NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azalia yang hilang.

"Pak Gavin yakin ingin mengetahui ini sekarang?" tanya Dokter Wahyu, suaranya tidak tergesa-gesa, tapi penuh pertimbangan.

Gavin mengeratkan rahangnya. "Kalau tidak, saya tidak akan ada di sini."

Dokter Wahyu penghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Azalia mengalami cedera otak traumatis kronis. Ini adalah dampak dari benturan hebat yang pernah dialaminya di masa lalu, dan diperparah karena dia hanya memiliki satu ginjal yang tersisa, salah satu penyebab keadaannya lebih cepat memburuk dari yang seharusnya."

Gavin diam, tetapi sorot matanya semakin tajam.

"Otak manusia itu rumit, Tuan Gavin. Cedera seperti ini tidak selalu terlihat langsung, tapi kerusakannya bisa terus berkembang. Dalam kasus Azalia, Azalia yang terdampak mempengaruhi ingatan, fungsi kognitif, dan motoriknya."

Dokter Wahyu melirik ke berkas di sisinya sebelum melanjutkan, "Otaknya kesulitan mengirimkan sinyal ke tubuhnya dengan baik. Itu sebabnya gerakannya melambat. Mungkin anda juga mulai melihat tanda-tanda seperti sering kehilangan keseimbangan, mimisan, sulit berkonsentrasi, atau bahkan kelelahan yang berlebihan."

Gavin mengepalkan tangannya di atas paha. "Seberapa parah?"

Dokter Wahyu terdiam sejenak, lalu berkata Pelan, "Sejujurnya, Kondisinya sudah jauh lebih buruk daripada yang saya harapkan. Seperti yang saya jelaskan sejak awal, tubuh Azalia hanya memiliki satu ginjal, sehingga kita hanya bisa berdoa. Karena jika terus begini dalam beberapa bulan atau bahkan minggu ke depan, kita bisa menghadapi situasi yang lebih sulit."

Gavin tidak langsung menjawab. Matanya tetap terkunci pada meja di depannya. Dokter Wahyu tidak menjelaskan secara eksplisit apa yang akan terjadi pada Azalia, tapi Gavin cukup cerdas untuk memahami maksudnya.

"Apa ada cara untuk menghentikan ini?" akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Selalu ada cara, kan?

Pasti ada. Bahkan jika dia terlambat, Seharusnya masih ada yang bisa dilakukan untuk memulihkan Azalia.

Harus.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Azalia terbangun karena terbatuk ringan. Dia duduk perlahan, mengusap dadanya.

Ketika matanya terbuka, apa yang dia lihat adalah sesuatu yang mengejutkan.

Semua yang ada di sekitarnya membuatnya merasa berada di tempat yang salah.

Ini.... Bukan rumahnya. Ini bukan tempat yang ia kenal.

Jantungnya berdegup lebih kencang.

Di mana ini?

Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari sesuatu yang familiar, tapi tidak ada. Semuanya tanpak asing.

Tidak ada satupun barang miliknya. Tidak ada kehangatan yang ia kenal. Lalu, muncul ketakutan itu. Perasaan bahwa dia telah melakukan kesalahan, dia telah masuk ke rumah orang lain.

Aku harus pulang.

Tapi di mana ini?

Kepalanya terasa berdenyut saat dia mencoba mengingat. Rumah kecil itu, tempat dia tinggal sebelumnya. Ya, itu rumahnya. Dia harus kembali ke sana.

Dengan langkah pelan namun panik, Azalia turun dari tempat tidur. Kakinya masih lemah, tapi dia berusaha dan memaksakan diri, saat dia membuka pintu kamar, apartemen itu sunyi. Beberapa bagian ruangan telah padam.

Dengan napas tersenggal, Azalia berjalan keluar.

Begitu sampai di lobby, dia langsung keluar dari gedung. Udara dingin menerpa kulitnya, tapi Azalia tidak peduli. Dia hanya ingin pulang.

Namun, saat melangkah ke trotoar, sesuatu menghantam kesadarannya. Dia tidak tahu harus ke mana.

Jalanan tanpak asing, gedung-gedung tinggi mengelilinginya. Orang-orang berjalan cepat, mobil-mobil melaju di depan matanya. Tidak ada satupun yang terasa familiar. Tidak ada satupun yang membantunya mengingat jalan pulang.

Panik mulai merayapi tubuhnya. Napasnya memburu. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Kakinya lemas, tubuhnya mulai goyah.

Ke mana aku harus pergi?

Gavin masih ada di ruang Dokter Wahyu saat Abu masuk ke panggilan. Bahkan sebelum dia mengangkatnya, ada sesuatu yang membuatnya langsung khawatir.

"Bicara! " Perintahnya dengan nada tidak sabar .

