tadi saya tanya mereka kenapa masuk kepolisian dan jawabannya gabut. Padahal mereka anak-anak bapak," ujar Brigjen Victor.
"Mereka dari kecil memang suka main detektif apalagi dua-duanya indigo. Putra sulung saya, Christopher sudah saya plot menjadi penerus jadi dua adiknya bebas memilih kariernya. Christopher jiwa bisnisnya lebih tajam dibandingkan dua adiknya. Ngomong-ngomong, si kembar kemana?"
"Menangani kasus yang ditemukan putra saya," jawab Brigjen Victor.
***
Galeri Seni yang sudah tutup
AKP Rosita melihat ke dalam ruangan di sisi kiri dan Sheva di sisi kanan. Keduanya menyoroti dengan senter masing-masing.
"Sheva, itu bekas gelandangan tidur," ucap Abraham.
"Bukan bekas penjahat ya Brem?" tanya Sheva sambil mengigit senternya dan mengambil sarung tangan lateks dari dalam saku jaketnya.
"Bukan. Itu tempat tidur milik gelandangan," jawab Abraham.
Sheva menyorot dengan senternya lagi dan melihat ada bungkus bekas makanan yang sudah basi, gelas plastik minuman dan sampah lainnya. Dirinya terkejut saat melihat ada kondom.
"Astagaaa naga Dragon Ball, ini tempat apa?" bisiknya.
"Kamu tidak mau tahu," ujar Abraham.
AKP Rosita di sisi kiri juga menemukan banyak barang-barang disana tapi tidak menemukan hal-hal yang aneh.
"Tante Ros. Ada mayat!" lapor Kenzie di earpiece.
"Hah? Mayat? Dimana?" AKP Rosita menoleh ke Baby dan Tole yang ikut dengannya.
"Di halaman depan yang area semak-semak ilalang tinggi itu," sahut Iptu Cristiano.
"Apa itu mayat yang kemarin, Kenz?" tanya Sheva.
"Kurang tahu. Ini sudah mumifikasi."
Sheva tahu Kenzie sangat paham soal mayat karena Daisy sudah mengajari sejak kecil.
"Kita hubungi Mama kamu," ucap AKP Rosita.
"Nggak bisa Tante. Mama ke sekolah sama Papa," jawab Kenzie.
"Lho kenapa?"
"Elina nendang anunya Jay, anaknya Oom Tommy dan Tante Samira," jawab Kenzie.
AKP Rosita menepuk jidatnya. "Ya sudah, Tante hubungi Mamat saja. Biar dokter Ginanjar kemari. Tante hubungi tim gabut juga!"
***
PRC Hospital Jakarta
Dokter Lucky dan Daisy menatap tidak enak ke Tommy dan Samira. Elina hanya bisa menunduk karena merasa bersalah sudah menendang anak cowok yang seperti kakaknya sendiri.
"Maafkan Elina ya Tom. Dia bereaksi karena Jay tidak sengaja mencium pipinya," ucap dokter Lucky.
Tommy tersenyum maklum. "Tidak apa-apa. Wajar kan kalau Elina bereaksi karena memang diajari untuk melindungi dirinya. Kami juga paham kok."
"Kondisi Jay gimana?" tanya Daisy.
"Alhamdulillah aman. Memar sih tapi sudah dikompres dan dikasih obat anti nyeri. So far, tidak ada kerusakan yang gimana-gimana." Samira menoleh ke Elina yang tampak menangis. "Mas Jay nggak papa El. Kamu masuk saja. Ngomong sama Mas Jay."
"Maafin El ya Tante," isak Elina.
"Tidak apa-apa sayang." Samira berjongkok dan memeluk Elina.
Elina membalas pelukan Samira. Tommy tersenyum ke arah dokter Lucky dan Daisy.
"Kita besanan, gimana?" cengir pengusaha distributor luxury brand di Asia Pasifik.
Dokter Lucky mendelik. "Nope. El masih bayi!"
***
Galeri Seni yang sudah tutup
Mamat dan dokter Ginanjar, anak buah Daisy, datang bersamaan dengan datangnya tim gabut. Mereka tidak mengira jika ucapan trio detektif bukan besutan Alfred Hitchcock itu benar apanya.
"Oke, Jupiter Jones, Pete Crenshaw dan Bob Andrews, untuk kali ini Conrad mengaku salah," ucap AKP Ghafar.
"Oom, ente kagak minum kan? Soalnya kata Papa, Oom pernah tipsy dan asbun parah," kekeh Kenzie. "Oh kita itu Ayumi, Genta dan Mitsuhiko."
"Belum. Belum minum lagi," kekeh AKP Ghafar.
"Bilangin ke Tante Jules tar!" ancam Zane.
AKP Ghafar dan Jules sudah menikah begitu juga dengan AKP Samsudin dengan Patty. Sekarang Jules sedang hamil anak pertama padahal mereka tidak mau punya anak. Tapi rejeki, mereka pun menerima. AKP Samsudin, AKBP Fariz dan AKP Rosita memang sudah memutuskan child free jadi mereka semua santai saja kalau lembur.
"Jangan dong, bumil kalau ngambek horor!" rengek AKP Ghafar.
"Gimana itu Dok Ginanjar?" tanya Kombes Fariz.
"Ini sudah meninggal ada sekitar dua Minggu. Aku cukup yakin, jenazah ini dipindahkan dari tempatnya dibunuh," jawab dokter Ginanjar yang memutuskan mengambil forensik karena senang ada Daisy dan dokter Wayan di medical Examiner RS Bhayangkara.
"Jadi dia tidak mati di sini?" tanya AKBP Fariz.
"Tidak. Terlihat bagian bawah, atau punggungnya ada bekas kardus. Disini tidak ada kardus kan?" jawab dokter Ginanjar.
Kombes Fariz menoleh ke AKBP Teguh. "Menurutmu apakah SMP XXX tempat trio detektif itu kemarin tanding basket adalah TKP utamanya?"
"Bisa jadi," jawab AKBP Teguh. "Kita selidiki disana?"
"Alasannya apa?"
***
Ruang Rawat Inap Jay
Elina masuk dengan wajah takut dan tidak enak ke Jay yang sedang berbaring. Wajah ganteng remaja yang berusia tiga belas tahun itu tersenyum ke arah Elina.
"Masih ... Sakit Mas?" tanya Elina.
"Dikit. Ya ampun kamu itu kuat juga ya El," kekeh Jay.
"Maaf ...." Elina menunduk.
"El, nggak papa. Mas Jay malah bangga sama kamu karena bisa menjaga diri, membela diri," ucap Jay lembut.
"Tapi El sudah bikin Mas Jay sakit," bisik Elina sambil menatap Jay takut-takut. Mata hitam beningnya mulai berkaca-kaca.
"El, jangan trauma ya. Nggak papa kamu seperti itu karena kamu kaget dan sudah terdoktrin bela diri kamu. Kamu sudah tahu kelemahan cowok kan?" kekeh Jay.
"Maaf ...."
"El, ingat. Kalau ada pria lain yang nakal sama kamu, nggak papa kamu tendang anunya. Tapi jangan Mas Jay ya?" cengir Jay.
Elina tertawa kecil. "Iya!"
Visual Mereka Berdua
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