NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB EMPAT

Pukul satu siang tepat, matahari bersinar terik menyengat kulit. Lalu lintas di depan Restoran Pak Hartono cukup padat, hingga perhatian beberapa orang tertuju pada sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam yang perlahan menepi di area parkir khusus. Pintu mobil terbuka, dan turun seorang pria dengan aura yang begitu kuat dan memancarkan kesan kekayaan yang luar biasa.

Itu adalah Sulthan Aditama.

Pria berusia 30 tahun itu mengenakan setelan jas warna gelap yang terlihat sangat mahal, namun sedikit melonggarkan dasinya karena cuaca yang cukup panas. Tubuhnya yang tinggi menjulang 185 cm membuatnya tampak sangat gagah dan menonjol di antara orang-orang di sekitarnya. Wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas terlihat datar dan serius, tanpa ekspresi, khas orang yang terbiasa memegang kendali.

Sulthan berjalan dengan langkah tegap memasuki restoran. Tampan, kaya, dan berwibawa. Itulah kesan pertama yang didapat siapa saja yang melihatnya.

"Selamat siang, Tuan Sulthan. Silakan masuk," sapa resepsionis dengan sangat hormat, bahkan sedikit membungkuk.

Sulthan hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Tidak perlu bertanya atau mencari-cari, dia sudah sangat hapal tempat ini. Faktanya, Sulthan memang sudah menjadi pelanggan tetap dan VIP di Restoran Pak Hartono selama bertahun-tahun. Kadang dia datang untuk meeting bisnis, kadang hanya ingin makan makanan rumahan yang enak tanpa perlu repot di rumah mewahnya yang sepi.

Matanya mengedar sekilas, lalu dia berjalan menuju area VIP di sudut paling belakang ruangan. Tempat itu lebih privat, tenang, dan jauh dari keramaian. Meja yang dipilihnya selalu meja nomor 1, yang paling besar dan nyaman.

Sementara itu, di area pelayanan, Nurlia baru saja selesai membersihkan meja. Tiba-tiba ia mendengar suara bisik-bisik dari teman-teman kerjanya.

"Itu kan Pak Sulthan yang biasa datang. Wih, tampan banget sih hari ini," bisik salah satu teman.

"Iya tuh, orang kaya banget kayaknya. Selalu datang sendiri atau sama temannya yang juga keren-keren," timpal yang lain.

Nurlia hanya tersenyum tipis mendengarnya. Dia memang sering melihat pria itu datang dari kejauhan, tapi belum pernah sekalipun melayani meja VIP tempat dia duduk. Biasanya tugas itu dipegang oleh pelayan senior atau yang lain.

"Lia, giliran kamu yang layani meja nomor 1. Tamunya sudah duduk," seru salah satu koki dari arah dapur.

"Hah? Aku?" Nurlia sedikit kaget, tapi segera mengangguk mantap. "Oke, siap!"

Nurlia menarik napas panjang, merapikan seragamnya agar terlihat rapi, menyisir sedikit rambutnya yang berantakan karena tertiup angin, lalu berjalan mendekat ke arah meja VIP itu dengan senyum ramah yang selalu ia pasang.

Saat sampai di depan meja, Nurlia bisa melihat sosok pria itu lebih jelas. Benar-benar tampan dan sangat berwibawa. Aura dinginnya memang terasa kuat, tapi Nurlia berusaha tidak menunjukkan rasa gugup sedikitpun. Baginya, ini hanya pelanggan biasa yang harus dilayani dengan baik.

"Selamat siang, Tuan. Selamat makan siang," sapa Nurlia dengan suara lembut dan sopan, membungkuk sedikit.

Sulthan yang sedang sibuk memainkan ponselnya mendongak perlahan. Matanya yang tajam menatap wajah gadis di hadapannya. Dia melihat wajah yang asing. Bukan pelayan yang biasa melayaninya selama ini.

"Siapa kamu?" tanya Sulthan dengan suara berat dan datar, tidak bermaksud jahat, hanya memang begitu gaya bicaranya.

Nurlia tersenyum tenang, tidak terintimidasi. "Saya Nurlia, Tuan. Kebetulan teman saya yang biasa melayani Tuan sedang izin keluar sebentar, jadi hari ini saya yang gantikan."

Sulthan mengangguk pelan, lalu kembali menunduk. "Oh."