"Tuan... Nyonya.. nyonya tidak ada di kamarnya."

"Kenapa bisa tidak ada? Aku sudah katakan padamu untuk menjaganya. "

"Maaf Tuan, saya baru meninggalkannya sebentar . Saat saya kembali, Nyonya sudah tidak ada di kamarnya."

"Sial!"

Sambungan terputus dari tangan Gavin. Buru-buru Dia bangkit dari sana, bahkan sampai lupa berpamitan pada dokter Wahyu.

Tidak peduli seberapa cepat mobilnya sekarang, Gavin hanya berpikir kalau dia harus secepatnya tiba di rumah.

Abu mengatakan tidak ada yang melihat Azalia keluar, dan Azalia juga tidak bicara dengan siapa pun kalau dia akan pergi. Barang-barang istrinya juga masih lengkap, dompet, ponsel yang lama mati, masih ada di lemari.

Gavin ingat jika di rumahnya ini dilengkapi CCTV, jadi dia segera mengeluarkan ponselnya dan mulai memeriksa.

Benar saja. Azalia terlihat keluar kamar. Namun... Ekspresinya linglung, seperti seseorang yang sedang tersesat. Gerakannya buru-buru dan mengendap, seolah takut jika seseorang melihatnya.

Ia bahkan terlihat lupa di mana pintu keluar.

Azalia benar-benar meninggalkan apartemennya dalam keadaan linglung? Apa dia lupa jika mulai sekarang dia tinggal di sini?

Gavin mengusap wajahnya dengan kasar. Segera dia menghubungi anak buahnya, memerintahkan mereka untuk melakukan pencarian, bahkan saking paniknya, Gavin sampai menghubungi polisi dan meminta bantuan mereka.

Ingatan Azalia sangat buruk. Ia khawatir Azalia tidak akan tahu di mana dia sekarang, dan ke mana dia harus kembali.

Karena semua orang bergerak dengan cepat dan polisi juga mulai menelusuri dari kamera pengawas jalanan, keberadaan Azalia ditemukan tidak lama setelah itu.

Polisi dan anak buahnya sudah ada di halaman rumah Azalia, menunggu kedatangan Gavin.

Pria itu tiba lebih cepat, napasnya memburu melihat beberapa ruangan di rumah itu menyala.

"Pak Gavin, istri Anda ada di dalam. Kami telah memastikan dan melihatnya dari jendela kamar. Sepertinya dia sedang istirahat, Jadi kami tidak berani masuk. " salah satu dari mereka memberi laporan dengan hormat .

Lalu pengawalnya juga menyela, "Benar, Tuan. Saya yang memeriksa masuk. Nyonya sedang tidur."

Gavin mengangguk, menarik napas lebih panjang. "Terima kasih atas bantuan kalian. "

Dia dengan kakinya sendiri melangkah ke dalam sana. Tidak ingin membuat keributan, Gavin mengambil langkah pelan dan hati-hati.

Benar jika Azalia sedang tidur. Dia menggulung di kasurnya, membelakangi pintu.

Gavin mendekat, duduk di tepi kasur. Tangannya ingin bergerak, menarik punggung Azalia dan melihat wajahnya. Tapi karena selama 2 tahun dia tidak pernah menyentuh Azalia sedikitpun, perasaan itu terasa aneh.

Butuh beberapa kali pertimbangan sampai akhirnya permukaan tangannya menyentuh lengan Azalia. Tubuh wanita itu sangat kurus, bahkan mungkin sedikit gerakan kasar saja bisa menghancurkan seluruh tubuh Azalia.

"Azalia.. . " dia memanggilnya pelan. Akhirnya, untuk sekian lama, mulutnya bisa memanggil nama istrinya itu.

Pelan-pelan Gavin menelentangkannya. Dalam satu gerakan halus, tubuh Azalia sudah terbaring. Namun... Noda darah di bawah hidung Azalia membuat Gavin membeku.

Meskipun terlihat sudah dihapus, tapi bekasnya masih terlihat. Ada perasaan nyeri di hati Gavin saat melihatnya secara langsung.

Jadi selama ini Azalia menahan rasa sakit, tapi dia tetap membuatkannya bekal makan siang. Bahkan dia tidak mengambil bahan makanan itu dan memilih memakan mie instan agar bisa memberinya makanan sehat.

Untuk apa Azalia melakukan itu?

Sedang dia sendiri tidak pernah memikirkan perasaan Azalia.

Gavin menyesal. Harusnya dia menyadari ini sejak awal. Sejak rasa makanan Azalia sudah tidak karuan. Sejak rasa asin yang terlalu kuat, atau rasa manis yang menyengat, bahkan rasa hambar di terakhir kali bekal makan siangnya.

