"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAPA ARKA SUDAH PULANG
Dua puluh menit kemudian, Alana keluar dari kamar dengan pakaian rumah yang sederhana namun rapi. Ia berjalan menuju dapur, langkahnya sedikit lebih ringan. Ia tahu, bagi orang seperti Samudera, pagi hari tanpa kopi adalah sesuatu yang mustahil.
Alana mengeluarkan biji kopi pilihan yang biasanya ia simpan untuk tamu istimewa. Ia mulai menggilingnya perlahan, lalu menyeduh kopi hitam itu dengan ketelitian yang terukur. Aroma kopi yang kuat dan menenangkan perlahan memenuhi seluruh sudut dapur.
Sambil menunggu kopinya siap, ia menyiapkan sepotong kue cokelat yang tadi malam ia buat sebagai camilan pendamping. Ia menata semuanya di atas nampan kecil dengan sangat apik.
Begitu kopi sudah siap dan mengepulkan uap hangat, Alana membawa nampan itu keluar menuju ruang tengah. Samudera terlihat sedang duduk di lantai karpet, memandu Arka menyusun potongan lego yang cukup rumit. Pemandangan itu begitu kontras; seorang CEO yang terbiasa menandatangani kontrak miliaran rupiah, kini tampak begitu serius membantu bocah empat tahun menyambungkan balok plastik berwarna-warni.
Alana melangkah mendekat, lalu meletakkan nampan kopi itu di meja kecil di samping mereka.
"Ini kopi untukmu," ucap Alana pelan, mencoba terdengar biasa saja.
Samudera mendongak. Matanya menatap nampan itu, lalu berpindah ke wajah Alana dengan sorot yang dalam. Ia melepaskan pegangannya dari mainan Arka, lalu berdiri perlahan untuk meraih cangkir kopi tersebut.
"Terima kasih, Alana," ucap Samudera, suaranya rendah dan sarat akan apresiasi. Ia menyesap kopi itu pelan, matanya tidak lepas dari sosok Alana yang kini berdiri canggung di hadapannya. "Kopinya... persis seperti yang dulu sering kamu buat untukku."
Alana hanya terdiam, merasa canggung diingatkan akan masa lalu. Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan mainan yang berserakan.
Tepat pukul 07.50, layar laptop di meja ruang tamu sudah menyala menampilkan ruang tunggu aplikasi pertemuan daring. Arkana duduk di tengah dengan tegak, mengenakan seragam olahraga TK-nya yang berwarna kuning cerah. Wajah bocah itu tampak sangat bersih dan segar, memancarkan binar semangat yang belum pernah Alana lihat sebelumnya.
Alana mengambil posisi duduk di sebelah kiri Arkana, sementara Samudera duduk di sebelah kanan. Kehadiran Samudera yang bertubuh jangkung dan tegap di sisi kanan meja membuat ruang tamu kecil itu mendadak terasa penuh.
"Arka sudah siap?" tanya Samudera pelan, tangan besarnya mengusap bahu kecil sang putra, memberikan suntikan rasa percaya diri.
"Siap, Papa!" jawab Arka lantang tanpa ragu.
Tepat pukul delapan, admin kelas menyetujui akun mereka untuk bergabung. Layar laptop seketika dipenuhi oleh kotak-kotak video kecil yang menampilkan wajah teman-teman sekelas Arka dan sang guru, Ibu Ira.
"Selamat pagi, anak-anak hebat! Wah, semuanya sudah rapi ya hari Senin ini," sapa Ibu Ira dengan suara ceria yang khas. "Eh, hari ini ada yang spesial ya di layar Arkana? Ada siapa itu di sebelah kiri dan kanannya Arka?"
Pertanyaan dari Ibu Ira membuat beberapa wali murid yang mendampingi anak-anak mereka ikut menoleh ke arah kotak video milik Arkana. Alana sempat merasa gugup dan meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Namun, sebelum rasa canggung itu menguasai Alana, Arka sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya ke arah kamera laptop dengan senyum paling lebar yang pernah ia miliki.
"Pagi, Ibu Guru! Pagi, teman-teman!" seru Arka dengan nada sangat bangga, jemari mungilnya menunjuk ke arah kanan. "Ini Papa Arka! Namanya Papa Samudera. Papa Arka sudah pulang!"
Mendengar pengakuan polos dan penuh kebanggaan dari mulut putranya, dada Samudera bergemuruh hebat. Ada rasa haru yang luar biasa yang mendadak menyumbat tenggorokannya. Ia menatap ke arah kamera, lalu mengangguk hormat dengan senyum hangat yang berwibawa.
"Selamat pagi, Ibu Ira dan teman-teman Arkana. Saya Samudera, ayahnya Arkana," ucap Samudera dengan suara baritonnya yang mantap dan berkelas.
Alana yang duduk di sisi kiri hanya bisa tertegun melihat momen itu. Ketakutan yang selama ini menghantuinya tentang bagaimana Arka akan menghadapi pertanyaan orang-orang tentang sosok ayahnya, menguap begitu saja pagi ini. Di kiri dan kanan Arkana sekarang, benteng pelindungnya sudah utuh.