NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Tanpa Nyawa

​Suara bantingan pintu mobil yang sangat keras menggema di garasi rumah mewah keluarga Wijaya. Rendra keluar dengan napas memburu, wajahnya yang biasanya tertata rapi kini tampak kuyu dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. Pikirannya masih kacau balau setelah diusir layaknya pengemis di kantor Elang Danuarta oleh wanita yang selama lima tahun ini ia anggap sebagai pelayan tanpa suara.

​"Rania ... awas kamu!" geramnya rendah. Ia masih tidak percaya bahwa istrinya yang penurut itu bisa berubah menjadi monster yang sangat dingin dalam satu malam.

​Saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, pemandangan yang menyambutnya justru menambah kemarahannya berkali-kali lipat. Ruang tamu yang biasanya selalu harum aromaterapi dan tertata rapi, kini tampak berantakan. Sepatu Tyas berserakan di dekat sofa, dan ada sisa tumpahan kopi yang mengering di karpet mahal mereka—hasil dari Ibu Ratna yang mencoba membuat kopi sendiri dan gagal.

​"Rendra! Akhirnya kamu pulang!" Ibu Ratna berlari dari arah dapur, wajahnya merah padam karena amarah. "Lihat ini! Lihat!" Ia menunjuk ke arah ponselnya. "Kartu kredit Ibu tidak bisa dipakai! Tyas juga menangis di kamar karena dipermalukan di butik. Kenapa kamu membiarkan istrimu yang tidak tahu diri itu mengacaukan keuangan kita?!"

​Rendra melempar tas kerjanya ke sofa dengan kasar. "Ibu pikir aku diam saja?! Rania sudah gila! Dia memblokir semua akses sistem di kantor dan sekarang dia bekerja untuk Elang Danuarta!"

​"Apa?!" Ibu Ratna membelalak, tangannya gemetar menahan emosi. "Wanita yatim piatu itu ... bekerja untuk Elang? Beraninya dia! Pasti dia menjual diri pada pria itu agar bisa membalas kita! Sudah Ibu bilang sejak dulu, dia itu pembawa sial!"

​"Sudah, Bu! Berhenti bicara!" bentak Rendra, membuat Ibu Ratna terlonjak kaget. Selama ini Rendra selalu memanjakan ibunya, tapi tekanan kehilangan proyek miliaran rupiah membuat kesabarannya habis. "Kalau Ibu tidak terlalu banyak menuntut dan memecat asisten rumah tangga sembarangan, mungkin rumah ini tidak akan sekacau ini!"

​"Oh, jadi sekarang kamu menyalahkan Ibu?" Suara Ibu Ratna meninggi, oktafnya melengking menyakitkan telinga. "Ibu melakukan itu demi penghematan supaya kamu bisa beli mobil baru dan Tyas bisa kuliah di luar negeri! Ibu ini orang tuamu, Rendra! Jangan kurang ajar!"

​Di tengah perdebatan itu, Tyas turun dari tangga dengan mata sembab. "Mas Rendra! Aku tidak mau tahu! Besok aku ada pesta ulang tahun temanku, aku butuh uang sepuluh juta sekarang juga! Aku sudah terlanjur janji mau traktir mereka karena aku bilang kakakku itu CEO sukses!"

​Rendra menatap adiknya dengan tatapan muak. "Sepuluh juta? Tyas, dengerin! Perusahaan Mas sedang di ujung tanduk karena Rania mengunci semua data penting! Mas bahkan tidak tahu apakah bulan depan kita masih bisa tinggal di rumah ini atau tidak!"

​Rumah itu seketika hening. Keheningan yang mencekam sebelum badai besar melanda. Tyas dan Ibu Ratna membeku, menyadari bahwa sumber kemewahan mereka benar-benar dalam ancaman nyata.

​"Mas ... Mas bercanda, kan?" suara Tyas bergetar. "Mas punya simpanan banyak, kan? Mas kan hebat..."

​"Hebat apanya?!" Rendra tertawa getir, ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Selama ini yang mengurus semua strategi, pajak, dan laporan keuangan itu Rania! Aku hanya tinggal tanda tangan dan terima beres! Sekarang dia pergi, dan aku baru sadar kalau aku tidak tahu apa-apa tentang detail kantorku sendiri!"

​Tepat saat itu, bel rumah berbunyi dengan nada yang tegas.

​Rendra berharap itu adalah Rania yang datang untuk meminta maaf. Namun, saat ia membuka pintu, yang berdiri di sana adalah dua orang pria berseragam rapi dengan tas jinjing berisi dokumen resmi.

​"Selamat sore, Tuan Rendra Wijaya. Kami dari pihak manajemen asuransi dan kepemilikan aset yang dikelola oleh konsultan Rania," ucap salah satu pria itu dengan nada datar yang formal.

​"Mau apa kalian?" tanya Rendra, jantungnya mulai berdegup kencang secara tidak teratur.

​"Kami datang untuk menyampaikan surat pemberitahuan. Mengingat sebagian besar aset rumah ini, termasuk furnitur kelas satu dan kendaraan atas nama perusahaan yang dicadangkan atas nama Nyonya Rania, sedang dalam proses peninjauan kembali. Karena Nyonya Rania telah mengajukan pemutusan tanggung jawab finansial sepihak, maka fasilitas listrik dan internet premium di rumah ini akan diputus dalam dua jam ke depan karena tagihannya tidak lagi dibayar oleh akun pusat beliau."