Harusnya dia tahu ada yang janggal ketika telur mata sapi waktu itu berubah seperti adonan garam.

Tapi dia mengabaikan semua itu, berpikir jika Azalia sengaja membuatnya kesal.

Rasa bersalah menghantam dada Gavin sekeras-kerasnya. Jantungnya berdebar. Ada rasa takut saat dia mengingat ucapan Dokter Wahyu tadi.

Pelan-pelan Gavin menyeka darah di sekitar hidung Azalia dengan lap kain hangat, mengusapnya dengan telaten. Gavin juga menarik selimut untuk Azalia, membuatnya merasa lebih hangat dan nyaman.

Di saat yang sama, suara deru mesin mobil terdengar dari luar. Gavin melihatnya dari jendela, dan menemukan mobil Alvin yang berhenti di luar.

Pria itu masuk tanpa mengetuk, memasang wajah marah dan kecewa. Sementara Gavin keluar dari kamar Azalia, menutup pintu itu rapat-rapat.

"Sudah kuduga kau akan ada di sini," Cibir Alvin. Matanya melirik ke pintu kamar Azalia, lalu memasang wajah jijik. "Tidak kusangka, kau benar-benar menjilat ludahmu sendiri. Kenapa Kak? Kau sudah tidak waras sampai tertipu dengan omong kosongnya? Kau menyia-nyiakan Renata dan memilih penipu itu?"

Masih belum puas, Alvin berkata lagi, "Kau benar-benar sudah dibutakan oleh wanita itu , Kau.... "

Ucapan Alvin terpotong oleh sebuah tinju keras di wajahnya dari tangan Gavin. Kerasnya pukulan yang diberikan Gavin membuat tubuh Alvin terpelanting ke belakang sampai tersungkur ke lantai.

Darah mengalir tipis dari sudut bibir Alvin. Dalam sekejap, tulang pipi pria itu sudah membiru.

Sebelum Alvin memaki Azalia lagi, Davin sudah lebih dulu datang padanya, mencengkeram kerah kemejanya dengan kuat sampai memaksanya menegak.

Ekspresi Gavin Ternyata jauh lebih suram, lebih gelap dan penuh kebencian padanya. Alvin menatapnya bingung.

"Kenapa kau sampai memukulku?" Ringis Alvin.

"Kau ingin tahu kenapa?" mata Gavin melotot lebih tajam lagi. "Kau tahu, orang yang sudah kau hina sejak tadi adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawamu!"

Gavin menarik kerah itu semakin kuat lagi, "Kau lupa, hah? 2 tahun lalu, kau hampir mati karena gagal ginjal. Apa kau tahu, dia yang menjadi donor ginjalmu, dia mengorbankan seumur hidupnya dan menukarnya dengan nyawamu. Apa kau tau, hah? Jika bukan karena dirinya, kau mungkin sudah mati."

Alvin menggeleng pelan. Dia tidak percaya Gavin mampu mengatakan dan memakinya hanya demi Azalia.

Bukannya dia tidak ingat, tapi apa yang dilakukan Azalia sama sekali tidak sebanding dengan apa yang dilakukan keluarganya.

Suara tawa samar keluar dari mulut Alvin. "Apa yang dilakukan Azalia saat itu, tidak akan menghapus apa yang sudah dilakukan keluarganya pada keluarga kita. Itu hanya pengorbanan kecil, tujuannya untuk menarik perhatianmu saja."

Lalu tangan Gavin melayang lagi. Memukul wajah Alvin lagi. Namun kali ini, pukulan itu justru lebih keras dari yang tadi. Alvin bahkan sampai mimisan dibuatnya.

"Seharusnya kau adalah orang yang harus menanggung penderitaannya sekarang." Maki Gavin yang kembali memukul Alvin sampai babak belur.

1
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
Bela Viona
ntah akan ad keajaiban kesembuhan azalia atau hanya tinggal kenangan tentang Azalia.
kalaupun azalia tinggal kenangan,please thor..tinggal kn lh kenangan Azalia bersama Gavin berupa sosok seorang bayi mungil. anak mereka.
kalau pun ad kerajaan, sembuhkan lh azalia. nth dgn pencangkokan ginjal atau bangun lgi setelah koma..
Bela Viona: aku lagi sedih lho 😭
total 2 replies
Rahma Inayah
mmg ya si Marta GK tau malu
Kar Genjreng
perih ya ketika sedang mengharapkan kedatangan nya selalu di anggap pura pura atau hanya sedang bermain drama,,, padahal sedang menahan lara luar biasa,,, sekarang bagitu terlanjur bsekarat baru lah percaya,,,ya semoga bergerak cepat siapa tau ada keajaiban,,😭😭
Dew666
💎💎💎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!