Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbiasa
Aku tidak ingat kapan tepatnya semua ini berubah menjadi kebiasaan.
Tidak ada momen besar yang menandai. Tidak ada kejadian khusus yang bisa aku ingat sebagai awal dari semuanya.
Semuanya terjadi begitu saja… pelan-pelan, tanpa suara.
Seperti sesuatu yang awalnya terasa asing, lalu perlahan menjadi akrab.
Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, ponselku berbunyi.
“Udah siap? Aku di depan.”
Aku tersenyum kecil membaca pesan itu.
Tanpa perlu melihat jam, aku sudah tahu ini waktunya berangkat.
Dulu, aku selalu terburu-buru.
Menyiapkan semuanya sendiri.
Berangkat sendiri.
Bahkan sering terlambat karena terlalu santai.
Tapi sekarang… semuanya terasa berbeda.
Aku jadi lebih cepat bersiap.
Lebih memperhatikan waktu.
Bukan karena aku berubah…
tapi karena ada seseorang yang menunggu di luar.
Raka sudah seperti biasa—bersandar santai, menunggu tanpa terlihat tergesa
“Lama,” katanya sambil tersenyum.
“Nggak juga,” jawabku pelan.
Dia hanya tertawa kecil, lalu membuka pintu.
Perjalanan itu kembali berjalan tanpa banyak kata.
Tapi entah kenapa, keheningan di antara kami tidak pernah terasa kosong.
Justru terasa… cukup.
Hari-hari seperti itu terus berulang.
Tanpa aku sadari, semuanya mulai terasa seperti rutinitas.
Pagi dijemput.
Siang saling mengirim pesan.
Malam berbicara sampai lupa waktu.
Tidak ada yang kami sepakati
Tapi semuanya terjadi dengan sendirinya.
“Kamu berubah ya sekarang,” kata Dina suatu siang.
Aku menoleh, sedikit terkejut.
“Berubah gimana?”
“Lebih sering senyum sendiri,” jawabnya singkat.
Aku tertawa kecil, mencoba menganggapnya biasa.
“Biasa aja,” kataku.
Dina tidak langsung membalas.
Dia hanya menatapku cukup lama, lalu menghela napas pelan.
“Semoga aja dia selalu kayak gitu,” ucapnya.
Aku mengernyit sedikit.
“Maksudnya?”
“Nggak apa-apa,” katanya cepat, seolah tidak ingin melanjutkan.
Aku tidak memaksanya untuk menjelaskan.
Karena saat itu…
aku tidak melihat alasan untuk meragukan apa pun.
Semua terasa baik.
Terlalu baik, bahkan.
Malam itu, seperti biasa, aku berbicara dengan Raka.
“Kamu capek hari ini?” tanyanya.
“Lumayan,” jawabku
“Yaudah, jangan terlalu dipikirin. Besok aku jemput lagi.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, selalu berhasil membuatku merasa tenang.
Seolah ada seseorang yang memastikan…
bahwa aku tidak harus menjalani semuanya sendirian.
Setelah percakapan itu selesai, aku meletakkan ponselku di samping
Tapi seperti biasanya, pikiranku tidak langsung ikut berhenti.
Aku mulai menyadari satu hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Aku mulai terbiasa dengan dia.
Terbiasa dengan kehadirannya.
Terbiasa dengan perhatiannya.
Bahkan… terbiasa dengan cara dia selalu ada di waktu-waktu yang tidak pernah aku sadari kosong.
Dan dari semua itu,
ada satu hal yang perlahan mulai berubah
aku tidak lagi hanya menunggu dia…
aku mulai membutuhkan dia.
Aku memejamkan mata perlahan.
Mencoba mengabaikan pikiran itu.
Mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya masih wajar.
Tapi jauh di dalam hati,
aku tahu…
ini sudah tidak lagi sederhana.
Karena ketika seseorang mulai menjadi bagian dari hari-harimu,
dia tidak lagi sekadar hadir
dia mulai menetap.
Dan tanpa aku sadari,
aku sudah memberi tempat…
untuk seseorang yang nantinya,
mungkin akan sulit untuk aku lepaskan.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena tidak ada suara,
tapi karena pikiranku terlalu ramai oleh hal-hal yang tidak pernah aku sadari sebelumnya.
Aku mencoba mengingat kembali,
sejak kapan semuanya mulai terasa seperti ini.
Sejak kapan aku mulai menunggu pesan darinya tanpa sadar.
Sejak kapan aku mulai merasa hari terasa kurang lengkap kalau dia tidak muncul.
Aku tidak menemukan jawabannya.
Karena semuanya terjadi terlalu pelan…
terlalu halus…
sampai aku tidak pernah benar-benar menyadari perubahannya.
Aku hanya tahu satu hal
sekarang, dia bukan lagi sekadar bagian kecil dari hariku.
Dia sudah menjadi sesuatu yang aku cari,
bahkan tanpa aku akui.
Dan mungkin…
itu yang membuat semuanya mulai terasa sedikit menakutkan.
Karena aku tidak tahu,
apakah aku masih bisa kembali seperti dulu
saat semuanya belum terasa seperti ini.
Aku memejamkan mata perlahan.
Mencoba tidur seperti biasa.
Tapi jauh di dalam hati,
aku mulai menyadari satu hal kecil yang tidak bisa aku abaikan
aku sudah terlalu jauh…
bahkan sebelum aku sempat bertanya,
apakah ini benar atau tidak.