Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi yang cerah jam enam pagi.
Lingkungan kampus Pelita Bakti masih terasa sejuk dan segar, pohon-pohon rindang berdiri di sepanjang jalur pejalan kaki.
Seolah memberikan keteduhan bagi para mahasiswa yang berdatangan di pagi ini.
Mata Melina menatap kerumunan mahasiswa lain yang datang menggunakan sepeda motor, mobil, sekaligus ojek online.
Tapi ada hal yang membuat Melina iri, yakni ada banyak orang diantar oleh orangtua mereka.
Hatinya merasa iri, karena sejak kecil dirinya tak pernah merasakan kasih sayang orangtua.
Di antara kerumunan para mahasiswa.
Melina berjalan dan tampak menonjolkan kesederhanaan di outfitnya.
Gadis itu mengenakan kardigan kotak-kotak biru tanpa kancing, di padukan dengan celana jeans yang nyaman.
Punggungnya tampak membawa tas ransel berwarna coklat yang setia menemani langkahnya.
Melina berjalan beriringan dengan beberapa teman sekelasnya, namun langkahnya terhenti sejenak ketika suara bas memanggil namanya dengan lembut.
"Mel...," panggilnya.
Melina menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.
Alvaro.
Salah satu teman dekatnya di kampus, sedang berjalan mendekat.
Pagi ini, Alvaro mengenakan hoddie burgundy yang memiliki siluet hitam gambar orang di bagian depannya, serta tas ransel hitam di bahunya.
Wajahnya cerah dan tampan.
Banyak yang bilang jika Alvaro itu adalah pangeran kampus, namun harapan mustahil bagi Melina untuk berdampingan dengan pria ini.
Terlihat tatapan Alvaro adalah tatapan seorang pria yang jelas-jelas menaruh hati pada seorang gadis.
Namun, Melina hanya menganggapnya sahabat saja.
Toh, dirinya dan Alvaro bisa di bilang beda level.
"Eh Ro," sapa balik Melina sambil tersenyum tipis.
Keduanya berjalan beriringan sambil berbincang ringan di pagi yang cerah ini.
Alvaro berdehem, mencoba menetralkan susana agar tak canggung.
"Mel, abis balik kampus nanti...jalan yuk ke mall?" ajak Alvaro kepada Melina.
"Ada film baru, dan kita sekedar makan siang. Sumpah bintang Filmnya Ishan Ganendra," lanjutnya.
Melina tersenyum, namun ada nada penolakan yang halus dan sopan.
"Kagak usah, Ro. Gua abis balik kampus harus langsung kerja, lain waktu aja ya," tolak Melina.
Jawaban itu membuat Alvaro menghela napas panjang, ada rasa kecewa.
Sebenarnya Alvaro ingin mengutarakan perasaannya pada Melina.
Namun, harus terbentur dengan restu ibunya.
Ibunya Alvaro adalah wanita Bali sementara ayahnya orang Jerman.
Ibunya dengan tegas berpesan pada anaknya agar tak mendekati gadis mana pun terlebih dahulu, karena harus fokus pada bisnis keluarga.
Fokus utama Alvaro setelah kuliah adalah bisnis keluarganya.
"Yaudah lain waktu aja kali," ujar Melina kepada Alvaro.
"Okelah," jawabnya dengan tersenyum meski hatinya sedikit kecewa.
"Yaudah, ayo masuk kelas," ajak Alvaro.
Melina tersenyum dan menganggukkan kepala dirinya hanya bernapas lega, rupanya Alvaro tak marah.
Karena sering kali mendapatkan penolakan darinya.
"Eh nanti kalo lu ada materi yang kagak tahu, zoom bareng gua malem ya?" ucap Alvaro.
"Siap, Ro. Thanks ya," jawab Melina mengangguk menghargai tawaran sahabatnya.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam gedung fakultas.
Di balik sorak sorai diskusi mahasiswa lainnya, Melina teringat akan jadwal hari ini.
