"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"
"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."
Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.
"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.
"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 [ Dijual oleh Papanya sendiri ]
Di rumah sakit, kedatangan Andrian sudah disambut Mama dan adiknya yang sejak tadi menunggunya.
"Sayang, kamu dari mana saja sih? Kenapa baru datang? Di sini istrimu butuh kamu," ucap Mama dengan nada menegaskan.
"Maafkan aku. Seusai mendapat informasi tentang pelaku penabrak, aku langsung mengurus semuanya. Saat ini pelaku sudah berada dalam genggamanku, tinggal hukuman apa yang harus kuberikan. Terus bagaimana keadaan Monika?" balas Andrian.
"Alhamdulillah, keadaan Monika sudah mulai membaik dan dia sudah bisa diajak bicara. Tapi lain kali kamu jangan seperti ini lagi. Istrimu dari tadi menunggumu," pinta Andara, mama dari Adrian sekaligus mertua Monika.
"Iya, Ma. Maafkan Andrian. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi... kenapa wajah Mama terlihat sedih? Ada masalah?" tanya Andrian.
"Bukan begitu. Mama sedih karena Monika terus-menerus menangisi cucu-cucu Mama. Takutnya kalau dibiarkan terus, jiwanya terguncang. Mama takut dia terkena gangguan jiwa. Apa yang harus kita lakukan?"
"Untuk soal itu Mama tidak perlu khawatir. Biar Andrian yang urus. Sekarang Andrian mau lihat kondisi istriku dulu."
"Baiklah."
Datangnya Andrian membuat air mata sang istri kembali mengalir. Ia duduk di sisi ranjang lalu merangkul tubuh lemah Monika.
"Jujur... aku tidak bisa menjalani hidup tanpa mereka." Air mata Monika pun pecah.
"Kenapa Tuhan tidak sekalian mengambil nyawaku? Kenapa?"
"Hus! Apa yang kamu katakan?" Andrian menatapnya lembut.
"Kalau kamu ikut mereka ke surga, aku sama siapa? Aku juga butuh kamu. Yakinlah ke depannya kita akan berjalan bersama melewati semua rintangan ini. Aku yakin kita kuat dan bisa melewatinya. Tapi berjanjilah... kamu tidak akan pernah meninggalkanku." Monika menatap kosong.
"Harusnya aku yang mengatakan kata-kata itu," ucapnya.
"Bisakah kamu setia menjalani hubungan ini? Kamu tahu, setelah kecelakaan ini ada kerusakan pada rahimku... yang menyulitkanku memiliki anak dari darah dagingmu. Bisa dikatakan aku sudah mandul. Bisakah kamu tetap setia padaku?"
Andrian menggenggam tangannya erat.
"Aku berjanji, dalam hatiku tidak akan pernah ada wanita lain yang menggantikan posisimu. Kalau pun kita tidak ditakdirkan punya anak lagi, aku tetap akan tulus mencintaimu dan menjadi pendampingmu."
Monika menunduk, lalu berkata pelan.
"Sebelum itu... aku punya keinginan. Dan mungkin ini bisa menjadi jalan alternatif untuk rumah tangga kita."
"Katakan. Apa keinginanmu?"
"Kebetulan kalian semua berkumpul di sini. Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan... termasuk padamu juga, Andrian." Andrian tak paham.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Kenapa kamu jadi terlihat gugup? Kamu tidak minta yang aneh-aneh, kan?"
Monika menarik napas panjang.
"Aku ingin kamu menikah lagi."
Ekspresi Andrian langsung berubah.
"Menikah lagi?"
"Iya." Air mata Monika jatuh.
"Aku tahu ini permintaan gila. Tapi aku ingin kamu punya anak, meski bukan dari darah dagingku. Aku janji akan merawat anak itu seperti anakku sendiri. Aku juga tidak akan membenci wanita itu. Aku mohon... bersedia lah."
"Apa maksudmu?" bentak Andrian.
"Apa kamu sudah kehilangan akal? Mana mungkin aku menikah lagi sementara aku masih berstatus suamimu? Aku sangat mencintaimu!"
"Sayang, memang terdengar gila..." Monika berlutut di ranjang sambil memohon.
"Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku sulit memiliki anak. Dengan kamu menikah lagi dan mendapatkan anak dari wanita itu... rumah tangga kita akan utuh. Mama juga akan bahagia mendapat cucu. Aku mohon, kabulkan permintaanku." Selly- Mama Monika ikut bersuara.
"Jujur menurut Mama, apa yang dikatakan Monika memang benar. Kalau Monika saja tidak masalah, Mama setuju kamu menikah lagi... kalau itu keputusan Monika sendiri."
Andrian memejamkan mata beberapa saat.
"Baiklah... akan aku urus masalah ini. Beri aku waktu."
"Baiklah."
Andrian mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Arnold.
"Iya, Tuan. Ada apa? Kenapa Tuan tiba-tiba menghubungi saya?" tanya Arnold dari seberang telepon.
"Apa gadis yang tadi masih ada bersama kalian?"
"Iya, dia masih ada di sini. Kenapa, Tuan?"
"Bagus. Jangan biarkan gadis itu kabur dari markas. Selain itu, kirim surat ancaman pada ayahnya. Katakan anak gadisnya ada dalam sanderaan kita. Suruh siapkan uang tebusan seratus juta kalau ingin putrinya bebas."
Arnold terdiam sesaat.
"Kalau mau minta tebusan, kenapa hanya seratus juta? Bahkan lima ratus juta pun mereka mampu membayar."
"Jangan banyak bertanya. Lakukan saja perintahku!"
"Baik, Tuan. Saya paham."
Di salah satu kediaman mewah, Victor dan istrinya sedang bersantai ketika seorang anak buah datang menghampiri.
"Ada apa?" tanya Victor ketus.
"Maaf, Tuan. Saya membawa kabar mengenai perkembangan kasus kecelakaan Nona Cantika. Tuan Andrian setuju mengakhiri masalah asal Tuan menyiapkan uang tebusan sebesar seratus juta untuknya. Baiklah, saya permisi." Victor mengangguk tipis.
"Baik. Sekarang pergi."
Setelah orang itu pergi, istrinya langsung menatap Victor.
"Papa pasti akan merelakan uang sebanyak itu demi putri kita, kan? Ini kesempatan baik untuk membebaskannya." Victor tersenyum samar.
"Sangat disayangkan uang sebanyak itu harus keluar cuma-cuma demi anak berandalan itu. Tapi apa boleh buat. Kita pergi."
Di tempat lain, dalam ruangan gelap. Kedua pergelangan tangannya yang terikat kuat. Tadinya ia kira akan dibawa ke Kantor Polisi, tapi nyatanya ia disekap dan diletakkan ditempat gelap tanpa penerangan yang jelas. Wajah cantiknya basah oleh air mata.
"Kenapa, Ma? Kenapa Mama harus meninggalkan Cantika? Kenapa Cantika harus lahir kalau pada akhirnya Papa tak pernah menganggapku ada? Aku rindu Mama... kapan Mama ajak Cantika pulang? Cantika sudah tidak tahan..."
Ia memeluk tubuhnya sendiri, menahan dingin dan rasa takut.
"Sekarang nasibku di ujung tanduk. Hanya Papa yang bisa menyelamatkanku... tapi aku tahu seperti apa Papa. Mustahil dia mau menolongku." Pintu ruangan terbuka. Dua pria masuk.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Cantika panik.
"Tuan memerintahkan kami melepaskan Anda. Jangan banyak tanya!" tegas Arnold.
Tali yang mengikat tubuhnya dibuka. Cantika mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Apa Papa benar-benar menebusku dengan seratus juta?" tanyanya polos, namun tak ada yang menjawab.
Tak lama kemudian, Victor dan mama tirinya datang. Melihat itu, wajah Cantika berseri. Ia pikir ayahnya masih memiliki sedikit hati untuk menolongnya.
"Papa... Papa akan menolongku?" suaranya bergetar.
Namun alih-alih menjawab, Cantika justru menyaksikan sesuatu yang menghancurkan hatinya.
Victor menjabat tangan Andrian dengan akrab.
Lalu Victor menyerahkan segepok uang kepada Adrian.
Victor menerimanya tanpa ragu.
Senyum yang tadi menghiasi wajah Cantika perlahan memudar. Dadanya terasa sesak.
Ia baru sadar... dirinya bukan sedang ditebus, melainkan ia sedang dijual oleh Ayah kandungnya sendiri.
BERSAMBUNG