Tidak ada percikan api, tidak ada tatapan yang saling terpaku lama-lama. Tidak ada rasa deg-degan yang berlebihan dari kedua belah pihak. Bagi Sulthan, Nurlia hanyalah salah satu pelayan baru yang dia belum kenal. Bagi Nurlia, Sulthan hanyalah salah satu tamu penting yang harus dia layani sebaik mungkin.

"Ini menunya, Tuan," kata Nurlia sambil meletakkan buku menu kulit tebal di hadapan pria itu. "Silakan dipilih, ada menu baru juga minggu ini kalau Tuan mau mencoba."

Sulthan mengambil menu itu, membukanya dengan santai. "Apa rekomendasi kamu?" tanyanya acuh tak acuh.

Nurlia berpikir sejenak, lalu menjawab dengan jujur dan profesional. "Kalau untuk siang hari yang panas begini, menurut saya Nasi Rawon Daging atau Soto Lamfernya enak, Tuan. Kuahnya segar, dagingnya empuk. Atau kalau Tuan mau yang kering, ada Ikan Bakar Kecap yang juga favorit pelanggan."

Nurlia menjelaskan dengan nada datar, sopan, dan to the point. Tidak ada sikap berlebihan, tidak ada mencoba menarik perhatian, tidak ada senyum manis yang dibuat-buat. Dia bicara apa adanya, seperti saat melayani pelanggan lainnya.

Sikap itulah yang justru sedikit membuat Sulthan menoleh lagi. Biasanya wanita-wanita yang ada di sekitarnya—baik sekretaris, rekan bisnis, atau yang lain—selalu berusaha terlihat sempurna, berbicara lembut berlebihan, atau bahkan terlihat gugup dan salah tingkah di hadapannya.

Tapi gadis ini... Nurlia. Dia tenang. Matanya menatap lugas, suaranya jelas, dan senyumnya tulus tanpa kepura-puraan. Seolah-olah dia sedang berbicara dengan orang biasa, bukan dengan CEO perusahaan emas yang kekayaannya melimpah ruah.

"Saya pesan Nasi Rawon Daging, tingkat kepedasannya sedang. Tambahkan es jeruk murni, jangan terlalu manis," pesan Sulthan akhirnya, kembali ke sikap dinginnya.

"Siap, Tuan. Nasi Rawon Daging pedas sedang, Es Jeruk kurang manis. Ada tambahan lain?" tanya Nurlia sambil mencatat cepat di buku ordernya.

"Tidak. Cepat."

"Baik, ditunggu sebentar ya," pamit Nurlia sopan, lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan meja itu dengan langkah santai.

Sulthan menatap punggung gadis itu menjauh. Tidak ada rasa suka, tidak ada rasa cinta. Hanya sekilas rasa penasaran kecil karena pelayan ini berbeda dari yang lain. Tapi itu saja. Dia mengira mungkin hanya akan bertemu sekali atau dua kali, lalu lupa.

Nurlia pun begitu. Saat berjalan menuju dapur, dia tidak memikirkan pria itu lagi. Yang ada di kepalanya hanyalah harus cepat menyampaikan pesanan ke dapur agar masakannya tidak lama, dan memastikan kuah rawonnya pas pedasnya sesuai permintaan.

•••

Waktu berlalu begitu cepat di tengah hiruk pikuk restoran yang ramai. Nurlia sibuk mondar-mandir melayani pesanan lain, mencatat, mengantar, dan membersihkan meja. Tak terasa, belasan menit sudah berlalu sejak dia mencatat pesanan pria di meja VIP itu.

"Nomor 1, pesanannya siap! Nasi Rawon Daging sama Es Jeruk!" teriak salah satu koki dari arah dapur sambil mengangkat piring saji yang mengepulkan aroma harum khas rempah.

"Siap, diterima!" sahut Nurlia cepat.

Dengan sigap dia mengambil nampan berisi makanan tersebut. Aroma rawon yang gurih dan kaya bumbu langsung tercium kuat, membuat perutnya sedikit keroncongan, tapi dia harus menahan diri sampai jam istirahat nanti. Nurlia berjalan dengan hati-hati, menjaga keseimbangan nampan agar kuah tidak tumpah. Langkah kakinya tertuju lurus menuju meja nomor 1, area VIP yang agak sepi itu.

Sesampainya di sana, Sulthan ternyata tidak sedang melihat HP atau melihat ke arah lain. Pria itu justru sedang menatap lurus ke depan, seolah sedang menunggu dengan sabar. Tatapannya yang tajam dan dingin membuat suasana di sekitar meja itu terasa lebih hening dibandingkan bagian restoran lainnya.

