NovelToon NovelToon
Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.

Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.

Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.

Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.

Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Seminggu kemudian.

Langit kota tampak mendung.

Evelyn yang baru keluar dari rumah sakit berdiri di depan gedung kejaksaan dengan wajah pucat dan tubuh yang masih lemah.

Tangannya menggenggam surat pemecatan yang sejak tadi terasa begitu berat.

Gedung itu…

Dulu adalah tempat yang paling ia banggakan.

Tempat ia menghabiskan siang dan malam demi menjadi seorang jaksa hebat.

Namun kini…

Ia datang sebagai seseorang yang dibuang.

Perlahan Evelyn melangkah masuk menuju ruangan atasannya.

Di dalam ruangan.

Seorang pria paruh baya duduk di balik meja sambil menghela napas berat saat melihat dirinya datang.

“Setidaknya berikan aku alasan yang masuk akal,” ucap Evelyn menahan emosi.

“Aku dipecat hanya karena ditinggalkan di hari pernikahan? Apakah ini adil bagiku?”

Pria itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Evelyn… keputusan ini datang dari pihak atas. Walaupun Damien memang bersalah… tapi namamu sekarang menjadi topik utama di seluruh negeri.”

Ia mendorong tablet di atas meja memperlihatkan berbagai berita dan komentar publik.

“Kau dianggap mempermalukan institusi kejaksaan. Banyak komentar menyebutmu sebagai ‘jaksa barang bekas’…”

Tangan Evelyn langsung mengepal kuat.

Matanya memerah menahan amarah dan rasa sakit.

“Barang bekas?” ulangnya lirih.

Lalu ia tertawa pahit.

“Lalu bagaimana dengan Damien Lu? Kenapa tidak ada satu pun orang yang menyalahkannya?!”

Suaranya mulai meninggi.

“Kenapa harus aku?!”

“Aku korban!”

“Aku yang ditinggalkan tanpa alasan!”

“Aku yang dihina seluruh negeri!”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Dan sekarang…”

“Aku juga dipecat secara tidak hormat?”

Tatapannya penuh luka dan kemarahan.

“Apakah kalian semua tidak punya perasaan?!”

Pria paruh baya itu terlihat tidak nyaman.

“Aku pribadi tidak setuju dengan keputusan ini…” ucapnya pelan. “Tapi banyak jaksa senior meminta agar kau dikeluarkan. Ini keputusan rapat dewan.”

Hati Evelyn terasa semakin hancur.

Ia tertawa kecil penuh ironi.

“Aku bekerja mati-matian untuk tempat ini… aku datang paling pagi dan pulang paling malam. Aku mempertaruhkan hidupku demi pekerjaanku.”

Tatapannya mulai kosong.

“Dan akhirnya apa yang aku dapat?”

“Dihujat…”

“Dipecat…”

“Dipermalukan…”

Ia perlahan menatap pria itu dengan mata merah.

“Apakah dunia ini masih adil?”

Ruangan itu langsung sunyi.

Tanpa menunggu jawaban, Evelyn berbalik dan berjalan keluar.

Saat pintu ruangan tertutup...

Bisikan dan tatapan langsung mengarah padanya.

“Itu Evelyn Shen…”

“Kasihan sekali…”

“Aku dengar dia bahkan keguguran.”

“Tapi tetap saja memalukan.”

“Damien Lu pasti meninggalkannya karena bosan.”

Setiap kata terdengar begitu menusuk.

Namun Evelyn terus berjalan seolah tidak mendengar.

Ia menuju mejanya sendiri.

Meja yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya bekerja.

Perlahan ia mengambil kardus kosong dan mulai memasukkan barang-barangnya satu per satu.

Tangannya berhenti saat melihat bingkai foto kecil di meja.

Foto dirinya bersama Damien.

Mata Evelyn langsung memerah.

“Evelyn…”

Amy datang menghampiri dengan wajah khawatir.

“Apa kau baik-baik saja?”

Evelyn menatap foto itu beberapa detik sebelum tersenyum pahit.

“Baik?” suaranya lirih.

“Mana mungkin aku baik…”

“Evelyn, kondisimu masih belum stabil,” ucap Amy dengan khawatir.

“Jangan terlalu emosional dulu. Bagaimana kalau kau istirahat sementara? Mungkin saja pihak atas akan berubah pikiran nanti.”

Namun Evelyn hanya diam.

Matanya menatap bingkai foto kecil di tangannya dengan sorot penuh luka.

Di dalam foto itu…

Dirinya dan Damien sedang tersenyum bahagia.

Foto yang dulu selalu ia jaga kini terasa begitu menyakitkan.

Perlahan tangan Evelyn gemetar.

Lalu—

Brak.

Ia membuang bingkai foto itu ke dalam tong sampah.

Bahkan gantungan kunci kecil bergambar dirinya dan Damien ikut dilemparkan.

Amy langsung terkejut.

“Evelyn!”

Wanita itu menatap tong sampah beberapa detik sebelum tersenyum pahit.

“Karena dia sudah pergi…” ucapnya lirih.

“Tidak ada gunanya lagi aku menyimpan barang-barang itu.”

Hatinya terasa sesak.

Delapan tahun cinta…

Kini hanya tersisa rasa sakit dan penghinaan.

Namun di saat itu...

Beberapa rekan kerja yang berdiri tidak jauh mulai berbisik sinis.

“Bukankah mereka dulu pasangan paling dikagumi?”

“Siapa sangka Damien Lu malah pergi begitu saja.”

