Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Damon Terusir Dari Kontrakan
Damon terdiam membeku di depan Lady Liu, mendengar penjelasannya bahwa wanita itu tidak bisa membantu nya lagi.
Pemilik kontrakan telah menagih pada Lady Liu mengenai tunggakan-tunggakan para penghuni kontrakan yang telat bayar uang sewa.
Damon hanya menatap kosong, secarik kertas berisi tagihan kontrakan di tangannya lalu menghela nafas pasrah.
"Aku tidak punya uang buat membayar tagihan kontrakan untuk saat ini, tapi bisakah kau membantu ku sekali ini saja, Lady Liu." ucap Damon.
"Maafkan aku, Damon. Aku tidak bisa membantu mu lagi. Ini sudah setahun lebih, kamu tidak bayar tagihan sewa kontrakan. Dan aku dituntut oleh pemilik gedung untuk menyerahkan seluruh uang pembayaran kontrakan besok." sahut Lady Liu menahan nafas.
"Tapi aku benar-benar tidak punya uang sekarang ini. Bagaimana bisa aku membayarmu, Lady Liu?" sahut Damon.
"Yah, gampang, tinggal kau kasih aku uang maka lunas. Jika tidak bisa membayar, ya, silahkan pergi dari sini." kata Lady Liu dengan santainya sambil berkacak pinggang.
"Kemana aku harus pergi? " tanya Damon putus asa. "Aku masih ada tanggungan skripsi. Bagaimana aku bisa pergi, Lady Liu?"
"Mana aku tahu, kau harus pergi kemana. Bukan urusanku. Aku hanya bekerja menagih uang sewa kontrakan saja selain itu aku tidak ada urusan lagi dengan penghuni kontrakan." kata Lady Liu.
"Tolonglah. Beri aku waktu sekali ini saja. Biar aku cari uang dulu. Gajiku di Cafe belum dibayar kan. Bisakah kau tunggu gajiku keluar, Lady Liu." pinta Damon mengiba pasrah.
"Maafkan aku, Damon. Kau sudah terlalu lama nunggak kontrakan, hampir setahun lebih." kata Lady Liu. "Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya pada atasanku."
"Ayolah, Lady Liu. Tolonglah aku! Kumohon!" sahut Damon.
"Tidak bisa, Damon." sahut Lady Liu seraya menggeleng pelan. Ia menatap Damon dengan tatapan iba.
"Ya, Tuhan. Hanya bulan ini saja. Berilah aku kelonggaran, Lady Liu." pinta Damon.
Lady Liu menggeleng pelan, menahan nafas lalu tertunduk lesu.
"Maafkan aku, Damon. Tapi kurasa kau sebaiknya cari kontrakan lain daripada kau terbebani tinggal disini." kata Lady Liu.
Lady Liu mengedarkan pandangan matanya ke ruangan kontrakan di belakang Damon, matanya tertuju pada telur batu giok.
"Nah, kau punya barang berharga. Sepertinya itu bisa melunasi tunggakan kontrakanmu disini." ucapnya.
Lady Liu menunjuk ke arah telur batu giok yang menggelinding pelan di lantai ruangan kontrakan.
Damon menoleh ke arah lantai yang ditunjuk oleh Lady Liu.
"Apa?" tanya Damon seraya melirik ke arah telur baru gioknya.
"Kurasa benda berharga itu mampu melunasi tunggakan kontrakanmu setahun lebih disini, Damon." sahut Lady Liu.
"I-itu tidak bisa. Bukan barang berharga, cuma mainan saja. Benda itu juga bukan punyaku." kata Damon.
Damon menggelengkan kepala cepat, terlihat gugup sebab telur batu gioknya ditaksir Lady Liu.
"Jangan!" ucapnya lagi. "Jangan benda itu!"
"Kenapa jangan?" tanya Lady Liu berkacak pinggang. "Kau bisa memberikan benda berharga itu padaku sebagai uang sewa kontrakanmu, Damon."
"Ta-tapi... Itu tidak bernilai sama sekali. Hanya barang rongsokan. Tidak berharga bahkan tidak bisa dijual..." sahut Damon.
Damon menggoyangkan kedua tangannya ke depan, menolak permintaan Lady Liu untuk memberikan telur batu giok kepadanya.
"Kalau begitu aku tidak bisa membantumu, dan kau terpaksa harus pergi dari sini, Damon." kata Lady Liu.
Lady Liu mendorong paksa Damon keluar dari ruangan kontrakannya.
Damon bereaksi keras serta memberontak.
"Ti-tidak bisa begini caranya kau mengusirku dari sini, Lady Liu. Kita bisa bicarakan baik-baik semuanya." ucapnya.
"Oh, tidak bisa, Damon. Kau tidak bisa lagi tinggal disini. Sudah setahun lebih, kontrakanmu nunggak setahun lebih." sahut Lady Liu melangkah masuk.