"Permisi, Tuan. Ini makanannya," ucap Nurlia pelan, suaranya terdengar lembut di tengah ruangan yang cukup tenang itu.

Sulthan hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan suara.

Nurlia bergerak lincah namun tetap sopan. Dia membungkukkan badannya sedikit seraya meletakkan piring besar berisi nasi rawon dengan potongan daging yang tebal dan menggugah selera tepat di hadapan pria itu. Kemudian disusul dengan gelas es jeruk yang dingin dan segar.

Saat Nurlia sedang menata posisi piring agar pas di tengah meja, tanpa sengaja dia mendongakkan kepalanya sedikit untuk memastikan jarak dan posisi makanan sudah rapi.

Dan saat itulah...

Waktu seakan berhenti sejenak.

Jarak antara wajah Nurlia dan wajah Sulthan kini sangat dekat. Hanya terpisah beberapa puluh sentimeter saja. Nurlia bisa melihat dengan sangat jelas detail wajah pria di hadapannya itu. Alisnya yang tegas dan terawat, hidung yang mancung sempurna, dan... matanya.

Astaga, matanya benar-benar memukau.

Iris matanya berwarna gelap, tajam namun memiliki kedalaman yang sulit dijelaskan. Tatapan itu begitu intens, seolah bisa menembus masuk ke dalam jiwa. Nurlia terpaku. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Rasanya seperti ada arus listrik yang menyengat saat kedua pasang mata itu saling bertemu dalam diam yang panjang.

Nurlia terdiam. Mulutnya terkatup rapat, tangannya yang semula hendak menarik diri dari meja kini terhenti di udara. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Pria ini... sungguh terlalu tampan. Tampan dengan cara yang membuat orang lain merasa kecil dan terpesona sekaligus.

Sulthan pun ikut menatap balik wajah gadis itu dari jarak dekat. Dia bisa melihat bulu mata Nurlia yang panjang, kulitnya yang bersih meski tanpa make-up tebal, dan mata bundar yang kini terlihat membelalak kaget karena tersadar mereka sedang saling tatap.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.

"Eh..." Nurlia tersentak hebat, sadar dari lamunannya. Wajahnya seketika memerah padam, rasa malu langsung menyerang seluruh tubuhnya.

Astaga Nurlia! Ngapain kamu bengong?! hardiknya dalam hati.

Dengan gugup, Nurlia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seolah sedang menyadarkan dirinya sendiri dari mimpi atau hipnotis. Dia salah tingkah parah, matanya langsung menunduk memandang ujung sepatunya sendiri, tidak berani lagi menatap mata pria itu.

"Ma... Maaf, Tuan! Mohon maaf!" ucap Nurlia terbata-bata, suaranya terdengar panik. "Saya... saya tidak bermaksud begitu! Maaf sudah mengganggu!"

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi apa pun, Nurlia langsung membalikkan badan. Langkahnya sedikit terburu-buru dan kaku, hampir saja dia tersandung kaki kursi karena terlalu gugup. Dia pergi meninggalkan ruangan VIP itu secepat mungkin, seolah ada yang mengejarnya.

Sulthan yang masih duduk diam di tempatnya hanya bisa memandang punggung gadis itu yang menghilang di balik pintu penghubung menuju dapur.

Pria itu menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis dan sinis sedikit terlihat di sudut bibirnya. Sudah biasa.

Bagi Sulthan, reaksi Nurlia tadi hanyalah hal yang lumrah. Dia sudah terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu dari wanita-wanita di sekitarnya. Entah itu sekretarisnya, rekan bisnis, atau wanita-wanita sosialita yang sering ia temui di pesta-pesta mewah.

Mereka semua sama. Terpesona oleh wajahnya, terpesona oleh hartanya, lalu bertingkah salah tingkah dan memandangnya dengan mata berbinar-binar seolah dia adalah pangeran dongeng.

"Dasar wanita... sama saja yang lain," gumam Sulthan pelan dengan nada datar.

Dia mengira Nurlia hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang mengaguminya karena ketampanan dan statusnya. Tidak ada yang spesial. Hanya rasa kagum sesaat yang biasa saja. Sulthan pun segera melupakan kejadian singkat itu, mengambil sendok dan garpu, lalu mulai menyantap makan siangnya dengan tenang.

Dia tidak tahu, bahwa gadis yang baru saja lari ketakutan itu kini sedang memegangi dadanya di belakang dapur, berusaha menenangkan jantung yang berdegup seakan mau copot hanya karena sebuah tatapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!