NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Sebuah Nama

Ruangan beraroma kayu cendana dan buku tua itu selalu menjadi tempat ayahnya mengambil keputusan besar. Kini, ibunya duduk di balik meja kerja kayu mahoni. Tumpukan map tebal berserakan. Rini Kesuma memijat pelipisnya pelan, terlihat pucat dan lelah.

"Duduk sini deh, Nay." Rini menepuk kursi berlapis kulit di seberang meja.

Shanaya melangkah masuk. Ia menarik kursi dan duduk tegak. Matanya langsung menangkap sebuah map biru berlogo Kesuma Group di atas meja. Instingnya menyala. Di kehidupan lalu, map biru itulah yang menjadi awal mula kehancuran divisi fashion keluarganya.

"Ada apa, Ma?"

Rini bersandar ke kursinya. "Alvian tadi pagi telepon Mama. Dia mengajukan proposal buat ambil alih peluncuran koleksi musim gugur Kesuma Mode bulan depan."

Otot leher Shanaya menegang. Alvian selalu seperti itu. Satu langkah lebih cepat.

"Katanya dia mau ringankan beban kamu," lanjut Rini sambil tersenyum tipis. "Biar kamu nggak stres mikirin kerjaan pas lagi sibuk urus persiapan pernikahan. Dia juga bawa ide efisiensi anggaran yang lumayan menjanjikan."

Shanaya mengulurkan tangan, menarik map biru itu perlahan. Ia tidak langsung membaliknya. "Efisiensi berapa persen, Ma?"

"Tiga puluh persen," jawab Rini lega. "Margin kita bisa naik tajam kuartal ini."

Shanaya membuka halaman rincian produksi. Jarinya menelusuri deretan angka, lalu berhenti di satu baris nama vendor tekstil.

"Ma," panggil Shanaya pelan. "Sutra kelas satu yang biasa kita pakai... harganya bisa turun tiga puluh persen nggak kalau belinya dalam partai besar?"

Rini mengerutkan kening. "Paling mentok sepuluh persen. Kenapa?"

Shanaya menggeser map itu ke hadapan ibunya. "Lalu gimana caranya PT Cahaya Gemilang ini bisa kasih potongan harga sampai tiga puluh persen?"

Rini menatap deretan nama di kertas itu, mulai ragu. "Kata Alvian mereka punya jalur distribusi baru dari luar negeri yang potong biaya cukai."

Shanaya tersenyum dingin. "Pabrik ini baru berdiri empat bulan lalu, Ma. Nggak ada jejak digital. Nggak ada portofolio klien."

Rini menegakkan punggungnya. "Maksud kamu?"

"Bukan jalur distribusi yang dipotong, Ma." Shanaya menatap ibunya lekat-lekat, membiarkan kenyataan itu meresap pelan-pelan. "Bahan dasarnya yang diganti. Itu bukan sutra asli. Mereka pakai campuran sintetis murahan."

Keheningan jatuh di ruang kerja itu. Mata Rini membesar.

Bahan sintetis murahan. Di kehidupan lalu, fakta ini meledak saat ribuan pelanggan VIP menuntut Kesuma Mode karena alergi kulit parah. Alvian cuci tangan dan menyalahkan kepala produksi, sementara uang selisih dari pemalsuan kain itu masuk utuh ke rekening pria itu untuk bayar utang judi.

"Alvian mungkin pintar bikin grafik untung rugi, Ma," ucap Shanaya tajam. "Tapi kalau koleksi ulang tahun Kesuma rilis pakai kain kodian, reputasi sepuluh tahun yang Ayah bangun bakal hancur dalam semalam."

Tangan Rini sedikit gemetar saat menutup map biru itu. "Mama... Mama hampir tanda tangan persetujuannya siang ini." Wanita itu mengusap wajahnya kasar. "Koleksi ini harus rilis bulan depan, Nay. Mama kewalahan kalau harus sortir ulang semua vendor sendirian."

"Biar aku yang pegang." Shanaya mencondongkan tubuhnya. "Beri aku waktu dua bulan. Aku yang pimpin desain dan produksinya."

Rini langsung menggeleng. Wajahnya menegas. "Nggak bisa, Shanaya. Ini bukan tugas kampus yang bisa diremidi kalau nilainya jelek. Risiko proyek ini belasan miliar. Kamu belum pernah pegang kendali produksi skala besar."

"Aku tahu."

"Mama nggak bisa serahkan nama perusahaan buat tempat kamu uji coba," tolak Rini keras. "Pernikahanmu sebentar lagi. Fokus saja ke sana."

Shanaya berdiri. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja kayu, mengunci tatapan ibunya tanpa gentar sedikit pun.