"Tu-tunggu, Lady Liu!" ucap Damon. "Kumohon padamu, biarkan aku berpikir lagi. Tolonglah mengerti aku!"
"Tidak, Damon." sahut Lady Liu tegas. Ia menepiskan tangan Damon darinya saat ia masuk ke ruangan kontrakan Damon tinggal.
"Ta-tapi... Lady Liu... To-tolonglah aku..." kata Damon meminta pasrah.
"Ayolah, Damon. Jangan merengek seperti anak kecil. Kau seharusnya tahu ketentuan di sini bahwa telat bayar maka kau siap-siap diusir." kata Lady Liu.
"Kan aku sudah jelaskan padamu kalau aku kesulitan keuangan, tidakkah kau bisa pahami masalahku ini, Lady Liu." ucap Damon.
Damon mengejar Lady Liu ke dalam kontrakannya agar ia tidak jadi mengusirnya pergi. Namun tekad Lady Liu sangatlah kuat bahkan ia melempar barang-barang milik Damon.
"Bruk... Brak... Bruk..."
"Cepat kemasi barang-barangmu dari sini, kau tidak bisa lagi tinggal lebih lama di kontrakan ini, Damon !" perintah Lady Liu.
Lady Liu meraih tugas skripsi milik Damon, ia hendak membuangnya, dengan sigapnya, Damon merebut tugas skripsi miliknya dari tangan Lady Liu.
"Jangan sentuh yang ini !!!" bentak Damon yang mencoba menyelamatkan tugas skripsinya.
Lady Liu sempat terkejut kaget, ia tertegun sesaat lalu ganti membentak Damon.
"Hiyaaa... ! Jangan berteriak padaku !"
Damon ganti tertegun, ia tak menyangka akan mendapatkan respon sekeras itu dari Lady Liu.
"Pergi kau !" bentak Lady Liu lagi. "Cepat kemasi semua barangmu !"
"Ta-tapi..., Lady Liu..." sahut Damon pasrah.
"Kau pikir jika kau mahasiswa maka aku segan mengusirmu dari sini. Mana ada keledai dungu di bodohi dua kali !" teriak Lady Liu murka.
"Ka-kau bilang apa tadi ??? Keledai dungu ???" ucap Damon seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya.
Ganti Damon yang marah karena di sebut keledai dungu oleh Lady Liu.
"Yah, kau ibarat mahasiswa yang tidak tahu diri. Diberi kesempatan tinggal malah seenaknya saja, berani teriak kepadaku." kata Lady Liu sembari berkacak pinggang, dengan muka masam.
"Baik !" sahut Damon seraya mengangguk cepat. "Baik. Aku pergi dari kontrakan ini. Asal jangan pernah mencariku untuk kembali kesini lagi !"
"Yaaa !!!" teriak Lady Liu kesal.
"Oke ! Aku pergi sekarang !" sahut Damon.
"Lebih cepat lebih baik !" bentak Lady Liu dengan emosi tinggi.
Lady Liu menunjuk ke arah barang-barang milik Damon.
"Bawa semua sampah-sampah ini pergi dari sini ! Kami tidak butuh rongsokan tak berharga seperti ini di kontrakan !" usirnya.
Damon tidak membalas cacian-maki Lady Liu, ia hanya berkemas cepat tanpa menunggu lama lagi.
Semua barang miliknya langsung ia pindahkan ke kardus-kardus kosong lalu Damon mengeluarkannya satu persatu dari kamar kontrakannya. Ia letakkan semua barangnya yang tersimpan dalam kardus dengan tertata rapi di luar.
Tampak Lady Liu berdiri di depan kamar, tatapannya dingin menusuk tulang ke arah Damon.
"Jangan pernah kembali lagi !" pesan Lady Liu. Lantas ia menutup pintu dengan membantingnya kasar. "BRAK !"
Damon berdiri di tempatnya dengan tertegun saat ia memandang ke arah kamar kontrakannya yang terkunci rapat dari dalam.
Ia hanya bisa menahan nafas pelan seraya menunduk sedih. Rasanya remuk redam di dalam dada Damon saat ia diperlakukan tidak berharga seperti ini.
"Ya, ampun..." gumamnya seraya menggosok tengkuknya yang letih. "Mimpi apa aku semalam, bisa bernasib sesial ini ?!"
Damon menghela nafas kembali, ia menoleh ke arah semua kardus-kardus itu lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Ya... Ya... Ya... Baiklah. Aku menerimanya sebab ini juga salahku memilih kontrakan di area Qinghe. Tempat ini memang terkenal mahal sekali..." ucapnya letih.
Damon hanya bisa pasrah, sembari menepuk-nepuk pundaknya yang tegang sehabis bersitegang dengan Lady Liu tadi. Ia mendongak ke atas dengan sorot mata sayu lalu tersenyum pahit.
"Hufhhh..." helanya lelah kemudian mengangkat semua kardus-kardus itu dan segera pergi dari tempat itu.