Selesai kelas ini, dirinya harus segera berganti peran.
Dari Mahasiswa menjadi pelayan rumah tangga yang rajin di kediaman keluarga Ganendra.
Bagi Melina tawaran jalan-jalan ke mall adalah kemewahan yang tak bisa ia beli dengan waktu.
Sementara Alvaro, baginya Melina adalah teka-teki indah yang sulit ia dekati karena perbedaan kasta.
Melina adalah seorang gadis yang tanpa orangtua, tumbuh di panti asuhan---bahkan tak mengetahui siapa orangtua kandungnya.
Sedangkan, Alvaro.
Pemuda ini adalah putra seorang pebisnis Bali dan Jerman, tentu dari keluarga terpandang.
Berbeda jauh dengan Melina, yang terkadang membuat gadis ini minder.
Jujur Melina sudah tak ambil pusing mengenai siapa orangtua biologisnya, toh hidupnya sekarang sudah serba cukup.
Kuliah mendapatkan beasiswa, dan bekerja paruh waktu memiliki gaji yang besar.
Baginya semua itu sudah cukup, dan tak perlu lagi orangtua yang sejak dulu menelantarkannya.
Di kelas Melina mencatat apapun yang penting, ada beberapa teman yang menatapnya iri saat bersama Alvaro.
Namun, di lain sisi.
Adisti Ganendra wanita keturunan Turki Pakistan itu tengah merencanakan sesuatu.
Sebenarnya dirinya tahu putranya pergi menghabiskan malam bersama si murahan Livia, namun kali ini sebagai seorang ibu.
Adisti harus dua langkah lebih depan.
Selain memiliki menantu Adisti juga ingin mengurangi pengeluaran, dengan memiliki menantu dirinya dapat memiliki pembantu tambahan.
Di kampus.
Melina sudah mengumpulkan tugasnya di dalam file yang terkirim langsung oleh dosen.
Tak peduli benar atau salah, yang penting dirinya harus mengumpulkan tugas sebisa mungkin.
Mata Alvaro tak bisa lepas dari Melina yang sibuk mencatat, dirinya terus memperhatikan wajah Melina yang polos.
"Mel, seandainya lu nerima gua. Seneng banget deh ada cewek yang mau nemenin gua dari nol," ucap Alvaro.
Alvaro memilih Melina karena penampilan gadis ini yang sederhana, dan memiliki selera humor yang baik.
Selain itu Melina juga pintar, dan cerdas dalam setiap mengambil keputusan.
Dosen tengah menerangkan, namun melihat Alvaro yang tersenyum mengarah ke samping membuat sang dosen memanggilnya.
"Alvaro Von Hessen!" panggilnya.
Semua mahasiswa lain langsung menoleh ke arah Alvaro, namun pemuda itu tetap tak bergeming.
Sampai Melina menyenggol lengan Alvaro, membuat pemuda itu tersadar.
"Eh kenapa Mel?" tanya Alvaro.
"Itu lu di panggil Pak Yudi ege," ujar Melina.
"Eh iya Pak kenapa?" ucap Alvaro yang berubah menjadi kikuk.
"Jelasin soal konsep supply chain?" tanya sang dosen.
"Melina Khairunissa Pak," jawabnya secara spontan.
Mendengar jawaban itu Melina membulatkan mata monoyor bahu Alvaro menggunakan telunjuknya.
Satu kelas langsung tertawa dan dari mulut mereka bersorak, cieeee.
"Mampus gua," ucap Melina dengan lirih menutup wajahnya.
Hari ini Melina harus menanggung malu, pipi yang merah---karena Alvaro sendiri yang spontan menyebut namanya.
"Kamu ini pikirannya Melina terus! perhatikan bapak!" ucap tegas sang dosen.
Para mahasiswa langsung berbisik satu sama lain, membisikan mengenai Melina dan Alvaro.
Sungguh pagi ini adalah memalukan bagi Melina, namun membahagiakan bagi Alvaro.
*
*
*
*
*