Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Sisi Lain Zidan
Di sudut kota yang berbeda, suasana terasa jauh dari kata tenang. Riuh pikuk kehidupan kota memenuhi setiap sudutnya ,yang ramai, bising, dan tak pernah benar-benar berhenti.
Kota itu adalah " tempat di mana Zidan tinggal ".
Saat itu, di sebuah kafe, suara musik terdengar cukup keras. Pencahayaan yang redup berpadu dengan hiruk pikuk pengunjung yang datang dan pergi, menciptakan suasana yang ramai namun terasa asing. Dan di salah satu sudut ruangan, Zidan sedang duduk bersama teman-temannya. Diiringi dengan tawa yang terdengar lepas dan obrolan santai yang mengisi meja mereka, seolah tidak ada beban dalam hidup mereka yang perlu mereka pikirkan.
Zidan bersandar di kursinya, memutar gelas minumannya dengan ekspresi datar. Dan kemudian salah satu teman dekat Zidan yang bernama Raka bertanya kepada Zidan tentang perjodohannya sambil menyeringai.
“Jadi… kamu seriusan Zid dijodohin ? ” ,tanya temannya tersebut.
Lalu , Zidan menjawab pertanyaan tersebut dengan hanya mengangkat bahunya
“ Ya… gitu lah.”
“ Terus ? kamu terima aja gitu Zid ,?”
Zidan terdiam sejenak, lalu menjawab singkat,
“ Iya, mau gimana lagi, gue juga terpaksa lakuin ini, karena dipaksa sama orang tua ”
Kemudian, Teman-temannya pun saling berpandangan, dan tertawa kecil.
“ Gila… kamu Zid ! Zidan yang biasanya bebas, sekarang udah dijodohin aja.Hahaha........”
“ Ceweknya gimana Zid ? Cantik nggak ? ”
Zidan tidak langsung menjawab. Bayangan Alya tiba-tiba terlintas di pikirannya. Gadis yang dengan tatapan tenang. Cara bicaranya dan tutur kata yang yang lembut. Dan… Untuk syarat yang ia ucapkan kemarin.
Zidan menghela napas pelan.
“ Biasa aja, ” jawabnya singkat, mencoba terdengar santai.
Padahal, entah kenapa… ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu.
“ Lo yakin bakal lanjut ? ” tanya temannya lagi.
Zidan menyandarkan kepalanya ke kursi.
“ Nggak tahu, ” jawabnya jujur.
Suasana sejenak menjadi hening.
“ Gue belum siap buat yang serius-serius kayak gini ” lanjutnya pelan.
Kemudian, salah satu temannya menepuk bahunya, lalu menyeringai.
“ Udah santai aja, Zid…. tunggu aja, palingan cewek itu nanti bosen duluan sama lo,” ujarnya ringan.
Teman yang lain ikut tertawa.
“ Iya, terus ninggalin lo… ya udah, tinggal cari cewek yang baru aja lagi. ”
“ Yang lebih seru, lebih ‘wow’ gitu,” tambah temannya sambil mengangkat alis.
Tawa mereka pecah, memenuhi meja itu. Tapi Zidan hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi. Karena baginya, semua itu terdengar biasa saja. Namun entah kenapa…
bayangan Alya tetap muncul di pikirannya.
Gadis yang tenang. Gadis yang berbicara dengan penuh keyakinan.
Dan untuk pertama kalinya, Zidan merasa
tidak semua hal bisa ia anggap biasa.
...****************...
Malam semakin larut.
Zidan berdiri dari kursinya, mengambil jaketnya, lalu berpamitan singkat.
“ Gue duluan ya ! ”
“ Lah, tumben cepet amat ? ”
“ Baru juga mulai rame Zid ! ”
Zidan hanya mengangkat tangan tanpa menoleh, lalu berjalan keluar dari kafe.
Udara malam menyambutnya dengan dingin yang pelan. Ia menyalakan motornya, lalu melaju tanpa arah yang pasti. Lampu-lampu jalan terlihat samar di matanya.
Pikirannya justru malah makin penuh satu nama yaitu masih " Alya ". Nama itu kembali muncul.
Zidan menghela napas panjang.
“ Kenapa sih…” gumamnya pelan.
Ia tidak mengerti.
Biasanya, semua hal terasa sederhana baginya.
Datang, jalani, lalu pergi.
Tapi kali ini… berbeda.
Gadis itu.... ! tidak banyak bicara, tidak mencoba menarik perhatian, namun justru meninggalkan kesan yang sulit, apakah itu awal dari sesuatu,
atau justru awal dari masalah yang belum ia pahami.