NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4-Crazy Boys

Sambil menunggu bel masuk berbunyi, suasana di dalam kelas masih cukup riuh. Elara dan Keisha duduk berdekatan, kepala mereka saling mendekat, berbisik-bisik layaknya dua sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.

"Nah El, biar kamu nggak kaget atau salah langkah nantinya, aku bakal kasih tahu kamu apa aja sih aturan main di kelas ini," bisik Keisha serius sambil membetulkan posisi duduknya.

Elara mengerutkan kening bingung, lalu bertanya pelan, "Emang ada aturan khususnya? Bukannya sama kayak kelas lain ya? Datang tepat waktu, pakai seragam rapi, gitu-gitu?"

"Iya sih sebenernya umumnya sama," jawab Keisha sambil mengangguk. "Tapi ada satu hal yang paling penting banget dan wajib banget kamu inget. Di sini, kita harus hormat dan jangan pernah melawan Valerie sama gengnya."

Keisha pun menggerakkan dagunya, menunjuk samar ke arah bangku paling depan di mana Valerie, Selena, dan Clarissa sedang asyik bercermin dan bergosip.

Elara menatap ke arah sana, lalu kembali menatap Keisha dengan wajah penasaran. "Kenapa sih kita harus nurut dan hormat banget sama dia? apa dia ketua osis?"

"Bukan ketua OSIS dong, tapi kekuasaannya lebih dari itu!" jawab Keisha cepat. "Dia itu Valerie Halim. Anak tunggal keluarga Halim, konglomerat paling kaya di kota ini. Dan yang paling penting... Papanya itu pemilik saham terbesar di sekolah ini! Jadi bisa dibilang, sekolah ini itu 'milik' mereka."

Elara terbelalak sedikit mendengarnya. "Oh... jadi dia berkuasa banget ya karena jabatan Papanya?"

"Banget!" tegas Keisha. "Dia bisa bikin siapa aja keluar dari sekolah ini kalau dia mau. Jadi pesan aku sama kamu El, jangan sekali-kali kamu bikin masalah atau berantem sama dia. Kalau sampai kamu salah sedikit aja, habis kamu dibully sama mereka. Mereka itu kejam, apalagi sama orang yang mereka anggap saingan atau orang yang nggak punya uang."

Elara mengangguk perlahan, mulai mencerna informasi itu. Ia pun bertanya lagi, "Terus... kamu pernah dibully mereka juga nggak Kei?"

Keisha langsung menggeleng cepat, wajahnya terlihat sedikit bangga. "Gak pernah sih.aman aja. Soalnya Papa aku sama Papa Valerie itu rekan bisnis dekat banget. Hubungan keluarga kita baik, jadi mana berani dia nyakitin aku atau macam-macam."

"Oh, jadi gitu..." gumam Elara mengerti. Sekarang ia paham betul siapa penguasa sebenarnya di sekolah ini.

"Jadi intinya, kamu cari aman aja ya," pesan Keisha lagi sambil menepuk bahu Elara. "Jangan cari gara-gara, pokoknya kalau mereka lewat atau minta ini itu, ya udah iyain aja daripada ribet."

Elara tersenyum tipis, lalu menatap punggung Valerie yang terlihat sangat angkuh itu.

"Iya Kei, makasih ya udah ingetin. Aku ngerti kok," jawab Elara tenang. "Aku ke sini tujuannya cuma mau belajar, dapet nilai bagus, dan bikin orang tua bangga. Aku nggak mau bikin masalah di sekolah ini. Bukan karena aku takut sama Valerie atau siapapun, tapi karena aku nggak mau waktu dan tenagaku habis cuma buat urusan gak penting kayak gitu."

Mata Elara kembali melirik ke arah pojok belakang kelas. Terlihat sosok gadis yang menangis, kini duduk memeluk lututnya sambil memandangi buku dengan tatapan kosong.

"Kalau dia siapa, Kei?" tanya Elara pelan.

"Oh, dia Dinda Kusuma," jawab Keisha sambil menoleh. "Dia itu teman satu kamar asrama kita lho! Sama kayak kamu, dia juga dapat beasiswa penuh, tapi dia masuknya setahun yang lalu. Otaknya juga pinter banget sih, sayang banget dia sering jadi sasaran bully-nya Beauty Girls. Sifatnya pendiam banget, pemalu, dan jarang banget ngomong. Makanya dia gampang banget ditindas sama Valerie dan kawan-kawan."

Elara mengangguk pelan, menatap Dinda dengan tatapan penuh rasa kasihan. Hatinya terasa perih membayangkan nasib gadis itu yang mungkin akan sama seperti dirinya jika tidak hati-hati.

Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, suasana kelas yang tadi cukup ramai tiba-tiba berubah menjadi hening sesaat, lalu meledak menjadi riuh rendah.

Pintu kelas terbuka lebar, dan masuklah tiga orang pemuda dengan aura yang sangat berbeda namun sama-sama memancarkan kesan gagah dan tampan.

Mereka adalah CRAZY BOYS, geng cowok paling populer dan paling disegani di seluruh sekolah Hantage Academy.

Yang berjalan paling depan adalah Arkan Mahendra. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun tatapannya sedingin es. Ia tidak menatap siapapun, langkahnya kaku dan penuh misteri. Arkan dikenal sebagai siswa jenius, pewaris tunggal keluarga Mahendra yang kekayaannya luar biasa, membuatnya memiliki ribuan fans perempuan di sekolah ini.

Di sebelahnya ada Celio Damaris. Berbeda dengan Arkan, Celio tampak sangat ceria, senyumnya selalu mengembang, dan caranya berjalan sangat santai. Dia terkenal humoris tapi juga playboy kelas berat yang sering gonta-ganti pacar.

Dan yang terakhir adalah Rafael Akthari. Pemuda ini memiliki senyum yang sangat manis dan ramah. Matanya tampak teduh, sikapnya sopan pada siapa saja, dan dia dikenal sangat pintar serta suka menolong.

"Wah itu Arkan!! Ganteng banget sih!!"

"Celio lihat ke sini dong!!"

"Rafael hari ini keren banget seragamnya!!"

Seluruh siswi di kelas langsung heboh. Ada yang membetulkan rambut, ada yang berbisik-bisik kegirangan, bahkan ada yang sampai memegangi dadanya karena deg-degan.

Elara yang melihat pemandangan itu langsung bertanya pada Keisha, "Wah ramai banget. Kalau mereka siapa, Kei?"

"Oh, mereka itu Crazy Boys," jawab Keisha sambil terkikik. "Geng cowok paling populer dan paling berkuasa juga di sini. Satu sekolah pada tahu mereka."

"Oh..." gumam Elara sambil memperhatikan mereka duduk.

Arkan memilih duduk di bangku paling belakang dekat jendela, sendirian dan terpisah dari yang lain. Celio dan Rafael duduk tidak jauh dari sana.

Begitu Arkan duduk, Valerie yang sejak tadi menunggu kesempatan langsung bergerak cepat. Ia merapikan bajunya, membetulkan rambutnya agar terlihat sempurna, lalu berjalan mendekati meja Arkan dengan gaya yang sangat genit.

"Arkan... Kamu udah datang ya?" tanya Valerie lembut, suaranya berubah jadi sangat manis berbeda dari biasanya. Ia meletakkan tangannya di atas meja Arkan, berusaha menarik perhatian.

Namun... Arkan sama sekali tidak menoleh. Ia sibuk membuka bukunya, memasang earphone, dan menatap lurus ke depan seolah Valerie itu hampa udara. Tidak ada jawaban, tidak ada senyuman. Sama sekali diabaikan.

Wajah Valerie langsung memerah karena malu dan marah. Ia mengepalkan tangannya, lalu berbalik badan dan berjalan kembali ke tempat duduknya dengan langkah membusungkan dada tapi hati sangat dongkol.

Di meja mereka, Celio yang melihat kejadian itu langsung menepuk bahu Arkan.

"Woi, Bro! Lo kenapa sih dingin banget sama Valerie?" tanya Celio dengan nada heran. "Padahal kan dia cewek paling cantik, paling kaya, dan anak pemilik sekolah juga. Biasanya cowok-cowok lain pada ngantri mau dilihatin doang, eh lo malah ngegamparin gitu aja."

Arkan melepas earphone-nya sedikit, lalu menjawab dengan nada datar dan singkat, "Gue ke sini buat sekolah, bukan buat main cinta-cintaan atau urusan sosial yang gak penting. Fokus gue cuma pendidikan dan nilai. Jadi jangan ganggu."

"Halah, alasan mulu," celoteh Celio lagi. "Padahal kan Valerie naksir berat sama lo dari dulu tau."

"Udahlah Cel, jangan ganggu Arkan," potong Rafael yang duduk di sebelah mereka dengan nada lembut. "Arkan kan emang orangnya fokus banget sama cita-cita. Lagipula, kalau Arkan bilang gak mau ya gak mau, masa dipaksa? Valerie itu cantik dan kaya memang, tapi bukan berarti semua orang harus suka sama dia kan?"

Rafael tersenyum tipis. "Lagian, menurut gue sih Arkan lagi nyari yang spesial kali, bukan yang cuma cantik doang."