​"Apa?!" Ibu Ratna menjerit dari belakang Rendra. "Kalian tidak bisa melakukan itu! Ini rumah anakku!"

​"Benar, Nyonya. Rumah ini atas nama Tuan Rendra, namun seluruh sistem operasional dan fasilitas di dalamnya dibayar melalui akun pribadi Nyonya Rania sebagai pengelola rumah tangga. Karena beliau sudah mencabut akses tersebut, maka penyedia layanan akan menghentikan fasilitas secara otomatis kecuali Tuan Rendra membayar deposit tunai sebesar seratus juta rupiah sore ini juga sebagai jaminan baru."

​Seratus juta? Rendra tahu saldo pribadinya saat ini sedang menipis karena baru saja ia gunakan untuk membelikan Gisela perhiasan berlian sebagai perayaan kenaikan jabatan yang ternyata sekarang justru menjadi awal kehancurannya.

​"Pergi kalian dari sini!" usir Rendra sambil membanting pintu.

​Ia bersandar di balik pintu, napasnya tersengal-sengal. Ia baru sadar betapa licin dan cerdasnya cara Rania membalas dendam. Rania tidak mematikan listriknya secara ilegal, dia hanya berhenti membayar tagihan yang selama ini dia tanggung tanpa pernah Rendra sadari. Rania membiarkan hukum alam bekerja: tidak ada uang, tidak ada fasilitas.

​"Rendra ... bagaimana ini? Panas sekali kalau tidak ada AC, Ibu bisa mati!" keluh Ibu Ratna sambil mengipasi dirinya dengan tangan.

​"Diam, Bu! Diam!" Rendra berteriak frustrasi.

​Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gisela. Ia butuh dukungan, ia butuh seseorang yang bisa memberinya solusi.

​"Halo, Sayang ... aku sedang ada masalah besar," ucap Rendra saat telepon diangkat. "Bisakah aku meminjam uang perusahaanmu dulu? Hanya untuk sementara sampai aku bisa membuka file dari Rania."

​Di seberang telepon, suara Gisela terdengar jauh berbeda. Tidak ada lagi nada manja atau tawa menggoda.

​"Pinjam uang? Rendra, kamu sadar tidak apa yang kamu bicarakan? Perusahaanmu baru saja mendapatkan citra buruk karena gagal presentasi di depan Danuarta Group. Direkturku sangat marah. Dia bilang hubungan kita justru merugikan citra kantor. Jadi, untuk sementara waktu, sebaiknya kita tidak usah bertemu dulu ya."

​"Gisela? Tapi kamu bilang kamu mencintaiku! Kamu bilang aku jauh lebih hebat dari istriku yang kuno itu!"

​"Cinta? Rendra, cinta itu butuh biaya. Dan sekarang kamu sedang jatuh miskin. Untuk apa aku bertahan dengan pria yang bahkan tidak bisa mengamankan datanya sendiri? Bye, Rendra."

​Tut... tut... tut...

​Sambungan terputus. Rendra menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Ia baru saja kehilangan segalanya dalam waktu kurang dari dua belas jam. Istrinya pergi, hartanya terancam, dan selingkuhannya mencampakkannya seperti sampah.

​Sementara itu, di sebuah apartemen mewah milik Danuarta Group, Rania sedang duduk di balkon sambil menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap. Di tangannya ada segelas teh hangat. Abid sudah tidur di kamar sebelah, dalam perawatan suster pribadi yang disiapkan Elang.

​Rania merasa dadanya terasa ringan. Tidak ada beban, tidak ada rasa takut. Ia tahu bahwa saat ini, di rumah Wijaya, AC pasti sudah mati, lampu-lampu mulai padam, dan Ibu Ratna serta Tyas pasti sedang saling menyalahkan dalam kegelapan.

​"Ini baru pemanasan, Rendra," bisik Rania pada angin malam. "Kamu pikir kehilangan fasilitas itu sakit? Tunggu sampai kamu melihat bagaimana aku mengambil satu-satunya hal yang paling kamu banggakan: Harga dirimu."

​Elang berjalan mendekat ke balkon, berdiri di samping Rania tanpa menyentuhnya, tapi kehadirannya memberikan kekuatan yang sangat besar. "Aku sudah mengirimkan surat gugatan cerai ke rumahnya. Kurir akan sampai besok pagi."

​Rania tersenyum tipis. "Terima kasih, Elang. Aku ingin dia membaca surat itu saat dia sedang kehausan karena dispenser air di rumahnya juga mati."

​Elang terkekeh, suara tawa rendah yang terdengar sangat maskulin. "Kamu jauh lebih kejam dari yang aku bayangkan, Rania. Dan aku suka itu."

​"Aku tidak kejam, Elang," sahut Rania sambil menoleh pada pria itu, matanya berkilat tajam di bawah sinar bulan. "Aku hanya sedang memberikan kursus singkat tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang tidak dihargai. Dan sayangnya bagi Rendra ... biaya kursus ini adalah seluruh hidupnya."

​Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Rania tidur dengan nyenyak. Tanpa perlu memikirkan menu sarapan untuk mertua yang tidak tahu terima kasih, dan tanpa perlu merapikan dasi untuk suami yang mengkhianatinya.

1
Himna Mohamad
kereeeen 👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!