Salah satu wanita tertawa kecil sambil menyilangkan tangan.

“Mungkin Damien bosan dengannya dan menemukan wanita yang lebih cantik.”

Kalimat itu membuat suasana langsung hening.

Amy langsung menatap mereka marah.

“Hei! Apa kalian tidak bisa diam?!”

Namun Evelyn justru mengangkat tangannya pelan menghentikan Amy.

Perlahan ia menoleh menatap para rekan kerjanya.

Matanya merah… tetapi tatapannya dingin.

“Kalian semua lulusan hukum, bukan?” tanyanya pelan. “Bukankah tugas seorang jaksa adalah menegakkan keadilan?”

Suasana kantor langsung sunyi.

Evelyn tersenyum tipis penuh ironi.

“Tapi sekarang… kalian justru sibuk menghina seseorang yang bahkan tidak melakukan kejahatan.”

Setelah selesai berkemas, Evelyn mengangkat kardus berisi barang-barangnya dengan tangan lemah.

Tatapannya kosong.

Langkahnya perlahan berjalan meninggalkan ruang kejaksaan yang selama ini menjadi tempat hidupnya.

Namun sepanjang perjalanan menuju pintu utama…

Tatapan sinis dan bisikan ejekan terus mengikutinya.

“Cantik pun percuma kalau akhirnya ditinggalkan.”

“Delapan tahun bersama, pria mana yang tidak bosan?”

“Damien Lu setampan itu, mana mungkin puas hanya dengan satu wanita.”

Tawa kecil terdengar di sudut ruangan.

“Kalau jadi dia, aku mungkin sudah bunuh diri karena malu.”

Setiap kata itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Evelyn tanpa henti.

Namun wanita itu terus berjalan.

Tidak membantah.

Tidak menangis.

Karena ia sudah terlalu lelah.

Pintu utama gedung kejaksaan akhirnya tertutup di belakangnya.

Dan di saat itu pula…

Evelyn Shen benar-benar kehilangan segalanya.

Beberapa jam kemudian.

Malam turun bersama hujan deras yang mengguyur ibu kota.

Jalanan kota terlihat dingin dan sepi.

Evelyn berjalan sendirian di tengah hujan tanpa payung.

Tubuhnya yang masih lemah akibat keguguran mulai gemetar kedinginan.

Rambut panjangnya basah menempel di wajah pucatnya.

Namun rasa sakit di tubuhnya masih kalah dibanding luka di hatinya.

Suara hinaan orang-orang terus terngiang di dalam kepalanya.

“Barang bekas…”

“Wanita buangan…”

“Ditinggalkan pria…”

Langkah Evelyn perlahan melemah.

Air hujan bercampur dengan air matanya.

“Damien Lu…” gumamnya lirih dengan suara bergetar.

“Apa kau sadar… kau sudah menghancurkanku?”

Tangannya perlahan mengepal kuat.

“Anakku sudah tidak ada…”

“Aku diusir dari keluargaku karena dianggap memalukan…”

“Aku dipecat secara tidak hormat…”

“Semua orang menghina dan menginjak harga diriku…”

“Aku kehilangan segalanya…”

Tatapannya kosong menembus hujan malam.

“Sedangkan kau… pergi begitu saja…”

Tubuh Evelyn akhirnya kehilangan tenaga.

Bruk.

Wanita itu tersungkur jatuh di tengah hujan deras.

Kardus berisi barang-barangnya ikut terjatuh dan berserakan di jalan.

Dokumen, dan barang pribadinya basah terkena hujan.

Namun Evelyn sudah tidak peduli lagi.

Tubuhnya gemetar hebat.

Wajahnya pucat.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia merasa hidupnya benar-benar telah berakhir.

Di saat itulah…

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki perlahan mendekatinya.

Evelyn yang setengah sadar melihat sepasang sepatu hitam berhenti tepat di depannya.

Seorang pria berdiri di bawah payung hitam.

Tubuhnya tinggi dengan aura dingin dan tenang.

Perlahan pria itu membungkuk lalu mengulurkan tangannya ke arah Evelyn.

“Sudah waktunya kau bangkit, Jaksa Shen.”

Suara pria itu terdengar rendah dan tulus.

Evelyn perlahan mendongak.

Matanya yang basah oleh hujan dan air mata menatap wajah pria asing itu.

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
wow thor bacanya sambil tahan nafas
Kinara Widya
lanjut kak
Umi Kolifah
apakah Evelyn sebenarnya bukan anak Ronald tapi anak steve
lin sya
koq saling cinta tp saling bnci, tdk saling trbuka dan tdk saling prcya satu sama lain, tp diprtemukan lgi dlm satu krjaan, damien butuh extra keras kalo mau luluhin evelyn, ibaratnya kalo sudah trluka dan membekas akan sulit lgi prcaya
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
penasaran memang thor knp smpe Damien pergi disaat-saat peristiwa penting
Dian Fitriana
update
kitty ❤
lanjut Thor 🔥
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aq setuju sama Evelyn ngpn bantu eve
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
double update ya thor🫶
Rini Yusnani
rasa rasanya pingin kirim santet ke damian
Rini Yusnani
bertemu gundul mu itu👊
Rini Yusnani
sok peduli lu damian,ganti aja namamu jadi siluman jijik liat kamu dah buat evelyn sampai depresi😠
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
Anonim
Harus tunggu 2-3 hari baru up 1 bab dan ternyata pendek😃
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
masih penasaran thor kenapa Lu pergi disaat mau nikah
Kinara Widya
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!