Arkan hanya mendengus pelan, lalu kembali memakai kacamatanya dan membuka buku tebal di depannya, kembali menciptakan tembok penghalang antara dirinya dan dunia luar.

TRIIIIINGGG!!! TRIIIIINGGG!!!

Suara bel sekolah berbunyi nyaring dan panjang, menandakan jam pelajaran resmi dimulai. Suasana kelas yang tadi riuh rendah seketika menjadi hening total. Semua murid langsung bergerak cepat kembali ke tempat duduk masing-masing, merapikan buku, dan duduk dengan rapi menunggu kedatangan guru.

Tidak butuh waktu lama, pintu kelas terbuka. Masuklah seorang guru wanita berpenampilan tegas, memakai kacamata, dan membawa setumpuk buku paket serta spidol di tangannya. Itu adalah Bu Rina, guru Matematika yang terkenal sangat disiplin dan galak jika ada murid yang tidak memperhatikan.

"Selamat pagi, semua!" sapa Bu Rina lantang sambil meletakkan tasnya di meja guru.

"SELAMAT PAGI, BU!!" jawab seluruh murid serempak dengan suara keras dan kompak.

"Baik, sebelum kita mulai, tolong buka buku paket matematika kalian di halaman 56. Materi kita hari ini tentang Turunan Fungsi dan Aplikasinya," perintah Bu Rina tegas.

Sret... sret...

Suara halaman buku dibuka terdengar serentak di seluruh kelas.

Bu Rina segera mengambil spidol warna hitam dan biru, lalu mulai menulis rumus-rumus panjang dan angka-angka di papan tulis putih yang luas itu. Tulisannya rapi dan cepat, menunjukkan bahwa dia memang sudah sangat ahli di bidangnya.

"Anak-anak, perhatikan baik-baik ya. Rumus dasar ini sering keluar di ujian nasional dan ujian masuk universitas nanti," ucap Bu Rina sambil membalikkan badan sebentar untuk memastikan semua melihat.

Di sepanjang bangku, suasana menjadi sangat khidmat.

Semua murid fokus mendengarkan penjelasan Bu Rina yang terdengar jelas dan tegas. Tangan-tangan mereka sibuk bergerak, mencatat poin-poin penting, menyalin rumus, dan memberi tanda bintang pada bagian yang dianggap sulit.

Di deretan depan, Valerie dan gengnya pun ikut mencatat, meski kadang Valerie terlihat sedikit malas dan menyuruh Clarissa untuk mencatatkan, tapi karena takut dimarahi Bu Rina, mereka tetap mengerjakannya dengan terpaksa.

Di bagian tengah, Elara terlihat sangat antusias. Matanya tak lepas dari papan tulis. Ia mencatat dengan rapi, tulisannya indah dan teratur. Matematika adalah salah satu pelajaran favoritnya, jadi ia sangat menikmati setiap penjelasan yang diberikan.

"Wah, materinya seru ya, Kei. Lumayan sulit tapi menantang," bisik Elara pelan sambil menuliskan rumus.

"Iya nih, otak aku rasanya mau meledak mikirnya," jawab Keisha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha keras memahami logika angka yang ditulis guru.

Sementara itu, di pojok belakang, Arkan Mahendra terlihat sangat tenang. Ia tidak banyak menyalin, ia hanya mendengarkan dan sesekali menulis poin singkat saja. Wajahnya datar, tapi matanya tajam mencerna setiap penjelasan. Bagi Arkan, materi ini terasa sangat mudah baginya.

Rafael dan Celio juga sibuk mencatat, sesekali Celio bertanya pada Rafael tentang rumus yang ia lewatkan.

"Raf, rumus yang tadi apa? gue kurang denger," bisik Celio.

"Itu lho, f aksen x sama dengan..." Rafael menjelaskan pelan sambil menunjuk bukunya.

Bahkan Dinda yang tadi sedih pun kini fokus. Ia menulis dengan sangat rajin dan teliti, seolah belajar adalah satu-satunya pelarian dan kekuatannya di sekolah ini.

"Nah, sekarang coba kerjakan contoh soal nomor 1 sampai 5 di buku tulis kalian! Saya beri waktu 10 menit!" seru Bu Rina memecah keheningan.

Segera saja seluruh kelas diselimuti oleh suasana kompetitif namun tenang. Hanya terdengar suara gesekan pulpen di atas kertas, dan sesekali suara helaan napas atau bisikan kecil bertanya jawaban. Hari pertama Elara di kelas Scientiae Magister pun resmi dimulai dengan penuh tantangan.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!