"Kalau aku gagal, aku mundur dari perusahaan," desis Shanaya. "Aku serahkan seluruh kepemilikan saham utamaku ke Mama. Bebas kalian kasih ke siapa saja. Tapi selama aku masih hidup, aku nggak akan biarkan pria yang nggak paham fashion menyentuh divisi andalan Ayah."

Rini tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. Wanita itu menatap putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada keraguan di mata gadis itu. Tidak ada jejak anak manja yang biasa merengek minta dibelikan tas baru. Otoritas murni menguar dari postur tubuhnya.

Suasana terasa berat. Rini menatap map biru itu lama, lalu menghela napas panjang.

"Mama kasih waktu satu minggu," putus Rini akhirnya. "Buat draf desain awal dan rancangan vendor yang benar. Kalau dalam seminggu kamu nggak bisa yakinkan dewan direksi, proposal Alvian yang maju."

Sudut bibir Shanaya tertarik. "Deal."

Ia berjalan memutari meja besar itu dan memeluk ibunya. Rini membalas pelukan itu ragu-ragu, menepuk punggung putrinya pelan. Aroma melati dari parfum sang ibu memenuhi paru-paru Shanaya. Hangat. Bernapas.

Ingatan tentang bau obat antiseptik di ruang ICU dan suara nyaring monitor detak jantung kembali menghantam kepalanya.

Ada nyeri tipis yang menusuk nuraninya. Jalan ini akan menghancurkan warisan bersih ayahnya. Ia memejamkan mata, membiarkan nyeri itu menguap digantikan oleh tekad yang membeku.

Biar tanganku yang berlumuran darah kali ini.

Satu jam kemudian, Shanaya sudah mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.

Lampu kamar diredupkan. Ia duduk di depan meja belajar, memegang sebuah tablet kerja. Ia tidak boleh membuang waktu. Menolak proposal Alvian berarti menyatakan perang terbuka. Pria itu pasti akan mencari cara lain menjatuhkan namanya di depan dewan direksi.

Ia harus menancapkan jarumnya lebih dulu sebelum lawan menarik benang.

Shanaya membuka aplikasi catatan kosong. Ia membiarkan kursor berkedip beberapa detik, mengumpulkan kebencian paling murni dari dasar ingatannya, sebelum ujung jarinya menekan layar dengan keras.

Bramantyo. Direktur kredit sebuah bank swasta. Memori busuk langsung berkelebat. Pria buncit itu tertawa terbahak-bahak sambil memegang cerutu di sidang kebangkrutan perusahaannya. Bramantyo adalah orang yang menyetujui kredit fiktif Alvian. Jutaan dolar cair hanya untuk menutupi utang judi Alvian di Makau. Ini adalah bom waktu yang akan ia simpan untuk meledakkan Alvian dari dalam.

Tiga nama berikutnya diketik cepat.

Dina. Rara. Kevin.

Tiga jurnalis media gaya hidup dengan pengaruh terbesar. Di masa lalu, tulisan merekalah yang menggiring opini publik, memaksa Shanaya mengunci diri di apartemen kumuhnya sementara kilatan blitz terus memburu di lobi bawah.

Kali ini, ia sendiri yang akan menyematkan jarum berbalut sutra pada gaun yang akan mereka kenakan.

Shanaya meletakkan tabletnya. Ia menarik buku sketsanya mendekat. Pensil di tangannya bergerak cepat dan presisi. Garis-garis tegas membentuk sebuah gaun sutra asimetris dengan detail bordir rumit. Desain ini murni karyanya, mahakarya yang ia siapkan untuk koleksi musim gugur nanti.

Ia sengaja meletakkan buku sketsa itu terbuka lebar di atas meja belajar. Posisinya pas menghadap celah pintu.

Anastasia tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak menyusup ke kamarnya diam-diam. Sepupunya itu pasti akan memotret sketsa ini, membocorkannya ke Dina, dan mulai membangun narasi plagiarisme.

Bagus. Biarkan Anastasia merayakan kemenangan semunya. Semakin tinggi gadis itu melompat, semakin hancur tulang kakinya saat menabrak tanah.

Napas Shanaya beraturan. Peta permainannya mulai terbentuk jelas. Namun, matanya tertuju pada bagian kosong di layar.

Ada satu pria yang di kehidupan lalu seharusnya bisa menyelamatkannya dari ambang kehancuran hanya dengan menjentikkan jari.

Pria yang tak segan memotong leher siapa pun di siaran langsung nasional jika ia mencium kebohongan, tapi menyentuhnya sekarang sama dengan bermain api di kilang minyak.

Steven Aditya.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!